Be careful with your wish

Tadi pagi, dalam perjalanan ke kantor, saya mendengarkan lagu lama. Lagu tersebut dinyanyikan oleh salah satu group di Indonesia. Namanya Trio Libels ….. yup group yang udah jadul buanget.  Mendengarkan lagu tersebut membuat saya kembali teringat sewaktu saya masih sekolah smp.

Karena saya lumayan dekat dengan guru – guru saya, sering banget saya ditanya mau jadi apa saya nantinya. Dan jawaban saya selalu sama terperinci seperti ini…. saya pingin banget jadi dokter tapi saya pingin sekolah nya itu dapat bea siswa – gratis seperti Edwin Libels itu.

Dan saya …. tidak menjadi dokter memang ….. tapi saya diterima di sekolah yang sama dengan Edwin Libels. Beliau menjadi senior saya. Kalau dipikir pikir ya .. mungkin waktu itu harusnya harapan saya kalau ingin menjadi dokter, contohnya jangan bang Edwin ini yaaaaaaa hahahhhahhahhaaaa.

Cerita lain yang masih berhubungan dengan sekolah ini …. ada salah satu universitas, setiap kali saya transit di Jkarta (sewaktu saya masih tinggal di luar pulau Jawa), selalu saya lewatin dan setiap kali itu saya selalu bilang, kudu kuliah lagi nih. Dan memang …. saya kuliah lagi ….. dan ……. di universitas tersebut. Semustinya ya … saya melengkapi “wish” saya menjadi … saya kudu kuliah lagi di Harvard misalnya ya hahhahahhahhaa. Jadi Tuhan enggak menyangka saya minta nya kuliah lagi disana hahahahhahaha. Tapi anyway, saya senang loh kuliah disana 😀

Kemudian sewaktu sma dan kuliah, saya punya ketakutan menjadi seorang ibu. Iya ….. saya takut banget jadi seorang ibu. Takut enggak bisa jadi ibu yang baik. Kenapa berpikir begitu? Karena saya selalu berpikir, saya tidak cukup baik untuk jabatan semulia menjadi ibu. Dan ketakutan saya itu sering kali saya ucapkan dalam hati ketika saya sedang merenung. Saya waktu itu selalu memikirkan kalau menjadi tante pasti lebih mengasikkan buat saya. Karena saya selalu cinta dengan anak – anak kecil.

Dan …. itu ternyata dianggap Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi “wish” saya, harapan saya. Karena Beliau Yang Serba Maha itu sayang banget sama saya, tidak mau saya takut, jadilah saya ya …. sampai sekarang belum menjadi ibu.  (PS : sekarang saya mulai merubah ucapan dalam hati saya …. bahwa saya seperti yang lain akan menjadi ibu yang perfect buat anak anak saya). And yup ….. saya mempunyai keponakan – keponakan yang selalu bisa “bright” my day, dengan apapun yang mereka lakukan. Dan saya cukup dekat dengan keponakan saya yang pertama, sebegitu dekatnya, sampai saya bisa berliburan hanya berdua dengan dia —- buat dia, saya itu tante nya yang paling “cool” hahaahhahahhaha.

Atau saya pernah berpikir tentang tinggal di Jerman (karena waktu itu saya pingin jadi dokter yang lulusan Jerman), tapi setiap kali saya memikirkan tentang Jerman – hampir tidak pernah bersama dengan pikiran tentang sekolah kedokteran hahahahahhahahhhaa. Ya …. jadilah saya memang tinggal di sana, tapi tidak untuk sekolah dokter.

Dan banyak hal – hal lain, yang terjadi di perjalanan hidup saya ….. yang setelah saya pikir pikir niiiiihhh…. itu karena pikiran, ucapan saya baik yang saya ucapkan kepada orang lain atau pun dalam hati, secara berulang ulang – menjadi “wish” —- dan yang kemudian oleh Tuhan Yang luar biasa sayang sama saya kemudian diwujudkan.

Jadi ….. kesimpulannya …. mulai sekarang setiap kali saya menginginkan sesuatu, saya terperinci merunut apa yang mau, misalnya mau kuliah — iya … mau kuliah di mana?  Mau beasiswa …. beasiswa seperti apa? Dan terlebih saya akan berhati hati dengan pikiran saya dan ucapan saya … karena bisa bisa benar benar terwujud, disangka itu menjadi wish saya.  Dan kemudian ketika “wish” itu benar – benar diwujudkan …. saya nya marah marah dan kecewa hahahhaahhahhahhahaha. Padahal yang minta itu saya (walaupun secara tidak sadar yaaaaa).

