About Gayus dan pemboikotan pembayaran pajak

Gayus Tambunan, jadi salah satu nama yang paling sering diucapkan oleh orang – orang se Indonesia akhir – akhir ini.  Muda belia, jabatan tidak sebegitu hebat tapi penghasilan sampingan yang sungguh – sungguh luar biasa.

Orang – orang yang menghujat beliau juga harus kembali dipertanyakan, apakah menghujat karena iri dengan ke’pintaran’ beliau untuk menghasilkan uang sebegitu banyak atau memang menghujat karena tidak setuju dengan perbuatan yang beliau lakukan. Agak sulit memang dibedakan  kemudian.

Saya bukanlah orang yang mendukung apa yang telah dilakukan Gayus. Tetapi  sayajuga  merasa tetap tidak mempunyai hak untuk menghujat Gayus.  Itu bukan ranah wilayah kekuasaan saya. Biarlah dengan niat dan keyakinan saya yang positif, hal itu saya serahkan kepada bapak – bapak dan ibu – ibu yang memang mempunyai hak untuk menilai seberapa besar kesalahan Gayus dan  sanksi apakah yang akan di jatuhkan kepada beliau.

Disini saya cuman ingin mengkritik orang – orang yang dengan adanya masalah Gayus, menggunakan alasan ini untuk memboikot pembayaran pajak. Bukan, bukan berarti saya bisa mengatakan saya adalah pembayar pajak yang taat. Tapi saya merasa alasan untuk memboikot pembayaran pajak hanya karena seorang yang bernama “Gayus” adalah alasan yang paling tidak masuk di akal saya. Gayus bukanlah orang penting dalam hidup saya, yang bisa merubah jalan pikiran saya terhadap sesuatu.

Di sini saya juga bukanlah orang yang ingin untuk memaksa orang – orang lain untuk membayar pajak. Tidak sama sekali. Kesadaran anda untuk melakukan sesuatu untuk negara anda, itu adalah 100 % hak anda. Tapi janganlah kemudian anda menggunakan kasus Gayus untuk mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak membayar pajak. Mungkin kalaulah memang anda yakin dengan keputusan anda untuk tidak membayar pajak, ciptakanlah alasan yang lebih besar dari pada sekedar memakai Gayus sebagai alasannya.

Saya hanya ingin menjelaskan kenapa alasan Pemboikotan Pembayaran Pajak hanya karena Gayus adalah suatu hal yang tidak masuk akal.

Begini penjelasannya :

1. Petugas Pajak, tidak pernah menerima pembayaran pajak anda secara langsung. Kalaulah anda memang pernah membayar pajak pastilah anda tahu, pembayaran pajak itu akan dilakukan di bank 2x atau di KPKN, tidak pernah dilakukan di kantor pajak.

2. Kalau mereka tidak menerima pembayaran pajak anda secara langsung, bagaimana mereka sebenarnya bisa seperti Gayus ? Jawabannya :  seperti di ilmu ekonomi : ada demand dan supply,  begitu ada permintaan untuk mengurangi atau tidak membayar pajak, pasti lah, pasti kemudian ada penawaran sebagai jasa pemenuhan permintaan ini . Bayangin aja kalau tidak ada yang mau menawarkan apa – apa. Apa mungkin ada orang – orang semacam Gayus ?

Jadi  kasus Gayus ini sebenarnya tercipta karena adanya orang – orang yang tidak mau membayar pajak dan mencoba untuk berkolusi agar pajak yang seharusnya harus dibayar kepada negara tidak harus dibayarkan.

Nah ….yang salah siapa? Apakah Gayus sendiri? Atau petugas – petugas pajak (yang kemudian anda hujat?).

Saya kira kalaulah anda membuka mata kepala dan mustinya justru yang juga di hujat adalah wajib – wajib pajak yang menawarkan kesempatan kepada orang – orang semacam Gayus untuk berkolusi.  Orang – orang yang tidak mau membayar pajaklah yang membuat petugas – petugas seperti Gayus berkembang dimana – mana.  Kekuatan setiap manusia untuk mengatakan tidak terhadap godaan – godaan duniawi, itu kan tidak sama. Mungkin kalaulah anda yang berada di posisi Gayus, anda bisa berkata tidak. Tapi dalam kasus ini, Gayus tidaklah sekuat iman anda.

Justru menurut saya yang harusnya anda – anda boikot adalah orang – orang atau perusahaan selaku Wajib Pajak yang tidak mau ikut bersama anda untuk sama – sama membayar pajak. Caranya, ya enggak usah ajalah membeli produk – produk yang mereka tawarkan.  Ya percuma dong, setelah kita membeli produk – produk yang mereka tawarkan, dan mereka memperoleh sejumlah penghasilan yang luar biasa dari negara kita tercinta ini, mereka tetap tidak mau membayarkan pajak untuk membangun negara ini. Enggak adil dong. Wong kita dengan penghasilan yang sebegitu begitunya, tetap mau kok membayar pajak .

Menurut saya, sebenarnya orang – orang yang tidak mau membayar pajaklah  adalah orang – orang yang menciptakan Gayus – Gayus yang baru.

Mudah – mudah an dengan tulisan saya ini,  pilihan anda untuk memboikot membayar pajak hanya karena seseorang bernama Gayus bisa anda pikirkan kembali.

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s