Agama, Kebencian dan Cinta

“Jika memang tidak bisa bersaudara dalam keimanan, setidaknya tetaplah bersaudara dalam kemanusiaan.” (Ridwan Kamil)

Kata – kata ini saya baca dari twitter -nya Bapak Ridwan Kamil, yang menurut saya wise banget, dan cocok banget dengan keadaan di Jakarta saat ini.

Saya teringat kekesalan ibu saya minggu lalu, karena ada tetangga yang bercerita kepada beliau, bahwa ada yang tetangga yang lain – tidak mau lagi ngobrol atau berteman dengan ibu saya karena mengetahui bahwa kakak saya dan keluarganya beragama yang berbeda.

Kata ibu saya, yang membuat beliau kesal bukan karena tetangga tersebut tidak mau berbicara/bergaul, tapi karena alasan nya. Urusan beragama apa pun itu kan urusan pribadi. Kenapa orang lain harus sibuk menghakimi orang lain karena pilihan nya. Di surat Al Kafirun juga dijelaskan “agamamu agamamu, agamaku agamaku.”  Jadi kenapa harus membenci karena perbedaan itu? Soal dosa atau tidak, biarlah itu menjadi tanggung jawab masing masing. Toh memang di hari akhir nanti setiap orang harus menanggung perbuatannya masing masing, bukan menanggung perbuatan tetangganya?

Saya termasuk orang yang beruntung yang mempunyai ibu, yang memberikan saya dan saudara – saudara saya kebebasan, memilih apa yang kami percayai. Saya merasa beruntung punya keluarga yang beragam, jadi setiap ada acara besar keagamaan, berarti ada acara kumpul – kumpul bareng keluarga besar. Dan apapun penghakiman orang terhadap keputusan ibu saya, saya tidak perduli. Yang saya tau, ibu saya tidak akan  menyetujui, kalau anak – anaknya berganti agama karena alasan mencintai seseorang.  Karena itu bukan beriman kepada Tuhan, tapi karena beriman kepada manusia. Dan itu tidak benar. Agama dan Tuhan bukan mainan seperti itu. Jangan menipu Tuhan kata ibu saya.

Saya dan saudara – saudara saya juga termasuk beruntung karena dari kecil kami dibesarkan dengan dua agama. Beruntung karena kami bisa melihat keindahan masing masing agama, karena kami bisa merasakan keindahan hati orang – orang yang berbeda diantara kami.

Sehingga saya dan saudara – saudara saya, agak sulit untuk mengerti mengapa orang harus berantem karena sesuatu yang berbeda apalagi yang perbedaan yang diributkan adalah tentang agama, karena setiap agama mengajarkan cinta kasih bukan mengajarkan membunuh satu sama lain. Karena setiap agama mengajarkan tentang memaafkan dan bukan tentang membenci. Dosa atau tidak, masuk surga atau pun neraka, biarlah itu menjadi urusan pribadi masing masing.

Tidak suka orang lain, karena agamanya berbeda – menurut saya agak aneh. Apalagi kemudian apapun yang dilakukan nya, apapun usahanya, apapun permintaan maafnya tidak bisa diterima hanya karena agama yang berbeda.

Kalau memang yang dilakukan nya salah ,  biarlah pengadilan yang memutuskan, bukan malah mengajak ngajak orang lain untuk membenci, dan yang lebih parah adalah kemudian malah “membully” orang lain yang membela orang tersebut. Bukan hanya sekedar ‘membully’, bahkan lebih dari itu, dimusuhi, dijauhi.Padahal  mereka satu agama. Padahal mereka hanya mengungkapkan pendapatnya. Mengapa tidak boleh berbeda?

Kemudian mengapa harus terus berburuk sangka kepada orang lain yang berbeda keyakinan? Mengapa tidak mau sedikit saja membuka mata hati untuk melihat apa yang telah dilakukannya, karena akan sulit melihat kebaikan apapun selama kebencian masih menutupi hati. Sulit sekali untuk menyadari, bahwa apapun yang terjadi adalah atas seijin Allah, jadi kalau ini terjadi, maka seharusnya melihat apa hikmatnya kejadian ini?  Padahal Allah itu Maha Pemaaf, mengapa kita tidak berusaha juga memaafkan? Bukan malah menjadi membabi buta marah dan membenci segalanya, bahkan membenci dan marah yang tidak jelas kepada orang yang membelanya? Maafkanlah karena mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.

Saya bukan ingin membela seseorang yang sedang bermasalah sekarang, karena saat ini biarlah pengadilan yang memutuskan. Biarlah  hakim bebas memutuskan apapun tanpa perlu takut keluarga maupun  diri nya akan dihujat apabila keputusan nya berbeda dari keputusan “haters’nya. Biarlah keputusan nya benar benar keputusan yang adil sesuai dengan hukum yang ada, dan bukan keputusan yang mengikuti emosi. Karena pengadilan mencari keadilan bukan mencari kebenaran.

Saya ingin mengajak agar kita tidak saling membenci hanya karena agama. Kita tidak saling membenci hanya karena orang berbeda keyakinan nya dengan kita.

Indonesia butuh banyak cinta, bukan butuh banyak kebencian. Indonesia butuh banyak orang yang perduli kepada masa depan anak bangsa ini, dari pada orang – orang yang mengajak orang lain membenci orang – orang lain. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling bersatu bahu membahu, membangun negara ini. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling memaafkan, untuk tidak membesarkan masalah yang sebenarnya bisa dimaafkan.

