Balada Mimi dan Pipi (Ak. Anang – KD)

Mimi dan Pipi yang terkenal itu akhirnya memang memilih untuk berpisah juga😦

Dan isu perselingkuhan menjadi alasan utama, pipi menceraikan mimi. Duhhhhhh

Jadi …. ya hampir setiap hari dong ditayangkan satu keluarga itu.  Komplit …. mulai dari mimi, pipi, anak, kakaknya mimi, guru spritualnya pipi. Uhm….

Gue mah cuman mikir, ya udahlah. Kalu memang berpisah adalah jalan yang menurut mereka terbaik buat mereka berdua, ya lakukanlah. Mosok kita yang orang luar harus ikut campur menghakimi siapa yang salah dalam hal ini. Mosok, kita yang hanya tau dari depan kaca, harus juga mendengarkan cerita – cerita miring tentang alasan perceraian dari orang – orang terdekat bahkan anak mereka sendiri.

Memaksa mereka berdua tetap melanjutkan pernikahan dengan alasan anak dan lamanya pernikahan (hampir 13 tahun), juga menurut gue hal yang sepatutnya tidak kita lakukan. Buat apa?

Gue bukanlah orang yang menyetujui perceraian dan bukan orang yang juga menentang. Gue cuman orang yang berpikir, kalau suatu ikatan indah yang bernama pernikahan itu adalah hasil kerjasama team yang baik antara dua orang, yang menginginkan kebahagian untuk mereka berdua, bukan kebahagian salah satu, atau malah sebagai simbol prestige pribadi atau keluarga masing – masing.

Terus kalau ada yang bilang ke gue, kalau apa yang dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Gue cuman bilang, kepercayaan gue terhadap Tuhan gue, tidak dibatasi oleh kata – kata didalam salah satu alkitab, yang ditulis oleh manusia. Menurut gue, justru Tuhan itu luar biasa.

Gue cuman mikir,  kalau gue tidak bisa membahagiakan diri gue, bagaimana gue bisa membahagiakan orang lain. Kalau gue tidak mencintai diri gue, bagaimana gue mencitai orang lain.

Jadi bohong banget deh kalau ada orang yang ngomong ke gue, pokoknya tidak mau cerai karena dia ingin membahagiakan anak – anak, atau mau membuat orang tuanya senang dengan status pernikahannnya. Pokoknya demi tidak berpisah, dia rela deh menderita.

Gue kira sih …. ini cuman kata – kata pengalihan alasan, takut untu mengambil resiko. Sehingga memakai kata – kata rela berkorban. Wong, kita enggak mungkin memberikan sesuatu yang tidak kita punya. Tidak mungkin memberikan kebahagian kepada orang lain kalau kita tidak bahagia.  Tidak mungkin memberikan cinta kalau kita sendiri tidak punya. Jadi? Ya mustinya berani jujur dong kepada diri sendiri.

Trus, kita sebagai pihak luar,  apa yang harus kita lakukan? Ya sudahlah, terimalah keputusan mereka untuk berpisah, karena kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Enggak usah selalu diulang – ulang cerita perpisahan mereka terus, dengan mengejar – mengejar pembantu, tetangga, supir, tukang parkir mereka untuk sekedar mendapatkan berita alasan perceraian mereka, dan siapa WIL ataupun PIL itu.

Kalau memang perpisahan itu jalan yang terbaik, yang bisa membuat mereka berdua bahagia dan kemudian menghasilkan bahagia yang lebih besar lagi yang bisa dibagikan kepada anak – anak, orang tua, saudara – saudara, teman etc (orang – orang terdekat mereka), biarkanlah .

Jangan di cela, jangan di ungkit – ungkit, jangan ke duanya diadu. Biarkanlah.

Toh ….. intinya, ketika menikah, tidak ada orang yang mengingikan perceraian. Tapi ketika perceraian itu tidak bisa dihindari karena merengut bahagia dan cinta yang ada, gue kira, itu memang solusi yang tepat. Uhmmm…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s