Tentang piring retak (- apakah kita masih mau menggunakannya)

Seperti biasa ketika sore jam pulang kerja dan di luar hujan, sembari menunggu hujan reda, saya menyempatkan menonton youtube – dan salah satu acara favorit saya adalah salah satu acara di tv swasta yang deibawakan oleh Dedi Corbuzer (DC).

Dan kali ini saya cukup terbelalak dengan kata kata beliau menanggapi salah seorang bintang tamu yang memutuskan akan bercerai dengan pasangannya karena merasa bahwa kepercayaan yang diberikan oleh bintang tamu ini telah disalah gunakan oleh pasangannya, jadi menurut bintang tamu itu ibarat piring yang sudah pecah, walaupun sudah direkatkan tetap saja piring itu retak.  Jadi tidak mungkin bintang tamu ini memaafkan pasangannya dan kembali kepada pasangannya.

Menurut DC – kata kata ini paling sering banget orang orang menggunakan simbol piring pecah ini untuk kasus kasus yang terjadi pada pasangan. Tapi ada satu yang tidak pernah dikatakan “apakah setelah piring itu retak, masih maukan kita menggunakan piring tersebut?”

Uhm ……

Bagi saya yang beberapa tahun belakangan ini, sering sekali mendengar kasus kasus perpisahan rumah tangga teman teman saya, hanya karena masalah sepele, jadi terpaku. Ini yang semestinya banyak yang harus didengarkan oleh teman teman saya. Sehingga sebelum saya menuliskan ini (sebelum saya lupa akan menulis apa),  saya membaginya di salah satu group di WhatsApp saya.

Nobody perfect dan setiap orang pasti berbuat salah, dan kalaulah memang merasa tidak bisa menerima, dan merasa pasangan kita “cacat”, mengapa tidak mencoba untuk menerimanya? Mengapa tidak mencoba melihat dari keinginannya untuk merubah, atau keinginannya untuk melakukan apapun untuk memperbaikinya?

Menikah bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan, butuh kedewasaan, butuh komitmen, butuh tanggungjawab, butuh pengertian untuk menerima perbedaan dan bukan memaksakan menyatukan perbedaan, butuh pengertian untuk  memberikan ruang bagi keduanya untuk berkembang, butuh pengertian bahwa cinta itu harus selalu di siram agar tetap tumbuh dan bukan dimatikan dan kemudian ditanam di tempat lain, butuh kesabaran untuk selalu bersyukur atas pasangan yang dengan penuh cinta merelakan menghabiskan hidupnya dengan kita.

Sebagai orang yang pernah menikah, tentu saya paham betul, hal ini tidak mudah. Saya paham betul bahwa bakal banyak masalah yang akan menghadang. Tapi selama masalah itu bukan lah karena selingkuh dengan wanita/pria lain, bukan karena tindakan kekerasan, narkoba – mengapa tidak mencoba untuk memperbaiki, dibanding langsung mengambil keputusan untuk berpisah. Terutama apabila di dalamnya telah terlahir anak anak yang tercinta.

Indonesia saat ini termasuk negara yang mempunyai kasus perceraian yang paling tinggi di Asia. Sehingga lembaga pernikahan dan pernikahan itu sendiri hanyalah seperti simbol  (sekedar ) untuk mensahkan pasangan hidup bersama , dan apabila tidak ada kecocokkan (walaupun semua juga tau, bahkan dengan saudara sekandung saja – sulit untuk menyatukan dua pribadi – karena masing masing adalah individu yang unik yang mempunyai ciri dan karakter masing masing).

Kalau begitu, kenapa harus menikah? Dan harus sejauh manakah kita memaksakan pasangan untuk sejalan dengan kita? Dari pada mencari cinta baru, yang belum tentu juga akan seindah cinta yang lama, mengapa tidak mencoba untuk menyiram kembali cinta tersebut agar tetap tumbuh dan tidak dibiarkan tumbuh di tempat lain – kalau masalah nya adalah masalah masalah sepele yang seharusnya di hadapi berdua dan bukan malah dijadikan alat untuk membenci satu sama lain.

Apakah dengan berpisah, memang satu satunya masalah. Tidak pernah kah terpikir, kalau dengan orang yang baru mungkin hal yang sama akan terulang lagi? Atau karena memang perpisahan itu begitu mudah dilakukan di Indonesia, maka hal hal tersebut tidak menjadi masalah yang besar …… sehingga menikah – berpisah -menikah -berpisah -menikah – berpisah menjadi hal yang biasa? Apa tidak merasa lelah? Apa tidak merasa kasian dengan anak anak? Kenapa tidak mencoba berbesar hati dan mencoba mengecilkan masalah yang besar? Dan kemudian berpikir bahwa nobody perfect include myself.

Uhm …

Jadi … kembali kepertanyaan awal – ketika “piring” itu sudah retak,  apakah kita masih mau menggunakannya?”

Salam.

 

 

2 thoughts on “Tentang piring retak (- apakah kita masih mau menggunakannya)

    • Iya daku memang begitu, masih mau make piring retak. Yah kalau pilihan itu dianggap aneh, ya ra’po po😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s