Ketika inspirasi menjadi meng dan ter di SDN Cigondewah 1, Bandung

SDN Cigondewah 1, Bandung terletak di daerah Bandung Kulon Bandung. Kalau ngetik nama SDN ini di Google, pasti langsung deh keluar hasilnya lengkap dengan map nya ūüôā ¬†Jadi nya untuk saya yang “buta” daerah Bandung, dengan bantuan teman saya Ayu yang menjadi navigator saya selama perjalanan (red: jadi pingin mengucapkan terimakasih banget – banget sama om dan tante keyreeeen yang menemukan Google maps ūüôā ) , tidak sulit menemukan SD ini. Kan enggak lucu ya, kalau di hari H, ada dua inspirator yang “tersesat di Bandung”, karena mencari alamat sekolah. Hahaahahaaa

Sesampai di sekolah jam enam pagi (sekali lagi enam pagi), sudah terlihat aktivitas Sekolah dari mulai penjual gorengan depan sekolah, guru-guru, anak – anak sekolah sampai dengan para relawan kelas Inspirasi, termasuk matahari Bandung yang ikut beraktivitas pagi ini. ¬†Dan tentu yang sedikit menghebohkan dan menyebabkan adanya ‘drama’ adalah kehadiran relawan yang datang ‘last minute’ (sebenarnya sih enggak last banget, masih ada 10 menit an sebelum upacara pagi …. tapi ya, drama kan selalu dibutuhkan untuk menghibur jiwa raga …. termasuk jiwa raga para pemberi inspirasi seperti saya. hahaahahahhaaha).

Dan untungnya, kepiawaian Selvy menjadi MC saat upacara pagi, melupakan drama 10 menit sebelumnya. LOL Apalagi kemudian ditambah dengan adanya senam pinguin yang dipimpin kang Hendra dan navigator cantik saya  Ayu,  bersama seluruh relawan yang pagi itu memakai topi pinguin yang asli lucuuuuuuuuu buanget yang dibuat oleh Adit. Jadilah kelas inspirasi hari ini di SDN Cigondewah, dimulai dengan hati yang cerah, secerah matahari yang hari ini sayang banget sama kami para relawan, terbukti  matahari enggak ngambek sembunyi diganti hujan, atau enggak sombong bersinar dengan panas yang gila Рgila an (#eeeaaaaa).

Kelas yang saya isi kali ini dimulai dengan kelas 4 A, dimana di kelas ini anak – anak nya cukup aktif sehingga ‘mati gaya’ yang jadi nightmare nya saya setiap kali, dikelas inpirasi, tidak terjadi. Informasi tentang mereka diajak menabung oleh gurunya, membuat saya cukup bahagia. Bahkan ada satu anak yang dengan bangganya menunjukkan buku tabungannya yang sudah mencapai 3 juta rupiah, karena selalu menabung dari kelas satu dan tidak pernah diambil (PS : ayooo ngaku, waktu SD siapa yang rajin menabung? ¬†Kalau saya sih ngaku, dulu menabung itu kalau mau beli buku bacaaan hahhaahhaa) ¬†WOW banget kan. Walaupun saya cukup sedih ketika melihat salah satu langit – langit kelas terbuka lebar, karena tripleks nya sudah lepas, yang semetinya sudah harus secepatnya dibetulkan sebelum ada tripleks lain yang lepas yang menimpa anak anak.

Kelas kedua yang saya isi adalah kelas 5B, sama seperti kelas 4 A sebelumnya, keaktifan dan keingin tahuan anak anak yang tinggi, membuat saya tidak mengalami masalah berbagi tentang pekerjaan saya. Dan yang paling mengejutkan saya adalah ketika ada salah satu anak yang bernama Fauzan yang ketika ditanya apa cita citanya, dengan lantang nya berkata “Mau menjadi Pengusaha, ¬†kemudian mau S2” ¬†Bayangkan kelas 5 SD, sudah memikirkan mau kuliah sampai S2 !!!! Apalagi ketika ditanya mau S2 nya dimana, dia berkata mau S2 di UI di Jakarta. Untuk pertama kalinya selama mengikuti beberapa kelas inspirasi, saya mendengar ada anak yang pingin kuliah S2. Karena biasanya mereka hanya menyebutka ingin menjadi apa, dan kebanyakan bahkan tidak tau, harus sekolah di mana kalau pingin meraih cita – citanya.

Selain itu, mungkin ini tidak akan menjadi surprise besar untuk saya, kalau anak ini tidak bersekolah di SD dimana rata Рrata orang tuanya, berpenghasilan minimum dan berada di lingkungan kelas menengah ke bawah. Bahkan ketika ditanyakan apakah pernah ke Jakarta, seperti teman Рteman nya yang lain, Fauzan ini juga tidak pernah ke Jakarta. Dan biasanya sering sekali ketika bercita Рcita jadi pengusaha, malah banyak anak anak yang berpikir tidak perlu sekolah.Iya kan? Saya sendiri, sewaktu SD tidak pernah berpikir mau S2 hahahahhahhaa.  Dan ketika saya tanyakan relawan yang lain, sama seperti saya mereka juga sewaktu SD tidak pernah memikirkan mau kuliah sampai S2 dan mau kuliah dimana.

Kemudian saya mulai berpikir tentang mimpi – mimpi saya, seberapa berani saya bermimpi tinggi? Terakhir kali saya bermimpi, tinggi dan kemudian saya wujudkan itu tiga tahun lalu. Kemudian? Seringnya sih malah untuk bermimpi saja saya takut. Tapi seperti kata kata bijak, enggak pernah ada yang kebetulan di dunia. Pertemuan saya hari ini, dengan anak kelas 5 SD yang berani bermimpi tinggi dan yakin bisa meraih mimpinya, seolah olah menjadi ‘pecut’ untuk saya, agar saya mulai berani bermimpi tinggi, agar saya tidak lagi membuat batasan – batasan akan kemampuan saya, yang mungkin baru saya gunakan 30 % nya (ini kata senior saya, yang bilang kenapa saya menyia – nyiakan, karunia Tuhan dengan hanya menggunakan 30 % dari kemampuan saya . Waktu itu sih saya cuman berpikir,…. iihh sok tau deh nih orang hahahahahaha. Tapi hari ini Tuhan, memaksa saya untuk melihat saya yang menyia – nyiakan anugerahnya ).

