Karena kambing sudah capek dikambing hitamkan, dan setan sudah capek disalahkan.

Sebagai seorang manusia, seperti yang lainnya juga, saya sering kali dan merasa senang apabila saya bercerita bagaimana saya menjadi victim / korban atas kesalahan kesalahan yang saya lakukan karena saya tidak akan dipersalahkan dan terkadang malah saya tidak perlu menerima konsekuensi atas apa yang saya lakukan. Malah tidak jarang saya justru mendapat perhatian yang luarbiasa, seolah olah saya adalah orang paling malang sedunia. Dan apa yang paling nyaman, selain berbuat salah tapi tidak perlu bertanggungjawab, malah diberi perhatian dan plus image saya tidak tercoreng?

Saya benar benar berada di ‘zona nyaman’ dimana kalau ada kejadian, maka yang saya cari bukanlah pembelajaran dari kesalahan itu agar tidak terulang lagi, tapi siapa atau apa yang dapat saya jadikan sebagai setan atau kambing hitamnya. Contoh yang paling sering, ketika saya terlambat – yang saya salahkan adalah jalan yang macet – padahal ya kalau dipikir pikir, sejak kapan jalan di Jakarta enggak macet? Trus kenapa saya enggak mencoba berangkat lebih pagian untuk mengatisipasinya? Trus ketika saya berbuat dosa – yang saya salahkan adalah setan, (padahal si setan mungkin lagi adem ayem berbuat baik hahahhahaa).  Yang lebih lucu pernah suatu saat saya melihat di salah satu infotaiment bagaimana ada seorang suami yang mengaku digunai -gunail seorang ariti ketika ketangkap basah berselingkuh oleh istrinya. Padahal logikanya, kok dia bisa tau kalau dia sedang di guna gunai, trus kenapa sadar nya sewaktu ketangkap basah. Hahahaahhahaha.

Anehnya fenomena menyalahkan setan ini kasus yang paling sering dilakukan justru oleh orang orang yang mengaku sangat tinggi pendidikan agama dan keimanan nya. Misalnya kalau terlupa sholat – mengatakan hal ini terjadi karena di goda setan, makan di saat puasa – mengatakan ini terjadi karena di goda setan, Atau tidak sholat atau sembahyang – mengatakan ini karena tergoda setan. Anak yang bandel karena godaaan setan.

Dan kemudian saking nyamannya posisi sebagai victim/korban itu, saya mengulangi nya lagi dan lagi dan lagi. Saya tidak ingin berganti posisi. Sehingga jadi kebiasaan yang melekat di diri saya.

Padahal ya … kalau lah saya mau sedikit saja berubah posisi, tidak lagi sebagai korban, saya bisa mengambil pembelajaran dari apa yang terjadi sehingga saya tidak lagi jatuh di kesalahan yang sama. Tapi ya karena saya senang banget di zona nyaman saya, ya jadilah saya menjadi lebih bodoh dari kedelai – saya jatuh kembali kesalahan yang sama. Dan kalau keseringan jatuh di tempat yang sama – saya mulai deh mengganggap kalau itu memang ‘takdir’ saya (iya saya lebay ….😀 )

Dan kalau  zona nyaman itu sudah tidak nyaman, karena mungkin orang sudah bosan mendengarkan alasan saya,  atau banyak orang yang marah kepada saya, atau efek akibat kesalahan saya semakin besar dan sudah tidak bisa ditolerir lagi, maka saya mulai deh membuat ‘drama’  baru – saya mulai semakin kurang ajara dengan menyalahkan Tuhan. Saya menganggap Tuhan tidak adil, saya mulai merasa menjadi ‘orang paling sengsara sedunia’ – yang sengsaranya melebihi lagu dangdut ‘orang termiskin didunia’.  Hahahahahahhaaha

Trus saya mulai memikirkan dari sisi kambing hitam dan sisi setannya. Kasian banget mereka berdua, kalau setiap saat  saya salah, saya menjadikan mereka sebagai penyebab kesalahan saya, karena ketidak inginan saya bertanggungjawab. Betapa capeknya mereka. Bayangkan saja kalau setengah saja penduduk bumi melakukan hal yang sama seperti saya satu kali satu hari. Pfuiiiihhhhhhhhhhhh …. udah pada tewas mungkin.

Untungnya mereka enggak bisa membela diri – jadi pasrah deh disalahin orang orang, coba kalau pada bisa ngomong plus pada bisa marah ….. kebayang deh ……. hahaahhahahahhahaa

Dan saya kemudian memutuskan – untuk tidak lagi (setidaknya saya akan mengurangi menggunakan keduanya😀 ), setiap kali saya melakukan kesalahan – dan bertanggungjawab atas apapun yang saya lakukan. Karena dari situ saya bisa belajar menjadi dewasa dan bijaksana.

So …. yukkkkk mari tidak lagi hidup menjadi sebagai korban  tapi menjadi orang bertanggungjawab, karena seperti judul di atas – kambing sudah capek dihitamkan dan setan sudah cape dipersalahkan.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s