Alih Fungsi Guru Spiritual – (ketika Tuhan bukan lagi tempat berharap)

Yang sekarang jadi topik yang sering dibicarakan tentunya adalah soal Eyang Subur – hampir seluruh tv membicarakan fenomena Eyang Subur ini. Eyang Subur dianggap sebagian orang adalah guru spritual, orang luar biasa baik yang mempunyai harta yang berlimpah (enggak tau deh dari mana asalnya) – yang sering dibagi bagikan kepada orang lain terutama artis (enggak tau deh kenapa kebanyakkan artis yang diberi :D) dan yang paling fenomenal mempunyai 9 istri  (dengan gaya rambut dan berbusana nya hampir sama semua, dan patut diacungkan jempol karena ke 9 nya mau berjalan beriringan bersama menemani Eyang Subur). Tapi bagi sebagian lagi (note: karena orang – orang ini sang Eyang menjadi terkenal), Eyang Subur merupakan penjahat yang kejam – yang mengajarkan kesesatan serta perampas harta mereka.

Bagi saya yang menarik dari kasus ini adalah penggunaan dan pemberian titel “guru spritual” kepada seseorang. Karena setelah nya kemudian banyak pembicaraan – pembicaraan tentang ‘guru – guru spritual’  kaum selebritas, pejabat dan orang orang kaya di Indonesia.

Di pemikiran saya – guru spritual   ( dari hasil googling : Spiritual  berarti kejiwaan, rohani, batin, mental, moral. ( Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1989), hal 857))adalah orang yang mengajarkan/ membimbing rohani kita  – agar dekat ke sang Pencipta. Jadi nya sih saya selalu memikirkan dengan adanya guru spiritual – kita akan menjadi orang yang lebih tenang, lebih ikhlas, lebih banyak bersyukur, lebih mendekatkan pada Sang Maha Pencipta.

Tapi fenomena yang saya lihat sekarang jadi berubah – kebanyakan (bukan semuanya ya) orang – orang yang mengangkat orang lain menjadi guru spiritual nya – karena merasa orang tersebut bisa memberikan jalan kepada mereka untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, dalam tempo yang secepat – cepatnya. Misalnya menjadi terkenal, disukai orang – orang, menjadi kaya raya dan lain – lain.

Tentu saja sang “guru spiritual” ini mendapatkan imbalan yang cukup fantastis apalagi bila sang guru benar – benar bisa mewujudkan keinginan muridnya yang notabene adalah orang tersohor/ publik figur/selebriti di Indonesia ini. Pastilah nama sang guru akan terkenal dan kemudian berbondong – bondong orang akan datang mengiklaskan diri nya menjadi murid sang guru.  Dan bahkan tidak jarang mereka  rela menempuh beratus ratus kilometer,  menghadapi segala rintangan untuk bertemu sang guru. Saya malah pernah mendengar – mereka juga mau melakukan apapun yang diminta sang guru sebagai persyaratan pemenuhan terkabulnya keinginan mereka,  tanpa  ada protes sama sekali, dan dijalani dengan penuh keyakinan (padahal ya  … kalau diperintahkan agama ajah, sering banget males melakukannya😀 )

Bagaimana sang guru bisa mewujudkan harapan muridnya?  Banyak orang yang mengatakan (tapi sayang nya belum pernah saya buktikan, sang guru ini menggunakan ilmu hitam atau klenik atau mistis atau kekuatan supra natural yang sulit untuk dibuktikan tapi masih erat dengan kebudayaan di Indonesia. Percaya? Entahlah. Terbukti banyak yang memang sukses dengan hal – hal ini.

Saya sih tidak mau menghakimi apakah itu salah atau benar menurut agama karena saya belum cukup menjadi sempurna menjalankan agama, untuk memenuhi persyaratan layak  menghakimi jalan yang ditempuh oleh orang lain😀

Yang jadi permasalahan di sini,  karena menganggap orang yang bisa mewujudkan keinginan duniawinya  atau memecah kan masalah duniawinya , menjadi guru spiritual, fenomena yang aneh bagi saya.

