Agama yang Terpolitisasi – (red: ketika Bhineka Tunggal Ika terlupakan)

Pilkada Jakarta dalam rangka memilih Gubernur Jakarta buat saya cukup menarik untuk diikuti. Warna – warna kelabu dan kebobrokkan politik yang dengan bangga nya di munculkan membuat saya bertanya apakah demokrasi seperti inilah yang sekarang menjadi ciri khas negara kita?

Terus terang kalau memang seperti ini, saya merasa amat teramat sangat mual, dimana ciri khas ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang pernah menjadi kebanggaan negara Indonesia hilang menguap entah kemana saja. Dimana menjadi terasa untuk saya bahwa demokrasi diartikan sebagai kebebasan untuk menghina seseorang yang berbeda (red: minoritas)

Parahnya kemudian orang yang menyerukan tentang perbedaan ini, yang membawa – bawa agama sebagai senjata nya, yang kemudian menangis – nangis tersedak – sedak merasa bahwa umat nya akan dibawa ke arah yang berbeda apabila memilih pemimpin yang berbeda agama, kemudian dinyatakan ‘TIDAK BERSALAH’  atas apa yang diucapkannya. Padahal yang dilakukan orang tersebut, jelas – jelas tidak etis dan melanggar hukum. Tapi sekali lagi, ‘agama’ menjadi kartu yang canggih, untuk membebaskan orang yang bersalah!!!!!

Semestinya sebagai masyarakat yang berBhineka Tunggal Ika sejak tahun 1945, kita seharusnya sudah tahu dan mengerti benar untuk  bersatu ditengah – tengah perbedaan – perbedaan yang ada. Kita harus nya jauh lebih maju dengan tidak lagi memperbincangkan suku, agama, ras dalam pemilihan umum. Kita harus nya jauh lebih maju dengan mulai melihat seseorang dari kemampuan nya bukan dari latar belakangnya.

Agama memang menjadi senjata paling mudah untuk mengobarkan perang. Janji  – janji  masuk surga dan masuk neraka kemudian tuduhan sebagai kafir, menjadi senjata yang ampuh untuk membuat orang memilih jalan yang kadang – kadang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau kemudian yang lebih parah, memilih orang yang amat teramat sangat bobrok untuk memimpin hanya karena orang tersebut berlatar belakang agama yang sama.

Bagi saya,  perbuatan paling terkutuk yang dilakukan oleh para politisi adalah ketika mempergunakan ‘agama’  sebagai alat politik. Ketika menyuarakan ayat – ayat Tuhan sebagai bahan kampanye, ketika dengan mudah nya menyatakan orang lain adalah seorang kafir dan menyatakan perbuatan yang tidak sesuai dengan pikirannya adalah haram.

Agama itu bukanlah barang mainan. Agama bukanlah sesuatu yang bisa dipergunakan seenaknya. Haram atau halal itu sudah digariskan Tuhan dan bukan kemudian bisa seenaknya ditambahkan oleh manusia. Kafir atau bukan, masuk neraka atau tidak itu adalah urusan Tuhan.

Seandainya masalah ras, suku, agama ini kembali kita permasalahkan – ini seperti kembali memutar kembali ke jaman penjajahan dulu, sewaktu politik de vide et impera di lakukan oleh belanda, untuk memecah belah kita. Dan rasanya amat teramat sangat memalukan apabila kita harus kembali ke jaman itu. Itu berarti kita mengalami kemunduran akut !!!!

Semestinya justru kita yang paling berpengalaman dalam mengatasi masalah perbedaan ini  dengan kalimat indah ‘Bhineka Tunggal Ika’ (berbeda – beda tapi tetap satu)’  , harusnya sudah bisa menjadi bangsa yang terdepan membawa bendera ‘perdamaian’ di negara – negara yang terkena konflik karena isu perbedaan ini. Seharusnya kita menjadi bangsa yang bisa menjadi duta perdamaian untuk menghilangkan peperangan dunia karena masalah agama, suku dan ras.

Dan bukan malah sebaliknya, kita kembali ke jaman baheula, menggunakan perbedaan agama, suku dan ras ini sebagai alat politik. Kalau begini kita keliatan jadi bangsa yang tidak menghargai perjuangan pahlawan yang berusaha menyatukan kita yang berbeda ini menjadi satu bangsa yang besar yang bernama ‘Indonesia’.  Seharusnya kita ingat, kalau lah kita tidak bersatu dengan perbedaan – perbedaan yang ada maka sampai sekarang mungkin tidak akan pernah ada negara Indonesia.

Jangan mau menjadi bangsa yang ‘bodoh’ yang tidak pernah belajar dari masa lalu. Jangan mau menjadi bangsa yang ‘bodoh’, karena kita tidak mengambil pengalaman masa lalu sebagai pelajaran.

Sebenarnya, orang yang mempergunakan agama sebagai alat politisasi, harus kembali dipertanyakan tentang pendalaman agamanya. Sebab kalaulah ia berkata bahwa segala yang terjadi adalah seijin Tuhan, maka dia harusnya mengerti bahwa, apabila Tuhan tidak mengijinkan adanya perbedaan, maka tidak akan terjadi perbedaan di dunia. Semua akan sama. Semua bewarna sama, bersuku sama, ber ras sama, ber agama sama. Tapi karen diijinkan Nya, maka terjadilah perbedaan – perbedaan itu. Maka sebaiknya terimalah perbedaan – perbedaan itu dengan lapang dada. Dan janganlah itu jadi masalah utama buat mu.

Kalau ditanya apakah kemudian pemimpin yang dipilih berbeda dari kita, akan membuat kita masuk ke neraka? Jawabannya, pemimpin mu di dunia adalah manusia, jadi ketika dia mengajak mu ke neraka, disitulah seharusnya kita mempergunakan pikiran yang telah di anugrahkan oleh Tuhan, untuk memilih – milih apa yang tidak diperkenankan oleh agama mu. Disitulah ujian mu sebagai umat Nya.

Sehingga … kalau anda politisi atau akan menjadi politisi, jangan pernah lagi mempergunakan perbedaan – perbedaan terutama agama sebagai kendaraan politik anda, karena di situ justru menunjukkan kelemahan anda sebagai politikus. Dan apabila anda sebagai pemilih, jangan lagi pernah terjebak dengan kata – kata para politisi yang mempergunakan perbedaan – perbedaan terutama agama, karena yang seharusnya anda lihat adalah kemampuan orang tersebut untuk memimpin.

Jadi …. berbeda beda itu indah kok – seindah kata – kata ‘Bhineka Tunggal Ika. Seindah warna – warni Indonesia yang berbhineka tunggal Ika.

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s