Ketika Korban (Perkosaan) pun menjadi Terdakwa dan Objek Guyonan.

Kasus calon hakim Agung yang menjadikan perkosaan sebagai bahan guyonan ketika sedang menghadapi fit and proper test di depan anggota DPR di ruang rapat Komisi III DPR yang kemudian disambut gelak tawa hampir seluruh anggota DPR yang ada disana sebenarnya bagi saya cukup menggambarkan betapa rendahnya tingkat moralitas sang calon hakim agung dan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (yang sering sekali saya pertanyakan rakyat mana yang mereka wakilkan).

Walaupun kemudian sang hakim menyatakan itu sebenarnya adalah cara sang hakim untuk melepaskan ketegangan karena test calon hakim agung yang menurutnya cukup menguras pikirannya. Tapi tetap bagi saya, karena beliau itu terpelajar dan jabatannya sebagai seorang hakim yang notabene menentukan hidup matinya, bersalah atau tidaknya seseorang, seharusnya harus lebih tau mana pembicaraan yang bisa dijadikan guyonan ataupun ada yang tidak.

Kalau saja hakim yang menjadi calon hakim agung bisa seenaknya mengatakan bahwa dalam korban perkosaan – si pelaku dan korban sama – sama menikmati, apakah sepantasnya dia bisa tetap menjadi hakim? Bagaimana bila ada kasus perkosaan yang dimana dia menjadi hakim nya? Bisakah saya mempercayai keputusannya? Bisakah dia menjadi orang yang menegakkan keadilan?

Kemudian para anggota dewan terhormat yang dengan bahagianya tertawa mendengar guyonan murahan seperti ini. Dimanakah pikiran mereka? Apakah sepantasnya mereka mentertawakan penderitaan masyarakat yang notabene mereka wakili? Apakah mereka – mereka ini bisa saya percayakan untuk mengaspirasi pikiran, masalah rakyatnya?  Bisakah saya meyakinkan diri saya kalau mereka akan memilih orang yang tepat untuk menjadi hakim agung, hakim yang mulia yang akan menegakkan keadilan di negara ini? Dimana moral mereka? Dimana hati nurani mereka?

Perkosaan itu bukan lah guyonan, perkosaan itu tindakan kriminal. Tidak sepantasnya untuk menjadi bahan lelucon dengan alasan apapun itu. Tidak ada pembenaran yang bisa saya terima atas joke – joke tentang pemerkosaan !!!! Jangan membuat si pemerkosa merasa senang karena berhasil menjadi inspirasi seseorang menciptakan joke untuk mengurangi stress mereka!!!!

Ini sama seperti ketika saya mendengar komentar salah satu menteri yang menyatakan kalau ada perempuan di perkosa di angkot itu karena pakaian yang dipakainya seharusnya lebih sopan. Yang kemudian diperparah kata – kata ini juga banyak disetujui oleh teman – teman saya, dan lebih parah termasuk oleh teman – teman saya yang perempuan.

Alasan mereka (hampir 98 %) adalah :  siapa suruh berpakaian minim, bukankah agama mengajarkan untuk menutup aurat? Jadi enggak salah dong kalau ada yang melihat itu menjadi bernafsu dan memperkosa !!!!

Saya terus terang menjadi miris dengan kata – kata ini. Karena sebenarnya sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada ajaran agama baik Islam, Kristen, Katholik, Budha maupun Hindu yang memberikan ijin seseorang memperkosa orang lain, hanya karena melihat orang lain yang berpakaian minim !!!! 

Selain itu menurut saya ketika kita berbicara soal perkosaan, seharusnya yang kita bicarakan disini adalah perbuatan perkosaan nya dan bukan apa yang dipakai atau apa yang dilakukan si korban sehingga memancing perkosaan.

Dengan menyalahkan si korban sebenarnya, kita seakan – akan merestui perbuatan pemerkosa atas tindakan yang dilakukannya. Kita seakan – akan setuju bahwa dikarenakan kondisi dan kelakuan korban maka pemerkosa ini berhak melakukan tindakan pemerkosaan. Hampir sama seperti kasus pembunuhan, di mana sipembunuh bisa diringankan hukumannya apabila dia dikarenakan membela diri terpaksa harus membunuh orang lain, karena kalau tidak nyawanya sendiri terancam.

Padahal dalam kasus perkosaan, nyawa siapa yang terancam? Siapa yang menderita? Apakah kalau tidak memperkosa si pemerkosa bisa mati? Bukannya sebaliknya?

Soal pakaian yang menutup aurat, itu harusnya dibicarakan dalam keadaan lain. Dalam suasana lain, dalam tema lain. Terus apakah ada jaminan kalau kita memakai pakaian tertutup, mereka tidak mau memperkosa?  Selain itu toh sekarang banyak anak – anak kecil yang diperkosa – padahal semestinya orang – orang yang normal , tidak akan terbit nafsunya hanya karena melihat anak kecil memakai rok pendek atau celana pendek apalagi anak tersebut adalah keponakkan, cucu, adik atau bahkan anaknya sendiri !!!!

Perkosaan yang dialami korban, dampaknya akan dibawanya seumur hidup. Belum lagi perlu waktu lama untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya kembali, dan kemudian apabila dia harus juga disalahkan atas apa yang terjadi kepadanya, saya kira terlalu berat beban nya. Apalagi kalau mendengar cerita, kalau mereka harus menceritakan secara detail di depan polisi ketika membuat berita acara dan kemudian kembali lagi harus menceritakan  dipersidangan di depan orang – orang ketika kasusnya dibawa ke pengadilan. Ini sendiri sebenarnya sudah menjadi beban berat bagi si korban. Tetap tegar dan tidak memilih jalan mengakhiri dirinya menurut saya itu sudah amat teramat hebat.

Bisa dibayangkan tambahan beban bagi si korban apabila korban hamil akibat perkosaan tersebut. Bagaimana si korban harus menjalani kehamilannya tanpa teringat apa yang menyebabkan kehamilan tersebut? Bagaimana anak yang lahir harus menjalani kehidupannya apabila dia tau, apa yang menyebabkan kelahirannya? Duuuuhhhhhh

Sehingga apapun argumen orang kepada saya tentang pakaian yang menyebabkan perkosaan, saya tetap pada pendirian saya, bahwa walaupun ada perempuan yang berjalan – jalan tanpa busana ditengah jalan – tidak ada satu orang pun yang berhak memperkosanya !!!!  Iya memang kelakuannya salah – tapi instead of memperkosanya, toh bisa memberinya pakaian. Kalau tidak bisa menahan nafsu ketika melihat itu, ya sebaiknya pindahkan pandangan ketempat lain atau jauhi saja tempat tersebut.

PS : Waktu saya belajar mengaji, ustad saya pernah berkata, kalau kita berada disuatu tempat dimana orang atau tempat tersebut membuat kita tidak bisa menahan hawa nafsu kita, maka sebaiknya kita harus menghindarinya. Jadi kalau memang merasa terangsang melihat perempuan yang berpakaian mini, instead of memperkosa, atau menyalahkan perempuan – perempuan tersebut atas baju – baju yang mereka pakai, bukan kah lebih baik kalau pergi dan menghindari ‘pemandangan – pemandangan’ yang membangkitkan hawa nafsunya.

 

 

One thought on “Ketika Korban (Perkosaan) pun menjadi Terdakwa dan Objek Guyonan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s