Trus parahnya ya  …. saya kemudian ngambek sama Tuhan …. bilang kenapa saya diberikan masalah seperti ini haahhaahahhhaaha. Padahal ya ….. bukannya bersyukur, segalanya di dengar Tuhan ya 😀

So …. yuk ikut latihan bersama saya untuk menjaga pikiran dan ucapan agar tidak menjadi “wish” dan kemudian sesuatu yang kita tidak harapkan terjadi karenanya (hahaahahhhahaaa).

Salam

Your Country Needs You – Ketika Pemilu memanggil kita

Suatu pagi, sewaktu saya dengerin radio, salah satu penyiarnya kasih info kalau di bawah lambag negara Inggris – itu ada tulisan “Your Country Needs You” – Negaramu membutuhkanmu. Kata kata yang singkat tapi maknanya dalam banget. Kebayang, kalaulah di bendera kita ada tulisan seperti itu, dan saya baca ketika saya jauuuuuhhhhh di negeri orang dan bertahun tahun tidak pulang, kekangenan saya pasti akan berlipat ganda dan sebisa mungkin pingin pulang. Wong pernah denger lagu apa ya itu judulnya yg liriknya”biarpun saya, pergi jauh, takkan hilang dari kalbu, tanahku yang kucintai, engkau kuhargai”, sewaktu di negeri orang, bisa buat saya sedih banget. Hahhahahahhaa.

Kemarin, waktu saya ikut briefing untuk persiapan kelas inspirasi – menjadi relawan untuk memberikan anak anak inspirasi, mau jadi apa mereka bila sudah besar nanti, saya kembali meraskan jatuh cita  kepada negara saya sewaktu, lagu Indonesia Raya, dinyanyikan semua yang hadir. Rasanya, saya ingin memberikan semua yang bisa saya berikan kepada negara ini. Yup terdengar lebay, tapi itu yang saya raskan saat itu. Dan meman seperti saya, pasti banyak yang mencintai negeri ini, yang akan dengan senang hati dibangkitkan jiwa dan semangatnya kalau ada surat untuk dirinya bertulis “Your Country Needs You – Negara membutuhkanmu, membutuhkan suaramu pada pemilu, membutuhkan pajakmu untuk membangun negara”.( Ah, moga moga Panitia Pemilu dan Dirjen Pajak bisa kreatif menciptakan kata kata)

Sebentar lagi – tepatnya tanggal 9 April 2014, kita masyarakat Indonesia akan kembali melakukan “pemilihan umum”, untuk memilih wakil nya di DPR. Saya sendiri seumur begini, belum pernah memilih – bukan karena enggak mau memilih – tapi karena saya yang penduduk legal, tidak pernah mendapatkan kartu pemilih – bahkan sewaktu saya tinggal di negara antah berantah dan sudah melaporkan diri saya di kedutaan RI, tetap saja saya tidak mendaptkan hak saya untuk memilih.

Saya ingat suatu saat saya pernah beradu argumentasi dengan mantan teman hidup saya, mengenai pemilu – tentang golput. Ada perkataan beliau yang bagus sekali kira kira begini – “ketika kita memutuskan menjadi golput, maka kita termasuk orang yang harusnya bertanggung jawab ketika penguasa terpilih ternyata tidak menjalankan amanatnya. Alasannya? Karena kita, sebelumnya diberikan hak istimewa untuk ikut menentukan masa depan bangsa, tapi karena tidak ada satupun calon yg kita anggap memenuhi kriteria, maka kita tidak mau memilih. Padahal kita bisa saja untuk mencoba memilih yg terbagus diantara yang terjelek, memang suara kita hanya 1, tapi bayangin apabila ada 100 juta pemilih seperti kita?

Jadi jangan kemudian malah marah melihat pemenang pemilu! Wong, kita juga enggak berusaha untuk merubahnya. Dan jangan dengan bangga hati berkata “sorry gue golput”. Karena anda, salah satu penyebab kegagalan pemilu.