 

Kembali ke kelas Inspirasi, kelas VI dan kelas I menjadi kelas terakhir sekaligus menjadi kelas yang penuh tantangan di kelas inspirasi saya kali ini. Di kelas VI, saya kudu menyesuaikan dengan gaya mereka yang sudah mulai memasuki masa pubertas. Dimana, lagu yang mau mereka nyanyikan hanya lagu cinta. Hahahahaaahaha dan “woooosh … wooooossshh” sebagai bentuk apresiasi yang saya ajarkan dianggap kekanak kanakan oleh mereka. Hahahahaahaha. Atau ada yang anak yang berusaha keras untuk mengajak saya berbicara bahasa Inggris, dan saya tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Mungkin karean wajah saya yang kebule bulean ini, jadi dia merasa wajib berbahasa inggris dengan saya. LOL. Terus terang ketika meninggalkan kelas, saya merasa saya sedikit gagal, jadi inspirator (yup … like I wrote before, I am kind of drama queen hahahahhhahaa).

Dan ketika saya menuju ke ruang perpustakaan untuk istirahat, karena ada jeda lumayan lama, tiba tiba segerombolan anak – anak kelas IV B, datang menghampiri saya dan memberikan pelukan untuk saya, rasa gagal itu tiba tiba hilang lenyap begitu saja. Kebayang kan kan terharunya, ada satu kelas anak anak yang saya sendiri enggak mengerti apa yang saya berikan, sampai mereka tiba -tiba memberikan pelukan seperti itu kepada saya. Yang saya tau, anak – anak tidak akan mau memeluk orang yang tidak mereka sayang, mereka tidak bisa berbohong secanggih itu.

Jadilah saya speechless, terharu, semuanya deh. Merasa disayang banget, merasa jadi orang yang paling beruntung sedunia, dan pastinya seluruh cape (terutama, karena menyetir sendiri dari Jakarta ke Bandung dan macet pula karena ada kecelakaan), hilang begitu saja.

Selanjutnya setelah beristirahat terutama juga setelah mendapatkan energi dari pelukan anak anak, ¬†saya mulai memasuki kelas I ¬†… nah, tantangan nya di sini adalah, saya kudu nyanyi terus. Walaupun, cukup senang karena banyakan nyanyi dan tertawa ¬†(dan hanya 3% nya menjelaskan siapa dan apa pekerjaan saya. maapkaannnnnnn ¬†yaaaa) ¬†jadilah suara saya dan tenaga saya habis terkuras. ¬†Favorit mereka adalah ¬†metode ice breaker yang menjelaskan gajah dengan menjentikkan jari, dan menjelaskan semut dengan membuat lingkaran yang besar dengan tangan (bisa dilihat di youtube). ¬†Jadilah ketawa yang enggak habis habis nya kalau mereka atau teman nya terbalik balik melakukannya.

Tidak terasa, kelas inspirasi ini selesai hari ini. Seperti upacara pagi tadi, maka penutupan di siang hari yang cerah secerah hati para inspirator yang bisa melewati kelas inspirasinya setelah semaleman deg – deg an takut ‘mati gaya’ di depan anak anak (bayangin yah … presentasi didepan bos atau yang lain ajah enggak sedeg – deg an ini deh haaahhaahhahaa), ¬†juga dilakukan dengan berkumpul berbaris di lapangan, tapi tentu tanpa senam pingui, tapi dengan lagu terimakasih guruku yang hampir dicoret dari list acara hahahahahahahaa.

Setelahnya kami berfoto bersama dan by surprised disuguhkan makan siang dari sekolah (terimakasih bapak dan ibu guru yang sudah menyiapkan makanan ini buat kami), maka kami makan bersama dan mulailah menceritakan apa yang kami alami masing masing di kelas. Jadilah, makan menjadi ajang sedikit curcol tentang yang dialami dikelas.

Buat saya selalu mengagumkan ketika ada sekumpulan orang yang tidak kenal satu sama lain sebelumnya, yang punya kesibukan di tempat kerja nya masing masing, dan enggak pernah menanyakan latar belakang, agama, suku etc, tapi kemudian mau bergotong royong, mulai dari meeting bareng, membuat koreografer,  memilih jenis senam, run down etc, karena menginginkan supaya pada hari H dapat memberikan yang terbaik untuk anak Рanak. Ini wujud Indonesia yang sebenarnya. Wujud aslinya budaya Bhineka Tunggal Ika.

Enggak salah kan kemudian saya mengucapkan terima kasih kepada teh El yang jadi pendampingnya Kel 42 (enggak nyesel kan jadi pendamping kelompok yang keyren ini? #teteup narsis), Kang Ganjar yang jadi leader kel 42 yang selalu pingin diangkat jadi ponakan saya hahahhaahahah, tim jkt 42 (Selvy, Ayu, Wita, Nisa dan Dita (yang diadopsi jadi tim Jkt 42 walaupun enggak tinggal di jkt), kang Hendra, kang Zaka (yang kemudian ngasih kita masing masing ilustrasi wajah yang cute banget), Dilla dan Aji (pasangan suami istri, yang buat kita semua takjub karena bisa gitu suami istri jadi inspirator di sekolah yang sama – jodoh memang luar biasa yaaaa), teh Jinie, Dito, kang Nur, Hendra Dwi, Nisrina, dan Ukky. You rock guys.

So … yang belum pernah ikut kelas Inspirasi, yuuuuk ikutan. Dijamin bikin ketagihan, bakal punya banyak saudara – saudara baru, bakal punya ¬†pengalaman yang tidak terlupakan.

 

 

 

 

Anak Indonesia, Mimpi dan Inspirasi

Baru- baru ini, saya mengikuti kembali Kelas Inspirasi (KI). Kali ini di Bandung, dan ini berarti kelas Inspirasi ke 6 saya, dan kelas Inspirasi saya pertama untuk tahun ini, setelah hampir satu tahun, saya vakum. Btw :orang – orang seperti saya, yang sering mengikuti KI kemudian dapat julukan “KI Hunter” hahaahahahhaaa.