Jadi, yuk kita gunakan cinta kita untuk membangun negara ini. Yuk kita hentikan saling membenci karena perbedaan terutama karena perbedaan agama yang pastinya mengajarkan kita  tentang cinta kasih dan memaafkan sesama.

Salam

 

Minum air cucian kaki ibu (cause mom, I did many mistakes in my life)

Dua atau tiga minggu lalu, kakak saya tercinta meminta saya datang ke rumahnya. Dan tentulah saya pasti mengabulkan nya, selain karena penasaran – mengapa tiba tiba meminta saya datang – saya juga kangen beliau.

Yang berbeda dari biasanya, karena ketika kakak saya datang (kakak sedang keluar ketika saya sampai di rumahnya), beliau membawa bunga dan mengajak saya mengobrol dari hati ke hati dengan saya di kamarnya. Menurut kakak saya – banyak yang menghalangi langkah saya terutama jodoh, karena saya juga banyak menyakiti hati orang lain. Banyak luka luka yang saya timbulkan di hati hati orang lain. Yang mungkin tidak saya sadari, membuat orang orang tersebut marah dan dalam marahnya mungkin dengan tidak sengaja ‘mendoakan’ yang membuat jalan saya terhambat.
Dan mereka juga mungkin tidak ingat untuk memaafkan saya.

Saya hanya terdiam, dan mulai berpikir – berapa banyak orang yang sudah saya lukai? Berapa banyak yang merasa sakit hati karena saya? Berapa banyak luka yang saya timbulkan? Bagaimana mengobatinya? Dan bagaimana agar mereka mau memaafkan saya?

Kata kakak saya, Tuhan bukan menghukum saya karena itu, tapi Tuhan juga pingin saya sadar dan minta maaf. dan karena ibu adalah orang yang dianggap Tuhan pintu doa, maka saya selayaknya meminta maaf semuanya kepada ibu saya. Saya harus meminta maaf, kepada beliau secara sungguh sungguh dengan mencuci kakinya dengan air dan meminum air cucian kaki tersebut.

Karena tahu dengan sikap saya dulu dulunya, yang selalu menjaga image (hahahahhaah yup I was a worse person before), malah kakak saya bilang, kakak juga akan melakukan yang sama. Jadi saya enggak merasa malu melakukan itu sendiri (you see – why I love her so much :)) Padahal sungguh, kalau itu diminta bertahun tahun lalu, saya pasti marah, tapi sekarang saya tidak merasakan malu untuk mencuci kaki ibu saya dan meminumnya. Ibu – mama saya yang tercinta – memang orang yang paling sering saya sakiti hatinya. Dan saya harus mengakui itu. Mencuci kakinya, dan meminumnya, tidak akan merendahkan saya. Tidak juga bisa mengobati luka yang saya sering torehkan kepada beliau.

Maka jadilah saya mencuci kaki ibu – mama saya tercinta, sambil berkata “Mama, maafkan Ade ya, mohon doakan biar jodohnya Ade lancar, biar rejekinya lancar, sekolahnya lancar”. Mama saya, adalah mama saya, yang tidak akan menangis mendengar perkataan saya – hanya berkata, iya mama maafkan, iya selalu mama doakan setiap saat. (tapi saya tahu, beliau pasti terkejut sekali, karena saya mau melakukannya :D)

Dan untuk pertama kalinya, saya ingin banget menangis di depan ibu saya. Sudah berapa lama saya tidak menangis di depan beliau …. lama banget. Saya memang sering sombong, sering merasa lebih kuat, lebih hebat dari beliau. Padahal – yang melahirkan saya adalah beliau. Tanpa beliau, saya tidak akan bisa berdiri di sini.

Padahal ibu saya sangat sayang kepada saya, tetapi seperti ibu ibu sempurna yang dimiliki orang lain, karena beliau mencintai saya dengan caranya – contoh nya—- waktu saya minum cucian kaki ibu saya – ibu saya sempat khawatir kalau air yang saya minum adalah air dari keran yang belum matang hahahaahahhaahaha (mom I am an adult now hahhaahahaaha)

Ritual ini mungkin hanya ritual bagi sebagian orang. Tapi di sana saya belajar banyak, untuk pertama kalinya duduk dibawah kaki ibu, mencuci kakinya dan mohon maaf atas apa yang saya lakukan serta mohon ijin diringankan langkah saya, membuat saya benar benar menjadi merasa ringan. Nyaman sekali ketika mendengar ibu saya mengatakan beliau memaafkan saya. Nyaman sekali mendengar beliau mau memberi ijin dan mau mendoakan saya. Nyaman mendengarnya langsung, daripada hanya sekedar menduga.

Saya percaya – maaf, ijin dan doa ibu saya, akan memperingan jalan saya dan akan membantu membuka hati orang orang yang pernah saya sakiti hatinya – untuk mau memaafkaan saya.
Selain itu tidak lupa lewat tulisan saya ini, saya juga ingin menyampaikan permintaan maaf saya dari lubuk hati saya yang terdalam, kalau ada kesalahan yang saya perbuat yang menyakiti hati. Saya tidak bisa menghapusnya, saya telah melakukan kesalahan dan saya berusaha tidak akan mengulanginya. Tegurlah saya, marahilah saya apabila saya terlupa dan melakukannya kembali.

Salam