Anak Indonesia, Mimpi dan Inspirasi

Baru- baru ini, saya mengikuti kembali Kelas Inspirasi (KI). Kali ini di Bandung, dan ini berarti kelas Inspirasi ke 6 saya, dan kelas Inspirasi saya pertama untuk tahun ini, setelah hampir satu tahun, saya vakum. Btw :orang – orang seperti saya, yang sering mengikuti KI kemudian dapat julukan “KI Hunter” hahaahahahhaaa.

Dan seperti biasa, setiap kali saya mengikuti KI, sebenarnya bukan saya yang menginspirasi, dan bukan saya yang banyak memberi. Tapi anak – anak di SD tempat saya mengajar, guru – guru yang mengajar anak – anak di sekolah tersebut, panitia yang memberikan tenaga dan waktu mereka berbulan – bulan tanpa dibayar untuk mempersiapkan acara ini serta relawan yang gila gila an memberikan yang terbaik yang mereka punya tanpa dibayar untuk anak anak, itulah yang menginspirasi saya.

Kemudian kalau saya ditanya, kenapa sih mau berkali-kali menjadi relawan seperti ini. Mengapa mau melakukan sesuatu tanpa dibayar, bahkan harus mengeluarkan uang? Jawabannya itu banyak banget, diantaranya adalah :

  1. Anak – anak mengajarkan saya banyak hal. Dari  interaksi mereka terhadap teman dan lingkungannya, saya diingatkan untuk tidak memendam marah terlalu lama dengan orang lain, untuk tidak perlu banyak khawatir tentang masa depan dan tidak perlu mengingat -ingat masa lalu, dan tidak perlu malu kalau saya salah.
  2. Jawaban jawaban mereka  atas pertanyaan saya atau pertanyaan – pertanyaan mereka kepada saya, serta obrolan mereka dengan saya, yang serng nya lucu – lucu, membuat saya melupakan seluruh keletihan saya.
  3. Saya merasa saya banyak berhutang kepada negara saya, dan salah satu cara saya untuk membayarnya dengan membagikan waktu, tenaga dan cinta saya untuk sedikit membantu negara membangun mimpi anak – anak Indonesia. Karena bagaimanapun di tangan merekalah nantinya saya akan menyerahkan masa depan bangsa.
  4. Saya jatuh cinta dengan tawa mereka atau binar binar mata mereka ketika mereka mulai pingin tahu tentang sesuatu atau ketika mereka merasa bahagia. Dan itu menjadi priceless – tidak dapat dibayar dengan apapun, ketika saya yang menjadi alasannya. Seperti sewaktu saya mengikuti KI Bandung, ketika saya hendak berpindah ruangan, tiba tiba serombongan anak dari kelas saya mengajar sebelumnya, tiba-tiba menghampiri saya dan memberikan saya pelukan. Dan itu buat saya priceless banget. Saya merasa disayang banyak orang, saya merasa dicintai.
  5. Saya mempunyai keluarga baru, saya mempunyai teman – teman baru, yang tidak kenal saya sebelumnya, tapi luar biasa mau memberikan saya support, mendengarkan ketakutan – ketakutan saya, membantu saya agar saya bisa sukses memberikan yang terbaik yang saya punya kepada anak-anak. Dan mereka membuat saya percaya, masih banyak orang – orang baik di negeri ini, yang mau memberikan yang terbaik untuk negaranya, dengan sukarela.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi ke lima di atas adalah yang utama.  Dan tentunya alasan yang paling utama adalah, karena saya ingin agar seluruh anak – anak Indonesia tanpa terkecuali, berani untuk bermimpi. Percaya bahwa apapun mereka sekarang, mereka punya hak untuk menjadi yang terbaik, karena mereka berharga.

Sehingga mudah – mudahan suatu saat, ketika mereka dewasa dan sukses, mereka juga mau melakukan hal yang sama untuk anak anak lain. Aamiin

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier

(Greatest love of All)

Apakah bangsa ini mengalami krisis kepribadian?

Saat saat ini, saya sedang merindukan masa kecil saya, dimana kata – kata  “Bhineka Tunggal Ika”,  berbeda beda (suku, agama, ras), tapi tetap satu benar – benar dapat saya rasakan dimanapun saya berada. Mungkin ada krisis krisis kecil antar tetangga karena perbedaan, tapi biasanya juga akan ada banyak orang yang mendamaikan. Kalimat “tepo seliro” – bertenggang rasa itu tidak jarang diucapkan.

Saya juga merindukan dimana media massa (yang waktu itu hanya ada tv, radio dan koran), tidak akan menuliskan atau memberitakan berita berita yang tidak jelas asal muasalnya, atau berita berita yang bersifat mengungkap aib orang lain yang tidak sepantasnya diumbar, atau berita berita yang berisi kalimat makian atau hinaan yang tidak sepantasnya diucapkan dimuka umum terhadap orang lain oleh pejabat.

Mungkin karena pemerintah saat itu otoriter, jadi hal hal ini seperti ini tidak mungkin bisa lolos diberitakan (kalau menurut pikiran sederhana saya, kalau begitu – tidak mengapalah pemerintah otoriter dalam hal ini), atau mungkin karena globalisasi belum begitu terasa, sehingga kita belum terpengaruh (kalau menurut pikiran sederhana saya, mustinya Indonesia yang jumlah penduduknya termasuk yang paling besar di dunia – justru seharusnya bisa membawa kepribadian bangsa utk ditularkan kepada negara negara yang lain didunia). Atau karena kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita mudah banget mengakses apapun. Ah entahlah.