Dan seperti biasa, setiap kali saya mengikuti KI, sebenarnya bukan saya yang menginspirasi, dan bukan saya yang banyak memberi. Tapi anak – anak di SD tempat saya mengajar, guru – guru yang mengajar anak – anak di sekolah tersebut, panitia yang memberikan tenaga dan waktu mereka berbulan – bulan tanpa dibayar untuk mempersiapkan acara ini serta relawan yang gila gila an memberikan yang terbaik yang mereka punya tanpa dibayar untuk anak anak, itulah yang menginspirasi saya.

Kemudian kalau saya ditanya, kenapa sih mau berkali-kali menjadi relawan seperti ini. Mengapa mau melakukan sesuatu tanpa dibayar, bahkan harus mengeluarkan uang? Jawabannya itu banyak banget, diantaranya adalah :

  1. Anak Рanak mengajarkan saya banyak hal. Dari  interaksi mereka terhadap teman dan lingkungannya, saya diingatkan untuk tidak memendam marah terlalu lama dengan orang lain, untuk tidak perlu banyak khawatir tentang masa depan dan tidak perlu mengingat -ingat masa lalu, dan tidak perlu malu kalau saya salah.
  2. Jawaban jawaban mereka  atas pertanyaan saya atau pertanyaan Рpertanyaan mereka kepada saya, serta obrolan mereka dengan saya, yang serng nya lucu Рlucu, membuat saya melupakan seluruh keletihan saya.
  3. Saya merasa saya banyak berhutang kepada negara saya, dan salah satu cara saya untuk membayarnya dengan membagikan waktu, tenaga dan cinta saya untuk sedikit membantu negara membangun mimpi anak – anak Indonesia. Karena bagaimanapun di tangan merekalah nantinya saya akan menyerahkan masa depan bangsa.
  4. Saya jatuh cinta dengan tawa mereka atau binar binar mata mereka ketika mereka mulai pingin tahu tentang sesuatu atau ketika mereka merasa bahagia. Dan itu menjadi priceless – tidak dapat dibayar dengan apapun, ketika saya yang menjadi alasannya. Seperti sewaktu saya mengikuti KI Bandung, ketika saya hendak berpindah ruangan, tiba tiba serombongan anak dari kelas saya mengajar sebelumnya, tiba-tiba menghampiri saya dan memberikan saya pelukan. Dan itu buat saya priceless banget. Saya merasa disayang banyak orang, saya merasa dicintai.
  5. Saya mempunyai keluarga baru, saya mempunyai teman – teman baru, yang tidak kenal saya sebelumnya, tapi luar biasa mau memberikan saya support, mendengarkan ketakutan – ketakutan saya, membantu saya agar saya bisa sukses memberikan yang terbaik yang saya punya kepada anak-anak. Dan mereka membuat saya percaya, masih banyak orang – orang baik di negeri ini, yang mau memberikan yang terbaik untuk negaranya, dengan sukarela.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi ke lima di atas adalah yang utama.  Dan tentunya alasan yang paling utama adalah, karena saya ingin agar seluruh anak Рanak Indonesia tanpa terkecuali, berani untuk bermimpi. Percaya bahwa apapun mereka sekarang, mereka punya hak untuk menjadi yang terbaik, karena mereka berharga.

Sehingga mudah – mudahan suatu saat, ketika mereka dewasa dan sukses, mereka juga mau melakukan hal yang sama untuk anak anak lain. Aamiin

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier

(Greatest love of All)

Kejahatan Luar Biasa

Kasus Yuyun yang akhir akhir ini ramai dibicarakan, mengingatkan saya akan kasus serupa sebelum sebelumnya. Mulai dari yang terjadi di salah satu sekolah internasional, kemudian berita tentang ayah yang memperkosa, guru yang memperkosa dll.

Ini seperti pengulangan berita buat saya. Yang heboh, dua tiga minggu, kemudian hilang begitu saja, tanpa ada perubahan …… sampai kemudian terjadi lagi hal yang sama. Dan kembali …. ramai lagi …. pengutukan sana sini….. dua atau tiga atau sebulan kemudian berita ini hilang tanpa pesan. Tanpa ada yang berubah.

Pagi ini saya mendengar berita tentang keputusan pemerintah (thanks a lot … setelah berapa lama …. akhirnya pemerintah perduli juga) ¬†bahwa kekerasan seksual pada anak adalah “kejahatan luar biasa”.

Saya kemudian mencoba berpikir panjang, haruskah kita menunggu adanya korban, baru kita akan perduli? Apakah kita harus menunggu sampai pemerintah mengatakan sesuatu baru kita akan perduli? Apakah kita memang harus selalu menunggu?

Atau akan kan kita akan selalu diam ketika ada orang yang mengeluarkan pernyataan yang menyalahkan si korban. Seperti siapa suruh pulang malam atau fotonya ajah begitu atau bajunya ajah begitu atau gayanya ajah begitu. Atau ….ya pelakunya juga masih anak – anak, mereka tidak tau apa yang mereka lakukan.

Uhm…… ¬†pertama ….. pulang malam, foto, baju atau gaya apapun ¬†yang dilakukan oleh seseorang ……¬†TIDAK berarti bahwa dia boleh untuk diperkosa.¬†

Kedua, anak – anak lahir seperti kertas putih, orang tua, saudara, lingkungan itu yang kemudian mewarnai nya. Menentukan tingkah lakunya, pikirannya terhadap sesuatu. Karena nya ketika ada anak – anak kita, anak- anak saudara, tetangga, teman kita terlihat mulai bertingkah aneh …… tidak ada salahnya untuk menasihati mereka. Karena apapun yang terjadi … saya/kita punya andil di dalamnya.

Mulailah untuk menjaga ucapan – ucapan yang tidak pantas ketika mendengar ada kasus perkosaan. Sehingga anak- anak yang mendengar, membaca, melihat …. tau bahwa kekerasan seksual itu adalah tindakan yang tidak benar, bukan sesuatu yang layak untuk dijadikan bahan ketawaan, bahan bercanda.

Selain itu ……. sekali lagi …. mulailah untuk membuat peraturan peraturan yang ketat tentang apa yang boleh dijual, dilihat untuk anak – anak.

