Ramadhan – Haruskah tempat2x hiburan malam ditutup?

Bulan puasa sudah datang kembali di tahun ini.

Bulan yang penuh berkah dan rahmat bagi banyak orang.

Tapi apakah kemudian bulan yang didengung -dengungkan ini menjadi bulan penuh musibah buat orang – orang yang bekerja di cafe – cafe, diskotik dan tempat – tempat hiburan malam ? Apakah kemudian dengan alasan bulan yang penuh berkah ini, kegiatan – kegiatan pemaksaan penutupan tempat – tempat hiburan malam menjadi legal? Dan apakah kemudian orang – orang yang melakukan pemaksaan penutupan tempat – tempat ini berarti orang suci yang memang di perintahkan Allah swt untuk menghukum orang – orang tersebut?

Salah satu tujuan puasa adalah menahan hawa dan nafsu. Di mana, pada saat itu kita belajar untuk mengendalikan diri. Menahan makan dan minum itu cuman sebagian kecil dari tujuan puasa itu sendiri.  Menahan keinginan diri untuk tidak melakukan hal – hal yang seharusnya tidak dilakukan, untuk menahan diri dari nafsu amarah, untuk belajar ikhlas menerima cobaan – cobaan itu yang paling penting.

Sebenarnya kalaulah mau memakai logika, dengan dibuka nya tempat – tempat hiburan, sebenarnya sama sekali tidak menjadi suatu masalah bagi kita, kalau kita benar – benar menjalankan ‘puasa’, bukan menjalankan kegiatan menahan haus dan lapar.

Kalau memang niat untuk mengendalikan diri itu besar, apapun yang ada di depan kita, tidak akan menjadi gangguan buat kita untuk menjalankan ritual. Toh, kalau lah tidak bisa mengendalikan diri, ya sebaiknya kitanya sendiri yang menghindari tempat – tempat itu. Mudah banget kan?

Jadi gue cukup mempertanyakan apa sesungguhnya puasa bagi orang – orang yang merazia, yang memprotes, yang merasa terganggu dengan dibukanya tempat – tempat hiburan malam pada bulan puasa ini.  Jangan – jangan seperti kata pepatah : “buruk muka cermin dibelah” …….. “tidak sanggup menahan diri, tapi maksain orang – orang untuk tidak melakukan hal – hal yang mengoda dirinya”  Uhmmmmm…….

Selain itu ….. dengan kata – kata bulan yang penuh rahmat. Mustinya kita juga bertolerir dengan orang – orang yang bekerja pada tempat – tempat hiburan malam itu. Kalau tempat di mana merka bekerja itu ditutup, bagaimana mereka bisa makan? Bagaimana mereka punya uang untuk membeli baju lebaran bagi anak istri mereka, bagaimana mereka bisa pulang kampung, bagaimana mereka bisa mempunyai uang untuk dikirim ke kampung, untuk orang tua, adik etc.

Gue, ingat, pernah punya saudara yang kerja sebagai bartender di salah satu diskotik di Jakarta. Dan setiap bulan puasa, itu berarti bulan penuh penghematan buat dirinya dan keluarganya. Jadi harap maklum, kalau lebaran, keluarganya tidak bisa seperti keluarga lain yang mempunyai hidangan istimewa di rumahnya.  Bisa dibayangkan kalau kita menjadi bagian dari keluarganya atau kita yang menjadi dia.

 Gue kira Allah swt, itu tidak pernah membuat sesuatu yang kemudian menyusahkan umatnya. Tapi kadang – kadang, atau malah seringnya kita yang kemudian membuat sesuatu atas nama Nya, yang menyusahkan saudara – saudara kita.  

Gue kira marilah kita sama – sama kemudian berkaca, sudah benarkah puasa yang kita lakukan? Ataukah hanya simbol penahan lapar dan dahaga? Sehingga kemudian kita bisa sama – sama mendapat jawaban yang adil tentang “haruskah tempat – tempat hiburan malam ditutup”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s