Hari hari ini, setiap membaca berita, membaca medsos yang penuh dengan persoalan saling tuduh atas nama penistaan agama, saya kemudian memikirkan kembali apa yang pernah diajarkan guru ngaji saya tentang surat Al – Kafirun ….. “agamamu agamamu, agamaku agamaku, jangan ganggu agamaku dan aku tidak mengganggu agamamu.”

Pesan yang menurut saya sangat mudah banget utk dimengerti apabila kita tidak memikirkan hal hal yang rumit dan membesar besarkan segala hal. Atau saya ingat banget, diajarkan untuk tidak membuka aib orang di muka umum, karena bisa menimbulkan pertengkaran (saya tidak diajarkan untuk tidak membuka aib kecuali orang tersebut beragama lain). Biarkanlah pengadilan yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Toh sudah ada pengadilan.

Kalau lah pengadilan sudah bekerja, mengapa kemudian harus lagi mengajak orang orang untuk melakukan kegiatan kegiatan  menghujat tersangka? Apalagi yang diinginkan? Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya, kemudian siapa kamu yang tidak mau memaafkan orang lain ?  Padahal kamu tidak lebih hebat dari Tuhan mu.

Dan anehnya, orang -orang yang mengajak untuk tidak membesarkan hal – hal seperti ini, malah dianggap sebagai “Pendosa Besar”. Kenapa berani sekali kemudian menjadi Tuhan yang menentukan siapa yang pendosa dan siapa yang tidak? Dan kemudian melebih lebihkan dengan mengajak semua orang utk ikut memusuhi orang orang yang berpikiran seperti saya. Kenapa menjadi arogan dengan membawa bawa nama agama?

Saya ingat juga sewaktu saya sekolah di sekolah Katholik, dan dipelajaran agamanya, ada cerita dimana banyak orang orang yang akan melemparkan batu kepada perempuan yang bekerja sebagai PSK .. kemudian sang nabi berkata, orang orang yang tidak pernah berdosa boleh melemparkan batu ketubuh perempuan ini. Dan semua orang disana berhenti karena malu, karena pada dasarnya siapa yang tidak pernah melakukan dosa? Begitu juga kita …… mengapa kita bangga sekali membuka segala aib orang lain, membesar besarkan nya, kemudian mencemooh nya seolah kita adalah mahluk yang putih bersih bebas dari dosa?

Saya ingat juga, sewaktu saya kecil, saya diajarkan untuk bertutur kata sopan kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih dewasa. Sopan santun menjadi salah satu yang selalu ditekankan kepada saya baik di rumah maupun di sekolah. Dan saya selalu berpikir, itu juga salah satu ciri kepribadian bangsa ini  ramah tamah dan sopan santun.

Tapi apa kemudian yang saya lihat belakangan ini, orang dewasa bahkan anak – anak kecil yang dengan bangganya menulis kalimat caci maki terhadap selebritis bahkan pejabat yang tidak mereka sukai, yang bahkan mereka tidak kenal dekat 😦

Saya miris sekali membacanya, sampai ada masa saya males membuka medsos kecuali email & WA. Dimana mereka belajar ini? Apakah orang tua, sekolah dan lingkungan nya tidak mengajarkan sopan santun? Dan apa hak mereka untuk mencaci maki orang lain yang bahkan tidak pernah mereka temui di dunia nyata. Ah entahlah.

Bahkan ada beberapa stasiun tv yang mempunyai acara yang berisikan tentang orang orang yang saling caci maki dimuka publik, seakan akan bahwa tayangan yang sperti itu memang selayaknya ditonton oleh anak anak kecil di negara ini.

Dan saya kemudian berpikir – dimana hilangnya kepribadian bangsa saya, bangsa Indonesia ini? Dimana kebhineka Tunggal Ikaan itu hilang? Dimana kepribadian ramah tamah dan sopan santun itu pergi? Atau memang bangsa ini sedang sakit? Sedang mengalami krisis kepribadian? Sehingga segala yang baik baik baik — mulai hilang satu per satu.

Sekali lagi entahlah. Saya tidak tau harus menjawab apa. Yang saya tau hanya lah mengajak lingkungan saya untuk mengembalikan kepribadian bangsa ini, tidak ikut ikut an dalam menyebarkan kebencian dan menghargai orang lain yang berbeda dengan saya. Mungkin anda juga bisa melakukan hal yang sama.

Salam

 

 

 

Salah satu Inspirator saya (dan dia sempurna dalam ketidaksempurnaannya)

Kemaren saya ikut salah satu training dan di sana terdapat kata kata

“Have what you have”

kata kata ini sebelumnya sering saya dengar, tapi tidak terlalu saya perhatikan. Tapi kali ini menjadi perhatian saya karena saya diingatkan kembali dengan seseorang yang bernama Mega.

Pertemuan kami itu terjadi sewaktu saya menjadi sukarelwan untuk mengajak peserta training ikut ke training tahap berikutnya, memberikan penjelasan kepada mereka mengapa training ini penting dan sebagainya. Karenanya ketika bertemu dengan Mega, yang saya tanyakan adalah keluarganya, sekolahnya, lingkungannya.

