Agama, Kebencian dan Cinta

“Jika memang tidak bisa bersaudara dalam keimanan, setidaknya tetaplah bersaudara dalam kemanusiaan.” (Ridwan Kamil)

Kata – kata ini saya baca dari twitter -nya Bapak Ridwan Kamil, yang menurut saya wise banget, dan cocok banget dengan keadaan di Jakarta saat ini.

Saya teringat kekesalan ibu saya minggu lalu, karena ada tetangga yang bercerita kepada beliau, bahwa ada yang tetangga yang lain – tidak mau lagi ngobrol atau berteman dengan ibu saya karena mengetahui bahwa kakak saya dan keluarganya beragama yang berbeda.

Kata ibu saya, yang membuat beliau kesal bukan karena tetangga tersebut tidak mau berbicara/bergaul, tapi karena alasan nya. Urusan beragama apa pun itu kan urusan pribadi. Kenapa orang lain harus sibuk menghakimi orang lain karena pilihan nya. Di surat Al Kafirun juga dijelaskan “agamamu agamamu, agamaku agamaku.”  Jadi kenapa harus membenci karena perbedaan itu? Soal dosa atau tidak, biarlah itu menjadi tanggung jawab masing masing. Toh memang di hari akhir nanti setiap orang harus menanggung perbuatannya masing masing, bukan menanggung perbuatan tetangganya?

Saya termasuk orang yang beruntung yang mempunyai ibu, yang memberikan saya dan saudara – saudara saya kebebasan, memilih apa yang kami percayai. Saya merasa beruntung punya keluarga yang beragam, jadi setiap ada acara besar keagamaan, berarti ada acara kumpul – kumpul bareng keluarga besar. Dan apapun penghakiman orang terhadap keputusan ibu saya, saya tidak perduli. Yang saya tau, ibu saya tidak akan  menyetujui, kalau anak – anaknya berganti agama karena alasan mencintai seseorang.  Karena itu bukan beriman kepada Tuhan, tapi karena beriman kepada manusia. Dan itu tidak benar. Agama dan Tuhan bukan mainan seperti itu. Jangan menipu Tuhan kata ibu saya.

Saya dan saudara – saudara saya juga termasuk beruntung karena dari kecil kami dibesarkan dengan dua agama. Beruntung karena kami bisa melihat keindahan masing masing agama, karena kami bisa merasakan keindahan hati orang – orang yang berbeda diantara kami.

Sehingga saya dan saudara – saudara saya, agak sulit untuk mengerti mengapa orang harus berantem karena sesuatu yang berbeda apalagi yang perbedaan yang diributkan adalah tentang agama, karena setiap agama mengajarkan cinta kasih bukan mengajarkan membunuh satu sama lain. Karena setiap agama mengajarkan tentang memaafkan dan bukan tentang membenci. Dosa atau tidak, masuk surga atau pun neraka, biarlah itu menjadi urusan pribadi masing masing.

Tidak suka orang lain, karena agamanya berbeda – menurut saya agak aneh. Apalagi kemudian apapun yang dilakukan nya, apapun usahanya, apapun permintaan maafnya tidak bisa diterima hanya karena agama yang berbeda.

Kalau memang yang dilakukan nya salah ,  biarlah pengadilan yang memutuskan, bukan malah mengajak ngajak orang lain untuk membenci, dan yang lebih parah adalah kemudian malah “membully” orang lain yang membela orang tersebut. Bukan hanya sekedar ‘membully’, bahkan lebih dari itu, dimusuhi, dijauhi.Padahal  mereka satu agama. Padahal mereka hanya mengungkapkan pendapatnya. Mengapa tidak boleh berbeda?

Kemudian mengapa harus terus berburuk sangka kepada orang lain yang berbeda keyakinan? Mengapa tidak mau sedikit saja membuka mata hati untuk melihat apa yang telah dilakukannya, karena akan sulit melihat kebaikan apapun selama kebencian masih menutupi hati. Sulit sekali untuk menyadari, bahwa apapun yang terjadi adalah atas seijin Allah, jadi kalau ini terjadi, maka seharusnya melihat apa hikmatnya kejadian ini?  Padahal Allah itu Maha Pemaaf, mengapa kita tidak berusaha juga memaafkan? Bukan malah menjadi membabi buta marah dan membenci segalanya, bahkan membenci dan marah yang tidak jelas kepada orang yang membelanya? Maafkanlah karena mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.