Pemberian hukuman seberat beratnya atas penjualan miras kepada anak – anak misalnya, mulai disosialisasikan ke daerah – daerah. Sehingga ¬†…. tidak ada lagi kejadian dengan alasan karena anak – anak tersebut dibawah pengaruh alkohol.

MELARANG pengusaha bioskop untuk menjual tiket untuk film film 18 tahun ke atas kepada anak anak dibawah umur 18 tahun.

MELARANG menjualbelikan/ menyewakan buku,film dewasa kepada anak Рanak dibawah umur.

MELARANG, stasiun tv untuk menyiarkan film film dewasa pada jam – jam tertentu.

MELARANG  kafe, club malam dan segala tempat dugem untuk menerima anak anak dibawah umur. Minta mereka menunjukan ID,KTP apabila akan mereka akan masuk ke sana, termasuk bila mereka datang bersama orang yang lebih dewasa.

Dan memberikan hukuman apabila terjadi pelanggaran.

Kemudian selain peraturan – peraturan ini diberlakukan secara ketat, sebagai orang dewasa, juga sebaiknya kita aktif untuk melaporkan, menegur, apabila terjadi pelanggaran -pelanggaran atas peraturan peraturan tersebut.

Kasus kekerasan seksual pada anak ini bukan hanya urusan pemerintah atau pun polisi. Tapi diperlukan KEPERDULIAN kita sebagai manusia dewasa. Diperlukan CINTA kita agar mau mencegah  hal hal seperti ini  terulang kembali.

Salam

 

 

 

Family Gathering = Urgently needed a rental family :D

Rental Family = keluarga sewaan? ¬†Iya ¬†…. ciyus ¬†… ciyus …. ¬†ūüėÄ ¬†Butuh banget, ¬†urgently deh. ¬†Terutama kalau ada acara yang namanya ¬†“Familly Gathering”. Terasa banget kalau jasa keluarga sewaan ini bukan saja menjadi kebutuhan sekunder tapi menjadi kebutuhan utama, primer, penting, urgent.

Atau kalau versi lebay nya sih …. seperti manusia membutuhkan oksigen ūüėÄ

Sebagai high quality jomblo – ¬†still single di usia yang amat sangat teramat matang dan ditambah berjenis kelamin perempuan pula dan belum mempunyai momongan (baru punya keponakkan keponakkan yang keyren keyren seperti tantenya :D), maka acara yang paling males saya hadiri itu acara yang berbau bau family – keluarga, terutama “Family Gathering”

Bukan, bukan karena saya merasa minder dengan keadaan saya, atau karena jealous melihat teman – teman saya yang biasanya antusias sekali dengan acara Familly Gathering karena moment dimana bisa membawa seluruh anggota keluarganya untuk diperkenalkan kepada teman – teman plus keluarga temannya dan sebaliknya. Yang pasti, sebenarnya ajang yang oke banget, karena bisa berlama lama berkumpul dengan teman tanpa perlu meninggalkan keluarga.

Nah, masalah jadi akan bermula karena saya datang di Family Gathering (atau acara acara yang lain sih :D) sendirian, tanpa (my own) family.

Maka jadilah disana saya pasti akan bengang bengong sendiri, tersenyum tidak jelas kesana kemari atau berpura – pura care dengan anak – anak orang lain …. karena biasanya teman – teman saya akan sibuk dengan keluarganya masing masing, terutama teman yang baru mempunyai bayi. Atau saya akan terbengong bengong mendengar pembicaraan teman – teman tentang perkembangan anak anaknya masing masing, tentang masa kehamilan, tentang persalinan, biaya sekolah, susu yang baik, dokter anak yang top, penyakit anak dan obatnya. Enggak ada deh yang bicarain betapa gantengnya pemain sepak bola A, atau dimana toko sepatu yang lagi diskon atau backpacker sendiri yang murah ūüėÄ

Nah ketika pembicaraan beralih kepada saya, ¬†kemudian teman – teman saya (terutama yang sudah lama tidak bertemu saya) dan pasangannya, akan bertanya kepada saya tentang anak anak saya (yang belum pada lahir karena masih mencari bapak yang tepat ūüėÄ ), setelah mendengar penjelasan saya tentang status saya ….. maka dimulailah “drama”¬† itu ……………….

1. Meminta maaf kepada saya karena menanyakan tentang status saya … please deh, saya mah enggak merasa apa – apa juga, tidak juga merasa sakit hati dengan orang yang merubah status saya. ¬†Wong … udah lama buaaaanget. ¬†Dengan meminta maaf, justru membuat saya menjadi ill feel ….. (ill feel karena saya bingung kenapa harus minta maaf hahahahaa)

2. Berusaha yakin dengan pendapatnya, kalau saya masih trauma dengan masa lalu saya, karena itu saya masih sendiri. ¬†Dan parahnya …. semakin saya menidakkan, semakin keukeuh juga mereka dengan pendapatnya. Dooooohhhhh … itu seperti 1 orang waras dengan 9 orang gila …. maka yang jadi gila ya yang waras dong ūüėÄ

3. Mulai menghakimi saya, bahwa saya terlalu pemilih. Padahal ya ampunnnnnn ….. ¬†yang mau saya pilih itu siapa? ¬†Positifnya sih …. mungkin karena saya dianggap secantik ratu kecantikkan dunia, jadi yakin banget pasti banyak banget pria pria single di dunia ini yang mengejar -ngejar saya tapi tidak saya terima hahahahhhahahaha

4.Mulai menghitung – hitung umur saya dan mulai menghitung – hitung ¬†berapa lama lagi jam biologis saya masih berdetak ūüėÄ ¬†Dan mulai menasehati saya tentang bahaya nya bagi perempuan melahirkan di usia di atas 35 tahun. ¬†Uhm seandainya mereka tau …. tanpa dinasehatin saya juga sudah panik kok ūüėÄ

5.Dan yang paling parah itu …. kalau di wajah wajah mereka terlihat rasa kasihan kepada saya, dan ditambah dengan statement “sabar ya, nanti pasti ketemu jodohnya” ¬†…. ¬†Bener deh …. saya enggak apa – apa, enggak sakit, enggak perlu juga dikasihani, saya sabar kok, ¬†bener. Saya sabar kok biasanya menanti jodoh saya, ¬†tapi jadi agak kurang sabar kalau dikasihani begitu hahahaahahhhahhahaha

Nah … karena masalah masalah ini … saya sih mulai berpikir mustinya ada usaha rental family. ¬†Jadi di sana bisa me -nyewa 1 ayah dengan 1 anak ( lebih), atau 1 ibu dengan 1 anak (lebih) . Jadi sewaktu di Family Gathering itu orang orang seperti saya, bisa diterima secara¬†“layak”¬†¬†sehingga bisa turut merasakan kecerian Family Gathering dengan penuh suka cita juga.