Mega adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Ayahnya sudah meninggal dunia ketika Mega duduk dibangku SMA, dan setahun setelahnya sampai saat ini ibunya menjadi TKW di Arab Saudi untuk menutupi kebutuhan keluarga. Mega saat ini sedang duduk di bangku kuliah dan sedang menyelesaikan skripsinya.

Keinginan Mega, menyelesaikan kuliah secepatnya dan kemudian mencari pekerjaan sehingga ibunya tidak perlu lagi menjadi TKW.

Sebenarnya cerita seperti ini  sangat familiar di Indonesia, tidak terlalu istimewa. Yang berbeda karena Mega adalah seorang tuna netra. Dan yang terutama berbeda adalah, sepanjang pembicaraan kami, Mega tidak pernah menjadikan dirinya sebagai korban keadaan sehingga orang orang menjadi kasihan padanya. Mega justru yakin sekali bahwa dia mampu, dan kalaupun ada yang tidak berjalan baik di kehidupannya saat ini, itu karena dia belum melakukan yang terbaik dan bukan karena cacat tubuhnya.

Terus terang pembicaraan ini “menampar” saya keras keras. Karena saya yang terlahir sempurna ini sering sekali merasa menjadi victim dalam kehidupan saya, dan kemudian seolah seolah saya yang paling menderita sedunia, atau menggunakan cerita betapa saya menjadi korban itu agar agar banyak yang kasian pada saya dan mau membantu saya. Saking nyamannya menjadi ‘victim’, saya malah sering sekali enggan berganti posisi menjadi yang bertanggungjawab. Saya sering sekali merasakan apa yang saya miliki tidak cukup , apa yang saya miliki kurang. Saya tidak bisa melakukan sesuatu karena saya kurang (walaupun saya belum mencoba – yup … saya sok tahu banget … 😦  )

Saya benar benar kagum, dengan Mega. Perempuan muda yang kuat, penuh semangat. Yang tidak mau menyerah karena keadaanya. Yang mensykuri apapun nikmat yang diberikan Tuhan kepada Nya, dan yakin itu yang terbaik baginya. Mega perempuan yang sempurna dalam ketidaksempunaannya.

Dan saya adalah salah satu orang yang paling beruntung yang diijinkan Nya bertemu dengan Mega, diingatkan untuk mengucap syukur . “Have what I have” .

Jakarta 24 Nov 14

Your Country Needs You – Ketika Pemilu memanggil kita

Suatu pagi, sewaktu saya dengerin radio, salah satu penyiarnya kasih info kalau di bawah lambag negara Inggris – itu ada tulisan “Your Country Needs You” – Negaramu membutuhkanmu. Kata kata yang singkat tapi maknanya dalam banget. Kebayang, kalaulah di bendera kita ada tulisan seperti itu, dan saya baca ketika saya jauuuuuhhhhh di negeri orang dan bertahun tahun tidak pulang, kekangenan saya pasti akan berlipat ganda dan sebisa mungkin pingin pulang. Wong pernah denger lagu apa ya itu judulnya yg liriknya”biarpun saya, pergi jauh, takkan hilang dari kalbu, tanahku yang kucintai, engkau kuhargai”, sewaktu di negeri orang, bisa buat saya sedih banget. Hahhahahahhaa.

Kemarin, waktu saya ikut briefing untuk persiapan kelas inspirasi – menjadi relawan untuk memberikan anak anak inspirasi, mau jadi apa mereka bila sudah besar nanti, saya kembali meraskan jatuh cita  kepada negara saya sewaktu, lagu Indonesia Raya, dinyanyikan semua yang hadir. Rasanya, saya ingin memberikan semua yang bisa saya berikan kepada negara ini. Yup terdengar lebay, tapi itu yang saya raskan saat itu. Dan meman seperti saya, pasti banyak yang mencintai negeri ini, yang akan dengan senang hati dibangkitkan jiwa dan semangatnya kalau ada surat untuk dirinya bertulis “Your Country Needs You – Negara membutuhkanmu, membutuhkan suaramu pada pemilu, membutuhkan pajakmu untuk membangun negara”.( Ah, moga moga Panitia Pemilu dan Dirjen Pajak bisa kreatif menciptakan kata kata)

Sebentar lagi – tepatnya tanggal 9 April 2014, kita masyarakat Indonesia akan kembali melakukan “pemilihan umum”, untuk memilih wakil nya di DPR. Saya sendiri seumur begini, belum pernah memilih – bukan karena enggak mau memilih – tapi karena saya yang penduduk legal, tidak pernah mendapatkan kartu pemilih – bahkan sewaktu saya tinggal di negara antah berantah dan sudah melaporkan diri saya di kedutaan RI, tetap saja saya tidak mendaptkan hak saya untuk memilih.

Saya ingat suatu saat saya pernah beradu argumentasi dengan mantan teman hidup saya, mengenai pemilu – tentang golput. Ada perkataan beliau yang bagus sekali kira kira begini – “ketika kita memutuskan menjadi golput, maka kita termasuk orang yang harusnya bertanggung jawab ketika penguasa terpilih ternyata tidak menjalankan amanatnya. Alasannya? Karena kita, sebelumnya diberikan hak istimewa untuk ikut menentukan masa depan bangsa, tapi karena tidak ada satupun calon yg kita anggap memenuhi kriteria, maka kita tidak mau memilih. Padahal kita bisa saja untuk mencoba memilih yg terbagus diantara yang terjelek, memang suara kita hanya 1, tapi bayangin apabila ada 100 juta pemilih seperti kita?