Trus bagaimana ketika kita anggap tidak ada yg pantas untuk menjadi pemimpin? Kenapa tidak kita yang maju untuk mencalonkan diri? Saya baca alasan mengapa, Ahok terjun kedalam dunia politik, karena daripada hanya protes dan tidak melakukan apa apa, maka lebih baik berusaha – maju ke dunia politik. Dan lihat, apa yang beliau dan pak Jokowi lakukan? Mengapa tidak melakukan hal yang sama? Kalau tidak berani, jangan juga kemudian paling besar suara protesnya.

Tidak mampu? Ya, setidaknya lakukan sesuatu untuk lingkungan, untuk tetangga, untuk anak anak tidak mampu. Come on, doing something for your country. Lebih baik dari pada hanya menghabiskan waktu dengan protes dan mengeluh.

Your country needs you now – mari kita bersama sama sepakat untuk mengadakan perubahan, mari kita ikut memilih – mari kita melakukan perbedaan dan bukan hanya sekedar protes dan protes, yang tidak akan membuat ke adaan menjadi lebih baik. Mari kita memilih (walau harus memilih yg terbaik diantara yg terburuk ) – untuk Indonesia yang lebih baik.

So jangan lupa ya ikut memilih tgl 9 April nanti – cause your country needs you!!!

Homophobia

IDAHO  Bermula dari BBM teman saya yang memberikan saya link tentang gambar ini. Kemudian saya berpikir, uhm …. sebenarnya kenapa sih harus phobia dengan mereka yang orientasi seksualnya berbeda (red: saya tidak mau membahas ini dari sisi agama). Apa yang harus ditakutin? Apakah takut kalau bergaul dengan kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) kita akan seperti mereka? Kalau ini mah … berarti kitanya ajah yang memang sebenarnya sudah punya orientasi yang sama sebelumnya yang tidak kita akui. Atau karena takut kalau kita bergaul dengan “pendosa” kita juga akan menjadi  ‘pendosa’. Uhm  ya ini mah kan tergantung keimanan seseorang. Jadi saya benar – benar gagal paham dengan orang orang yang Homophobia. Maafkan saya untuk ini.

Ketika menulis ini juga saya merasa, jangan – jangan kalau tulisan saya ini dibaca banyak orang menyangka saya juga termasuk  member of LGBT ini dan kemudian saya akan bakal dicibir dan dicemooh.  Trus saya mikir lagi, kenapa juga saya harus memikirkan tentang ini?  Toh mereka suka atau tidak suka sama saya, kan hak mereka, dan itu tidak akan pernah buat saya mati.  Siapa tau justru tulisan saya membuat mereka berubah pikiran, tidak lagi menjadi Homophobia.

Prinsip saya ketika saya berteman dengan seseorang, saya tidak perduli dengan latar belakang, tidak perduli dengan agama, suku, ras, orientasi seksual,bibit, bebet, bobot, tidak perduli kerjanya apa, apalagi jabatannya, sepanjang orang tersebut baik dan menghormati saya sebagaimana adanya saya, sepanjang itu juga saya akan berteman dengan nya.

Saya tidak membenarkan jalan yang dipilih oleh kaum LGBT dan saya juga tidak akan menyalahkan mereka. Itu bukan ranah saya. Apa hak saya?  Mencampuri urusan kaum LGBT itu bagi saya sama saja seperti saya mau juga dicampuri urusan orientasi seksual saya, dan itu bagi saya terlalu private 😀  Kenapa enggak kita juga enggak bicarain tentang orang – orang yang ber sadomasochist, atau orang- orang yang punya istri sampe lebih dari 3 (siapa tau hyper) dll? Mereka ini kan juga sama, punya orientasi seksual yang “menyalah” menurut saya.

Selain itu mana yang lebih parah sebenarnya, kaum LGBT atau orang – orang yang mengatas namakan agama dan mengajarkan kekerasan dan menciptakan teroris yang rela membunuh orang yang tidak bersalah? Kenapa tidak phobia dengan mereka?  Kenapa kita lebih menerima mereka? Atau kenapa kita tidak phobia dengan orang – orang seperti Eyang yang menjual dunia mistik dan mengajarkan kita menduakan Tuhan?

