Azas Praduga Tak Bersalah yang hampir terlupakan

Kalau ditanya siapa artis yang paling terkenal saat ini di Indonesia, pasti jawabannya adalah Ariel Peter Pan, Luna Maya dan Cut Tari. Kenapa? Tentu aja jawabannya adalah karena beredarnya film porno yang pemerannya berwajah seperti mereka bertiga.

Kemudian seperti biasa, sebagai negara yang bermoral paling tinggi, maka sebagian besar penduduk di negara saya yang tercinta ini, langsung mengutuk ketiganya sebagai orang – orang yang tidak bermoral. Atau ada salah satu pemda salah satu daerah yang dengan bangganya menyatakan pelarangan bagi ketiganya untuk tampil di daerahnya. Bahkan ada juga pengacara tersohor di negeri ini yang bak superhero yang bermoral paling tinggi, langsung menyatakan akan menyeret ketiganya ke penjara. Dan yang lebih ekstrim kemudian ada kelompok masyarakat yang mewakili salah satu agama, menyatakan akan langsung mengadili ketiganya apabila pemerintah tidak bisa menghukum ketiganya. Ehm …

Padahal,  saya yakin sekali masih banyak diantara kita- kita yang bermoral sangat tinggi ini,  yang sampai sekarang tetap merasa penasaran ingin melihat film tersebut.  Yang paling agak aneh,  orang – orang yang mengutuk ketiga selebritis tersebut, rata – rata dengan sadar mencari, mendownload dan menonton film tersebut. Padahal semestinya kalau kita sudah tau film itu tidak bermoral, ya ….. jangan dong ditonton ^_^

Hampir setiap hari ketiganya kemudian diikuti oleh pers kemanapun mereka pergi. Yang sayangnya, pengejaran mereka terhadap ketiga orang ini bukanlah untuk mendengarkan keterangan dari mereka bertiga, tapi seolah – olah hanya menunggu penegasan dari mereka bertiga bahwa memang mereka lah orang – orang yang ada di film itu.  Atau memang merekalah yang membuat film tersebut.

Menurut  pandangan saya  sebagai masyarakat yang hidup di negara hukum,  kita melupakan salah satu Azas yang seharusnya kita junjung tinggi bersama : AZAS PRADUGA TAK BERSALAH , dimana seseorang baru dianggap bersalah apabila dinyatakan bersalah di depan hukum oleh hakim di pengadilan.

Kalau ketiganya sudah didakwa bersalah, oleh kita yang merasa bermoral tinggi ini, apa gunanya pengadilan? Kalau ketiganya sudah kita berikan stempel besar sebagai  “orang – orang yang tidak bermoral” tanpa ada kesempatan untuk membuktikan diri tidak bersalah, apa gunanya pengacara?

Kenapa kita sering menjadi orang – orang yang berhati “sadis” , padahal disetiap status kita di facebook atau twitter sering ayat – ayat suci keluar dari mulut kita? Kenapa kita sering terburu – buru untuk menghakimi orang lain untuk masalah moral, seolah – olah kita adalah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa?

Berilah mereka kesempatan untuk membela diri. Berilah kesempatan pengadilan, untuk membuktikan apakah mereka bersalah atau tidak. Dan selama proses penyidikan, pemeriksaan, pengadilan masih berlangsung, biarkanlah mereka untuk tetap kita anggap tidak bersalah sampai keputusan hakim menyatakan sebaliknya.

Toh, kalaulah mereka memang dikemudian hari dianggap bersalah karena telah memproduksi film tidak bermoral seperti itu, dari logika saya, sebenarnya yang paling bersalah adalah orang – orang yang menyebarluaskan film yang sebenarnya menjadi milik pribadi ketiga selebritis tersebut. Atau malah – malah jangan – jangan termasuk  kita yang menyebarkan info tentang adanya film2x tersebut, sehingga membuat orang – orang sekeliling kita merasa penasaran dan kemudian berusaha mendapatkan dan menonton film tersebut.

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s