Anak Indonesia, Mimpi dan Inspirasi

Baru- baru ini, saya mengikuti kembali Kelas Inspirasi (KI). Kali ini di Bandung, dan ini berarti kelas Inspirasi ke 6 saya, dan kelas Inspirasi saya pertama untuk tahun ini, setelah hampir satu tahun, saya vakum. Btw :orang – orang seperti saya, yang sering mengikuti KI kemudian dapat julukan “KI Hunter” hahaahahahhaaa.

Dan seperti biasa, setiap kali saya mengikuti KI, sebenarnya bukan saya yang menginspirasi, dan bukan saya yang banyak memberi. Tapi anak – anak di SD tempat saya mengajar, guru – guru yang mengajar anak – anak di sekolah tersebut, panitia yang memberikan tenaga dan waktu mereka berbulan – bulan tanpa dibayar untuk mempersiapkan acara ini serta relawan yang gila gila an memberikan yang terbaik yang mereka punya tanpa dibayar untuk anak anak, itulah yang menginspirasi saya.

Kemudian kalau saya ditanya, kenapa sih mau berkali-kali menjadi relawan seperti ini. Mengapa mau melakukan sesuatu tanpa dibayar, bahkan harus mengeluarkan uang? Jawabannya itu banyak banget, diantaranya adalah :

  1. Anak – anak mengajarkan saya banyak hal. Dari  interaksi mereka terhadap teman dan lingkungannya, saya diingatkan untuk tidak memendam marah terlalu lama dengan orang lain, untuk tidak perlu banyak khawatir tentang masa depan dan tidak perlu mengingat -ingat masa lalu, dan tidak perlu malu kalau saya salah.
  2. Jawaban jawaban mereka  atas pertanyaan saya atau pertanyaan – pertanyaan mereka kepada saya, serta obrolan mereka dengan saya, yang serng nya lucu – lucu, membuat saya melupakan seluruh keletihan saya.
  3. Saya merasa saya banyak berhutang kepada negara saya, dan salah satu cara saya untuk membayarnya dengan membagikan waktu, tenaga dan cinta saya untuk sedikit membantu negara membangun mimpi anak – anak Indonesia. Karena bagaimanapun di tangan merekalah nantinya saya akan menyerahkan masa depan bangsa.
  4. Saya jatuh cinta dengan tawa mereka atau binar binar mata mereka ketika mereka mulai pingin tahu tentang sesuatu atau ketika mereka merasa bahagia. Dan itu menjadi priceless – tidak dapat dibayar dengan apapun, ketika saya yang menjadi alasannya. Seperti sewaktu saya mengikuti KI Bandung, ketika saya hendak berpindah ruangan, tiba tiba serombongan anak dari kelas saya mengajar sebelumnya, tiba-tiba menghampiri saya dan memberikan saya pelukan. Dan itu buat saya priceless banget. Saya merasa disayang banyak orang, saya merasa dicintai.
  5. Saya mempunyai keluarga baru, saya mempunyai teman – teman baru, yang tidak kenal saya sebelumnya, tapi luar biasa mau memberikan saya support, mendengarkan ketakutan – ketakutan saya, membantu saya agar saya bisa sukses memberikan yang terbaik yang saya punya kepada anak-anak. Dan mereka membuat saya percaya, masih banyak orang – orang baik di negeri ini, yang mau memberikan yang terbaik untuk negaranya, dengan sukarela.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi ke lima di atas adalah yang utama.  Dan tentunya alasan yang paling utama adalah, karena saya ingin agar seluruh anak – anak Indonesia tanpa terkecuali, berani untuk bermimpi. Percaya bahwa apapun mereka sekarang, mereka punya hak untuk menjadi yang terbaik, karena mereka berharga.

Sehingga mudah – mudahan suatu saat, ketika mereka dewasa dan sukses, mereka juga mau melakukan hal yang sama untuk anak anak lain. Aamiin

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier

(Greatest love of All)

Apakah bangsa ini mengalami krisis kepribadian?

Saat saat ini, saya sedang merindukan masa kecil saya, dimana kata – kata  “Bhineka Tunggal Ika”,  berbeda beda (suku, agama, ras), tapi tetap satu benar – benar dapat saya rasakan dimanapun saya berada. Mungkin ada krisis krisis kecil antar tetangga karena perbedaan, tapi biasanya juga akan ada banyak orang yang mendamaikan. Kalimat “tepo seliro” – bertenggang rasa itu tidak jarang diucapkan.