Jadi jangan kemudian malah marah melihat pemenang pemilu! Wong, kita juga enggak berusaha untuk merubahnya. Dan jangan dengan bangga hati berkata “sorry gue golput”. Karena anda, salah satu penyebab kegagalan pemilu.

Trus bagaimana ketika kita anggap tidak ada yg pantas untuk menjadi pemimpin? Kenapa tidak kita yang maju untuk mencalonkan diri? Saya baca alasan mengapa, Ahok terjun kedalam dunia politik, karena daripada hanya protes dan tidak melakukan apa apa, maka lebih baik berusaha – maju ke dunia politik. Dan lihat, apa yang beliau dan pak Jokowi lakukan? Mengapa tidak melakukan hal yang sama? Kalau tidak berani, jangan juga kemudian paling besar suara protesnya.

Tidak mampu? Ya, setidaknya lakukan sesuatu untuk lingkungan, untuk tetangga, untuk anak anak tidak mampu. Come on, doing something for your country. Lebih baik dari pada hanya menghabiskan waktu dengan protes dan mengeluh.

Your country needs you now – mari kita bersama sama sepakat untuk mengadakan perubahan, mari kita ikut memilih – mari kita melakukan perbedaan dan bukan hanya sekedar protes dan protes, yang tidak akan membuat ke adaan menjadi lebih baik. Mari kita memilih (walau harus memilih yg terbaik diantara yg terburuk ) – untuk Indonesia yang lebih baik.

So jangan lupa ya ikut memilih tgl 9 April nanti – cause your country needs you!!!

Demo Mahasiswa – (antara keperdulian dan gaya hidup)

Saya termasuk orang yang selama menjadi mahasiswa, tidak pernah ikut demo (termasuk demo kecantikkan :)), apalagi karena sekolah saya adalah sekolah kedinasan, takut kena sangsi DO (yup, saya akui, saya egois dan pengecut 😦 ). Kemudian ketika kuliah lagi yang non kedinasan, saya juga tidak pernah ikut demo, mungkin karena saya sudah cukup cape membagi waktu saya antara kerja dan kuliah. Dan memang saya bukan juga orang yang memilih demo sebagai solusi, walaupun saya tidak menafikan kalau demo mahasiswa tahun 1998 berhasil merubah wajah bangsa ini.

Tapi belakang ini saya merasa benar – benar terganggu dengan demo yang dilakukan oleh mahasiswa. Terutama karena demo itu seringnya berubah menjadi demo yang anarkis dan merusak barang – barang yang ada di sekitar, yang  kebanyakkan barang – barang tersebut adalah milik publik, yang dibeli dengan uang rakyat (yang ‘katanya’ mereka perjuangkan) dan untuk kepentingan publik.

Sebagai mahasiswa, generasi penerus bangsa, yang semestinya mempunyai cara berpikir yang lebih cerdas dibanding mereka yang tidak  bisa mengecap bangku kuliah atau bahkan tidak pernah mengecap bangku sekolah, seharusnya mengerti bahwa demo dengan tindakan anarkis seperti itu tidak membuat apa yang mereka perjuangkan akan tercapai, tidak juga akan membuat mereka terlihat seperti pahlawan. Tahukah mereka dengan rusaknya barang barang milik publik itu berarti akan ada uang tambahan yang harus keluar dari negara, untuk memperbaiki barang – barang tersebut. Dan parahnya barang barang yang mereka rusak itu perlu biaya yang besar untuk perbaikkannya. Padahal uang tersebut bisa dipergunakkan untuk kepentingan yang lain seperti memperbaiki alat transportasi, mensubsidi obat – obatan dll.

Semakin parah karena beberapa demo juga diikuti dengan melakukan kekerasan terhadap orang – orang yang dianggap mempunyai jabatan di tempat mereka berdemo, walaupun orang – orang tersebut tidak melakukan penyerangan apapun terhadap mereka. Jadi mengapa harus melakukan kekerasan? Apakah dengan melakukan kekerasan ini, mereka mencapai tujuan  mereka? Apakah demo dengan anarkis dan kekerasan akan menghasilkan apa yang mereka inginkan? Apakah itu bukan nya malah akan membuat masa depan mereka suram karena melakukan kekerasan terhadap orang lain itu termasuk tindakan pidana. Karena masuk penjara karena memperjuangkan nasib rakyat itu berbeda dengan masuk penjara karena melakukan kekerasan. Sungguh saya gagal paham terhadap tindakan  anarkis dan kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa sewaktu berdemo, kalau sudah begini apa bedanya mahasiswa dengan preman – preman jalanan?

