Saya merindukan “Pancasila” dan “Bhineka Tunggal Ika”

Ya saya tahu judul tersebut terdengar lebay dan sok idealis, tapi ya saya serius dengan kerinduan saya terhadap ke dua hal tersebut – Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.  Dan belakangan ini saya merasa banyak masyarakat Indonesia, dari mulai rakyat sampai pemimpin nya melupakan ke duanya.

Akhirnya – lihat apa yang terjadi dengan bangsa yang dahulu kala terkenal ramah tamah : aksi pembunuhan bukan lah hal yang luar biasa (liat aksi geng motor etc), pemerkosaan yang marak dimana kemudian korban malah menjadi bual bualan, tidak ada lagi rasa saling toleransi – tepo seliro, kekerasaan dengan mengatas namakan agama pun tidak malu – malu lagi dipertotonkan, aksi pelecehan terhadap agama lain malah menjadi hal biasa, bahkan parahnya di ibukota – yang masyarakatnya seharusnya lebih tinggi pendidikannya, masih mempermasalahkan soal perbedaan suku ketika pemilihan gubernur. Dan saya, sebagai bangsa Indonesia merasa terenyuh melihat carut marut wajah bangsa ini. 

Saya merindukan masa kecil saya, dimana saya harus hafal ke lima isi Pancasila – dimana butir butirnya menjelaskan  apa yang harus saya lakukan sebagai bangsa Indonesia 

Masih ingat isi Pancasila? 

1. Ke Tuhanan Yang Maha Esa 

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradap 

3. Persatuan Indonesia 

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Sama seperti Bhineka Tunggal Ika – yang berarti berbeda beda tapi tetap satu : satu bangsa – bangsa Indonesia, satu bahasa – bahasa Indonesia. 

Saya menjadi gagal paham kemudian dengan adanya Peraturan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No 8 dan 9 Tahun 2006 tentang Pendirian Rumah Ibadat tanggal 21 Maret 2006.  – bahwa dibutuhkan tanda tangan 90 orang penduduk untuk mendirikan Rumah Ibadat. 

Jadi kalau ada 88 atau 89 orang – berarti tidak boleh mendirikan rumah ibadat? Berarti, mereka ini harus beribadat di luar areanya?  dimana letak keadilan sosial nya? 

Saya juga menjadi gagal paham dengan dibiarkan nya organisasi masyarakat yang mengatasnamakan salah satu agama, melakukan tindakan kekerasan – apa tidak membaca butir 2 Pancasila? Kemanusian yang Adil dan Beradap, bukan dengan kekerasan. 

Atau saya semakin miris ketika saya membaca salah satu blog 

http://dodiheru.wordpress.com/2013/05/26/dari-tukang-foto-ke-tukang-foto-jilid-ii/

dimana digambarkan bagaimana seorang perempuan muda yang tidak menghargai proses keagamaan di Candi Borobudur.  Bagaimana bisa – ada orang yang begitu tidak punya toleransinya  hidup di negara saya? 

Dimana letak toleransi kita?  Tidak kah kita malu melihat hal – hal seperti ini terjadi di negara ini? 

Saya sedari kecil sudah diajarkan untuk bertoleransi dengan orang yang beragama berbeda dengan saya, dan saya dilahirkan dari orang tua yang berbeda suku dari 2 pulau yang berbeda. Dan saya dulu merasa – inilah Indonesia – saling tepo seliro, saling menghormati satu sama lain, menghargai perbedaan, hormat kepada yang lebih tua dan bersikap bijaksana pada yang lebih muda, bangga dan menghargai nilai – nilai luhur bangsa, dan selalu menjaga martabat bangsa. 

Sekarang? 

Saya dipaksa untuk melihat hal yang berbeda 180 derajat, dimana keadilan itu cuman tulisan. Saya dipaksa melihat anak – anak muda yang bahkan isi Pancasila saja tidak tau, apalagi maknanya.  Atau saya dipaksa melihat orang – orang yang menjual agama demi kepentingan partainya.  Atau dipaksa bagaimana berbedanya perlakuan anak Menteri yang menabrak orang, dengan anak rakyat biasa yang juga menabrak orang. Bagaimana hukuman koruptor lebih ringan daripada hukuman pencuri ayam. 

Dan saya juga dipaksa untuk melihat bagaimana arogan nya wakil rakyat yang dengan tanpa malu -malu melontarkan kata – kata yang tidak sepantasnya di muka umum. Atau anak – anak muda yang kemudian lebih bangga berbahasa Inggris dari pada Indonesia, dan lebih tau dimana letaknya Hollywood daripada letak sungai Musi, atau lebih tau hafal lagu Justin Bieber daripada lagu Indonesia Raya. 

Uhm … saya benar – benar merindukan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika 

 

 

 

 

 

7 thoughts on “Saya merindukan “Pancasila” dan “Bhineka Tunggal Ika”

  1. Pingback: Dari Tukang Foto ke Tukang Foto (jilid II) | Dodi Heru

  2. “dimana keadilan itu cuman tulisan. Saya dipaksa melihat anak – anak muda yang bahkan isi Pancasila saja tidak tau, apalagi maknanya”

    memang betul.. saya jg miris…
    dulu berbeda dgn skrg..😦 bagus tulisannya..
    salam dr studio kami, omahide..

  3. Pingback: Perayaan Waisak 2557 BE di Candi Borobudur; Sebuah Pengalaman Spiritual yang Berharga | jessgoesbanana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s