Sudut Pandang dan Penghakiman

Belakangan ini yang sering kali terlupa untuk saya lakukan adalah mencoba untuk tetap netral dengan cara melihat setiap masalah dari sudut pandang yang berbeda. Dan itu sayangnya kealfaan itu sering sekali terjadi ketika saya dihadapkan dengan masalah masalah kantor. Yang kemudian sering kali membuat saya ngedumel (apa ya bahasa Indonesianya? mengomel?) tentang apa yang terjadi.

Satu malam kira – kira dua minggu lalu, di puncak rasa letih setelah berhari – hari full of meeting, benerin budget, melayani segala permintaan dan keinginan orang – orang, etc yang cukup membuat stress dan emosi meningkat (rasanya kalau ada yang ganggu pasti langsung lempar sendal deh :D), saya teringat kembali akan pembicaraan saya dengan seseorang – yang sebelumnya saya anggap orang yang tidak punya malu (red: sorry, but sometimes karena melihat hanya dari sudut pandang saya, sering sekali saya menghakimi orang lain)

Saya anggap tidak tau malu,  karena menurut sudut pandang saya dan banyak orang, tidak seharusnya si mbak ini merebut jabatan salah satu teman kami. Jadi tidak jarang saya melihat selama hampir satu bulan ini, si mbak tersebut mendapat cibiran, atau sindiran pedas apabila ada pertemuan – pertemuan dengan teman – teman saya yang memang tidak satu kantor dengan beliau.  Saya sendiri memang belum sampai pada tahap mencibir atau menyindir beliau secara langsung, tapi ehm… sering sekali didalam hati say ketika melihat beliau.

Dan mungkin ini jadi alasan kenapa si mbak, tiba- tiba menghampiri saya yang sedang duduk sendiri, untuk berbicara ngalor ngidul dengan saya. Jadi setelah berbicara tentang banyak hal, tiba – tiba si mbak curcol tentang posisinya yang sekarang sedang tidak enak dan tuduhan orang – orang di luar kantornya tentang dia. Si mbak menjelaskan tidak ada posisi yang dia rebut dan kalaulah ada pekerjaan yang kemudian menjadi kerjanya sekarang itu karena teman saya itu sudah menolak jabatan yang sekarang di pegangnya.  Sambil tersenyum sinis, si mbak kemudian berkata kalau sekarang dia sudah tidak perduli apa omongan orang, apa sindiran apa cibiran orang. Toh, kenyataan yang sebetulnya tidak seperti itu.Tentu saja, pernyataan si mbak ini membuat saya agak tertohok. Karena terus terang, sebelum saya mendengar curcol dari si mbak, pendapat saya tentang beliau, ya pastilah sama saja.

Ternyata, setelah beliau memaksa melihat dari sudut pandangnya …. kayaknya beliau tidak seperti apa yang selalu orang – orang pikirkan. Justru dengan jabatan yang terpaksa dia pegang sekaran, menambah beban nya sendiri dan sayangnya kenapa teman saya itu tidak jujur berkata kepada orang – orang lain, sehingga semuanya lebih jelas.

Kemudian tadi pagi saya kembali mengerima email – email yang membuat saya berkata, ehm … maunya apa sih nih orang. Untungnya kali ini pikiran saya lagi jernih, energi saya lagi tinggi – tingginya karena ide – ide yang saya baru dapat. Sehingga, saya tidak langsung melontarkan kemarahan saya di email.

Saya bisa duduk tenang, melihat langit biru dari jendela, terus mencoba memindahkan sudut pandang saya. Kesimpulan nya mungkin dia hanya ingin memperlihatkan dan membuktikan kalau dia mampu. Dan juga mungkin menurut dia, itu cara yang paling tepat untuk membantu teman- temannya (walaupun terus terang akhirnya bukan membantu malah menyulitkan :D)

Sebagai seorang yang pemarah, saya memang mengalami banyak kesulitan untuk tetap berpikir jernih. Memaksa pikiran saya untuk tidak terlalu gampang mengikuti hati saya yang terlalu sensititif. LOL .

Apalagi kalau maksud – maksud baik saya,yang saya sampaikan bukan dengan kata – kata lemah lembut, menjadi sesuatu yang disalah artikan. Tapi ya karena memang orang lain juga sama seperti saya, yang mungkin karena melihat saya dari sudut pandang mereka, tanpa ingin bertanya lebih lanjut atau memahaami sedikit, apa dan kenapanya, jadi segala yang membuat saya marah hanya dilihat dari sudut saya yang pemarah saja, bukan dari sudut pandang saya sendiri.

Saya kira sama seperti yang terjadi sekarang, ketika pemerintah mulai berbicara soal pencabutan subsidi bbm. Karena kata – kata pencabutan subsidi, dan karena sikap pemerintah yang terlalu sering berbuat lalai kepada masyarakat, jadilah kebijakkan ini dianggap bahwa pemerintah hanya ingin memeras rakyat, pemerintah tidak perduli pada rakyat.

Tapi seandainya kita mau duduk bersama – sama, dengan membuang semua pikiran – pikran yang negatif, kita akan mengerti, karena justru apabila subsidi bbm yang dilakukan oleh pemerintah, karena pengguna bbm yang terbesar adalah masyarakat tingkat atas yang mempunyai mobil – mobil mewah.

Coba mulai dihitung, untuk masyarakat yang menengah kebawah, rata – rata, pasti masilah menggunakan transportasi umum atau motor yang notabene penggunaan bbm nya jauuuuuuuuuuuh lebih kecil.

Sama seperti masyarakat di desa tertinggal, kadang – kadang justru sebelum kenaikkan bbm, harga bbm di daerah jauuuuuuuuuuuh lebih mahal dari di kota, karena transportasi pengangkutannya.  Dan anehnya tidak ada tuh dulu yang mengatas namakan mereka, meneriakkan agar harga bbm turun. Tidak ada juga masyarakat kecil disana yang terbebani melakukan protes – protes. Sehingga menurut saya, agak lucu kalau sekarang karena kejadiannya akan berdampak pada kita yang dikota, yang notabene kebanyakkan orang pintarnya, maka mulailah kita berteriak – teriak minta jangan ada pencabutan dan kemudian agar lebih mulia, aksi tersebut dilakukan dengan mengatas namakan masyarakat kecil.  MIRIS . Jadi sekarang bisa diliatkan, siapa sih yang menerima subsidi bbm sebenarnya.

Selain itu yang harus masyarakat juga mengerit, bahwa kita sendiri harus membeli minyak dari negara luar, karena minyak yang dihasilkan Indonesia, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Jadi kalau pemerintah yang seperti sekarang tidak mempunyai dana lagi, alternatif subsidi tidak dicabut adalah kita kembali berhutang atau …. tidak lama lagi akan ada kelangkaan minyak.

Sehingga, menurut saya, cobalah anda – anda yang terpelajar, adik – adik mahasiswa yang pintar – pintar, mulai lebih bijaksana lagi untuk menilai segala sesuatu. Aksi – aksi anarkis yang dilakukan justru akan menambah sulit kita mengajak investor masuk ke Indonesia untuk membuka lapangan kerja yang baru buat penduduk Indonesia, buat adik – adik kalau sudah lulus nanti.

Mungkin dengan mencoba memulai merubah cara pandang, penghakiman – penghakiman yang sering kali tidak manusiawi itu bisa dikurangi.

Salam

 

2 thoughts on “Sudut Pandang dan Penghakiman

  1. Setuju bu.. tentu dengan mengganti sumbu dengan yang rada panjang, sehingga kompor tidak langsung mbledugh bila kena percikan api.. Salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s