Be careful with your wish

Tadi pagi, dalam perjalanan ke kantor, saya mendengarkan lagu lama. Lagu tersebut dinyanyikan oleh salah satu group di Indonesia. Namanya Trio Libels ….. yup group yang udah jadul buanget.  Mendengarkan lagu tersebut membuat saya kembali teringat sewaktu saya masih sekolah smp.

Karena saya lumayan dekat dengan guru – guru saya, sering banget saya ditanya mau jadi apa saya nantinya. Dan jawaban saya selalu sama terperinci seperti ini…. saya pingin banget jadi dokter tapi saya pingin sekolah nya itu dapat bea siswa – gratis seperti Edwin Libels itu.

Dan saya …. tidak menjadi dokter memang ….. tapi saya diterima di sekolah yang sama dengan Edwin Libels. Beliau menjadi senior saya. Kalau dipikir pikir ya .. mungkin waktu itu harusnya harapan saya kalau ingin menjadi dokter, contohnya jangan bang Edwin ini yaaaaaaa hahahhhahhahhaaaa.

Cerita lain yang masih berhubungan dengan sekolah ini …. ada salah satu universitas, setiap kali saya transit di Jkarta (sewaktu saya masih tinggal di luar pulau Jawa), selalu saya lewatin dan setiap kali itu saya selalu bilang, kudu kuliah lagi nih. Dan memang …. saya kuliah lagi ….. dan ……. di universitas tersebut. Semustinya ya … saya melengkapi “wish” saya menjadi … saya kudu kuliah lagi di Harvard misalnya ya hahhahahhahhaa. Jadi Tuhan enggak menyangka saya minta nya kuliah lagi disana hahahahhahaha. Tapi anyway, saya senang loh kuliah disana 😀

Kemudian sewaktu sma dan kuliah, saya punya ketakutan menjadi seorang ibu. Iya ….. saya takut banget jadi seorang ibu. Takut enggak bisa jadi ibu yang baik. Kenapa berpikir begitu? Karena saya selalu berpikir, saya tidak cukup baik untuk jabatan semulia menjadi ibu. Dan ketakutan saya itu sering kali saya ucapkan dalam hati ketika saya sedang merenung. Saya waktu itu selalu memikirkan kalau menjadi tante pasti lebih mengasikkan buat saya. Karena saya selalu cinta dengan anak – anak kecil.

Dan …. itu ternyata dianggap Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi “wish” saya, harapan saya. Karena Beliau Yang Serba Maha itu sayang banget sama saya, tidak mau saya takut, jadilah saya ya …. sampai sekarang belum menjadi ibu.  (PS : sekarang saya mulai merubah ucapan dalam hati saya …. bahwa saya seperti yang lain akan menjadi ibu yang perfect buat anak anak saya). And yup ….. saya mempunyai keponakan – keponakan yang selalu bisa “bright” my day, dengan apapun yang mereka lakukan. Dan saya cukup dekat dengan keponakan saya yang pertama, sebegitu dekatnya, sampai saya bisa berliburan hanya berdua dengan dia —- buat dia, saya itu tante nya yang paling “cool” hahaahhahahhaha.

Atau saya pernah berpikir tentang tinggal di Jerman (karena waktu itu saya pingin jadi dokter yang lulusan Jerman), tapi setiap kali saya memikirkan tentang Jerman – hampir tidak pernah bersama dengan pikiran tentang sekolah kedokteran hahahahahhahahhhaa. Ya …. jadilah saya memang tinggal di sana, tapi tidak untuk sekolah dokter.

Dan banyak hal – hal lain, yang terjadi di perjalanan hidup saya ….. yang setelah saya pikir pikir niiiiihhh…. itu karena pikiran, ucapan saya baik yang saya ucapkan kepada orang lain atau pun dalam hati, secara berulang ulang – menjadi “wish” —- dan yang kemudian oleh Tuhan Yang luar biasa sayang sama saya kemudian diwujudkan.

Jadi ….. kesimpulannya …. mulai sekarang setiap kali saya menginginkan sesuatu, saya terperinci merunut apa yang mau, misalnya mau kuliah — iya … mau kuliah di mana?  Mau beasiswa …. beasiswa seperti apa? Dan terlebih saya akan berhati hati dengan pikiran saya dan ucapan saya … karena bisa bisa benar benar terwujud, disangka itu menjadi wish saya.  Dan kemudian ketika “wish” itu benar – benar diwujudkan …. saya nya marah marah dan kecewa hahahhaahhahhahhahaha. Padahal yang minta itu saya (walaupun secara tidak sadar yaaaaa).

