Karena kadang – kadang kita terlalu banyak bicara

Berita paling akhir yang paling diributkan di negara saya yang tercinta ini adalah kasus antara KPK dan Polri. Dimana kemudian banyak orang – orang kemudian berbondong – bondong mencaci maki Polisi – yang memang dari dulu citranya jelek terus. Bahkan saking jeleknya ketika saya yang langsung mengalami dan bercerita bagaimana Polisi membantu membuat surang hilang saya – dalam waktu 10 menit – tanpa minta imbalan apa – dan itu terjadi dua kali di kepolisian yang berbeda, tetap saja enggak banyak yang mau percaya.

KPK kemudian berada di atas angin –  se atas – atas nya, sehingga kadang – kadang seperti Dewa/ Tuhan yang tidak boleh dianggap salah. Karena kalau sedikit saja protes tentang tindakan KPK akan dianggap sebagai pendukung koruptor. Padahal terus terang saya masih keberatan banget dengan pemakaian baju koruptor ketika bersidang, karena saya kira sampai detik ini kita masih menganut azas praduga tidak bersalah – dimana seseorang baru dianggap bersalah kita dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Kalau misalnya setiap orang yang tersangka bersalah terutama oleh KPK sudah diputus jadi koruptor – ya ngapain kita punya pengadilan? Langsung saja di penjara. Bisa mengefisiensi kan anggaran negara toh?

Tapi tulisan ini tidak berarti saya membela salah satu antara Polri dan KPK. Bagi saya, toh sebenarnya ke duanya punya fungsi  masing – masing. Ke duanya punya kelemahan pada sistem nya masing – masing, yang apabila mau, bisa diperbaiki. Keduanya masih kita butuhkan. Kalau lah saat ini keduanya memang mempunyai masalah masing – masing, sebaiknya kita biarkan mereka bersama Dewan Rakyat dan Presiden untuk duduk bersama – sama menyelesaikan masalah keduanya. Percayakanlah mereka secara dewasa bisa menyelesaikan masalahnya.

Terus terang tulisan saya  ini karena saya melihat, kita jadi masyarakat yang menganut demokrasi yang kebablasan. Kita minta Presiden berbicara – dan ketika beliau bicara – kita duluan juga yang berkoar – koar bagaimana buruknya pidato Presiden tersebut . Untung saya bukan Presiden – kalau enggak saya pastilah jadi bingung – mau nya rakyat saya apa sih????

Kita berbicara dimana – mana bagaimana kita mengutuk sesuatu, tanpa kita tahu masalah sebenarnya. Kita hanya mendengar. Kita memaki – maki orang yang masih ‘tersangka’ Koruptor dan parahnya yang ikut kita maki adalah keluarganya – malah tidak banyak yang meminta agar keluarganya juga dipermalukan – dimanakah hati nurani kita? Mungkin keluarganya terlebih anak- anak, ayah – ibu, saudara- saudara tidak tau apa yang diperbuat oleh si tersangka. Harus kah mereka kita ikut sertakan juga? Dimana hati nurani kita?

Kita menutup kedua telinga kita terhadap pembelaan – pembelaan yang berusaha mereka  -yang kita anggap bersalah dan yang dinyatakan bersalah oleh media masa – oleh internet. Kita hanya membuka telinga terhadap apa yang mau kita dengar.  Kita juga malah kadang – kadang tidak sadar kalau media massa itu yang kadang – kadang menyetir kita terhadap apa yang mereka mau, bukan apa yang sebenarnya terjadi.

Kita dengan bangga nya mau saja diajak demo  dijalan memajang poster di media online , ngetweet  dengan kata -kata kasar, mencaci maki semua yang kita anggap bersalah- padahal hanya tahu masalah dari permukaan – kita ikut, Seolah – olah dengan begitu kita adalah bagian dari pembela kebenaran.  Kita jadi pahlawan kesiangan

Kita terus menerus bicara, memberikan masukkan – masukkan yang hebat – hebat, yang luar biasa canggih. Kita sibuk memikirkan pembicaraan atau tulisan apa yang harus kita tulis biar terlihat hebat. Padahal kita tidak tau latar belakang, maksud, cerita dibaliknya.

Dan kemudian kita lupa bahwa – kita juga harus melakukan sesuatu. Kita harus juga belajar mendengar – kita harus belajar untuk toleran, kita harus belajar tidak memaksakan kehendak atau menghakimi orang dengan mudahnya. Kita harus belajar melihat sesuatu masalah dari berbagai sudut pandang.

Kita juga kemudian malah dengan entengnya melupakan masalah – masalah kemanusiaan yang penting – seperti membantu tetangga kita, teman kita yang terkena musibah. Kita enggan untuk sedikit meluangkan waktu untuk mereka. Kita bahkan lebih perduli – menanggapi,  tulisan tentang koruptor atau tentang isu – isu negatif presiden dan pembantu – pembantunya , dibanding email yang berisi kan permohonan bantuan untuk teman kita yang tertimpa musibah.  Karena itu tidak diekspos oleh media masa, karena menolong mereka tidak terlihat keren. Tidak terlihat seperti seseorang yang berpikiran canggih.

Uhm …. yup …. kita terlalu banyak bicara😦

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s