Saya juga merindukan dimana media massa (yang waktu itu hanya ada tv, radio dan koran), tidak akan menuliskan atau memberitakan berita berita yang tidak jelas asal muasalnya, atau berita berita yang bersifat mengungkap aib orang lain yang tidak sepantasnya diumbar, atau berita berita yang berisi kalimat makian atau hinaan yang tidak sepantasnya diucapkan dimuka umum terhadap orang lain oleh pejabat.

Mungkin karena pemerintah saat itu otoriter, jadi hal hal ini seperti ini tidak mungkin bisa lolos diberitakan (kalau menurut pikiran sederhana saya, kalau begitu – tidak mengapalah pemerintah otoriter dalam hal ini), atau mungkin karena globalisasi belum begitu terasa, sehingga kita belum terpengaruh (kalau menurut pikiran sederhana saya, mustinya Indonesia yang jumlah penduduknya termasuk yang paling besar di dunia – justru seharusnya bisa membawa kepribadian bangsa utk ditularkan kepada negara negara yang lain didunia). Atau karena kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita mudah banget mengakses apapun. Ah entahlah.

Hari hari ini, setiap membaca berita, membaca medsos yang penuh dengan persoalan saling tuduh atas nama penistaan agama, saya kemudian memikirkan kembali apa yang pernah diajarkan guru ngaji saya tentang surat Al – Kafirun ….. “agamamu agamamu, agamaku agamaku, jangan ganggu agamaku dan aku tidak mengganggu agamamu.”

Pesan yang menurut saya sangat mudah banget utk dimengerti apabila kita tidak memikirkan hal hal yang rumit dan membesar besarkan segala hal. Atau saya ingat banget, diajarkan untuk tidak membuka aib orang di muka umum, karena bisa menimbulkan pertengkaran (saya tidak diajarkan untuk tidak membuka aib kecuali orang tersebut beragama lain). Biarkanlah pengadilan yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Toh sudah ada pengadilan.

Kalau lah pengadilan sudah bekerja, mengapa kemudian harus lagi mengajak orang orang untuk melakukan kegiatan kegiatan  menghujat tersangka? Apalagi yang diinginkan? Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya, kemudian siapa kamu yang tidak mau memaafkan orang lain ?  Padahal kamu tidak lebih hebat dari Tuhan mu.

Dan anehnya, orang -orang yang mengajak untuk tidak membesarkan hal – hal seperti ini, malah dianggap sebagai “Pendosa Besar”. Kenapa berani sekali kemudian menjadi Tuhan yang menentukan siapa yang pendosa dan siapa yang tidak? Dan kemudian melebih lebihkan dengan mengajak semua orang utk ikut memusuhi orang orang yang berpikiran seperti saya. Kenapa menjadi arogan dengan membawa bawa nama agama?

Saya ingat juga sewaktu saya sekolah di sekolah Katholik, dan dipelajaran agamanya, ada cerita dimana banyak orang orang yang akan melemparkan batu kepada perempuan yang bekerja sebagai PSK .. kemudian sang nabi berkata, orang orang yang tidak pernah berdosa boleh melemparkan batu ketubuh perempuan ini. Dan semua orang disana berhenti karena malu, karena pada dasarnya siapa yang tidak pernah melakukan dosa? Begitu juga kita …… mengapa kita bangga sekali membuka segala aib orang lain, membesar besarkan nya, kemudian mencemooh nya seolah kita adalah mahluk yang putih bersih bebas dari dosa?

Saya ingat juga, sewaktu saya kecil, saya diajarkan untuk bertutur kata sopan kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih dewasa. Sopan santun menjadi salah satu yang selalu ditekankan kepada saya baik di rumah maupun di sekolah. Dan saya selalu berpikir, itu juga salah satu ciri kepribadian bangsa ini  ramah tamah dan sopan santun.

Tapi apa kemudian yang saya lihat belakangan ini, orang dewasa bahkan anak – anak kecil yang dengan bangganya menulis kalimat caci maki terhadap selebritis bahkan pejabat yang tidak mereka sukai, yang bahkan mereka tidak kenal dekat 😦

Saya miris sekali membacanya, sampai ada masa saya males membuka medsos kecuali email & WA. Dimana mereka belajar ini? Apakah orang tua, sekolah dan lingkungan nya tidak mengajarkan sopan santun? Dan apa hak mereka untuk mencaci maki orang lain yang bahkan tidak pernah mereka temui di dunia nyata. Ah entahlah.

Bahkan ada beberapa stasiun tv yang mempunyai acara yang berisikan tentang orang orang yang saling caci maki dimuka publik, seakan akan bahwa tayangan yang sperti itu memang selayaknya ditonton oleh anak anak kecil di negara ini.