Saya bukan ingin membela seseorang yang sedang bermasalah sekarang, karena saat ini biarlah pengadilan yang memutuskan. Biarlah  hakim bebas memutuskan apapun tanpa perlu takut keluarga maupun  diri nya akan dihujat apabila keputusan nya berbeda dari keputusan “haters’nya. Biarlah keputusan nya benar benar keputusan yang adil sesuai dengan hukum yang ada, dan bukan keputusan yang mengikuti emosi. Karena pengadilan mencari keadilan bukan mencari kebenaran.

Saya ingin mengajak agar kita tidak saling membenci hanya karena agama. Kita tidak saling membenci hanya karena orang berbeda keyakinan nya dengan kita.

Indonesia butuh banyak cinta, bukan butuh banyak kebencian. Indonesia butuh banyak orang yang perduli kepada masa depan anak bangsa ini, dari pada orang – orang yang mengajak orang lain membenci orang – orang lain. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling bersatu bahu membahu, membangun negara ini. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling memaafkan, untuk tidak membesarkan masalah yang sebenarnya bisa dimaafkan.

Jadi, yuk kita gunakan cinta kita untuk membangun negara ini. Yuk kita hentikan saling membenci karena perbedaan terutama karena perbedaan agama yang pastinya mengajarkan kita  tentang cinta kasih dan memaafkan sesama.

Salam

 

Apakah bangsa ini mengalami krisis kepribadian?

Saat saat ini, saya sedang merindukan masa kecil saya, dimana kata – kata  “Bhineka Tunggal Ika”,  berbeda beda (suku, agama, ras), tapi tetap satu benar – benar dapat saya rasakan dimanapun saya berada. Mungkin ada krisis krisis kecil antar tetangga karena perbedaan, tapi biasanya juga akan ada banyak orang yang mendamaikan. Kalimat “tepo seliro” – bertenggang rasa itu tidak jarang diucapkan.

Saya juga merindukan dimana media massa (yang waktu itu hanya ada tv, radio dan koran), tidak akan menuliskan atau memberitakan berita berita yang tidak jelas asal muasalnya, atau berita berita yang bersifat mengungkap aib orang lain yang tidak sepantasnya diumbar, atau berita berita yang berisi kalimat makian atau hinaan yang tidak sepantasnya diucapkan dimuka umum terhadap orang lain oleh pejabat.

Mungkin karena pemerintah saat itu otoriter, jadi hal hal ini seperti ini tidak mungkin bisa lolos diberitakan (kalau menurut pikiran sederhana saya, kalau begitu – tidak mengapalah pemerintah otoriter dalam hal ini), atau mungkin karena globalisasi belum begitu terasa, sehingga kita belum terpengaruh (kalau menurut pikiran sederhana saya, mustinya Indonesia yang jumlah penduduknya termasuk yang paling besar di dunia – justru seharusnya bisa membawa kepribadian bangsa utk ditularkan kepada negara negara yang lain didunia). Atau karena kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita mudah banget mengakses apapun. Ah entahlah.

Hari hari ini, setiap membaca berita, membaca medsos yang penuh dengan persoalan saling tuduh atas nama penistaan agama, saya kemudian memikirkan kembali apa yang pernah diajarkan guru ngaji saya tentang surat Al – Kafirun ….. “agamamu agamamu, agamaku agamaku, jangan ganggu agamaku dan aku tidak mengganggu agamamu.”

Pesan yang menurut saya sangat mudah banget utk dimengerti apabila kita tidak memikirkan hal hal yang rumit dan membesar besarkan segala hal. Atau saya ingat banget, diajarkan untuk tidak membuka aib orang di muka umum, karena bisa menimbulkan pertengkaran (saya tidak diajarkan untuk tidak membuka aib kecuali orang tersebut beragama lain). Biarkanlah pengadilan yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Toh sudah ada pengadilan.

Kalau lah pengadilan sudah bekerja, mengapa kemudian harus lagi mengajak orang orang untuk melakukan kegiatan kegiatan  menghujat tersangka? Apalagi yang diinginkan? Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya, kemudian siapa kamu yang tidak mau memaafkan orang lain ?  Padahal kamu tidak lebih hebat dari Tuhan mu.

Dan anehnya, orang -orang yang mengajak untuk tidak membesarkan hal – hal seperti ini, malah dianggap sebagai “Pendosa Besar”. Kenapa berani sekali kemudian menjadi Tuhan yang menentukan siapa yang pendosa dan siapa yang tidak? Dan kemudian melebih lebihkan dengan mengajak semua orang utk ikut memusuhi orang orang yang berpikiran seperti saya. Kenapa menjadi arogan dengan membawa bawa nama agama?

