Ibuku malang ibuku sayang

Sejujurnya gue enggak kenal dengan sosok bernama “Sheila Marcia Joseph”  Enggak pernah liat aktingnya, enggak pernah dengar suaranya. Nama SMY ini kemudian menjadi akrab di telinga gue ketika beliau terjerat kasus narkoba.  Hampir semua infotaiment dan koran – koran lokal penuh dengan namanya.

Pertama kali mendengar kasus ini, terus drama percintaannya yang kandas karena kasus ini, tidak lah membuat gue menaruh simpati kepada gadis belia usia ini.  Enggak ada beda dengan cerita – cerita artis – artis muda Indonesia yang kebablasan memakai narkoba.  Trus ditinggal pacarnya karena pacarnya tidak mau dilibatkan dengan kasus – kasus narkoba begini, yang mungkin saja bisa mencoreng nama baiknya. Kisah klise menurut gue.

Tapi ketika kasus ini kemudian di sertakan dengan seorang ibu yang bernama Maria Cecillia Joseph. Kisah ini menjadi sesuatu yang tidak klise bagi gue.  Ketegaran seorang ibu yang begitu tabah menemani anaknya, rela hidup di kamar kost yang kecil agar bisa dekat dengan rutan dimana anaknya dipenjara. Doa yang tulus yang dilontarkan, serta penyesalan – penyesalan pribadi tanpa menyalahkan si anak, membuat hati gue jadi bersimpati dan selalu memperhatikan kasus dan perjalanan hidup SMJ.

Kemaren, kasusnya kembali mencuat, karena diciduk oleh Kejari jam 2 pagi, dijemput dari rumahnya di Bali, untuk dibawa ke Jakarta,  karena kasasi Jaksa telah di menangkan di Pengadilan Tinggi yang berarti SMJ harus ditahan kembali. Satu tindakan dari Kejari yang menurut gue terlalu berlebih – lebihan. Jam 2 pagi!!!!!!!! Untuk kasus seperti SMJ, yang tidak mungkin lari ke luar negeri. Uhmmmmm………

Dan persoalan SMJ tidak hanya berhenti sampai disitu. Beliau juga mengaku hamil di luar nikah dan kini kehamilannya sudah berjalan kurang lebih 11 minggu!!!!!!!!! Uh.

Sang ibu pun lagi – lagi menjadi batu tegar tempat bagi sang anak. Sang ibu juga yang menguatkan dan memberikan support kepada anaknya agar tetap menjaga bayi yang ada di dalam kandungannya. Menyadarkan sang anak agar selalu menjaga emosinya karena perkembangan emosi si cabang bayi itu tergantung kepada perkembangan emosi bundanya. Menyadarkan si anak, kalau si cabang bayi adalah anugrah Tuhan. Dan memberikan pesan indah, kalau masalah dan masalah yang menimpa sang anak saat ini adalah bentuk dari kepercayaan Tuhan kepadanya.

Gue tidak mendengar lontaran emosi kecewa, gue tidak mendengar makian, gue tidak melihat wajah malu atas polah si anak, yang gue lihat adalah ketabahan luar biasa dari seorang ibu. Yang gue lihat adalah ibu yang menjadi kan dirinya sebagai “rumah” bagi sang anak.Tempat di mana kita akan kembali kala beban hidup terlalu besar mendera. Tempat dimana kita pulang, dimana semua pintu sudah tertutup.

Dan pikiran gue kemudian melalang buana ke perempuan hebat ini.  Hanya kata “salut” yang bisa gue dedikasikan ke beliau dan berujung harapan, agar beliau tetap menjadi perempuan tegar untuk anak – anaknya. Di doa gue juga terselip satu permintaan, agar Tuhan memberikan rahmat dan karunia kesehatan dan ketegaran yang berlimpah ke pada perempuan hebat ini, karena inilah yang beliau perlukan saat ini.Amien

Two thumbs up for you Maria Cecilia Joseph

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s