Masih kah Pancasila itu sakti?

Tanggal 1 Oktober akhirnya datang juga, yang diputuskan menjadi oleh pemerintah Indonesia sebagai hari Kesaktian Pancasila. Untuk Pegawai Negeri dan pelajar hari ini (mungkin) harus datang lebih awal karena ada upacara bendera di kantor atau sekolahnya. Upacara rutin . Enggak lebih – enggak istimewa.

Padahal Pancasila itu dasar Negara – kalau dilagu nya – merupakan “pribadi bangsa” yang mencerminkan bagaimana sesungguhnya rakyat Indonesia itu. Dan karena pentingnya  peran Pancasila  – maka yang membawanya juga adalah Burung Garuda –  (yang menjadi lambang negara Indonesia , yang dianggap sebagai simbol patriot proklamasi ) – di dadanya,

Maka ketika ada peristiwa G-30 S PKI (yang belakangan ini kebenaran ceritanya mulai dipertanyakan kembali) , dimana terjadi nya pergerakkan kelompok tertentu yang dilambangkan sebagai kelompok yang tidak beragama – komunis – yang ingin merebut kekuasaan dan mengganti falsafah negara, tapi akhirnya bangsa Indonesia berhasil mengatasinya. Pancasila terbukti kesaktian nya di hati rakyat Indonesia – maka lahirlah peringatan hari kesaktian nya.

Masih ingat dong isinya  (1.Ke Tuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang Adil dan beradap, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksaan dalam permusyawarahan perwakilan. 5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). – itu lah sebenarnya pribadi masyarakat Indonesia.  Pribadi yang karena percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa  (bukan agama tertentu) yang terlihat dari sifat yang sopan, ramah,, saling bersatu, tepo seliro,  musyawarah untuk mencapai mufakat, yang mengakui perbedaan tapi tidak memandang perbedaan itu menjadi permasalahan tetapi sebagai warna bangsa yang patut dilestarikan, bertoleransi terhadap perbedaan, tenggang rasa, dan merasakan kalau kita bersatu akan menjadikan Indonesia sekuat baja, dan merasakan dengan persatuan – maka Indonesia akan bisa menjadi negara yang luar biasa hebatnya.

Sayangnya – seiring dengan pergantian tahun, pergantian pimpinan negara, pergantian wakil rakyat, atas nama kebebasan dan demokrasi oleh orang orang yang tidak mengerti apa arti kebebasan dan demokrasi yang sebenarnya, atas nama perubahan, atas nama rakyat yang tidak tahu apa apa, sedikit demi sedikit pribadi Pancasila mulai tergerus – dan mungkin tinggal menunggu waktu ketika benar benar hilang.

Pengrusakkan dan kekerasan oleh satu kelompok  yang menamakan kelompoknya  sebagai kelompok pembela agama tertentu kita biarkan. Kita membiarkan UU tentang pendirian rumah ibadat yang membuat sulitnya pendirian rumah ibadat yang penganut nya minoritas. Kita tidak mau lagi bertoleransi terhadap orang lain yang berlatar belakang berbeda. Kita tidak lagi mau menghormati agama orang lain. Kita tidak setuju dengan adanya pendapat yang berbeda dan tidak menginginkan  adanya musyawarah untuk mencapai mufakat, kita bahagia dengan keegoisan kita dan kita menutup mata dengan penderitaan sekeliling kita. Kita bangga dengan sumpah serapah yang kita ucapkan terhadap orang lain hanya karena suami atau istri atau anak atu ayah atau ibu – salah satu keluarganya menjadi terdakwa. Kita gemar melihat kesulitan orang lain, Kita tidak perduli dengan masalah bangsa,  Kita hanya mendengar yang mau kita dengar, bukan yang sebenarnya terjadi. Berita tentang penghilangan nyawa hanya karena masalah yang kecil menjadi berita biasa. Wakil rakyat juga dengan bangganya saling sumpah serapah didepan publik.

Dimana Pancasila yang sakti itu?  Yang semestinya dengan ‘kesaktiannya’ mampu untuk  mendidik rakyat Indonesia menjadi rakyat yang berpribadi luhur? Apakah memang seiring dengan perkembangan jaman, Pancasila tidak bisa lagi menjadi pribadi kita? Apakah dengan seiring perkembangan jaman, menjadi “brutal’ dan egois menjadi pribadi yang dianggap bagus?

Apakah kita tidak sadar, bahwa bangsa ini mengalami kemunduran yang luar biasa hebat nya?  Di era globalisasi – dimana jarak bukanlah masalah – dimana mengunjungi negara yang berada di ujung dunia juga bukan hal yang mustahil – dimana di Jakarta dan kota kota besar  yang kita temui bukan saja perbedaan suku tapi sudah perbedaan bangsa, dimana keluarga campuran berbeda negara adalah hal biasa ……….. kita rakyat Indonesia …. kembali ke jaman dahulu kala, sebelum kemerdekaan, dimana Belanda memecah belah kita dengan politik “devide et impera” nya – memecah belah dengan mengadu domba suku suku yang berbeda untuk saling membenci, sehingga tidak bisa bersatu melawan mereka.

Seandainya pahlawan pahlawan yang berjuang itu melihat bagaimana rakyatnya sekarang, tentulah mereka kecewa dengan kita semua. Perjuangan mereka dulu, yang ditebus dengan nyawa hanya menjadi bahan hafalan di mata pelajaran sejarah dan terlupa setelah kita lulus sekolah.  Kita tidak lagi ingat lagu Indonesia Raya, kita tidak lagi tau isi Pancasila, kita tidak ingat nama Pahlawan Pahlawan besar, kita mentertawakan upacara bendera sebagai aktifitas yang tidak berguna, kita malu menjadi bangsa Indonesia, dan yang paling parah ….. kita bangga dengan tindakan tindakan kita tersebut.

Mudah mudahan  tahun depan, ada banyak perubahan yang akan terjadi di kehidupan kita, sehingga tanggal 1 Oktober nanti, peringatan kesaktian Pancasila benar benar peringatan akan kemampuan Pancasila menaklukkan  hati rakyat Indonesia sehingga mau kembali menerapkan ke 5 butir butir isinya didalam kehidupan sehari sehari. Dan kita bisa kembali merasakan nyaman nya hidup di Indonesia yang aman dan tentram, yang berbeda beda tapi tetap bersatu.

Aamiin

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s