Atau kalau tidak bisa – ya saya usul …. ¬†Family Gathering itu ¬†khusus untuk yang sudah berkeluarga /single mom/single dad saja, sama seperti pesta lajang yang khusus untuk lajang saja ūüėÄ Jadi enggak ada pertanyaan lagi kepada saya kenapa tidak datang ke Family Gathering, sampai pada saat saya punya keluarga nantinya, boleh deh pertanyaan itu diluncurkan kalau saya tidak datang ke Family Gathering ¬†ūüėÄ

Salam

PS: Doain ya biar saya secepatnya juga diberikan kesempatan punya keluarga (sendiri) ūüėÄ

Karena ada saatnya kita tidak bisa memilih

Pagi – pagi di kantor yang sering saya lakukan tentu membaca berita dari media elektronik – dan tentu saja tidak ketinggalan berita – berita gosip tentang selebriti Indonesia ūüėÄ ¬†Kenapa gosip? Ya saya kan membutuhkan hiburan untuk membuat pagi saya bersinar ūüôā ¬†Atau kalau di rumah – yang seringnya saya menonton film drama korea yang super duper romantis – maksudnya sih untuk melatih keromantisan saya agar tidak berkarat karena kelamaan tidak digunakan ūüėÄ

Anehnya film drama korea yang sedang saya tonton (fyi: itu film terdiri dari 6 cd dan setiap cd ada sekitar 6 session ), ceritanya agak nyambung dengan gosip yang saya baca pagi ini.

Ceritanya tentang seorang anak perempuan miskin yang menikah dengan anak orang kaya, yang super duper baik, tapi sewaktu menikah perempuan ini menyatakan ke calon suami dan keluarganya kalau dia anak yatim piatu dan tidak punya keluarga, padahal kenyataannya ayah dan adik kembarnya masih hidup.

Nah kebohongan nya terbongkar karena sang ayah yang mencoba mengetahui keberadaan anak perempuannya, bekerja di kantor suaminya dan membawa foto sang anak bersamanya yang diketemukan oleh suami sang anak. Sewaktu suami dan keluarganya serta orang 2x terdekat nya mengetahui, kebohongan ini, semua orang menyalahkan perempuan ini dan mengangggap bagaimana seseorang bisa sedemikian kejam nya tidak mengakui keberadaan bapaknya. Semua menyangka karena perempuan ini malu mempunyai ayah yang miskin dan hanya bertujuan untuk menjadi kaya dalam waktu yang singkat. Semua orang mengutuk kelakuannya dan merasa sangat sedih terhadap ayah yang tidak diakui sang anak. Dan perempuan ini tidak mengatakan apapun selain hanya minta maaf atas salahnya dan bersedia untuk diceraikan oleh suaminya, mengembalikan seluruh yang telah diberikan suami dan keluarganya dan mulai lagi hidupnya dari nol seorang diri.

Sebenarnya  kebohongan tentang ayah dan adiknya itu ditempuh karena perempuan ini sangat mencintai laki Рlaki, yang untuk pertamakali nya mampu membuatnya merasa nyaman, yang memberi perhatian yang selama ini tidak pernah dia dapatkan dari siapapun, menghargai keberadaannya (selama ini semua orang melecehkan nya karena kemiskinannya), yang mampu membuatnya beristirahat dari rasa letihnya danyang mau melakukan segalanya hanya demi melihat senyum perempuan ini  (selama ini selalu dia yang melakukan segalanya untuk keluarganya).

Dan sang ayah Рadalah ayah yang  hanya bisa berjudi, mencuri uang  sekolah anaknya, berhutang Рsehingga membuat anak perempuan ini harus bekerja keras dari kecil agar bisa membayar hutang bapaknya dan agar bisa membiayai pendidikan dirinya dan adiknya.  Anak perempuan ini dari dulu selalu berkorban, menerima seluruh ejekan dan hinaan orang, bahkan bersedia bekerja apa saja untuk mendapatkan uang. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah menangis. Dan pada hari dia dilamar, bapaknya sedang ditangkap polisi karena bekerja sebagai gigolo dan dilaporkan oleh suami perempuan yang menjadi pelanggannya. Bagaimana dia harus mengatakan kepada orang tentang bapaknya tanpa harus mendengar hinaan orang tentang bapaknya, atau tanpa harus merasa takut kehilangan orang yang dicintai.

Nah hubungan nya dengan gosip di Indonesia? Hari ini saya membaca ayah salah satu istri dari sang Eyang yang lagi booming namanya, menggugat sang Eyang, dan meminta sang Eyang mengembalikan anaknya. Dan sang ayah dengan berapi – api serta menggebu – gebu menyatakan bahwa dia akan bersedia mati demi mendapatkan anak nya kembali. Dia akan berbuat apa saja demi anaknya. Sang ayah pergi mulai dari Komnas Perempuan sampai ke Kantor Polisi bersama pengacara nya melaporkan Eyang.

Banyak orang kemudian menuduh sang anak dan Eyang adalah mahluk – mahluk asosial karena hal ini, dan semua orang merasa kasian dengan ayah yang menurut mereka malang.

Terus terang, memang susah untuk kita mengerti akan orang lain yang kehidupannya tidak seperti orang – orang “normal” lain nya. Apalagi menyangkut soal keluarga. Yang pasti akan kita lakukan duluan pasti menyalahkan sang anak sebagai anak yang durhaka. Anak yang tidak tau diri, anak yang kejam, anak yang tempat baginya sudah pasti neraka.