Atau bagaimana dengan ayah yang memperkosa anak nya sendiri, kakek yang mencabuli cucunya? Apakah mereka mereka ini lebih baik dari pada kaum LGBT?

Yang paling mencengangkan dari Homophobia ini adalah ketika ada foto – foto yang sopan, tapi yang berfoto adalah dua orang dewasa sejenis dengan anak – anak, terus ini langsung di cap adalah hasil kreasi kaum LGBT yang mensosialisasikan keluarga dengan orang tua sejenis.  Duuuuuh ….

Mungkin imajinasi mereka – mereka yang homophobia ini terlalu tinggi, jadi gambar seperti itu sudah digambarkan gambar keluarga LGBT.  Sehingga, foto – foto tentang dua orang yang sejenis sudah dianggap pasangan homo/lesbi.  Padahal orang – orang tua pernah bilang :”jangan pernah membenci sesuatu terlalu dalam, nanti bisa – bisa jadi suka”. Apalagi kemudian sering di imajinasikan, wahhhhhhh …. bisa – bisa next time dari homophobia menjadi homo 😀

Saya juga enggak mengerti dengan ide membenci kaum LGBT, kenapa harus dimusuhi? Toh mereka sama seperti kita, cuman beda orientasi ajah. Dan lagi mereka juga enggak menghasut kita untuk ikut ke jalan nya, kalau mereka hasut juga, selama kita nya enggak berminat, ya enggak akan terhasut juga. Jadi, kenapa juga harus membenci mereka? Sekali lagi saya gagal paham.

Jadi …. disamping harus bersibuk – sibuk membenci sesuatu yang tidak menyakiti atau melukai kita atau keluarga kita, kenapa tidak berdamai saja? Pilihan hidup mereka bukan alasan kita untuk menjadikan mereka musuh kita.

Salam

Kharina

 

Karena ada saatnya kita tidak bisa memilih

Pagi – pagi di kantor yang sering saya lakukan tentu membaca berita dari media elektronik – dan tentu saja tidak ketinggalan berita – berita gosip tentang selebriti Indonesia 😀  Kenapa gosip? Ya saya kan membutuhkan hiburan untuk membuat pagi saya bersinar 🙂  Atau kalau di rumah – yang seringnya saya menonton film drama korea yang super duper romantis – maksudnya sih untuk melatih keromantisan saya agar tidak berkarat karena kelamaan tidak digunakan 😀

Anehnya film drama korea yang sedang saya tonton (fyi: itu film terdiri dari 6 cd dan setiap cd ada sekitar 6 session ), ceritanya agak nyambung dengan gosip yang saya baca pagi ini.

Ceritanya tentang seorang anak perempuan miskin yang menikah dengan anak orang kaya, yang super duper baik, tapi sewaktu menikah perempuan ini menyatakan ke calon suami dan keluarganya kalau dia anak yatim piatu dan tidak punya keluarga, padahal kenyataannya ayah dan adik kembarnya masih hidup.

Nah kebohongan nya terbongkar karena sang ayah yang mencoba mengetahui keberadaan anak perempuannya, bekerja di kantor suaminya dan membawa foto sang anak bersamanya yang diketemukan oleh suami sang anak. Sewaktu suami dan keluarganya serta orang 2x terdekat nya mengetahui, kebohongan ini, semua orang menyalahkan perempuan ini dan mengangggap bagaimana seseorang bisa sedemikian kejam nya tidak mengakui keberadaan bapaknya. Semua menyangka karena perempuan ini malu mempunyai ayah yang miskin dan hanya bertujuan untuk menjadi kaya dalam waktu yang singkat. Semua orang mengutuk kelakuannya dan merasa sangat sedih terhadap ayah yang tidak diakui sang anak. Dan perempuan ini tidak mengatakan apapun selain hanya minta maaf atas salahnya dan bersedia untuk diceraikan oleh suaminya, mengembalikan seluruh yang telah diberikan suami dan keluarganya dan mulai lagi hidupnya dari nol seorang diri.

Sebenarnya  kebohongan tentang ayah dan adiknya itu ditempuh karena perempuan ini sangat mencintai laki – laki, yang untuk pertamakali nya mampu membuatnya merasa nyaman, yang memberi perhatian yang selama ini tidak pernah dia dapatkan dari siapapun, menghargai keberadaannya (selama ini semua orang melecehkan nya karena kemiskinannya), yang mampu membuatnya beristirahat dari rasa letihnya danyang mau melakukan segalanya hanya demi melihat senyum perempuan ini  (selama ini selalu dia yang melakukan segalanya untuk keluarganya).

