Kalau itu sangat bernilai bagimu, maka perjuangkanlah!!

Banyak sekali orang orang yang memberikan warna di kehidupan saya. Tua, muda, anak anak, laki laki, perempuan. Ada yang memberi warna yang indah, ada yang kurang indah, ada yang hitam, ada yang putih, berwarna. Ada yang sedikit hampir berupa titik, ada yang banyak dan dapat terlihat jelas.

Salah dua orang yang memberikan warna ini pernah menghilang di kehidupan saya. Bahkan sampai saat saya menulis ini, saya belum bertemu kembali dengan mereka. Kesamaan dari keduanya adalah : saya terlalu takut untuk menghubungi mereka terlebih dahulu – walaupun rasa kangen saya sering sekali membuat dada saya terasa sesak. Saya takut mereka marah, atau menolak ketika saya hubungi. Bahkan untuk menanyakan keadaan mereka kepada orang orang yang mengetahui keberadaan mereka juga tidak berani saya lakukan. Dan beruntungnya, orang orang ini seperti mengetahui apa yang saya pikirkan, sehingga mereka tidak jarang memberitahukan keadaan ke 2 orang tersebut setiap kali bertemu dengan saya. Yup I am the lucky one.

Tetapi kemudian, komunitas baru saya sering,mengingatkan saya “if  it is something meaningfull for you, fight for it and if you do not try, the answer always “No” . Maka mulailah saya belajar mengalahkan ketakutan saya.
Pertama, dipenhujung  bulan Desember, setelah 15 tahun lebih saya tidak pernah menghubungi ayah saya, dengan rasa takut yang membuat perut saya sakit luar biasa,  kepala saya pusing, tangan dingin  dan jantung saya yang sepertinya berdetak 10 kali lebih cepat, saya menghubungi ayah saya. Setelah telefon saya tidak diangkat,  saya beranikan menulis pesan lewat sms. Yang tentu saja dengan penundaan pengiriman sekitar satu jam dari saya selesai mengetik dan tidak lupa isinya saya rubah berkali agar terlihat manis, penuh rasa cinta dan menghormati.

Penderitaan saya bertambah karena balasan sms ayah saya datang 2 jam setelahnya. Selama penantian itu,  saya benar benar kalut, dan tentusaja sedih. Sedih karena ayah saya sepertinya memang tidak mau lagi berbicara dengan saya, walaupun satu sisi lain saya merasa ringan, karena saya setidaknya sudah memberitahukan beliau saya ingin bertemu dan saya selalu sayang kepada beliau,
SMS balasab ayah saya  yang akhirnya datang, yang isinya memberitahukan alasan mengapa tidak bisa bertemu saya secepatnya dan akan menghubungi segera setelah beliau kembali ke jakarta plus kata kata kalau beliau mencintai saya, dan minta saya jaga diri baik baik, membuat saya merasa mendapat undian miliaran rupiah. SMS itu saya baca berulang ulang (dan masih sering saya baca, ketika saya sangat kangen, seperti hari ini) Ucapan terimakasih kepada Tuhan sepertinya tidak cukup atas anugrah terindah ini. Ingin rasanya saya memberitahukan semua orang (walaupun akhirnya hanya satu orang yg langsung saya hubungi dan saya ceritakan).  Saya merasa Tuhan sayang bangeeeeettt ke saya, saya diberikan hadiah akhir tahun yang terindah  yang tidak pernah saya bayangkan akan saya dapatkan, dan rasanya tidak ada kata kata yang cukup menggambarkan besarnya kebahagiaan yg saya rasakan.

Kedua, di bulan Januari, ketika saya ditanya, siapa yang ingin saya temui tapi tidak berani saya temui karena saya takut sekali beliau marah dan menolak saya. Walaupun saya tau jelas berapa besar kangen yang saya miliki, berapa banyak usaha yang saya lakukan untuk mengingkarinya. Padahal di setiap langkah saya, beliau selalu ada. Dan sering sekali ketika saya tidak bisa menghilangkan kekangenan saya, saya mengunjungi tempat tempat yang sering kami kunjungi dan berharap saya bisa melihat beliau, walaupun hanya 1 menit, walaupun hanya dari kejauhan.