Padahal dari cerita tentang perempuan korea tersebut. Lihat apa yang harus dilalui nya dari kecil, apa yang harus dilakukannya demi ayahnya, demi keluarganya. Pernah kah kita mencoba turut merasa apa yang dirasakan nya? Kalau kita dalam posisi yang sama seperti dia, apa kita bisa seperti dia? Salahkan kalau dia ingin merasakan kebahagian nya? Salahkah dia kalau dia ingin bersama orang yang bisa menjadi tempat bersandar nya? Salahkah kalau dia merasa cape? Dimana ayahnya ketika anaknya di lecehkan orang2x karena perbuatan nya? Dimana hati dan nurani ayahnya ketika berhutang untuk berjudi dan yang harus membayar hutang tersebut adalah perempuan nya yang masih kecil, yang harus bekerja keras. Dimana sang ayah ketika anak perempuan nya mengambil alih tanggungjawab nya sebagai kepala keluarga yang harus membiayai keluarganya. Kemudian, kalau ayahnya ingin mencari anaknya, kenapa tidak dari dulu – dulu? Kenapa tidak memikirkan kalau perbuatannya membuat anaknya kehilangan kebahagian yang tidak mampu diberikannya kepada anaknya.

Sama seperti ayah dari salah seorang istri sang Eyang …. kenapa baru sekarang beliau bersibuk sibuk menggugat Eyang? Pernikahan anaknya terjadi dari tahun 2008 yang lalu. Kemana beliau selama ini? Ditambah, anak nya tersebut juga putus sekolah karena ayahnya tidak bisa membiayai sehingga anak perempuan nya ini pergi ke Jakarta mencari kerja sampai akhirnya bertemu Eyang. ¬†Kenapa pada saat itu sang ayah tidak mencegah kepergian anak perempuan nya yang katanya sangat dicintai sehingga beliau rela mati demi memperoleh anaknya kembali.

Padahal menurut anak, dia menerima Eyang sebagai suaminya, karena Eyang yang mampu membuatnya merasa nyaman. Eyang memberikan perhatian yang selama ini tidak pernah dia dapatakan. Kemudian yang lebih parah lagi, ayah ini juga tadinya sering kerumah Eyang berkali kali setelah anaknya menikah dengan Eyang dan menerima pemberian uang dari Eyang setiap kunjugannya. Ehm ….. jangan – jangan ayah ini menggugat karena tidak menerima uang lagi baik dari anak atau Eyang.

Menurut saya jadinya seperti pahlawan kesiangan. Apa karena banyak media yang meliput, beliau mau menggugat Eyang – agar semua orang bisa melihat bagaimana perjuangan ayah ini membela anaknya. Ini sebenarnya demi anak atau demi ayah?

Dan semua orang seperti biasa, langsung menganggap anak ini anak durhaka, dijalan sesat, tidak menghargai ayah dan keluarga. Lagi lagi Рkesalahan selalu dibebankan pada anak, tanpa mau melihat alasan nya, tanpa mau mendengar pembelaan nya  Dan yang didengar hanyalah orang tua.

Setiap orang menurut saya unik dan berbeda, dan seringkali tingkah laku dan jalan hidup yang diambil berdasarkan karena latar belakang hidupnya. Dan dari yang berbeda itu ada orang yang harus menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan kondisi normal, yang menurut pemikiran kita tidak akan mungkin ada yang seperti itu. Tapi  pada kenyataanya memang ada.

Saya tau betapa sulitnya untuk bisa mengerti orang yang hidup pada “kondisi yang tidak normal” seperti orang lain. Sehingga kalimat kaliamat seperti ” mana mungkin sih ada ibu yang tidak perduli pada anaknya, mana ada sih ayah yang mau menjerumuskan anaknya” ¬†sering terdengar. Atau saya juga pernah mendengar ‘ mana mungkin enggak tau bapak/ibu kamu dimana, kamu ajah yang tidak mau mencari” .

Yang intinya, semua adalah kesalahan anak. Ayah dan ibu tidak mungkin salah, dan kalaupun salah mereka tetap ayah dan ibu yang harus dihormati. Ayah dan ibu yang selalu dilukai oleh anak, dan tidak mungkin ada anak yang dilukai oleh orang tuanya.

Padahal yang sering dilupakan, tidak ada anak yang tidak membutuhkan orang tua seberapapun umurnya. Anak akan selalu merindukan rasa aman dari ayah (terutama anak perempuan) dan pelukan hangat dari ibu. Setiap anak terlahir seperti kertas putih yang kemudian apa sifatnya dan apa yang dilakukan nya bergantung dari warna yang ditorehkan orang tuanya serta lingkungan nya.

Selain itu ¬†juga yang sering dilupakan adalah orang tua yang lebih tua dari anaklah yang semestinya mendidik anak untuk menghormati mereka. Harusnya orang tualah yang bertanggungjawab kepada anaknya ketika mereka belum dewasa dan bukan sebaliknya. ¬†Anak yang dibawah umur ¬†tidak bisa dibebankan untuk ikut bertanggungjawab terhadap keluarganya. Mereka bukan “sapi perah” orang tuanya.

Banyak anak – anak yang memang tidak seberuntung yang lain, karena orang tua nya tidak seperti versi orang tua yang ada dalam kondisi normal. Dan anak – anak ini kemudian ada yang tegar luar biasa, sehingga tetap hidup di jalur yang “normal” seperti manusia lainnya, tapi banyak juga yang tidak mempunyai ketegaran seperti itu sehingga kemudian jalur yang dipilihnya menjadi “tidak normal” bagi orang – orang umumnya.

Kemudian, harus kah kita ikut Рikutan kejam menghakimi mereka tanpa mau mendengar alasan mereka?  Apakah kepada mereka juga harus ditambah dengan embel Рembel anak durhaka yang tidak tau diri?  Bukan kah sebaiknya kalau kita tidak mampu menolong, dan tidak tau apa yang dirasakan, sebaiknya kita diam daripada menambah luka hati mereka dan kemudian membuat mereka semakin membenci orang tuanya?

Walaupun hidup penuh dengan pilihan, tapi memang ada saat dimana kita tidak  bisa memilih Рcontohnya kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita. Semua orang tentu ingin mempunyai orang tua yang sempurna, tapi sekali lagi  tidak semua orang beruntung.

