Poligami – In my opinion

Sekarang lagi heboh nih di negara gue soal klub poligami di Bandung.  Terutama juga dengan isu perceraian AA Gym dengan Teh Ninih, karena sang Teteh akhirnya tidak sanggup lagi hidup dimadu.  Sama sebenarnya waktu heboh ada Poligami Award itu. Aduh tahun berapa ya itu?

Poligami yang menurut kitab suci Al Quran diijinkan dengan syarat asal “adil”, emang jadi banyak diperdebatkan. Antara pengertian “adil” dan mengunakan ijin itu demi kepentingan diri sendiri tanpa benar mengerti kata yang terkandung dari “adil”

Dan gue, selaku orang yang tidak punya banyak ilmu tentang agama,   tidak  akan membicarakan apakah itu halal atau haram dilakukan.  Tidak sama sekali. Bukan kapasitas gue untuk membicarakan hal tersebut. 

Yang gue bicarakan disini hanyalah pandangan gue terhadap keributan dan kehebohan yang ditimbulkan oleh poligami tersebut, tentang pandangan negatif terhadap orang yang melakukan poligami.

Menurut gue , mereka yang memilih jalan untuk berpoligami, sebenarnya bukanlah orang – orang yang patut dihujat, diancam dianggap sombong tapi tidak juga harus didewakan atau dianggap hebat dan ditiru.  Setidaknya ya apa hak nya kita untuk menghakimi seseorang berdosa atau tidak. Ya, cukup menerima mereka sesuai dengan pribadi mereka, tingkah laku mereka terhadap orang lain. Selama sikap mereka santun, apapun hal pribadi yang mereka lakukan dan putuskan bukanlah menjadi urusan kita.

Toh poligami tidak bisa dilakukan hanya oleh satu orang. Butuh 3 orang atau lebih yang melakukannya. Jadi kalau cuman menyatakan laki – lakinya yang salah, gue kira ya salah besar. Wong kalu enggak ada perempuan yang mau dijadikan istri ke dua atau ketiga atau keseratus, ya enggak akan ada di dunia ini yang namanya poligami.

Gue juga tidak menyalahkan perempuan – perempuan yang mengambil jalan untuk rela diperistri menjadi istri ke dua, ketiga dan seterusnya. Itu hak mereka, itu kepercayaan mereka. Bukan kapasitas gue untuk menyatakan salah atau benarnya yang mereka lakukan. Mereka toh sudah dewasa dan cukup mengerti apa yang mereka pilih dan resiko – resiko terhadap setiap langkah yang mereka pilih.

Jadi … gue kira biarlah segala isu poligami kita serahkan ke pada pelakunya masing – masing.  Tanpa perlu menghakimi salah atau benar. Sesuai atau enggak. Apalagi yang disalahkan cuman satu pihak. Kayaknya enggak banget deh.  Biar saja semua berjalan sesuai kemauan, kepercayaan kedua belah pihak. Toh semuanya sudah sama – sama dewasa. Kecuali memang kalau ada yang dibawah umur, itu yang harus kita bicarakan lebih lanjut. Atau ada pemaksaan yang dilakukan termasuk ada tindakan kekerasan di sana.

Kalau gue hanya menghimbau untuk  pihak perempuan yang dengan senang hati menjadi istri kedua, ketiga  dst.  Apa iya sanggup menyaksikan perempuan lain disakitin🙂 .  Kasian kan mbak – mbak itu, mereka mungkin kalau bisa memilih, pasti enggak mau deh dimadu.  Atau jangan – jangan mereka juga enggak tau, kalau mereka dimadu. Wuih. Kalau bisa, jangan mau deh …. masih banyak laki – laki lain di dunia ini. Toh kalaupun tidak ada …. at least masih banyak yang lain yang bisa membahagaiakan diri kita selain menjadi istri ke dua atau ketiga atau keseberapalah. Trus jangan – jangan nantinya malah lain kali, posisinya jadi terbalik, anda yang kemudian dimadu ^ _ ^

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s