Saya juga kemudian merasa prihatin karena, banyak mahasiswa yang sibuk beramai – ramai demo untuk isu yang sedang marak, yang sedang trend. Misalnya soal pencabutan subsidi – kenaikkan bbm. Padahal kalaulah mereka benar – benar perduli, kenapa mereka tidak berdemo juga tentang bbm yang harganya di pelosok – pelosok desa terpencil di Indonesia bisa hampir dua kali lipat – ini sudah jelas yang terkena dampaknya adalah masyarakat miskin. Atau kenapa mereka tidak berdemo tentang biaya sekolah terutama biaya kuliah yang luar biasa mahalnya sehingga banyak anak – anak dari keluarga kurang mampu tidak bisa bersekolah. Atau kenapa tidak berdemo memperjuangkan adik kelas nya di salah satu SMA yang diperkosa oleh kepala sekolah nya? Atau soal TKW yang diperlakukan sewenang wenang di bandara, atau demo di rumah sakit yang menolak untuk melayani orang miskin? Apakah karena masalah masalah ini bukan lah isu yang sedang trend di masyarakat?

Apa yang sedang mereka perjuangkan sebenarnya? Apa kah mereka mengerti apa yang mereka perjuangkan?  Apakah mereka tau apa yang diinginkan masyarakat sebenarnya, atau mereka hanya memperjuangkan “apa yang menurut mereka, masyarakat mau” ? Mereka sibuk berdemo menentang  kebijakkan pemerintah yang menurut mereka menambah penderitaan rakyat – tapi ketika ditanya apa alasan mereka mempunyai pendapat seperti itu – mereka tidak bisa menjelaskan argumen nya secara logis, atau hanya memakai argumen argumen “katanya – katanya”  dan bukan argumen dari hasil penelitian mereka terlebih dahulu.  Kalau benar mereka perduli, mereka tidak akan berdemo hanya untuk tema yang sedang trend, kalau benar mereka perduli, mereka tidak akan berdemo dengan cara anarkis maupun tindak kekerasan. Kalau benar mereka perduli, cinta tanah air, cinta bangsa, cinta negara – mereka seharusnya juga mau terlebih dulu “mendengarkan’ apa yang rakyat mau  (pergi lah ke pelosok pelosok kampung itu, lihat apa yang mereka butuhkan di sana, dan ketidak adilan apa yang mereka terima, kemudian perjuangkanlah, jangan hanya ikut trend, tapi ciptakanlah trend).

Karena itu menurut saya, kebanyakkan demo mahasiswa belakangan ini cuman sekedar gaya hidup saja, bukan soal keperdulian mereka yang luar biasa pada bangsa ini. Kalau bahasa keren nya … ya sekedar pencitraan saja. Atau seperti slogan “Apa kata dunia, kalau mahasiswa tanpa demo”.

 

 

Karena ada saatnya kita tidak bisa memilih

Pagi – pagi di kantor yang sering saya lakukan tentu membaca berita dari media elektronik – dan tentu saja tidak ketinggalan berita – berita gosip tentang selebriti Indonesia 😀  Kenapa gosip? Ya saya kan membutuhkan hiburan untuk membuat pagi saya bersinar 🙂  Atau kalau di rumah – yang seringnya saya menonton film drama korea yang super duper romantis – maksudnya sih untuk melatih keromantisan saya agar tidak berkarat karena kelamaan tidak digunakan 😀

Anehnya film drama korea yang sedang saya tonton (fyi: itu film terdiri dari 6 cd dan setiap cd ada sekitar 6 session ), ceritanya agak nyambung dengan gosip yang saya baca pagi ini.

Ceritanya tentang seorang anak perempuan miskin yang menikah dengan anak orang kaya, yang super duper baik, tapi sewaktu menikah perempuan ini menyatakan ke calon suami dan keluarganya kalau dia anak yatim piatu dan tidak punya keluarga, padahal kenyataannya ayah dan adik kembarnya masih hidup.

Nah kebohongan nya terbongkar karena sang ayah yang mencoba mengetahui keberadaan anak perempuannya, bekerja di kantor suaminya dan membawa foto sang anak bersamanya yang diketemukan oleh suami sang anak. Sewaktu suami dan keluarganya serta orang 2x terdekat nya mengetahui, kebohongan ini, semua orang menyalahkan perempuan ini dan mengangggap bagaimana seseorang bisa sedemikian kejam nya tidak mengakui keberadaan bapaknya. Semua menyangka karena perempuan ini malu mempunyai ayah yang miskin dan hanya bertujuan untuk menjadi kaya dalam waktu yang singkat. Semua orang mengutuk kelakuannya dan merasa sangat sedih terhadap ayah yang tidak diakui sang anak. Dan perempuan ini tidak mengatakan apapun selain hanya minta maaf atas salahnya dan bersedia untuk diceraikan oleh suaminya, mengembalikan seluruh yang telah diberikan suami dan keluarganya dan mulai lagi hidupnya dari nol seorang diri.

Sebenarnya  kebohongan tentang ayah dan adiknya itu ditempuh karena perempuan ini sangat mencintai laki – laki, yang untuk pertamakali nya mampu membuatnya merasa nyaman, yang memberi perhatian yang selama ini tidak pernah dia dapatkan dari siapapun, menghargai keberadaannya (selama ini semua orang melecehkan nya karena kemiskinannya), yang mampu membuatnya beristirahat dari rasa letihnya danyang mau melakukan segalanya hanya demi melihat senyum perempuan ini  (selama ini selalu dia yang melakukan segalanya untuk keluarganya).