Saya ingat juga sewaktu saya sekolah di sekolah Katholik, dan dipelajaran agamanya, ada cerita dimana banyak orang orang yang akan melemparkan batu kepada perempuan yang bekerja sebagai PSK .. kemudian sang nabi berkata, orang orang yang tidak pernah berdosa boleh melemparkan batu ketubuh perempuan ini. Dan semua orang disana berhenti karena malu, karena pada dasarnya siapa yang tidak pernah melakukan dosa? Begitu juga kita …… mengapa kita bangga sekali membuka segala aib orang lain, membesar besarkan nya, kemudian mencemooh nya seolah kita adalah mahluk yang putih bersih bebas dari dosa?

Saya ingat juga, sewaktu saya kecil, saya diajarkan untuk bertutur kata sopan kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih dewasa. Sopan santun menjadi salah satu yang selalu ditekankan kepada saya baik di rumah maupun di sekolah. Dan saya selalu berpikir, itu juga salah satu ciri kepribadian bangsa ini  ramah tamah dan sopan santun.

Tapi apa kemudian yang saya lihat belakangan ini, orang dewasa bahkan anak – anak kecil yang dengan bangganya menulis kalimat caci maki terhadap selebritis bahkan pejabat yang tidak mereka sukai, yang bahkan mereka tidak kenal dekat 😦

Saya miris sekali membacanya, sampai ada masa saya males membuka medsos kecuali email & WA. Dimana mereka belajar ini? Apakah orang tua, sekolah dan lingkungan nya tidak mengajarkan sopan santun? Dan apa hak mereka untuk mencaci maki orang lain yang bahkan tidak pernah mereka temui di dunia nyata. Ah entahlah.

Bahkan ada beberapa stasiun tv yang mempunyai acara yang berisikan tentang orang orang yang saling caci maki dimuka publik, seakan akan bahwa tayangan yang sperti itu memang selayaknya ditonton oleh anak anak kecil di negara ini.

Dan saya kemudian berpikir – dimana hilangnya kepribadian bangsa saya, bangsa Indonesia ini? Dimana kebhineka Tunggal Ikaan itu hilang? Dimana kepribadian ramah tamah dan sopan santun itu pergi? Atau memang bangsa ini sedang sakit? Sedang mengalami krisis kepribadian? Sehingga segala yang baik baik baik — mulai hilang satu per satu.

Sekali lagi entahlah. Saya tidak tau harus menjawab apa. Yang saya tau hanya lah mengajak lingkungan saya untuk mengembalikan kepribadian bangsa ini, tidak ikut ikut an dalam menyebarkan kebencian dan menghargai orang lain yang berbeda dengan saya. Mungkin anda juga bisa melakukan hal yang sama.

Salam

 

 

 

Hari Kesaktian Pancasila – (dan masih saktikah Pancasila itu?)

Hari ini 1 Oktober – adalah hari kesaktian Pancasila. Mungkin anak anak sekolah sekarang kalau ditanya isi Pancasila pada enggak ingat lagi 🙂 Saya sendiri tadi pagi ketika mencoba mengingat ingat isi Pancasila agak lupa di sila ke 5 hahahahhahha. Untung enggak lama ingat kembali.

Ketika saya mengingat Sila ke 2 – Kemanusiaan yang adil dan beradap —– saya kembali teringat akan asap di sumatera dan kalimantan. Apakah  cukup adil dan beradap terhadap orang orang yang ada di sana?

Atau Sila ke 5 – Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia —- cukup adilkah apa yang  mereka terima sekarang?  Ketika saya, anda pura pura tidak melihat apa yang mereka alami saat ini.

Dan kalau ke duanya jawaban nya TIDAK ….. lalu apa saktinya Pancasila itu?

Lalu apa gunanya peringatan hari kesaktian Pancasila itu? Cuman sekedar perayaan – tanpa arti  – hanya kewajiban apel di kantor atau disekolah?

Saya yakin, ketika para sesepuh kita membuat Pancasila dengan ke 5 Sila nya – yang ada dibenak mereka adalah gambaran di masa depan – agar pemerintah dan warga negara Indonesia – bisa menjalankan hidupnya di negara tercinta ini dengan berlandaskan sila sila ini.

Mulai dari setiap waraga negara diharapkan percaya akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, setiap warga memperlakukan sesamanya adil dan beradap – bukan dengan kata kata kasar atau tidak senonoh – bukan memaki maki seperti yang dilakukan hatters , tetap bersatu walaupun berbeda beda baik suku, agama, ras dan golongan, mengambil keputusan lewat musyawarah dan mufakat dan tidak ada lagi ketimpangan sosial antara warga negara.

