Masih ingat lagu “Astaga” nya Ruth Sahanaya, yang berisi tentang  rasa kecewa terhadap Pemuda(i) Indonesia  ?  Atau enggak pernah dengar?  Uhm …  liriknya sebagian begini …. “Sementara yang lainnya, hidup seenaknya seakan waktu takkan perna ada akhirnya. Hanya mengejar kepentingan diri sendiri, Lalu cuek akan derita sekitarnya.” Soal kecuek kan/ Ketidak perdulian pemuda(i) ini sekitar 3 minggu lalu (kembali) saya rasakan. Ceritanya suatu siang, saya menanyakan alamat kepada 3 orang anak yang berpakaian SMA yang sedang mengobrol santai. Dari penampilan, dan sepertinya mereka baru pulang dari kursus bahasa Inggris  yg terkenal mahal, di gedung yg sama, maka saya yakin mereka berasal dari keluarga menengah ke atas. Dengan senyum dan permohonan maaf  terlebih dahulu, karena mengganggu pembicaraan mereka, saya menanyakan letak tempat yang ingin saya kunjungi di gedung yg sama. Betapa terkejutnya saya ketika mereka hanya menghentikan tawa mereka, mendengarkan saya sebentar tanpa membalas senyum saya (yang saya kira sudah seindah mungkin hahhahhhahaa), dan kemudian kembali melanjutkan canda mereka, tanpa menjawab pertanyaan saya.  Saya yang masih berpositif ria, kembali mohon maaf dan tersenyum dan kembali menanyakan alamat. Dan ya … reaksi yang saya dapatkan tetap sama😦 Saya hanya berpikir bagaimana orang tua mereka mendidik anak anak nya ini? Toh kalau tidak tau bisa berkata “tidak tahu”, bukan malah kembali tertawa dan bersikap seolah olah tidak mendengar. Karena saya dikejar waktu, saya pun meninggal mereka dan mencari orang lain yang bisa menolong saya. Terus terang ini bukan yang pertama sekali saya menemukan kecuekkan yang luar biasa dari anak anak muda seperti mereka. Sebagai pengguna setia angkutan umum, sering sekali saya melihat ketidak perdulian luar biasa dari mereka.  Tidak mau memberikan tempat duduk kepada perempuan hamil atau ibu ibu tua. Atau mentertawakan orang orang tua yang terlihat kebingungan baik mencari alamat atau karena tidak mengetahui harus berdiri di jalur yang mana. Bukan itu saja, tidak jarang juga saya memperhatikan bagaimana mereka tidak mau mengindahkan teguran yang halus dari orang yang lebih tua atas sikap mereka yang kurang sopan, atau tidak mau memberikan ruang untuk duduk diangkot, atau merokok di muka umum atau bahkan ketika mereka seenaknya mengemudi di jalan raya.  Dan masih banyak lagi . Yang lebih miris kejadian ini juga masih saya lihat di kantor kantor, di sekolah sekolah universitas universitas, dimana mereka sama sekali tidak perduli terhadap keadaan sekelilingnya kalau itu tidak ada nilai plus nya untuk mereka. Kalau mereka tidak mendapatkan tambahan apa apa, kalau itu tidak ada di job desk mereka. Dan mereka juga akan lebih tidak perduli apabila orang yang membutuhkan bantuan, atau memberikan nasihat/teguran halus adalah orang yang mereka anggap bukan siapa siapa, tidak punya kedudukan dan berpendidikan lebih rendah dari mereka. Pernah satu kali,ketika saya merencanakan akan mengadakan reuni, beberapa adik kelas saya yang baru lulus 2 tahunan, menanyakan kepada saya, apa keuntungan yang mereka dapat kalau mereka hadir ke reuni almamaternya. Dooooh …. kenapa harus keuntungan yang lebih dahulu? Mereka bilang, tanpa ada keuntungan yang mereka dapat (at least bisa bertemu orang orang terkenal di Indonesia) maka mereka tidak tertarik untuk datang ke reuni. Untuk apa?