Dan sang ayah – adalah ayah yang  hanya bisa berjudi, mencuri uang  sekolah anaknya, berhutang – sehingga membuat anak perempuan ini harus bekerja keras dari kecil agar bisa membayar hutang bapaknya dan agar bisa membiayai pendidikan dirinya dan adiknya.  Anak perempuan ini dari dulu selalu berkorban, menerima seluruh ejekan dan hinaan orang, bahkan bersedia bekerja apa saja untuk mendapatkan uang. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah menangis. Dan pada hari dia dilamar, bapaknya sedang ditangkap polisi karena bekerja sebagai gigolo dan dilaporkan oleh suami perempuan yang menjadi pelanggannya. Bagaimana dia harus mengatakan kepada orang tentang bapaknya tanpa harus mendengar hinaan orang tentang bapaknya, atau tanpa harus merasa takut kehilangan orang yang dicintai.

Nah hubungan nya dengan gosip di Indonesia? Hari ini saya membaca ayah salah satu istri dari sang Eyang yang lagi booming namanya, menggugat sang Eyang, dan meminta sang Eyang mengembalikan anaknya. Dan sang ayah dengan berapi – api serta menggebu – gebu menyatakan bahwa dia akan bersedia mati demi mendapatkan anak nya kembali. Dia akan berbuat apa saja demi anaknya. Sang ayah pergi mulai dari Komnas Perempuan sampai ke Kantor Polisi bersama pengacara nya melaporkan Eyang.

Banyak orang kemudian menuduh sang anak dan Eyang adalah mahluk – mahluk asosial karena hal ini, dan semua orang merasa kasian dengan ayah yang menurut mereka malang.

Terus terang, memang susah untuk kita mengerti akan orang lain yang kehidupannya tidak seperti orang – orang “normal” lain nya. Apalagi menyangkut soal keluarga. Yang pasti akan kita lakukan duluan pasti menyalahkan sang anak sebagai anak yang durhaka. Anak yang tidak tau diri, anak yang kejam, anak yang tempat baginya sudah pasti neraka.

Padahal dari cerita tentang perempuan korea tersebut. Lihat apa yang harus dilalui nya dari kecil, apa yang harus dilakukannya demi ayahnya, demi keluarganya. Pernah kah kita mencoba turut merasa apa yang dirasakan nya? Kalau kita dalam posisi yang sama seperti dia, apa kita bisa seperti dia? Salahkan kalau dia ingin merasakan kebahagian nya? Salahkah dia kalau dia ingin bersama orang yang bisa menjadi tempat bersandar nya? Salahkah kalau dia merasa cape? Dimana ayahnya ketika anaknya di lecehkan orang2x karena perbuatan nya? Dimana hati dan nurani ayahnya ketika berhutang untuk berjudi dan yang harus membayar hutang tersebut adalah perempuan nya yang masih kecil, yang harus bekerja keras. Dimana sang ayah ketika anak perempuan nya mengambil alih tanggungjawab nya sebagai kepala keluarga yang harus membiayai keluarganya. Kemudian, kalau ayahnya ingin mencari anaknya, kenapa tidak dari dulu – dulu? Kenapa tidak memikirkan kalau perbuatannya membuat anaknya kehilangan kebahagian yang tidak mampu diberikannya kepada anaknya.

Sama seperti ayah dari salah seorang istri sang Eyang …. kenapa baru sekarang beliau bersibuk sibuk menggugat Eyang? Pernikahan anaknya terjadi dari tahun 2008 yang lalu. Kemana beliau selama ini? Ditambah, anak nya tersebut juga putus sekolah karena ayahnya tidak bisa membiayai sehingga anak perempuan nya ini pergi ke Jakarta mencari kerja sampai akhirnya bertemu Eyang.  Kenapa pada saat itu sang ayah tidak mencegah kepergian anak perempuan nya yang katanya sangat dicintai sehingga beliau rela mati demi memperoleh anaknya kembali.

Padahal menurut anak, dia menerima Eyang sebagai suaminya, karena Eyang yang mampu membuatnya merasa nyaman. Eyang memberikan perhatian yang selama ini tidak pernah dia dapatakan. Kemudian yang lebih parah lagi, ayah ini juga tadinya sering kerumah Eyang berkali kali setelah anaknya menikah dengan Eyang dan menerima pemberian uang dari Eyang setiap kunjugannya. Ehm ….. jangan – jangan ayah ini menggugat karena tidak menerima uang lagi baik dari anak atau Eyang.

Menurut saya jadinya seperti pahlawan kesiangan. Apa karena banyak media yang meliput, beliau mau menggugat Eyang – agar semua orang bisa melihat bagaimana perjuangan ayah ini membela anaknya. Ini sebenarnya demi anak atau demi ayah?

Dan semua orang seperti biasa, langsung menganggap anak ini anak durhaka, dijalan sesat, tidak menghargai ayah dan keluarga. Lagi lagi – kesalahan selalu dibebankan pada anak, tanpa mau melihat alasan nya, tanpa mau mendengar pembelaan nya  Dan yang didengar hanyalah orang tua.

Setiap orang menurut saya unik dan berbeda, dan seringkali tingkah laku dan jalan hidup yang diambil berdasarkan karena latar belakang hidupnya. Dan dari yang berbeda itu ada orang yang harus menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan kondisi normal, yang menurut pemikiran kita tidak akan mungkin ada yang seperti itu. Tapi  pada kenyataanya memang ada.