Dan lihat apa yang terjadi di Indonesia sekarang? Ketika menghormati agama orang lain – sering dianggap kafir, menyatakan ucapan selamat atas peringatan agama yang berbeda – dicemooh.

Ada etnis tertentu yang memimpin – langsung di perolok asal muasalmya – dipertanyakan nasionalitas nya – padahal sudah jelas nenek moyang nya hidup dan tinggal di Indonesia. Bukti apa lagi yang menyatakan dia adalah orang Indonesia – dan siapa yang sebenarnya yang bisa di cap punya nasionalisme? Apakah indikatornya nama yang ada di ktp mereka? Etnis yang melekat didarah mereka? Atau apa yang mereka lakukan untuk bangsa ini, yang mereka lakukan demi negara ini?

Ada yang tidak sesuai – langsung diucapkan dengan kata kata yang tidak pantas dan diumbar di media sosial yang bisa dibaca siapa saja.  Seenaknya memaki maki orang lain karena pekerjaan nya yang artis – padahal  belum tentu juga apa yang terlihat memang begitu, atau apa yang dibicarakan memang begitu. Terus kalaulah semua benar – apa hak mereka untuk memaki maki orang lain?

Ada orang yang terkena kasus, yang diobrak abrik adalah keluarganya mulai dari pasangan suami/istrinya, anak anaknya bahkan orang tuanya, padahal mereka mungkin tidak mengetahui apa apa, dan tanpa perasaan mengejar ngerjar dan berusaha mengambil foto dari mereka. Buat apa?  Yang terkena kasus kan bukan mereka.

Hari ini tanggal 1 Oktober – Hari Kesaktian Pancasila.

Selain dengan melakukan upacara dan mengibarkan bendera – mari kita tanyakan hati nurani kita sendiri – benarkan Pancasila itu masih sakti? Kalau tidak apa yang bisa saya dan kita semua lakukan sehingga perjuangan pendiri negara ini tidak sia sia.

Salam

Karena Gajah Di Pelupuk Mata Sering Tidak Terlihat

Judul di atas sebenarnya berasal dari salah satu bbm (blackberry messenger) yang saya terima beberapa hari lalu dari salah seorang teman saya, yang setiap pagi tidak jemu mengirimkan kata kata motivasi kepada saya dan orang orang lain. Saya merasa sedikit tersentil dengan kata kata yang terpampang di bb saya , yang intinya menyatakan jangan pernah kita seperti kata pepatah “Semut disebrang lautan tampak tapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.

Masyarakat kita (termasuk saya) memang sering banget dilanda penyakit ini  —– lebih mudah untuk melihat yang jauh dari pada yang dekat.

Sering sekali kita bersibuk sibuk ria ingin mengumpulkan sesuatu (baik tenaga, maupun materi) sebagai bentuk rasa solidaritas kita terhadap kejadian yang terjadi di luar negeri, tapi kita terlupa kalau di negara kita yang tercinta ini masih banyak juga masyarakat yang membutuhkan bantuan dan perhatian.

Atau lihat kejadian, dimana kita marah sekali ketika tenaga kerja Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar negeri di perlakukan kasar dan tidak manusiawi. Tapi kita sering kali juga melakukan hal yang sama terhadap asisten rumah tangga kita. Memaksa mereka kerja 24 jam 7 hari seminggu, dengan upah yang bisa dikatakan amat teramat sangat dibawah upah yang wajar. Bahkan hak cuti mereka kalau bisa kita hapus. Bahkan tidak jarang saya melihat sendiri bagaimana sang asisten rumah tanggga ini harus menyuapi anak anak majikannya di rumah makan, tapi tidak diberikan kesempatan untuk menikmati masakan di rumah makan tersebut, bahkan juga tidak diberikan minuman. Uhm …  bukan kah kita juga sudah melakukan sesuatu yang tidak manusiawi?

Atau kita juga sering sekali mengutuk orang tua yang memaksa anaknya bekerja sebagai pengemis atau penyanyi jalanan. Sebenarnnya kalau kita lihat dari kacamata ekonomi tentang supply dan demand  —– kalau tidak ada orang yang memberikan uang kepada anak anak ini, tentulah  tidak akan ada orang tua yang memaksa anaknya untuk bekerja seperti itu. Tapi yang kita lakukan adalah memberikan mereka uang karena kasihan dan kemudian kita mengutuk orang tua mereka dan juga malah marah kepada pemerintah daerah yang sudah melarang pemberian uang kepada pengemis dan pengamen jalanan.  Ya … sebenarnya kitalah sumber masalah nya .