Dan saya kemudian berpikir – dimana hilangnya kepribadian bangsa saya, bangsa Indonesia ini? Dimana kebhineka Tunggal Ikaan itu hilang? Dimana kepribadian ramah tamah dan sopan santun itu pergi? Atau memang bangsa ini sedang sakit? Sedang mengalami krisis kepribadian? Sehingga segala yang baik baik baik — mulai hilang satu per satu.

Sekali lagi entahlah. Saya tidak tau harus menjawab apa. Yang saya tau hanya lah mengajak lingkungan saya untuk mengembalikan kepribadian bangsa ini, tidak ikut ikut an dalam menyebarkan kebencian dan menghargai orang lain yang berbeda dengan saya. Mungkin anda juga bisa melakukan hal yang sama.

Salam

 

 

 

Hari Kesaktian Pancasila – (dan masih saktikah Pancasila itu?)

Hari ini 1 Oktober – adalah hari kesaktian Pancasila. Mungkin anak anak sekolah sekarang kalau ditanya isi Pancasila pada enggak ingat lagi 🙂 Saya sendiri tadi pagi ketika mencoba mengingat ingat isi Pancasila agak lupa di sila ke 5 hahahahhahha. Untung enggak lama ingat kembali.

Ketika saya mengingat Sila ke 2 – Kemanusiaan yang adil dan beradap —– saya kembali teringat akan asap di sumatera dan kalimantan. Apakah  cukup adil dan beradap terhadap orang orang yang ada di sana?

Atau Sila ke 5 – Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia —- cukup adilkah apa yang  mereka terima sekarang?  Ketika saya, anda pura pura tidak melihat apa yang mereka alami saat ini.

Dan kalau ke duanya jawaban nya TIDAK ….. lalu apa saktinya Pancasila itu?

Lalu apa gunanya peringatan hari kesaktian Pancasila itu? Cuman sekedar perayaan – tanpa arti  – hanya kewajiban apel di kantor atau disekolah?

Saya yakin, ketika para sesepuh kita membuat Pancasila dengan ke 5 Sila nya – yang ada dibenak mereka adalah gambaran di masa depan – agar pemerintah dan warga negara Indonesia – bisa menjalankan hidupnya di negara tercinta ini dengan berlandaskan sila sila ini.

Mulai dari setiap waraga negara diharapkan percaya akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, setiap warga memperlakukan sesamanya adil dan beradap – bukan dengan kata kata kasar atau tidak senonoh – bukan memaki maki seperti yang dilakukan hatters , tetap bersatu walaupun berbeda beda baik suku, agama, ras dan golongan, mengambil keputusan lewat musyawarah dan mufakat dan tidak ada lagi ketimpangan sosial antara warga negara.

Dan lihat apa yang terjadi di Indonesia sekarang? Ketika menghormati agama orang lain – sering dianggap kafir, menyatakan ucapan selamat atas peringatan agama yang berbeda – dicemooh.

Ada etnis tertentu yang memimpin – langsung di perolok asal muasalmya – dipertanyakan nasionalitas nya – padahal sudah jelas nenek moyang nya hidup dan tinggal di Indonesia. Bukti apa lagi yang menyatakan dia adalah orang Indonesia – dan siapa yang sebenarnya yang bisa di cap punya nasionalisme? Apakah indikatornya nama yang ada di ktp mereka? Etnis yang melekat didarah mereka? Atau apa yang mereka lakukan untuk bangsa ini, yang mereka lakukan demi negara ini?

Ada yang tidak sesuai – langsung diucapkan dengan kata kata yang tidak pantas dan diumbar di media sosial yang bisa dibaca siapa saja.  Seenaknya memaki maki orang lain karena pekerjaan nya yang artis – padahal  belum tentu juga apa yang terlihat memang begitu, atau apa yang dibicarakan memang begitu. Terus kalaulah semua benar – apa hak mereka untuk memaki maki orang lain?

Ada orang yang terkena kasus, yang diobrak abrik adalah keluarganya mulai dari pasangan suami/istrinya, anak anaknya bahkan orang tuanya, padahal mereka mungkin tidak mengetahui apa apa, dan tanpa perasaan mengejar ngerjar dan berusaha mengambil foto dari mereka. Buat apa?  Yang terkena kasus kan bukan mereka.

Hari ini tanggal 1 Oktober – Hari Kesaktian Pancasila.

