Teknologi modern – dan diperlukan kebijakkan serta kedewasaan menggunakannya.

Kalau ditanya apa yang paling saya senangi di jaman globalisasi seperti ini, tentu nya adalah kecanggihan teknologi, terutama teknologi komunikasi. Dimana, kita menjadi amat sangat mudah dihubungin dalam 24 jam, 365 hari, dimana jarak bukanlah jadi masalah untuk sebuah hubungan baik hubungan percintaan (ehm), pertemanan, bisnis dan lain – lain.

Walaupun kemudian teknologi yang semoderen ini kemudian membuat kita akhirnya menjadi malas untuk langsung bertatap muka satu sama lain. Bahkan tidak jarang, kita masih menggunakan bbm (blackberry messenger), whatsapp atau mengirim email kepada teman sekerja kita, yang ruangannya tidak jauh dari kita. Teknologi yang modern ini juga tidak jarang membuat kedekatan satu sama lain jadi berbeda, karena tidak jarang, ketika berkumpul dengan teman – teman, masing – masing sibuk sendiri dengan bbm nya, ipod nya, twitter nya, facebook nya. Jadi … apa gunanya berkumpul?

Saya sendiri, termasuk orang yang masih agak “kolot”, yang masih mengusahakan bertemu muka langsung kalau ingin membicarakan sesuatu, atau masih mengusahakan menelfon kalau pertemuan langsung itu tidak dimungkinkan, sehingga email dan bbm atau media chat lain menjadi alternatif terakhir. Kecuali kalau yang saya ingin bicarakan bukanlah sesuatu yang urgent, bukan sesuatu yang perlu pembahasan yang panjang lebar.

Mengungkapkan sesuatu kepada seseorang lewat media komunikasi seperti email, chat media, seringkali menimbulkan kesalahan persepsi. Apalagi kalau kedua belah pihak tidak pernah bertemu secara langsung sebelumnya. Sehingga tidak mengenal gaya bahasa satu sama lain. (Kadang – kadang, walaupun sudah saling mengenal, tidak jarang juga, masih timbul kesalahan persepsi terhadap tulisan satu sama lain). Maksudnya mungkin bercanda, tapi diterimanya kok jadi seperti penghinaan😀

Berbeda apabila kita bertemu langsung atau at least berbicara langsung , melihat bahasa tubuh ketika lawan bicara kita mengungkapkan pemikirannya, mendengar langsung turun naik suaranya, dan memastikan nada serius atau becanda.  Kesalahpahaman bisa terhindari.

Seperti yang terjadi di salah satu milist yang saya ikuti. Tiba – tiba terjadi pertengkaran hebat diantara anggota – anggota nya. Yang membuat saya kemudian cuman bisa terpana karena sebenarnya pihak – pihak yang berselisih paham ini sebenarnya sudah bukan anak – anak yang mudah terbawa emosi. Tapi ya, mungkin karena pihak yang satu tidak bisa menjaga emosi, dan pihak yang lain juga tidak bisa menjaga tulisannya sehingga pertengkaran tidak bisa terhindari.

Mungkin kalau keduanya sudah pernah bertemu secara langsung, sudah pernah berbicara secara langsung, kejadian ini tidak akan terjadi. Atau setidaknya mereka bisa saling mengalah untuk berbicara langsung lewat jalur pribadi, dengan telefon atau bertemu langsung, menjelaskan masalah nya dari persepsi masing – masing. Sehingga mengerti maksud keduabelah pihak.

Begitu pula dengan adanya media – media seperti twitter dan facebook. Dimana setiap orang bisa menuliskan apa saja. Dan orang yang membacanya bisa menilai apa saja tentang tulisan itu, atau bahkan apabila si pembaca nya terlalu sensitif, bisa juga menjadi merasa tersindir (padahal belum tentu si penulis menulis status di facebook /twitter itu untuk si pembaca tersebut :D)

Atau seperti sekarang, saya yang menjadi agak – agak resah gundah gulana, karena bbm yang saya kirim untuk orang yang dekat di hati saya, tidak dibaca2x, atau dibaca tapi tidak dibalas. Padahal mungkin saja beliau sedang sibuk dengan pekerjaan nya sehingga tidak mengecek bbm saya atau memang sedang tidak dalam keadaan yang memungkinkan untuk membalas bbm saya tersebut😀  Apalagi bbm saya itu isinya bukanlah sesuatu yang urgent yang menyangkut nyawa saya😀 Tapi ya itu … semakin canggih teknologi … semakin kita tidak bisa berpikir lebih logis, atau semakin kita mengkhawatirkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Semakin kita menuntut orang lain juga tersedia untuk kita selama 24 jam 365 hari😀

Jadi …..?

Ya semestinya kita sebagai pencipta segala teknologi modern itu, tidak boleh menjadi dikuasai oleh teknologi. Kita semestinya  harus bisa menggunakan teknologi modern itu untuk mempermudah hidup kita, untuk menunjang komunikasi kita dengan sesama. Dan bukan malah menjadi alat pemisah satu sama lain,  menjadikan kita curiga dengan orang lain yang bahkan belum pernah kita temui, atau membuat kita perpikiran negatif dengan orang lain.

Terus terang – saya sendiri sedang berusaha kuat untuk tidak berpikiran negatif, terhadap tulisan – tulisan yang saya baca lewat media seperti email /milist (apalagi kalau yang menulis belum pernah saya temui) atau kalau tidak bisa saya akan bertanya langsung maksud tulisannya – sebelum saya membuat kesimpulan sendiri, dan berusaha tidak gundah gulana (yang ini agak sulit deh hahahahaaa) ketika bbm saya belum dibaca2x atau tidak dibalas😀

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s