Atau contoh yang lain saya yang sering sebal dengan kasus suap. Trus dilanjutkan dengan mengutuk mereka yang diberitakan telah melakukan dan menerima suap, bahkan tidak cukup dengan itu , malah dengan semena menanya saya juga ikut mengutuk keluarga mereka. Tapi sebenarnya saya juga membiarkan praktek suap kecil kecilan terjadi – misalnya ketika mengurus KTP misalnya. Saya lebih senang apabila urusan KTP saya bisa diurus oleh orang lain (red: agen) malah rela membayar lebih untuk biaya suap ke pegawai yang mengurus agar KTP saya bisa secepatnya selesai tanpa saya harus repot mengantri atau pergi ke kelurahan.  Padahal dengan begitu saya kan sebenarnya sudah ikut melegalkan praktek suap. Tidak itu saja, ketika ada teman saya atau OB saya yang kena tilang oleh polisi, saya malah sering bertanya, kenapa musti ditilang, apa enggak bisa dibayar saja ? Doooohhhh …. jadi malu sendiri kalau mengingat kejadian itu.

Hal yang lain …. saya sering sekali mengomel apabila ada  orang orang terdekat atau teman sekantor saya yang tidak perduli pada kesehatan nya, Mengomel kalau mereka tidak kedokter kalau sedang sakit, atau memaksakan ke kantor apabila belum sembuh dari sakit. Padahal, saya sendiri, orang yang termasuk bandel banget – sampai dokter saya, untuk yang kesekian kalinya memperingati saya untuk segera operasi sinus, untuk mengangkut polip saya yang sudah meradang parah. Padahal operasi itu cuman 1 hari, tapi tetap, saya tidak berusaha menghentikan kesibukan saya sejenak, yang membuat si polip semakin berontak marah dan frekwensi saya meminum si pain killer sudah semakin sering, karena tanpa itu saya tidak bisa lagi menahan sakitnya kalau sedang kumat 😦

Atau tentang kita yang gusar ketika kuota masyarakat Indonesia yang bisa menjalankan ibadah haji tidak ditambah oleh pemerintah Saudi Arabia. Padahal sebenarnya, kalau lah banyak orang yang tidak karena keegoisan nya – atau dengan alasan merindukan rumah Allah, pergi berkali kali haji dan tidak memberikan kesempatan orang lain untuk melakukan hal yang sama, tentu kuota haji Indonesia akan cukup bagi masyarakat kita. Tapi ya …. memang lebih mudah melihat masalah orang lain ketimbang masalah yang timbul karena keegoisan kita. Miris.

Dan masih banyak kasus yang lain tentang hal hal seperti ini.  Saya sih berharap next time, ketika kita atau setidaknya saya dulu deh, ketika protes terhadap sesuatu, sebelum itu terucap, saya semestinya harus bisa melihat kembali, apakah saya termasuk penyebab masalah itu, atau apakah saya juga pernah melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu apakah bisa berhasil saya lakukan secara konsisten, atau kalau suatu saat anda bertemu dengan saya, dan saya protes terhadap sesuatu – anda boleh menegur saya, kalau itu terlihat seperti pepatah “gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.  Agar saya bisa menyelaraskan omongan dan perbuatan saya, soalnya, uhmmmm…… malu juga ah sama umur, kalau tetap tidak perduli dengan hal hal seperti ini 😀

Salam

 

Dan Perjuangan itu ternyata masih harus berlanjut (Catatan Menjelang 21 April 2013)

Walaupun saya bukanlah fans dari RA Kartini, dan walaupun saya masih menginginkan Cut Nya Dien atau Marta Christina Tiahahu sebagai simbol emansipasi perempuan – tapi sepertinya minggu minggu di bulan April adalah saat yang tepat untuk saya sebagai perempuan untuk mencoba mengevaluasi tentang emansipasi perempuan di negara saya.

Ternyata dari hasil evaluasi kecil saya – dari lingkungan saya – dari sudut pandang saya – perjuangan untuk memperoleh hak -hak yang semestinya sebagai perempuan, ternyata masih harus berlanjut. Masih banyak kejadian – kejadian di negara ini yang ternyata merampas hak – hak kaum perempuan dan yang lebih parahnya menggunakan agama sebagai alasan melegalkannya.

Saya bukanlah termasuk kaum feminis extreem yang menginginkan perempuan harus bisa menggantikan laki -laki atau mengatakan bisa hidup tanpa kaum pria. Yang saya inginkan adalah sebatas keadilan, diberikan kesempatan yang sama , tidak selalu dipersalahkan apalagi dengan menggunakan alasan agama.

