Rusak muka cermin dibelah – Miyabi oh Miyabi

Gue termasuk orang yang saat ini merasa kasihan dengan Miyabi.  Benar – benar merasa kasihan. Sama seperti gue merasa kasihan dengan bangsa gue yang sampai saat ini belum bisa juga memilah – milih mana yang harus dipikirkan dan mana yang tidak harus dipikirkan demi kepentingan bangsanya.

Kasus Miyabi seorang artis film porno yang diprotes karena akan datang ke Indonesia untuk memainkan sebuah film, yang bertema komedi, memang agak menggemaskan. Menurut gue, kenapa sih kita musti melakukan protes terhadap sesuatu yang hasilnya belum kita lihat, apakah baik atau tidak? Kenapa kita enggak justru melihat dulu ke film – film Indonesia yang sudah bertebaran. Bukankah kebanyakkan jugaberbau pornografi? Melihat dulu ke diri kita sendiri, banyak kok artis – artis kita yang memakai pakaian minim dan menampilkan gaya – gaya seronok yang tidak sepantasnya dilakukan, padahal mereka bukan dan tidak artis pornografi. Selain itu toh, tanpa adanya Miyabi, tetap ada film yang berbau pornografi yang dilulus sensorkan oleh badan film Indonesia. Pertanyaannya, kenapa enggak ini dulu yang kita perbaiki ketimbang bersibuk – sibuk ria untuk memprotes kedatangan seorang Miyabi, yang belum tentu juga memerankan film seperti yang dipikirkan oleh pikiran – pikiran kotor kita sendiri.

Gue ingat, salah satu penangkapan terhadap beberapa orang – orang yang selama ini berbicara soal agama, haram, kafir dan segalanya, justru di rumah atau di tempat dimana mereka tinggal, dan kebetulan (?) tertangkap oleh kamera, banyak majalah – majalah playboy bertebaran. Padahal sewaktu majalah tersebut diproduksi, juga banyak gelombang – gelombang protes dari bapak – bapak yang terhormat ini, yang menyatakan secara berapi  – api menyatakan soal moral dan agama.  Gue juga ingat beberapa teman – teman gue di FB yang biasanya berbicara soal ayat – ayat, juga ternyata menjadi salah satu fans gambar- gambar porno.  Nah, ini tidak ubahnya dengan kasus kedatangan Miyabi, justru saat ini kaset dvd Miyabi, meningkat penjualan nya di Indonesia secara drastis seiring dengan protes – protes kedatangan beliau.

Dan pembelian dvd  ini bisa dilakukan kapan saja, oleh siapa saja ( mulai dari anak kecil sampe orang dewasa), dan di mana saja. Seharusnya penjualan dvd, vcd porno secara bebas dilakukan di Indonesia, menjadi salah satu pemikiran kita, bagaimana cara menanggulanginya sehingga tidak ada anak – anak dibawah umur yang bisa membeli film – film seperti ini. Tanpa adanya Miyabi, film – film ini pun secara bebas mudah diperoleh. Tapi apa yang justru kita perbuat? Bukan memikirkan solusi untuk mencegah penjualan film – film secara bebas, malah kita sibuk memikirkan ketidaksetujuan kita akan kedatangan Miyabi ke Indonesia.  Miris atau tragis?

Kemudian demo – demo di jalan yang dilakukan sekelompok orang. Menurut gue, bukanlah sesuatu yang patut dilakukan disaat negara kita membutuhkan banyak tenaga karena adanya musibah gempa di beberapa daerah di negara kita ini.  Bukankah sebaiknya tenaga – tenaga yang ada, bisa dipergunakan untuk membantu para korban gempa? Ketimbang bersibuk – sibuk ria melakukan sesuatu yang tidak perlu kita pikirkan.

Jadinya?

Gue kira, Miyabi bukanlah seseorang yang sepatutnya menjadi bahan perdebatan.  Bukan juga seseorang yang kedatangannya harus kita takutkan akan merusak moral bangsa. Bukan juga seseorang yang  besar yang patut membuat kita bersibuk – sibuk ria mengeluarkan tenaga untuk berdemo.

Kenapa kita tidak melihat ke diri kita sendiri dulu. Kenapa kita tidak memikirkan sesuatu yang penting dulu untuk kita sendiri. Kenapa kita tidak melihat dulu kejelekan diri kita sendiri? Kenapa kita malah bersibuk – sibuk ria menyalahkan dan mencaci maki kedatanga Miyabi, yang dianggap bakal merusak moral bangsa?

Toh apapun yang dilakukan oleh Miyabi,  se porno apapun film yang akan diproduksi dengan memakai artis yang bernama Miyabi, selama badan sensor kita benar – benar melakukan tugasnya, selama kita juga mempunyai peraturan yang ketat dengan sanksi yang tepat untuk penjualan film – film kepada anak -anak dibawah umur,  selama kita – kita benar melakukan apa yang sering kita bicarakan tentang moral, film – film porno itu tidak akan ada dan setidaknya kalaulah terproduksi, tidak akan ada yang mau membeli dan seandainya terjual bebas, tidak akan bisa juga dibeli oleh anak – anak dibawah umur.

So ….. ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s