Dan seringnya kemudian, luka batin dari anak – anak dengan latar belakang tidak seperti kondisi “normal” karena orang tuanya adalah luka bertahun – tahun yang sudah menjadi borok dan sulit untuk disembuhkan atau bahkan tidak akan bisa sembuh, karena setiap kali kita – orang orang yang merasa tahu dan berhak untuk menghakimi orang orang yang kita anggap di kondisi”normal” adalah penjahat maka luka yang mungkin hampir sembuh kembali akan terluka.

Salam

 

 

 

 

 

Kekerasan Anak dan Hari Ibu

Tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai perayaan Hari Ibu adalah putusan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada 1938. Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga sekarang.

Tentu saja, sebagai seorang anak yang lahir rahim seorang ibuyang dibesarkan ¬†di Indonesia, dimana beliau tidak terbiasa untuk ¬†memeluk dan menyatakan sayang ¬†(hi … sometimes it is hard to say “I love you” to my mom then to others person :D), hari ibu menjadi salah satu moment di mana saya ¬†bisa dengan berani memeluk ibu saya dan bilang “thank you mom”, tanpa terlihat aneh dan lebay – ¬†walaupun selalu diikutin dengan protes keras ibu saya – “apaan sih meluk – meluk, pake bilang thank you – thank you segala” . ¬† (sekarang sih saya mikirnya, mungkin itu cara beliau untuk mengatasi rasa kebingungan nya harus menjawab dengan apa ūüėÄ )

Tapi ini bukan cerita tentang saya dan ibu saya tercinta.

Kali ini saya sedang memikirkan tentang kekerasan oleh anak – anak yang akhir – akhir ini marak terjadi di negara saya Indonesia tercinta ini. Mulai dari kebrutalan geng motor, tawuran anak – anak SMA yang menggunakan benda – benda tajam dan kemudian tidak segan – segan menggunakan alat -alat ini. Malah saya tidak jarang melihat anak – anak kecil yang memukul dan mengucapkan kata – kata kasar ke si ‘mbak’ (red: baby sitter/ asisten rumah tangga/prt), atau anak – anak sekolah yang dengan nyamannya duduk di bis kota padahal disebelahnya ada ibu – ibu hamil atau ibu yang sedang menggendong anaknya berdiri – tidak ada yang menawarkan bangku untuk si ibu tersebut – mereka sibuk dengan dunia nya sendiri dan kenyamanannya sendiri atau saya juga beberapa kali melihat mereka mentertawakan orang – orang tua yang terjatuh atau tidak bisa menyebrang jalan. Ini membuat saya menjadi miris.

Kemudian saya teringat pembicaraan saya dengan salah satu kakak papa, yang bicara tentang banyaknya perempuan yang menjadi ibu yang bekerja dari pagi hingga malam hari – yang tidak punya waktu untuk anak – anaknya. Bahkan menurut nya hari Sabtu dan Minggu tidak jarang ibu – ibu muda ini menggunakan waktunya untuk membalas perasaan feel ‘guilty’ mereka ke pada anak – anak dengan cara membiarkan anak – anak melakukan apa saja, dan bukan malah mendidik anak – anak ini dengan pengertian soal kasih sayang, ¬†budi pekerti, perilaku, norma, budaya, tata krama.

Di sisi lain, walaupun saya belum menjadi seorang ibu, saya mengerti sekali bagaimana beratnya menjadi seorang ibu yang bekerja – karena tidak jarang mereka terpaksa harus bekerja karena harus ikut menopang ekonomi keluarga. Terlebih lagi di Jakarta dimana mereka harus berangkat pagi dan pulang larut malam karena kemacetan jalan. Saya mengerti cape nya, mereka – mereka ini. Saya mengerti sekali.

Saya tidak berniat untuk menyalahkan ibu Рibu ini, yang menurut saya hebat banget. Kalau semua kesalahan anak Рanak juga  harus dibebankan kepada mereka, saya kira ini menjadi tidak adil untuk mereka.

Mungkin benar, apa yang diucapkan oleh kakak papa saya tersebut, karena terasa sekali bagaimana dulu ibu saya yang tidak segan – segan menjewer saya atau memukul saya , apabila saya berkata tidak sopan atau bertingkah laku tidak sopan pada orang orang di sekeliling saya. Itu bisa dilakukan oleh ibu saya, karena beliau tidak bekerja di luar rumah dan bisa fokus untuk mendidik saya dan saudara – saudara saya.

Tapi dalam keadaan yang tidak mungkin dilakukan oleh ibu Рibu yang bekerja, mungkin sebaiknya  lingkungan termasuk kita dan terutama suami / partner tercinta  untuk sedikit meringankan beban mereka dengan ikut membantu mereka mengawasi dan mendidik anak Рanak ini. Jangan biarkan ibu Рibu ini merasa bersalah meninggalkan anak Рanak mereka untuk bekerja, jangan juga langsung menyalahkan ibu Рibu ini tanpa menawarkan solusi apa pun untuk membantunya membesarkan anak Рanaknya.

Karena semakin ibu Рibu ini merasa terpojok dan bersalah,  biasanya ada dua cara yang akan dilakukannya :

1. semakin membiarkan anak – anak itu berbuat semaunya – memberi anak – anak dengan barang – barang mewah atau meluluskan apapun yang diminta si anak – yang pastinya bukan solusi yang benar

2. atau memarahi anak – anak sebesar – besarnya membuat anak – anak tidak nyaman bersama ibu mereka sehingga kemudian anak – anak ini akan mencari tempat yang dianggapnya nyaman dan sayang nya sering sekali malah menjerumuskan mereka.

Ke dua cara ini malah membuat keadaan semakin runyam.

Di hari ibu ini mungkin bisa sedikit mengetuk hati nurani kita, untuk ibu – ibu – super duper hebat ini. Berikan mereka solusi. bantu mereka menyebarkan kasih sayang mereka kepada anak – anak tercintanya. Bantu tugas mulia mereka dengan cara membantu mereka mengawasi anak – anak. Beri mereka apresiasi sehingga mereka mempunyai kepercayaan diri untuk mengurus anak – anaknya, membesarkan mereka di jalan yang benar dan bukan rasa bersalah yang membuat mereka membesarkan anak dengan jalan yang salah.