Saya tidak menginginkan adanya Kementerian Pemberdayaan (atau  Memperdayakan ? :p) Perempuan, untuk apa? Dengan adanya kementerian ini secara tidak langsung memproklamirkan bahwa benar di Indonesia,perempuan masih dianggap sebagai mahluk yang lemah yang memerlukan kementerian khusus untuk mengurusnya. Bukannya cukup kementerian sosial atau pendidikan atau tenaga kerja? Toh saya belum pernah juga misalnya melihat Kementerian ini aktif dalam memperjuangkan masalah TKW di luar negeri, atau mengajak perempuan – perempuan muda untuk tidak menikah di usia yang relatif muda, atau membuka peluang besar kepada single mom yang tidak mempunyai modal untuk mendapatkan ketrampilan dan diberikan bantuan kredit untuk memulai usaha. Yang paling sering saya lihat sih aktif dalam kontes – kontes kecantikkan seperti Putri Indonesia, Miss Indonesia etc.

Saya merasa sampai saat ini, perempuan masih dianggap sebagai objek, dimana ketika bicara soal pemerkosaan, maka yang dibicarakan bukanlah soal persoalan perkosaan nya tapi pakaian apa yang dipakai perempuan yang diperkosa tersebut, ketika bicara tentang siswi yang hamil – yang dibicarakan adalah bahwa siswi tersebut tidak boleh ikut UN – karena siswi yg  bermoral jeblok tidak pantas untuk lulus di sekolah yang mengajarkan moral – terus kenapa siswa yang menghamili boleh juga ikut UN – mustinya ikut bertanggungjawab dong, kan kehamilan tidak terjadi dari aktifitas perempuan saja. Kemudian bagaimana dengan siswi yang hamil karena korban perkosaan? Apakah mereka juga tidak boleh ikut UN? Apa salah mereka? Apakah moral mereka juga akan dianggap jeblok karena diperkosa?

Paling parah kemudian adanya ide untuk mengetes keperawanan siswi -siswi di sekolah, dengan maksud menjaga moral. Uhm …. bagaimana dengan siswa, kenapa mereka juga tidak dituntut melakukan hal yang sama? Haruskah yang menjaga moral itu jadi beban perempuan saja?

Atau kemudian beberapa peraturan daerah yang khusus menempatkan perempuan di posisi yang tidak menyenangkan  – seperti tentang jam malam bagi perempuan. Uhm … bagaimana dengan perempuan yang harus bekerja sampai tengah malam seperti SPG, pelayan rumah makan. Dan kenapa tidak ada jam malam untuk pekerja pria. Saya pernah berbicara dengan salah seorang perempuan yang bekerja di SPBU yang merasa agak tidak adil, karena tidak bisa dapat shift malam, sehingga tidak pernah bisa mendapat tambahan upah seperti staf yang pria.

Atau tentang peraturan yang tidak memperbolehkan perempuan duduk mengangkang apabila dibonceng di sepeda motor. Alasannya? Entahlah. Mungkin suatu saat nanti gaya perempuan berjalan, bernafas, berbicara juga akan diatur oleh perda.

Yang lainnya seperti di milist yang saya ikutin banyak yang setuju agar perempuan tidak usah bekerja, sehingga banyak lowongan kerja yang akan terbuka untuk pria. Trus kalau tidak bekerja, bagaimana dengan single mom? Siapa yang membiayai hidupnya dan anak – anaknya? Bagaimana dengan saya misalnya – mosok dengan alasan tersebut saya harus mencari suami – bukan kah kemudian sebutan perempuan matrealistis akan dilekatkan kepada saya, karena mencari suami hanya untuk membiayai hidup saya 🙂

Atau juga saya masih melihat banyaknya keluarga terdekat yang memberi tekanan psikis  kepada perempuan yang melaporkan kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya. Sehingga kemudian perempuan ini menarik kembali laporannya, dan ya seperti diduga, pastinya akan kembali menerima kekerasan dalam rumah tangganya.

Yang paling sering membuat saya merasa miris ketika perempuan yang bekerja harus juga meminta ijin untuk menggunakan uang yang dihasilkan nya, untuk membeli kebutuhan nya sebagai perempuan misalnya lipstik atau bekerja menjadi TKW di luar negeri dan gaji yang dikirim untuk keluarganya dipergunakan sang suami untuk membiayai istrinya yang lain, dan masyarakat yang melihat itu merasa wajar sang suami mempunyai istri yang lain – karena “namanya juga laki – laki, kan punya kebutuhan, daripada “jajan” sembarangan.