Saya tau betapa sulitnya untuk bisa mengerti orang yang hidup pada “kondisi yang tidak normal” seperti orang lain. Sehingga kalimat kaliamat seperti ” mana mungkin sih ada ibu yang tidak perduli pada anaknya, mana ada sih ayah yang mau menjerumuskan anaknya”  sering terdengar. Atau saya juga pernah mendengar ‘ mana mungkin enggak tau bapak/ibu kamu dimana, kamu ajah yang tidak mau mencari” .

Yang intinya, semua adalah kesalahan anak. Ayah dan ibu tidak mungkin salah, dan kalaupun salah mereka tetap ayah dan ibu yang harus dihormati. Ayah dan ibu yang selalu dilukai oleh anak, dan tidak mungkin ada anak yang dilukai oleh orang tuanya.

Padahal yang sering dilupakan, tidak ada anak yang tidak membutuhkan orang tua seberapapun umurnya. Anak akan selalu merindukan rasa aman dari ayah (terutama anak perempuan) dan pelukan hangat dari ibu. Setiap anak terlahir seperti kertas putih yang kemudian apa sifatnya dan apa yang dilakukan nya bergantung dari warna yang ditorehkan orang tuanya serta lingkungan nya.

Selain itu  juga yang sering dilupakan adalah orang tua yang lebih tua dari anaklah yang semestinya mendidik anak untuk menghormati mereka. Harusnya orang tualah yang bertanggungjawab kepada anaknya ketika mereka belum dewasa dan bukan sebaliknya.  Anak yang dibawah umur  tidak bisa dibebankan untuk ikut bertanggungjawab terhadap keluarganya. Mereka bukan “sapi perah” orang tuanya.

Banyak anak – anak yang memang tidak seberuntung yang lain, karena orang tua nya tidak seperti versi orang tua yang ada dalam kondisi normal. Dan anak – anak ini kemudian ada yang tegar luar biasa, sehingga tetap hidup di jalur yang “normal” seperti manusia lainnya, tapi banyak juga yang tidak mempunyai ketegaran seperti itu sehingga kemudian jalur yang dipilihnya menjadi “tidak normal” bagi orang – orang umumnya.

Kemudian, harus kah kita ikut – ikutan kejam menghakimi mereka tanpa mau mendengar alasan mereka?  Apakah kepada mereka juga harus ditambah dengan embel – embel anak durhaka yang tidak tau diri?  Bukan kah sebaiknya kalau kita tidak mampu menolong, dan tidak tau apa yang dirasakan, sebaiknya kita diam daripada menambah luka hati mereka dan kemudian membuat mereka semakin membenci orang tuanya?

Walaupun hidup penuh dengan pilihan, tapi memang ada saat dimana kita tidak  bisa memilih – contohnya kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita. Semua orang tentu ingin mempunyai orang tua yang sempurna, tapi sekali lagi  tidak semua orang beruntung.

Dan seringnya kemudian, luka batin dari anak – anak dengan latar belakang tidak seperti kondisi “normal” karena orang tuanya adalah luka bertahun – tahun yang sudah menjadi borok dan sulit untuk disembuhkan atau bahkan tidak akan bisa sembuh, karena setiap kali kita – orang orang yang merasa tahu dan berhak untuk menghakimi orang orang yang kita anggap di kondisi”normal” adalah penjahat maka luka yang mungkin hampir sembuh kembali akan terluka.

Salam

 

 

 

 

 

Dan Perjuangan itu ternyata masih harus berlanjut (Catatan Menjelang 21 April 2013)

Walaupun saya bukanlah fans dari RA Kartini, dan walaupun saya masih menginginkan Cut Nya Dien atau Marta Christina Tiahahu sebagai simbol emansipasi perempuan – tapi sepertinya minggu minggu di bulan April adalah saat yang tepat untuk saya sebagai perempuan untuk mencoba mengevaluasi tentang emansipasi perempuan di negara saya.

Ternyata dari hasil evaluasi kecil saya – dari lingkungan saya – dari sudut pandang saya – perjuangan untuk memperoleh hak -hak yang semestinya sebagai perempuan, ternyata masih harus berlanjut. Masih banyak kejadian – kejadian di negara ini yang ternyata merampas hak – hak kaum perempuan dan yang lebih parahnya menggunakan agama sebagai alasan melegalkannya.

Saya bukanlah termasuk kaum feminis extreem yang menginginkan perempuan harus bisa menggantikan laki -laki atau mengatakan bisa hidup tanpa kaum pria. Yang saya inginkan adalah sebatas keadilan, diberikan kesempatan yang sama , tidak selalu dipersalahkan apalagi dengan menggunakan alasan agama.

Saya tidak menginginkan adanya Kementerian Pemberdayaan (atau  Memperdayakan ? :p) Perempuan, untuk apa? Dengan adanya kementerian ini secara tidak langsung memproklamirkan bahwa benar di Indonesia,perempuan masih dianggap sebagai mahluk yang lemah yang memerlukan kementerian khusus untuk mengurusnya. Bukannya cukup kementerian sosial atau pendidikan atau tenaga kerja? Toh saya belum pernah juga misalnya melihat Kementerian ini aktif dalam memperjuangkan masalah TKW di luar negeri, atau mengajak perempuan – perempuan muda untuk tidak menikah di usia yang relatif muda, atau membuka peluang besar kepada single mom yang tidak mempunyai modal untuk mendapatkan ketrampilan dan diberikan bantuan kredit untuk memulai usaha. Yang paling sering saya lihat sih aktif dalam kontes – kontes kecantikkan seperti Putri Indonesia, Miss Indonesia etc.