Menjadi lebih  aneh lagi karena Indonesia adalah negara yang seluruh penduduknya diharuskan mempunyai agama, dimana bahkan organisasi yang mengatas namakan agama, bisa bertindak se enak – enaknya di sini, tapi  kenyataannya di keseharian masyarakat,  justru tidak memperlihatkan kepercayaan kita terhadap Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta.

Mungkin ini kegagalan para pemimpin umat beragama atau para ahli agama yang tidak bisa meyakinkan umatnya untuk percaya akan Tuhan. Atau juga mungkin karena para ahli agama tersebut lebih sibuk mengurus siaran on air nya di televisi  setiap pagi, sehingga tidak sensitif dengan kebutuhan umatnya?  Atau para pemimpin agama juga sedang sibuk untuk mencari – cari jabatan? Atau malah yang dianggap pemimipin agama jangan – jangan juga ikut – ikutan mempunyai “guru spiritual” tempat meminta – sehingga mereka juga tidak bisa mengatakan apa – apa terhadap fenomena ini. Entahlah …

Dan puncak  keanehan itu  kemudian – banyak nya orang orang yang pergi meminta kepada “guruspiritual” – dalam keseharian nya adalah orang – orang yang rajin beribadah. Jadi ……. ?

Saya sungguh tidak mengerti jadinya apa yang mereka lakukan dalam ibadah nya? Bagaimana bisa, masih berdoa kepada Tuhan, tapi meminta mahluk lain untuk membantu menyelesaikan masalahnya, bahkan berharap mereka bisa memberikan harta, tahta dan jabatan. Jadi apa fungsinya Tuhan? Apa gunanya berdoa?

Saya sendiri masihlah manusia biasa, yang pasti nya juga pingin punya uang banyak, mempunyai jabatan yang menggiuarkan di perusahaan yang bonafit,dan memperoleh ketenaran yang luar biasa sehingga orang – orang ‘takut’ dengan saya. Bohong besar deh kalau saya bilang, saya tidak pernah memimpikan itu. Tapi ehmmmmm….. kalau itu harus saya jual dengan “jiwa” saya, dengan kepercayaan saya, ya nanti dulu deh.

Bukan karena saya takut dengan masuk neraka, tapi seperti saya pernah tuliskan, saya mencintai Tuhan saya – jadi ya enggak mau deh saya menduakan cinta saya😀   Terlebih menduakan nya kepada “guru spiritual” yang seperti Eyang Subur  (logikanya – kalau beliau menyatakan diri muslim dan mengaku guru spiritual – pasti enggak berani punya istri lebih dari 4 apalagi memperistri kakak beradik :D).

Saya sih berharap para pemuka pemuka agama,  rohaniawan, mau membuka mata untuk melihat fenomena ini, dan mau sukarela untuk mengembalikan kembali existensi Tuhan kepada umat beragama.  Setidaknya fenomena ini mustinya dianggap tantangan untuk  memikirkan cara mengajarkan, memberi nasehat yang lebih mengena di hati dan jiwa  , sehingga masyarakat yang menjadi murid nya atau pemeluk agama yang sama dengan nya,  tidak lagi lari berharap dan meminta kepada  “guru – guru spiritual ”  tapi kepada Tuhan.

Dan berharap kepada orang – orang seperti Eyang Subur tidak lagi di lekatkan kata – kata guru spiritual – kedudukan guru yang pengayom terlalu rendah deh ,  tapi mungkin bisa menjadi Penguasa Manusia  – toh – kalau kepada mereka orang 0rang meminta dan berharap – sebenarnya kedudukan  Tuhan terganti oleh mereka – mereka ini di hati dan jiwa murid – muridnya😀 (just kidding )

Salam

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s