Juga tidak terhitung luar biasa banyaknya tekanan dari masyarakat yang akan diterima oleh ibu rumah tangga yang bekerja, karena mereka akan selalu dituntut untuk menjadi super woman yang bisa melakukan seluruhnya sendiri. Mulai dari mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mencari nafkah. Bahkan kemudian apabila suami tercinta membantu melakukan pekerjaan domestik – sang ibu pastilah akan dianggap sebagai perempuan semena – mena yang tidak menghormati suaminya.

Saya juga tidak setuju dengan pemaksaan  menempatkan perempuan di posisi dewan hanya untuk memenuhi kuota. Mustinya diberikan kesempatan yang sama, bukan dikasihani dengan memaksa adanya perempuan di posisi itu walaupun tidak berkualitas hanya agar terlihat adanya kesetaraan gender. Dan kemudian perempuan yang ditempatkan di posisi dewan ini tidak diberikan kebebasan untuk menyuarakan pendapatnya dan pikirannya.

Saya tidak tau sampai kapan perjuangan ini akan berlanjut, saya tidak tau kapan perempuan – perempuan Indonesia akan bisa mendapatkan haknya yang tentu saja saya harapkan kemudian juga tidak disalah kaprahkan untuk menindas kaum pria 😀

Berharap saja tahun depan akan lebih baik, dan saya bisa walau sedikit membantu perjuangan kaum saya ini dengan apa yang saya miliki sekarang. Aamiin

 

Salam

 

 

 

 

 

Alih Fungsi Guru Spiritual – (ketika Tuhan bukan lagi tempat berharap)

Yang sekarang jadi topik yang sering dibicarakan tentunya adalah soal Eyang Subur – hampir seluruh tv membicarakan fenomena Eyang Subur ini. Eyang Subur dianggap sebagian orang adalah guru spritual, orang luar biasa baik yang mempunyai harta yang berlimpah (enggak tau deh dari mana asalnya) – yang sering dibagi bagikan kepada orang lain terutama artis (enggak tau deh kenapa kebanyakkan artis yang diberi :D) dan yang paling fenomenal mempunyai 9 istri  (dengan gaya rambut dan berbusana nya hampir sama semua, dan patut diacungkan jempol karena ke 9 nya mau berjalan beriringan bersama menemani Eyang Subur). Tapi bagi sebagian lagi (note: karena orang – orang ini sang Eyang menjadi terkenal), Eyang Subur merupakan penjahat yang kejam – yang mengajarkan kesesatan serta perampas harta mereka.

Bagi saya yang menarik dari kasus ini adalah penggunaan dan pemberian titel “guru spritual” kepada seseorang. Karena setelah nya kemudian banyak pembicaraan – pembicaraan tentang ‘guru – guru spritual’  kaum selebritas, pejabat dan orang orang kaya di Indonesia.

Di pemikiran saya – guru spritual   ( dari hasil googling : Spiritual  berarti kejiwaan, rohani, batin, mental, moral. ( Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1989), hal 857))adalah orang yang mengajarkan/ membimbing rohani kita  – agar dekat ke sang Pencipta. Jadi nya sih saya selalu memikirkan dengan adanya guru spiritual – kita akan menjadi orang yang lebih tenang, lebih ikhlas, lebih banyak bersyukur, lebih mendekatkan pada Sang Maha Pencipta.

Tapi fenomena yang saya lihat sekarang jadi berubah – kebanyakan (bukan semuanya ya) orang – orang yang mengangkat orang lain menjadi guru spiritual nya – karena merasa orang tersebut bisa memberikan jalan kepada mereka untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, dalam tempo yang secepat – cepatnya. Misalnya menjadi terkenal, disukai orang – orang, menjadi kaya raya dan lain – lain.

Tentu saja sang “guru spiritual” ini mendapatkan imbalan yang cukup fantastis apalagi bila sang guru benar – benar bisa mewujudkan keinginan muridnya yang notabene adalah orang tersohor/ publik figur/selebriti di Indonesia ini. Pastilah nama sang guru akan terkenal dan kemudian berbondong – bondong orang akan datang mengiklaskan diri nya menjadi murid sang guru.  Dan bahkan tidak jarang mereka  rela menempuh beratus ratus kilometer,  menghadapi segala rintangan untuk bertemu sang guru. Saya malah pernah mendengar – mereka juga mau melakukan apapun yang diminta sang guru sebagai persyaratan pemenuhan terkabulnya keinginan mereka,  tanpa  ada protes sama sekali, dan dijalani dengan penuh keyakinan (padahal ya  … kalau diperintahkan agama ajah, sering banget males melakukannya 😀 )

Bagaimana sang guru bisa mewujudkan harapan muridnya?  Banyak orang yang mengatakan (tapi sayang nya belum pernah saya buktikan, sang guru ini menggunakan ilmu hitam atau klenik atau mistis atau kekuatan supra natural yang sulit untuk dibuktikan tapi masih erat dengan kebudayaan di Indonesia. Percaya? Entahlah. Terbukti banyak yang memang sukses dengan hal – hal ini.