Dan sang ayah – adalah ayah yang  hanya bisa berjudi, mencuri uang  sekolah anaknya, berhutang – sehingga membuat anak perempuan ini harus bekerja keras dari kecil agar bisa membayar hutang bapaknya dan agar bisa membiayai pendidikan dirinya dan adiknya.  Anak perempuan ini dari dulu selalu berkorban, menerima seluruh ejekan dan hinaan orang, bahkan bersedia bekerja apa saja untuk mendapatkan uang. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah menangis. Dan pada hari dia dilamar, bapaknya sedang ditangkap polisi karena bekerja sebagai gigolo dan dilaporkan oleh suami perempuan yang menjadi pelanggannya. Bagaimana dia harus mengatakan kepada orang tentang bapaknya tanpa harus mendengar hinaan orang tentang bapaknya, atau tanpa harus merasa takut kehilangan orang yang dicintai.

Nah hubungan nya dengan gosip di Indonesia? Hari ini saya membaca ayah salah satu istri dari sang Eyang yang lagi booming namanya, menggugat sang Eyang, dan meminta sang Eyang mengembalikan anaknya. Dan sang ayah dengan berapi – api serta menggebu – gebu menyatakan bahwa dia akan bersedia mati demi mendapatkan anak nya kembali. Dia akan berbuat apa saja demi anaknya. Sang ayah pergi mulai dari Komnas Perempuan sampai ke Kantor Polisi bersama pengacara nya melaporkan Eyang.

Banyak orang kemudian menuduh sang anak dan Eyang adalah mahluk – mahluk asosial karena hal ini, dan semua orang merasa kasian dengan ayah yang menurut mereka malang.

Terus terang, memang susah untuk kita mengerti akan orang lain yang kehidupannya tidak seperti orang – orang “normal” lain nya. Apalagi menyangkut soal keluarga. Yang pasti akan kita lakukan duluan pasti menyalahkan sang anak sebagai anak yang durhaka. Anak yang tidak tau diri, anak yang kejam, anak yang tempat baginya sudah pasti neraka.

Padahal dari cerita tentang perempuan korea tersebut. Lihat apa yang harus dilalui nya dari kecil, apa yang harus dilakukannya demi ayahnya, demi keluarganya. Pernah kah kita mencoba turut merasa apa yang dirasakan nya? Kalau kita dalam posisi yang sama seperti dia, apa kita bisa seperti dia? Salahkan kalau dia ingin merasakan kebahagian nya? Salahkah dia kalau dia ingin bersama orang yang bisa menjadi tempat bersandar nya? Salahkah kalau dia merasa cape? Dimana ayahnya ketika anaknya di lecehkan orang2x karena perbuatan nya? Dimana hati dan nurani ayahnya ketika berhutang untuk berjudi dan yang harus membayar hutang tersebut adalah perempuan nya yang masih kecil, yang harus bekerja keras. Dimana sang ayah ketika anak perempuan nya mengambil alih tanggungjawab nya sebagai kepala keluarga yang harus membiayai keluarganya. Kemudian, kalau ayahnya ingin mencari anaknya, kenapa tidak dari dulu – dulu? Kenapa tidak memikirkan kalau perbuatannya membuat anaknya kehilangan kebahagian yang tidak mampu diberikannya kepada anaknya.

Sama seperti ayah dari salah seorang istri sang Eyang …. kenapa baru sekarang beliau bersibuk sibuk menggugat Eyang? Pernikahan anaknya terjadi dari tahun 2008 yang lalu. Kemana beliau selama ini? Ditambah, anak nya tersebut juga putus sekolah karena ayahnya tidak bisa membiayai sehingga anak perempuan nya ini pergi ke Jakarta mencari kerja sampai akhirnya bertemu Eyang.  Kenapa pada saat itu sang ayah tidak mencegah kepergian anak perempuan nya yang katanya sangat dicintai sehingga beliau rela mati demi memperoleh anaknya kembali.