Mungkin dengan bantuan kita ini, kekerasan yang dilakukan oleh anak – anak bisa berkurang jauh, mungkin dengan ini anak – anak Indonesia yang menjadi generasi penerus bangsa akan tumbuh menjadi anak – anak yang sopan dan santun dan anti kekerasan.

Sekali  lagi selamat hari Ibu untuk ibu Рibu hebat di seluruh Indonesia, dan mari kita membantu mereka untuk menjadi ibu yang lebih hebat lagi.

Pengadilan – menegakkan keadilan atau menegakkan hukuman?

Dalam hitungan hari, saya akan mendengar berapa lama sanksi yang akan dijatuhkan oleh pengadilan kepada salah satu teman saya. Apakah saya yakin dia bersalah? Tentu tidak, mungkin ada kesalahan yang beliau lakukan, tapi tidak seperti yang diberitakan media, soalnya banyak kesimpang siuran. Tapi mengapa saya yakin dia akan dihukum di pengadilan? Karena memang seperti itu lah fenomena di Indonesia.

Teman saya, yang namanya sekarang terkenal di seluruh jagat di Indonesia, Dhana Widyatmika ini, sebenarnya tanpa pengadilan pun tetap dianggap bersalah. Pengadilan itu seakan – akan menjadi tempat bagi nya mencari hukuman bukan mencari keadilan atas apa yang menimpanya.

Miris?  Yup.

Bahkan yang paling miris – ada masa di mana bahkan pengacara yang membela ‘tersangka” ¬†korupsi malah dicap pengacara hitam. ¬†Seolah – olah kalau sudah dicap koruptor walaupun belum diputuskan bersalah – tidak berhak untuk mendapatkan pembelaan. Dan yang membela dianggap termasuk ikut mendukung koruptor. ¬†Kalau begitu apa gunanya profesi ini? Bukan kah mereka belajar hukum dan menjadi dilantik menjadi pengacara untuk membela orang lain, dan setidaknya membantu si terdakwa untuk menjelaskan kenapa dan mengapa dia melakukan sesuatu dalam bahasa hukum. Karena toh bersalah atau tidaknya, itu nanti akan ditentukan oleh keputusan hakim.

Pengadilan dalam hal ini hakim menurut saya harus lah berisi orang – orang bijaksana, yang dengan bijaksana dan seadil – adilnya memutuskan sesuatu salah atau benar, tanpa dipengaruhi oleh pembicaraan publik, atau ketakutan oleh ancaman publik.

Pengadilan (red: hakim) ¬†menurut saya harus lah menjadi tempat dimana keadilan ditegakkan bukan menjadi tempat mencari ‘hukuman’ untuk orang – orang yang sudah diputuskan bersalah baik oleh media maupun masyarakat.

Karena itu sewaktu saya belajar KUHP – diterangkan mengapa pengadilan harus independen, berdiri sendiri dan berani memutuskan sesuatu. Berani menyatakan sesuatu bersalah kalau memang itu bersalah berdasarkan fakta – fakta dan bukti – bukti yang valid, berani menyatakan sesuatu itu benar kalau memang tidak terbukti sama sekali.

Pengadilan bukan lah tempat kita menyeret seseorang untuk dihukum – tapi tempat dimana keadilan atas suatu masalah yang terjadi di masyarakat dapat ditegakkan. Yang salah diluruskan.

Fenomena yang semakin parah sekarang, hakim – hakim cenderung mengikuti apa yang sudah ‘diputuskan’ oleh media dan masyarakat, karena ketakutan sendiri dikecam dan mendapat sanksi apabila tidak memutuskan sesuai dengan fakta yang terjadi sebenarnya.

Saya mengerti banget dengan posisi ¬†tidak enak yang dijabat oleh hakim, karena saya sendiri pun seandainya menjadi hakim, lebih baik mencari ‘aman’ untuk menjatuhkan hukuman sesuai yang diinginkan masyarakat /media, tanpa perlu saya tau benar atau salah nya, dari pada kalau ternyata fakta sebenarnya adalah tidak terbukti, dan saya bebaskan dan kemudian saya dan keluarga saya dikecam oleh masyarakat dan karir saya terancam.

Media dan masyarakat memang menjadi hakim paling buas yang sering saya lihat belakangan ini di negara tercinta saya. Kode etik mencari berita juga sudah terlupakan , sehingga tidak sedikit keluarga terdakwa juga harus diseret – seret terbawa. Saya tidak bisa membayangkan kalau ada anak – anak yang menjadi tidak nyaman di sekolahnya karena orang tuanya terkena masalah kasus korupsi seperti ini. Jangan hancurkan masa depan mereka, karena yang bersalah (kalaulah bersalah) bukanlah mereka, tapi orang tuanya. Belajar lah untuk lebih mempunyai hati.

Saya orang yang paling setuju untuk membersihkan Indonesia dari korupsi, tapi saya menentang sekali kalau kita kemudian menjadi brutal dan seenak Рenak nya kepada orang yang masih belum diputuskan, terutama menyeret Рnyeret anak Рanak mereka.  Saya menentang  kebrutalan ini kemudian dibawa ke pengadilan sehingga kebenaran yang ada menjadi terlupakan, membuat pengambil keputusan tidak berani untuk menegakkan keadilan tapi malah menegakkan hukuman.

Sama seperti saya menentang penggunaan baju koruptor untuk orang – orang yang masih menjadi terdakwa dan belum diputuskan bersalah. Saya ingin kita semua belajar untuk menghormati satu lembaga yang bernama “PENGADILAN” – tempat dimana KEADILAN¬† ditegakkan.

Saya harap keputusan apapun untuk teman saya nanti adalah keputusan yang seadil – adilnya sesuai dengan fakta dan kenyataan yang ada, dan bukan sekedar hanya keputusan yang diputuskan sesuai dengan info negatif yang ada diinginkan media dan masyarakat.

Dan sama seperti pendapat saya dulu, apapun keputusan nya nanti, beliau tetaplah teman saya Рsehingga doa  dan support semampu saya akan selalu ada untuk beliau dan keluarganya. Aamin

Salam