Pemimpin dan bukan Pemberi Mimpi

Sebentar lagi di almamater saya akan dilaksanakan  pemilihan ketua ikatan alumni.  Dan karena untuk pertama sekali dilakukan pemilihan secara langsung,  maka di milist alumni menjadi ramai dengan pembahasan dan kampanye kampanye  terutama dari pendukung pendukung setiap kandidat. Walaupun dari 9 kandidat, saya kira hanya saya dan satu orang dari 9 kandidat yang tidak bersibuk sibuk ria, berkampanye. Saya tidak tau alasan kandidat yang lain, tapi alasan saya mengapa – pertama saya dicalonkan hanya untuk memenuhi kuota 9 orang kandidat dan kedua – ya saya merasa tidak sepantasnya berada di posisi ini.

Saya membaca  kampanye setiap kandidat, saya membaca kampanye setiap pendukung kandidat. Dan saya hanya tersenyum, membayangkan, seandainya apa yang mereka katakan benar benar mereka lakukan tanpa harus menunggu sampai mereka di calonkan menjadi kandidat, saya membayangkan betapa indahnya hari ini.  Saya juga membayangkan betapa indahnya seandainya pendukung para kandidat juga mendukung pengurus pengurus yang lama, sehingga seluruh kegiatan termasuk persiapan untuk reuni dan pemilihan ketua akan berjalan dengan bantuan lebih banyak orang lagi.

Dan saya tau pasti, kalau saya tanyakan, kepada kandidat kandidat tersebut beserta para pendukungnya, mengapa mereka tidak melakukan hal hal yang mereka tulis saat ini, pasti jawaban nya sama, karena mereka saat ini bukan pengurus jadi tidak enak kalau mereka bukan pengurus.

Padahal, dari pengalaman saya, bisa kok kita melakukan yang saya inginkan untuk alumni walaupun saya bukan pengurus. Alasannya ya karena saya benar benar mau. Bukan saya mau karena saya punya kewajiban, saya mau melakukan karena saya ingin dan saya yakin bisa. Dan itu tidak harus menunggu, saya menjadi pengurus atau berniat menjadi pengurus atau berniat mendapatkan sesuatu.

Saya kemudian melihat kembali track record apa yang pernah mereka lakukan untuk organisasi ini dan anggotanya. Dan saya melihat kembali apa yang pernah dilakukan oleh para pendukung kandidat untuk organisasi dan anggotanya.  Hasilnya? Hampir tidak ada.

Saya hanya termangu sendirian dan mulai merenung sendiri. Sadarkah mereka apa yang mereka lakukan? Sadarkah mereka akan konsekuensi atas apa yang mereka tulis dan sebesar apa amanat yang mereka akan terima? Atau yakinkah mereka kalau yang mereka tulis bukan emosi semata, yang nanti apabila mereka ditengah jalan menemukan tantangan yang berat, apakah mereka akan berhenti karena toh apa yang mereka tulis itu hanya emosi sesaat?  Begitu juga dengan para pendukung kandidat, yakin kah mereka dengan siapa yang mereka dukung, sejauh mana mereka mengenal orang tersebut? Apakah hanya karena kandidat bisa menyerahkan sejumlah besar uang, atau karena menduduki jabatan yang sangat tinggi, atau apakah karena kandidat merupakan pilihan dari kelompok sehingga tidak etis untuk memikirkan yang lain?

Kemudian saya berpikir, ah sudah lah …. mengapa saya harus berpikir terlalu jauh. Itu tidak berkaitan dengan saya dan saya juga tidak perduli siapapun yang terpilih, toh kalau tidak berjalan sesuai harapan saya, saya punya waktu untuk mengundurkan diri dan tidak perduli.  Toh saya bisa puas memaki maki dari jauh.