😦 Saya saat itu hanya bisa berkata ” kalau kamu merasa tidak penting, ya jangan datang, tanpa kehadiran kamu, toh reuni ini bisa berjalan”.  Kenapa harus mendapatkan keuntungan dari sesuatu yang bernama ‘reuni’? Bertemu kembali dengan  orang orang yang walaupun tidak terkenal tapi pernah membantu kita walaupun hanya bantuan senyum, bukan kah itu menyenangkan? Apakah mereka hanya mau perduli kalau alumni tersebut sukses, menjadi direktur di perusahaan Internasional di Indonesia, atau pejabat atau terkenal. Dimana rasa kekeluargaan nya? Ah saya benar benar gagal paham. Atau karena saya belum memiliki anak sehingga saya tidak tau perkembangan pendidikan anak anak di rumah sekarang? Tapi bukan kah semestinya sebagai orang tua mereka mengajarkan hal hal yg baik seperti tata krama yang dulu diajarkan oleh nenek kakek mereka? Sewaktu saya sekolah dulu, guru guru saya mengajarkan bagaimana kami harus menghormati orang yang lebih tua, membantu orang yang terlihat mengalami kesulitan, memberikan kursi di angkutan umum kepada ibu yang sedang hamil atau orang tua atau penderita cacat.  Bahkan karena saya sekolah di sekolah khatolik dengan suster suster itu, saya akan dipanggil karena cara tertawa saya yang terlalu keras, yang terlihat tidak sopan. Saya juga memikirkan jangan jangan anak anak muda ini juga lupa bahwa tanggal 28 Oktober adalah hari Sumpah Pemuda, dimana seluruh pemuda berjanji untuk satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa – Indonesia.  Atau bahkan tidak tau apa isi Sumpah Pemuda tersebut. Ahhhhhhh…… Pernah beberapa kali  saya membaca, juga mendengar pembicaraan teman teman saya, tentang banyak nya anak anak muda ini yang tidak mengetahui tentang sejarah bangsa. Tidak tau isi Pancasila, nama nama orang yang pernah menjabat sebagai Presiden RI, tidak tau apa arti warna merah dan putih di bendera. Tidak tau apa lambang negara Indonesia, dan masih banyak lagi . Apakah ini hanya karena mereka tidak tahu atau tanda bahwa mereka tidak perduli.  Karena itu bukan sesuatu yang penting di hidup mereka. Atau memang karena di hati mereka sudah terpatri bahwa kepentingan pribadi jauh di atas kepentingan negara, kelompok, keluarga . Uhmmmm………. Atau mungkin kita sebagai yang lebih tua seharusnya, mulai melakukan koreksi diri, jangan jangan memang kelakuan kita yang tidak bertanggung jawab, yang melupakan didikan orang orang tua kita (karena merasa sudah jauuuuuuhhhhhh dewasa), membuat pemuda(i) ini merasa tindakan mereka juga sah sah saja dilakukan. Atau mari kita bersama bahu membahu, mencari apa penyebab fenomena ini,  dan kemudian memperbaiki nya bersama sama, agar kesalahan pendidikan ini tidak terlanjur lebih dalam. Agar di dalam hati pemuda(i) , generasi penerus bangsa ini kembali tumbuh rasa keperdulian itu. Atau mungkin sebenarnya ….. rasa keperdulian Pemuda(i)  ini masih tinggi, tapi kebetulan yang saya temui hanyalah sebagian kecil dan itu adalah mereka mereka yang memang tidak punya rasa keperdulian. Semoga ……

2 thoughts on “

  1. Masih ada yang peduli kok mbak. masih banyak. Mbak Kharin sendiri contohnya. Harus optimis dong😀 Yang mbak Kharin temui itu paling cuman sebagian kecil aja. Yang peduli dan tidak terekspose jauh lebih banyak. Sepertinya begitu😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s