Saya merasa sampai saat ini, perempuan masih dianggap sebagai objek, dimana ketika bicara soal pemerkosaan, maka yang dibicarakan bukanlah soal persoalan perkosaan nya tapi pakaian apa yang dipakai perempuan yang diperkosa tersebut, ketika bicara tentang siswi yang hamil – yang dibicarakan adalah bahwa siswi tersebut tidak boleh ikut UN – karena siswi yg  bermoral jeblok tidak pantas untuk lulus di sekolah yang mengajarkan moral – terus kenapa siswa yang menghamili boleh juga ikut UN – mustinya ikut bertanggungjawab dong, kan kehamilan tidak terjadi dari aktifitas perempuan saja. Kemudian bagaimana dengan siswi yang hamil karena korban perkosaan? Apakah mereka juga tidak boleh ikut UN? Apa salah mereka? Apakah moral mereka juga akan dianggap jeblok karena diperkosa?

Paling parah kemudian adanya ide untuk mengetes keperawanan siswi -siswi di sekolah, dengan maksud menjaga moral. Uhm …. bagaimana dengan siswa, kenapa mereka juga tidak dituntut melakukan hal yang sama? Haruskah yang menjaga moral itu jadi beban perempuan saja?

Atau kemudian beberapa peraturan daerah yang khusus menempatkan perempuan di posisi yang tidak menyenangkan  – seperti tentang jam malam bagi perempuan. Uhm … bagaimana dengan perempuan yang harus bekerja sampai tengah malam seperti SPG, pelayan rumah makan. Dan kenapa tidak ada jam malam untuk pekerja pria. Saya pernah berbicara dengan salah seorang perempuan yang bekerja di SPBU yang merasa agak tidak adil, karena tidak bisa dapat shift malam, sehingga tidak pernah bisa mendapat tambahan upah seperti staf yang pria.

Atau tentang peraturan yang tidak memperbolehkan perempuan duduk mengangkang apabila dibonceng di sepeda motor. Alasannya? Entahlah. Mungkin suatu saat nanti gaya perempuan berjalan, bernafas, berbicara juga akan diatur oleh perda.

Yang lainnya seperti di milist yang saya ikutin banyak yang setuju agar perempuan tidak usah bekerja, sehingga banyak lowongan kerja yang akan terbuka untuk pria. Trus kalau tidak bekerja, bagaimana dengan single mom? Siapa yang membiayai hidupnya dan anak – anaknya? Bagaimana dengan saya misalnya – mosok dengan alasan tersebut saya harus mencari suami – bukan kah kemudian sebutan perempuan matrealistis akan dilekatkan kepada saya, karena mencari suami hanya untuk membiayai hidup saya 🙂

Atau juga saya masih melihat banyaknya keluarga terdekat yang memberi tekanan psikis  kepada perempuan yang melaporkan kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya. Sehingga kemudian perempuan ini menarik kembali laporannya, dan ya seperti diduga, pastinya akan kembali menerima kekerasan dalam rumah tangganya.

Yang paling sering membuat saya merasa miris ketika perempuan yang bekerja harus juga meminta ijin untuk menggunakan uang yang dihasilkan nya, untuk membeli kebutuhan nya sebagai perempuan misalnya lipstik atau bekerja menjadi TKW di luar negeri dan gaji yang dikirim untuk keluarganya dipergunakan sang suami untuk membiayai istrinya yang lain, dan masyarakat yang melihat itu merasa wajar sang suami mempunyai istri yang lain – karena “namanya juga laki – laki, kan punya kebutuhan, daripada “jajan” sembarangan.

Juga tidak terhitung luar biasa banyaknya tekanan dari masyarakat yang akan diterima oleh ibu rumah tangga yang bekerja, karena mereka akan selalu dituntut untuk menjadi super woman yang bisa melakukan seluruhnya sendiri. Mulai dari mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mencari nafkah. Bahkan kemudian apabila suami tercinta membantu melakukan pekerjaan domestik – sang ibu pastilah akan dianggap sebagai perempuan semena – mena yang tidak menghormati suaminya.

Saya juga tidak setuju dengan pemaksaan  menempatkan perempuan di posisi dewan hanya untuk memenuhi kuota. Mustinya diberikan kesempatan yang sama, bukan dikasihani dengan memaksa adanya perempuan di posisi itu walaupun tidak berkualitas hanya agar terlihat adanya kesetaraan gender. Dan kemudian perempuan yang ditempatkan di posisi dewan ini tidak diberikan kebebasan untuk menyuarakan pendapatnya dan pikirannya.

Saya tidak tau sampai kapan perjuangan ini akan berlanjut, saya tidak tau kapan perempuan – perempuan Indonesia akan bisa mendapatkan haknya yang tentu saja saya harapkan kemudian juga tidak disalah kaprahkan untuk menindas kaum pria 😀

Berharap saja tahun depan akan lebih baik, dan saya bisa walau sedikit membantu perjuangan kaum saya ini dengan apa yang saya miliki sekarang. Aamiin

 

Salam