Saya yakin, beliau mungkin tidak pernah tau seberapa besar arti beliau di hidup saya, dan tidak akan pernah menyangka sebesar itu, karena tentu saja beliau tidak bisa membaca pikiran saya dan saya tidak pernah mengungkapkan apa yang saya rasakan tentang beliau. Dan seperti cerita cerita lainnya, kita baru tau apa arti seseorang, ketika kita kehilangan mereka. Saya baru menyadari hal itu ketika beliau menghilang dari kehidupan saya.

Jadilah kemudian bulan Januari kemaren, seperti saat menghubungi ayah saya, saya juga merasakan sakit perut yang luar biasa sejak saya bangun tidur, tangan dingin, dan jantung yang berdetak 15 kali lebih cepat serta kepala yang rasanya menjadi pusing mendadak. Ingim sekali saya membatalkan keinginan saya, dan untunglah ada orang orang yang sampai last minute saya akan menelfon memberikan saya support yang luar biasa. Bahkan saking yakin nya saya kalau beliau tidak akan mungkin mau menerima telefon saya, saya sudah bersiap mengirimkan sms dan apabila setelah 3 hari sms saya juga tidak dibalas, maka saya akan mengirimkan bunga atau kue kekantornya dan menyelipkan kartu.

Dan saya hampir pingsan ketika beliau menjawab telefon saya, ramah tanpa marah bahkan kami ngobrol seperti biasanya. Bagi saya hari itu hari terindah di awal tahun dan kado yang luar biasa tidak ternilai. Setelah telfon ditutup, saya merasa seperti mimpi, saya ingin memeluk Tuhan, dan bilang terimakasih atas anugrahnya kepada saya yang sering sekali “bandel”. Saya tidak tau, apakah beliau merasakan hal yang sama, atau bahkan bagi beliau tidak ada artinya.  Saya tidak tau. Saya tidak ingin menduga duga dan berpikiran negatif.

Mau menjawab telefon saya, mau mendengarkan cerita cerita bodoh saya, itu saja sudah luar biasa berartinya untuk saya. Sudah membuat hati  saya menjadi hangat, membuat senyum saya bertebaran kemana mana, membuat saya merasa bahagiaaaaaa. Yup, salah satu anugrah terbesar yang saya terima.

Kalaulah ini memang kesempatan saya yang terakhir yang diberikan Tuhan untuk membuktikan kesungguhan saya, untuk meraih mimpi saya, saya tidak mau menyia nyiakannya. Ambil resiko walaupun mungkin resikonya saya akan malu, ditertawakan orang orang.  Kun Fayakun, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah ketika Beliau merestui. Saya hanya tau saya berusaha, berdoa dan percaya, karena kalau pun yang diberikan bukan seperti harapan saya, tapi itu pasti yang terbaik bagi saya.

Saya hanya perlu keberanian untuk memperjuangkan apa yang menurut saya sangat bernilai di hidup saya dan kalau saya tidak bertanya maka jawabannya akan selalu “TIDAK”. Apapun hasilnya, saya setidaknya sudah melakukan yang terbaik, dan itu jauuuh lebih baik  bagi hati saya, dari pada tidak melalkukan apapun, atau menyesal karena tidak mempergunakan waktu yang ada untuk memperjuangkan apa yang berarti untuk saya sebelum hal terebut sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Kalaupun hasilnya tidak seperti yang saya inginkan, saya bisa belajar banyak dan kemudian ketika mencoba lagi, saya tidak melakukan kesalahan lagi.

So. … bagaimana dengan anda? Beranikah memperjuangkan apa yang bernilai di hidup anda, walaupun dengan resiko yang besar, atau anda hanya diam dan memilih untuk tidak melakukan apa apa karena takut kehilangan zona nyaman anda?

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s