Muda dan Koruptor

Kemaren, saya menonton salah satu acara di satu tv swasta di Indonesia. Di acara tersebut dibicarakan tentang “Muda dan Koruptor”  , yang tentu saja menyorot kasus korupsi besar yang menyangkut orang – orang muda di Indonesia, yang semestinya menjadi salah satu ujung tombak pembaharuan di negara ini.

Agak miris memang, kalau melihat kasus – kasus korupsi yang mengguncang negara ini justru melibatkan orang – orang muda, menjadi miris karena kemudian pertanyaannya adalah, kalau yang muda saja sudah korupsi lalu berapa generasi yang harus kita hapus untuk menghilangkan budaya korupsi di negara ini dan  bagaimana nasib bangsa ini di kemudian hari? Apakah kita masih bisa optimis?

Tapi kemudian saya kembali sadar, di tengah budaya kita yang sangat konsumtif dimana hedonisme merajalela di kehidupan sehari – hari, memang sangatlah sulit untuk menghindari diri dari budaya korupsi , terutama apabila adanya kesempatan, peluang dan lingkungan yang memberi dukungan yang besar untuk melakukan korupsi.

Renumerasi/ gaji yang tinggi juga tidak akan mencegah budaya korupsi tersebut. Terbukti sekali, justru di departemen – departemen dan DPR yang sudah memberikan renumerasi dan gaji yang tinggi, justru tetap menjadi tempat dimana korupsi dan kolusi itu berkembang.

Yang paling saya salahkan adalah karena budaya konsumtif dan hedonisme yang mengakar kuat di negara kita.  Dimana di masyarakat kita, orang yang bekerja baik – baik dan kemudian tidak mempunyai apa – apa, justru menjadi  orang yang “aneh”. Apalagi kalau orang tersebut bekerja di salah satu departemen yang bergengsi dan sudah mencapai karir yang tinggi.

Dan tatapan sinis masyarakat itu semakin menjadi – jadi apabila orang tersebut apabila di banding – bandingkan dengan temannya yang lain adalah orang yang menolak keras korupsi /kolusi yang ada, karena justru dianggap orang yang tidak bisa menyesuaikan diri di lingkungan nya.

Bukan itu saja, ketika ada pertemuan – pertemuan dengan rekan – rekan nya yang lain atau pertemuan keluarga (terutama keluarga besar, mertua etc), pasti yang ditanyakan adalah rumahnya di daerah mana, berapa mobilnya dan kemana liburan terakhir yang dilaluinya, anaknya sekolah di sekolah bergengsi mana, kursus piano atau bahasa,  dll, yang semuanya juga memerlukan dana yang besar. Karena dianggap semestinya, seperti teman – teman yang lain atau seperti anak buahnya, semestinya dia mempunyai harta yang lebih banyak. Kemudian ketika tidak mempunyai apa – apa yang sebanding dengan yang lain, seringnya orang tersebut dianggap tidak layak untuk menjadi bagian dari kelompok masyarakat tersebut. Cemooh, sindiran, ejekan menjadi bagian yang tak terpisahkan yang tidak jarang mengoyak harga diri orang tersebut.

Tekanan – tekanan seperti ini yang kemudian lama – lama membuat banyak orang yang membuang idealismenya, demi harta. Kan tidak juga semua orang yang bisa tahan dengan godaan – godaan atau sindiran – sindiran penghinaan orang – orang sekitarnya.  Toh menjadi orang yang idealis juga bukan berarti dia akan mendapat penghargaaan, malah mungkin akan di “buang” oleh atasannya – rekomendasi teman – temannya  ke daerah terpencil karena dianggap tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kantornya.

Penghargaan atas orang – orang yang bersih (dalam artian tidak melakukan korupsi) ini memang sangat jarang dilakukan oleh masyarakat kita.  Jabatan tinggi dan harta yang berlimpah menjadi satu kesatuan yang tidak boleh terlepas satu dari yang lainnya. Sehingga jabatan tinggi tanpa diikuti harta menjadi aneh dan bukan menjadi sesuatu yang dikagumi.

Dan kemudian ketika, korupsi ini diketahui, mulailah kita mengecam, marah dan mengeluarkan sejuta sumpah serapah seakan – akan kita adalah mahluk paling bersih. Kita tidak sadar, kita sendirilah yang sebenarnya justru sering menjerumuskan orang – orang ini ke jurang korupsi.

Jadi, hemat saya sebelum kita mencibir sinis orang – orang yang terlibat korupsi tersebut, marilah kita juga menginstropeksi diri kita sendiri.  Jangan – jangan kata – kata yang kita keluarkan, hinaan – hinaan atau ejekan – ejekan kita terhadap ke “tidak punyaan” mereka, atau penolakkan kita yang menjatuhkan harga diri mereka karena ketidak berpunyaannya, membuat mereka menempuh jalan tersebut.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s