Selain dengan melakukan upacara dan mengibarkan bendera – mari kita tanyakan hati nurani kita sendiri – benarkan Pancasila itu masih sakti? Kalau tidak apa yang bisa saya dan kita semua lakukan sehingga perjuangan pendiri negara ini tidak sia sia.

Salam

Karena seperti kita, mereka juga ingin dihargai

Belakangan sering sekali kita membaca:
1. Kasus pertama: tulisan tulisan tentang Menteri A yang begini, menteri B yang begitu. Dan itu ditulis dengan menyambungkan dengan boleh atau tidaknya menurut agama
2. Kasus ke dua: kemudian yang paling menghebohkan adalah ketika gambar Presiden RI dan mantan Presiden RI yang dirubah menjadi gambar yang berbau pornografi. Dan pembuatnya kemudian dipenjarakan, setelah banyak yang menganggab presidennya lebay.

Kasus pertama – saya bukan lah ahli agama. Tapi saya hanya berpikir – ini bukan pemilihan posisi malaikat – yang salah satu kriteria nya adalah harus sempurna, bukan perokok, tidak boleh punya tato, harus sarjana, tidak boleh pemarah, harus ramah dan lembut (terutama apabila dia perempuan). Pokoknya harus perfect menurut kriteria manusia Indonesia. Tapi ini pemilihan menteri – yang kriteria nya harus tidak punya catatan ‘merah’ di kpk atau kejaksaan, tidak pernah terkena kasus suap – terbukti mampu bekerja keras dan mempunyai catatan ‘excelent’ di bidangnya serta cinta Indonesia dan rakyat nya.

Jadi masalah tato, atau merokok, saya kira biarlah itu menjadi urusan mereka di depan Tuhannya. Urusan sembahyang atau tidak – biarlah itu menjadi hitung hitungan mereka di akhir hayatnya nanti. Itu sepenuhnya hak Tuhan yang Maha Kuasa. Bukan urusan kita. Bukan hak kita juga untuk menilai.
Yang menjadi urusan manusia seperti kita, adalah mengingatkan beliau beliau tersebut dalam mengemban amanah yang dipercayakan di pundaknya. Dan juga membantu mereka untuk melaksanakan amanah tersebut, dengan apa yang bisa kita lakukan. Setidaknya bantulah mereka dengan doa yang tulus. Agar diberikan kesehatan dan pikiran yang jernih untuk mengemban tugasnya.

Kasus ke dua? Saya sih walau bukan Presiden RI , pasti juga akan merasa marah luar biasa kalau ada orang yang seenaknya mengunggah wajah saya dipadu kan dengan badan siapa begitu, dan berbau pornografi. Jadi dalam hal ini saya tidak merasakan bahwa Presiden dan mantan Presiden RI tersebut lebay. Itu hak mereka untuk marah.Dan menurut saya, apa yang dilakukan adalah pelecehan luar biasa untuk semua orang bukan terbatas hanya untuk Presiden atau mantan Presiden atau menteri atau selebrita lainnya.

Lantas hubungan kedua nya? Kita sering sekali tidak mau memposisikan diri kita sendiri di orang yang kita caci maki, yang kita anggap tidak sempurna, yang kita anggap berdosa. Kita sering kali melecehkan apa yang menurut orang lain itu penting. Kita sering memaksa orang orang lain untuk menuruti apa yang benar menurut pemikiran kita.

Jadi saran saya, cobalah untuk memposisikan diri, diposisi mereka. Mungkin dengan begitu kita bisa lebih mudah untuk menerima apa yang mereka lakukan. Cobalah menghargai mereka sebagai manusia biasa, seperti kita juga ingin dihargai.

Karena seperi kita juga, mereka ingin dihargai keberadannya, pendapatnya, keputusannya, kehadirannya. Karena seperti kita juga, mereka ingin dihargai kehidupan pribadinya, hubungan dengan Tuhan nya, hubungannya dengan manusia manusia sekelilingnya. Karena seperti kita juga mereka ingin dihargai ketidak sempurnaan mereka sebagai manusia dan kehebatan mereka sebagai anugrah Tuhan yang terindah bagi keluarga, teman teman dan lingkungannya. Karena seperti kita juga, mereka juga punya kehidupan yang tidak ingin mereka umbar di publik. Karena seperti kita juga, mereka ingin dihargai sebagai manusia dengan kelembahan yang mereka miliki.

Jadi setidaknya kalau lah mereka kita pandang tidak pantas terpilih memimpin negara ini karena ketidak sempurnaan mereka, kita bisa tetap menghargai keberadaan mereka sebagai manusia, seperti kita jugan dihargai oleh manusia lain nya.

Salam