Sama seperti dengan apa yang terjadi di negeri ini. Bagaimana pintar nya pemimpin pemimpin kita di pemerintahan yang kita pilih sebenarnya hanyalah Penjual Mimpi dan bukan Pemimpin. Sehingga jangan lah diharapkan kalau mereka bisa memimpin karena mereka memang bukan pemimpin. Dan mereka telah bemerhasil membuat seluruh pemilihnya untuk  Membeli Mimpi yang mereka tawarkan.  Dan apakah mereka salah? Tentu saja tidak, yang salah ya pemilih. Kenapa mau membeli mimpi dan bukan memilih Pemimpin. 

Jadi kemudian, kalau begitu – kita yang akan memilih,  semestinya harus lebih pintar dong untuk mencari cari informasi tentang kandidat, yang akan menjadi pemimpin mereka. Buka mata lebar lebar. Atau gunakanlah hati tapi janganlah lupa menggungakan kepala untuk mengevaluasi apa yang telah kita pilih dari hati kita.

Dan kemudian? Kalau ternyata ada kandidat yang merupakan Marketing Ulung yang bisa Menjual Mimpi kepada banyak orang?  Dan kita mengetahui hal ini, apakah kita cukup diam, karena merasa toh kalau yang orang tersebut terpilih, sepanjang kita tidak memilih, kita tidak bertanggung jawab dengan pilihan tersebut. Terlebih pasti di pikiran kita akan tercetus pikiran bahwa kita dengan begitu bisa lebih mudah untuk protes dan mencaci maki karena bukan kita yang memilih, apabila terbukti memang yang dijadikan pimpinan itu adalah Penjual Mimpi dan bukan Pemimpin. 

Tapi tadi pagi saya membaca tulisan yang membuat saya terhenyak :

“Suatu hari nanti kau pasti paham. Boleh jadi pula kau punya pendapat lain. Itu sah-sah saja. Tapi yakinlah, membicarakan orang lain, menggunjingkan orang lain, itu sungguh tidak elok padahal kau memilih untuk tidak terlibat dalam prosesnya. Dan lebih jahat lagi, ketika seorang pemimpin telah terpilih, kau justru lebih asyik memperoloknya dibandingkan membantunya bekerja. Bahkan binatang buas lebih pantas memperlakukan pemimpin kawanan mereka”  (Tere Liye : “Burlian : Serial Anak-anak Mamak”

Tulisan ini membuat saya berpikir panjang. Bahwa apapun keputusan dari hasil demokrasi, walaupun bukan pilihan saya. Saya ikut bertanggung jawab dengan seluruh hasilnya. Mengapa saya tidak mencegah dengan cara membantu masyarakat/calon pemilih membuka matanya ? Mengapa saya hanya diam karena merasa takut dengan pikiran pikiran saya bahwa orang orang akan berpikiran negatif ketika saya mengajak mereka memilih Pemimpin, yang bukan Penjual Mimpi? 

Saya yang telah diberikan hak untuk memilih dan kekuatan untuk mencegah orang orang memilih jalan yang salah, semestinya menggunakan dan bukan malah menyia nyiakan kesempatan.  Dan saya juga harus bertanggung jawab terhadap hasil keputusan yang dilakukan oleh kelompok, organisasi, lingkungan  dan negara saya.

Karena saya tidak mau menjadi lebih rendah daripada binatang buas  – yang tidak pernah memakan pemimpin nya sendiri walaupun mereka tidak suka.

Jadi sebaiknya kita seharusnya tidak lagi menjadi golput – karena mencari aman, kita seharusnya tidak diam ketika ada Penjual Mimpi yang merupakan Marketing hebat sehingga bisa menjual mimpi kepada banyak orang yang menyangka mereka ini adalah Pemimpin. Kita seharusnya berani untuk membuka mata masyarakat/calon pemilih untuk menyadari hal hal tersebut.

Dan sebagai orang orang yang ingin memajukan diri menjadi pemimpin. Kita seharusnya bertanya kepada hati nurani kita sendiri. Apakah kita memang Pemimpin atau apakah kita sebenarnya hanyalah Penjual Mimpi.

Selamat memilih

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s