Karena orang lain tidak bisa membaca pikiran saya.

Kemaren saya kembali menyadari satu hal – saya sering kali merasa orang lain bisa membaca pikiran saya, misalnya – saya biarkan mereka tidak menepati janjinya – terus bukannya saya mengingatkan tentang janji yang mereka ucapkan dan mengingatkan mereka agar tidak melakukan itu lagi dan memberitahu mereka apa yang saya rasakan ketika mereka mengingkari janji, saya malah membiarkan hal itu terjadi berulang ulang, akibatnya saya kemudian marah marah sendiri, emosi sendiri, bad mood sendiri.

Padahal kan kalau itu saya ucapkan tentu mereka bisa mengerti apa yang mengganjal di hati saya. Dan ada kemungkinan mereka juga tidak akan mengulang hal yang sama. Atau kalau lah mereka tidak berubah setelah saya bicarakan apa yang saya rasakan, setidaknya saya tidak lagi marah kepada diri saya sendiri, karena membiarkan hal hal itu terjadi kepada saya.

Atau ketika saya mengharapkan seseorang mengajak saya makan bersama di ulang tahun saya, bukannya saya mengatakan keinginan saya, saya malah mengharapkan orang tersebut bisa membaca pikiran saya (saya lupa kalau tidak semua orang terlahir jadi Deddy Cobuzier yang bisa membaca pikiran orang lain). Akibatnya orang tersebut tidak tau apa yang saya mau, dan saya marah marah sendiri kepada diri saya, merasa menjadi orang termalang di dunia (yup saya lebay hahahahahahhaa). Padahal mungkin kalau lah itu saya ungkap kan apa yang saya inginkan, mungkin akan berubah,  yah setidaknya kalau karena kesibukkannya beliau tidak bisa, saya bisa mencari alternatif orang lain untuk saya ajak menikmati makan malam bersama saya.

Dan parahnya itu, sampai tiga atau empat hari lalu saya masih merasa jengkel dengan kejadian itu, sebel kepada orang tersebut, sebel sama diri saya. Jadi mellow enggak jelas (iya … sekali lagi saya emang lebay … drama queen kelas berat).  Padahal ya kalau saya tidak menjelaskan bagaimana dia tau, wong ketika pulang saya terlihat sok fine – sok baik baik saja begitu hahahahahhahahaahaha. Dan kalau saya mau mencoba mengambil positif nya , mungkin dia juga enggak merasa sadar itu sangat berarti buat saya.

Bukan itu saja, banyak lagi kejadian kejadian kejadian di hidup saya, dimana saya memaksa orang lain untuk bisa membaca pikiran saya, misalnya ketika saya sakit, sedih, kecewa, bahagia, kangen, dll. Dan kemudian menjadi marah yang dipendam bertahun tahun , yang diingat ingat setiap saat kalau kejadian nya berulang – mereka tidak bisa membaca apa yang saya mau.

Terus kemudian saya mulai men judge orang orangtersebut sebagai orang yang tidak mengerti tentang saya, tidak perduli kepada saya, tidak mau tau, tidak sayang saya, egois dan lain lain.

Padahal akar masalahnya ya saya sendiri. Saya tidak memberitahu apa yang ada di pikiran saya, saya tidak menjelaskan apa yang saya rasakan, saya tidak berani menerima resiko, merasa takut kalau orang lain akan marah atau meninggalkan atau menolak saya kalau saya mengatakan sejujurnya apa yang saya pikirkan, apa yang saya mau.

Padahal mengapa musti takut kalau ditolak, atau dimarahin atau ditinggalkan? Toh itu bukan berarti saya yang salah, saya yang jelek, saya yang tidak bagus. Mungkin memang mereka kondisinya tidak bisa, mereka sedang sibuk, mereka sedang tertimpa masalah, dikejar deadline atau mereka sedang tidak mood untuk melakukan itu.

Dengan mengatakan apa yang saya pikirkan dan rasakan, bukannya dunia jadi terasa lebih damai karena orang – orang mengerti jalan pikiran saya, dan saya bisa mengerti alasan mengapa mereka memilih jalan yang tidak sama dengan apa yang saya inginkan.

Saya juga tidak lagi berasumsi, kemudian marah mrah, atau bersedih sedih ria, mellow enggak juntrungan, bad mood, dll.Saya bisa mencari alternatif alternatif lain yang bisa saya lakukan untuk memenuhi keinginan saya, yang jelas saya tidak lagi terbeban dengan asumsi negatif saya dan jugdment terhadap orang orang tersebut.

So … kalau ada yang seperti saya, yuukk kita mulai memberanikan diri untuk menjelaskan apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, daripada memaksa orang lain untuk bisa membaca dan mengerti hati dan perasaan kita.

Salam

2 thoughts on “Karena orang lain tidak bisa membaca pikiran saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s