Pencitraan & Pertemanan

Sebagai orang yang dikelilingi oleh teman – teman yang bekerja sebagai birokrat dan juga dikarenakan karena pekerjaan saya yang banyak terlibat dengan kaum birokrat, tentu ‘pencitraan’ ini yang paling sering saya terlihat. Bagaimana orang – orang berusaha sekeras mungkin agar terlihat sebagai manusia yang ‘sempurna’ tanpa cacat.  Walaupun tanpa dia berbuat begitu, kita juga paham betul siapa beliau sebenarnya😀

Saya pribadi, cukup memahami apabila ‘pencitraan’ ini dilakukan dalam jam kantor  untuk pertemuan yang formal yang dihadiri oleh orang – orang yang memerlukan orang – orang ‘sempurna’ untuk dapat diterima bekerja sama. Tapi kalau kemudian ‘pencitraan’ ini dibawa dalam pertemanan? Uhm …. saya sampai sekarang tetap gagal paham. Kenapa harus dilakukan.

Dan sedih nya karena semakin banyak teman – teman saya yang melanjutkan  praktek ‘pencitraan’  ketika sedangmenghabiskan waktu informal bersama saya dan teman – teman lain, membuat saya merasa menjadi “allien” – manusia asing yang benar – benar tidak mengenal mereka ama sekali.  Saya tidak bisa mengenali apakah mereka menyatakan sesuatu secara tulus, atau mereka hanya berbasa – basi. Apakah mereka benar akan bahagia dengan kesuksesan saya, atau sebenarnya kesuksesan saya justru membuat mereka marah? Apakah mereka benar sedih akan kesulitan saya, atau sebenarnya mereka tidak perduli? Apakah mereka sebenarnya senang mendengar suara saya ketika menyapa mereka, atau mereka merasa malu ketika berteman dengan mereka?

Saya merindukan kembali sosok – sosok teman saya, dimana saya bisa dengan bebas nya berbicara, tertawa tanpa banyak tanggapan basa – basi dari mereka. Saya merindukan melihat warna di mata dan suara mereka seiring dengan cerita yang mereka ceritakan.

Saya merindukan teman – teman dan lingkungan saya yang bisa dengan akrab dan bebas nya menegur saya, dengan gaya mereka masing – masing tanpa harus menyodorkan muka – muka topeng senang atas ulah saya yang buruk, yang saya tau tidak mereka sukai, tapi terpaksa mereka diamkan karena ‘marah’ bukanlah ‘citra’ yang positif. Saya merindukan teman – teman saya yang bisa menyatakan kata ‘terimakasih’ dengan tulus, atau suddenly berteriak kepada saya karena bahagia atas apa yang diperolehnya.

Apakah karena mereka -seiring dengan kenaikkan jabatan, bertambahnya usia, menjadi sulit untuk meninggalkan ‘praktek pencitraan”  ? Tapi bukan kah seiring dengan bertambahnya usia pertemanan, harusnya juga membuat kita semakin mengenali teman kita?  Atau mungkin ide saya terhadap sesuatu yang bernama ‘teman’ sudah tidak bisa lagi dipergunakan. Entahlah …

Kemudian saya pun karena ‘pencitraan’ ini kemudian perlahan – lahan mulai membatasi pergaulan saya dengan teman – teman saya yang meneguhkan ‘pencitraan’ sebagai bagian dirinya.  Mungkin saya terlalu kaku untuk bisa bergaul dengan praktek pencitraan ini. Atau terlalu idealis sehingga tidak bisa menerima praktek pencitraan yang terbawa di pertemanan.

Uhm….

Satu yang pasti saya berharap  pencitraan ini hanyalah sebuah ‘musim’ yang akan segera berakhir secepatnya sehingga saya bisa bertemu dengan teman – teman yang saya rindukan kembali.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s