Trus parahnya ya  …. saya kemudian ngambek sama Tuhan …. bilang kenapa saya diberikan masalah seperti ini haahhaahahhhaaha. Padahal ya ….. bukannya bersyukur, segalanya di dengar Tuhan ya 😀

So …. yuk ikut latihan bersama saya untuk menjaga pikiran dan ucapan agar tidak menjadi “wish” dan kemudian sesuatu yang kita tidak harapkan terjadi karenanya (hahaahahhhahaaa).

Salam

Karena seperti kita, mereka juga ingin dihargai

Belakangan sering sekali kita membaca:
1. Kasus pertama: tulisan tulisan tentang Menteri A yang begini, menteri B yang begitu. Dan itu ditulis dengan menyambungkan dengan boleh atau tidaknya menurut agama
2. Kasus ke dua: kemudian yang paling menghebohkan adalah ketika gambar Presiden RI dan mantan Presiden RI yang dirubah menjadi gambar yang berbau pornografi. Dan pembuatnya kemudian dipenjarakan, setelah banyak yang menganggab presidennya lebay.

Kasus pertama – saya bukan lah ahli agama. Tapi saya hanya berpikir – ini bukan pemilihan posisi malaikat – yang salah satu kriteria nya adalah harus sempurna, bukan perokok, tidak boleh punya tato, harus sarjana, tidak boleh pemarah, harus ramah dan lembut (terutama apabila dia perempuan). Pokoknya harus perfect menurut kriteria manusia Indonesia. Tapi ini pemilihan menteri – yang kriteria nya harus tidak punya catatan ‘merah’ di kpk atau kejaksaan, tidak pernah terkena kasus suap – terbukti mampu bekerja keras dan mempunyai catatan ‘excelent’ di bidangnya serta cinta Indonesia dan rakyat nya.

Jadi masalah tato, atau merokok, saya kira biarlah itu menjadi urusan mereka di depan Tuhannya. Urusan sembahyang atau tidak – biarlah itu menjadi hitung hitungan mereka di akhir hayatnya nanti. Itu sepenuhnya hak Tuhan yang Maha Kuasa. Bukan urusan kita. Bukan hak kita juga untuk menilai.
Yang menjadi urusan manusia seperti kita, adalah mengingatkan beliau beliau tersebut dalam mengemban amanah yang dipercayakan di pundaknya. Dan juga membantu mereka untuk melaksanakan amanah tersebut, dengan apa yang bisa kita lakukan. Setidaknya bantulah mereka dengan doa yang tulus. Agar diberikan kesehatan dan pikiran yang jernih untuk mengemban tugasnya.

Kasus ke dua? Saya sih walau bukan Presiden RI , pasti juga akan merasa marah luar biasa kalau ada orang yang seenaknya mengunggah wajah saya dipadu kan dengan badan siapa begitu, dan berbau pornografi. Jadi dalam hal ini saya tidak merasakan bahwa Presiden dan mantan Presiden RI tersebut lebay. Itu hak mereka untuk marah.Dan menurut saya, apa yang dilakukan adalah pelecehan luar biasa untuk semua orang bukan terbatas hanya untuk Presiden atau mantan Presiden atau menteri atau selebrita lainnya.

Lantas hubungan kedua nya? Kita sering sekali tidak mau memposisikan diri kita sendiri di orang yang kita caci maki, yang kita anggap tidak sempurna, yang kita anggap berdosa. Kita sering kali melecehkan apa yang menurut orang lain itu penting. Kita sering memaksa orang orang lain untuk menuruti apa yang benar menurut pemikiran kita.

Jadi saran saya, cobalah untuk memposisikan diri, diposisi mereka. Mungkin dengan begitu kita bisa lebih mudah untuk menerima apa yang mereka lakukan. Cobalah menghargai mereka sebagai manusia biasa, seperti kita juga ingin dihargai.

Karena seperi kita juga, mereka ingin dihargai keberadannya, pendapatnya, keputusannya, kehadirannya. Karena seperti kita juga, mereka ingin dihargai kehidupan pribadinya, hubungan dengan Tuhan nya, hubungannya dengan manusia manusia sekelilingnya. Karena seperti kita juga mereka ingin dihargai ketidak sempurnaan mereka sebagai manusia dan kehebatan mereka sebagai anugrah Tuhan yang terindah bagi keluarga, teman teman dan lingkungannya. Karena seperti kita juga, mereka juga punya kehidupan yang tidak ingin mereka umbar di publik. Karena seperti kita juga, mereka ingin dihargai sebagai manusia dengan kelembahan yang mereka miliki.

Jadi setidaknya kalau lah mereka kita pandang tidak pantas terpilih memimpin negara ini karena ketidak sempurnaan mereka, kita bisa tetap menghargai keberadaan mereka sebagai manusia, seperti kita jugan dihargai oleh manusia lain nya.

Salam