Saya sih tidak mau menghakimi apakah itu salah atau benar menurut agama karena saya belum cukup menjadi sempurna menjalankan agama, untuk memenuhi persyaratan layak  menghakimi jalan yang ditempuh oleh orang lain 😀

Yang jadi permasalahan di sini,  karena menganggap orang yang bisa mewujudkan keinginan duniawinya  atau memecah kan masalah duniawinya , menjadi guru spiritual, fenomena yang aneh bagi saya.

Menjadi lebih  aneh lagi karena Indonesia adalah negara yang seluruh penduduknya diharuskan mempunyai agama, dimana bahkan organisasi yang mengatas namakan agama, bisa bertindak se enak – enaknya di sini, tapi  kenyataannya di keseharian masyarakat,  justru tidak memperlihatkan kepercayaan kita terhadap Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta.

Mungkin ini kegagalan para pemimpin umat beragama atau para ahli agama yang tidak bisa meyakinkan umatnya untuk percaya akan Tuhan. Atau juga mungkin karena para ahli agama tersebut lebih sibuk mengurus siaran on air nya di televisi  setiap pagi, sehingga tidak sensitif dengan kebutuhan umatnya?  Atau para pemimpin agama juga sedang sibuk untuk mencari – cari jabatan? Atau malah yang dianggap pemimipin agama jangan – jangan juga ikut – ikutan mempunyai “guru spiritual” tempat meminta – sehingga mereka juga tidak bisa mengatakan apa – apa terhadap fenomena ini. Entahlah …

Dan puncak  keanehan itu  kemudian – banyak nya orang orang yang pergi meminta kepada “guruspiritual” – dalam keseharian nya adalah orang – orang yang rajin beribadah. Jadi ……. ?

Saya sungguh tidak mengerti jadinya apa yang mereka lakukan dalam ibadah nya? Bagaimana bisa, masih berdoa kepada Tuhan, tapi meminta mahluk lain untuk membantu menyelesaikan masalahnya, bahkan berharap mereka bisa memberikan harta, tahta dan jabatan. Jadi apa fungsinya Tuhan? Apa gunanya berdoa?

Saya sendiri masihlah manusia biasa, yang pasti nya juga pingin punya uang banyak, mempunyai jabatan yang menggiuarkan di perusahaan yang bonafit,dan memperoleh ketenaran yang luar biasa sehingga orang – orang ‘takut’ dengan saya. Bohong besar deh kalau saya bilang, saya tidak pernah memimpikan itu. Tapi ehmmmmm….. kalau itu harus saya jual dengan “jiwa” saya, dengan kepercayaan saya, ya nanti dulu deh.

Bukan karena saya takut dengan masuk neraka, tapi seperti saya pernah tuliskan, saya mencintai Tuhan saya – jadi ya enggak mau deh saya menduakan cinta saya 😀   Terlebih menduakan nya kepada “guru spiritual” yang seperti Eyang Subur  (logikanya – kalau beliau menyatakan diri muslim dan mengaku guru spiritual – pasti enggak berani punya istri lebih dari 4 apalagi memperistri kakak beradik :D).

Saya sih berharap para pemuka pemuka agama,  rohaniawan, mau membuka mata untuk melihat fenomena ini, dan mau sukarela untuk mengembalikan kembali existensi Tuhan kepada umat beragama.  Setidaknya fenomena ini mustinya dianggap tantangan untuk  memikirkan cara mengajarkan, memberi nasehat yang lebih mengena di hati dan jiwa  , sehingga masyarakat yang menjadi murid nya atau pemeluk agama yang sama dengan nya,  tidak lagi lari berharap dan meminta kepada  “guru – guru spiritual ”  tapi kepada Tuhan.

Dan berharap kepada orang – orang seperti Eyang Subur tidak lagi di lekatkan kata – kata guru spiritual – kedudukan guru yang pengayom terlalu rendah deh ,  tapi mungkin bisa menjadi Penguasa Manusia  – toh – kalau kepada mereka orang 0rang meminta dan berharap – sebenarnya kedudukan  Tuhan terganti oleh mereka – mereka ini di hati dan jiwa murid – muridnya 😀 (just kidding )

Salam