Padahal menurut anak, dia menerima Eyang sebagai suaminya, karena Eyang yang mampu membuatnya merasa nyaman. Eyang memberikan perhatian yang selama ini tidak pernah dia dapatakan. Kemudian yang lebih parah lagi, ayah ini juga tadinya sering kerumah Eyang berkali kali setelah anaknya menikah dengan Eyang dan menerima pemberian uang dari Eyang setiap kunjugannya. Ehm ….. jangan – jangan ayah ini menggugat karena tidak menerima uang lagi baik dari anak atau Eyang.

Menurut saya jadinya seperti pahlawan kesiangan. Apa karena banyak media yang meliput, beliau mau menggugat Eyang – agar semua orang bisa melihat bagaimana perjuangan ayah ini membela anaknya. Ini sebenarnya demi anak atau demi ayah?

Dan semua orang seperti biasa, langsung menganggap anak ini anak durhaka, dijalan sesat, tidak menghargai ayah dan keluarga. Lagi lagi – kesalahan selalu dibebankan pada anak, tanpa mau melihat alasan nya, tanpa mau mendengar pembelaan nya  Dan yang didengar hanyalah orang tua.

Setiap orang menurut saya unik dan berbeda, dan seringkali tingkah laku dan jalan hidup yang diambil berdasarkan karena latar belakang hidupnya. Dan dari yang berbeda itu ada orang yang harus menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan kondisi normal, yang menurut pemikiran kita tidak akan mungkin ada yang seperti itu. Tapi  pada kenyataanya memang ada.

Saya tau betapa sulitnya untuk bisa mengerti orang yang hidup pada “kondisi yang tidak normal” seperti orang lain. Sehingga kalimat kaliamat seperti ” mana mungkin sih ada ibu yang tidak perduli pada anaknya, mana ada sih ayah yang mau menjerumuskan anaknya”  sering terdengar. Atau saya juga pernah mendengar ‘ mana mungkin enggak tau bapak/ibu kamu dimana, kamu ajah yang tidak mau mencari” .

Yang intinya, semua adalah kesalahan anak. Ayah dan ibu tidak mungkin salah, dan kalaupun salah mereka tetap ayah dan ibu yang harus dihormati. Ayah dan ibu yang selalu dilukai oleh anak, dan tidak mungkin ada anak yang dilukai oleh orang tuanya.

Padahal yang sering dilupakan, tidak ada anak yang tidak membutuhkan orang tua seberapapun umurnya. Anak akan selalu merindukan rasa aman dari ayah (terutama anak perempuan) dan pelukan hangat dari ibu. Setiap anak terlahir seperti kertas putih yang kemudian apa sifatnya dan apa yang dilakukan nya bergantung dari warna yang ditorehkan orang tuanya serta lingkungan nya.

Selain itu  juga yang sering dilupakan adalah orang tua yang lebih tua dari anaklah yang semestinya mendidik anak untuk menghormati mereka. Harusnya orang tualah yang bertanggungjawab kepada anaknya ketika mereka belum dewasa dan bukan sebaliknya.  Anak yang dibawah umur  tidak bisa dibebankan untuk ikut bertanggungjawab terhadap keluarganya. Mereka bukan “sapi perah” orang tuanya.

Banyak anak – anak yang memang tidak seberuntung yang lain, karena orang tua nya tidak seperti versi orang tua yang ada dalam kondisi normal. Dan anak – anak ini kemudian ada yang tegar luar biasa, sehingga tetap hidup di jalur yang “normal” seperti manusia lainnya, tapi banyak juga yang tidak mempunyai ketegaran seperti itu sehingga kemudian jalur yang dipilihnya menjadi “tidak normal” bagi orang – orang umumnya.

Kemudian, harus kah kita ikut – ikutan kejam menghakimi mereka tanpa mau mendengar alasan mereka?  Apakah kepada mereka juga harus ditambah dengan embel – embel anak durhaka yang tidak tau diri?  Bukan kah sebaiknya kalau kita tidak mampu menolong, dan tidak tau apa yang dirasakan, sebaiknya kita diam daripada menambah luka hati mereka dan kemudian membuat mereka semakin membenci orang tuanya?

Walaupun hidup penuh dengan pilihan, tapi memang ada saat dimana kita tidak  bisa memilih – contohnya kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita. Semua orang tentu ingin mempunyai orang tua yang sempurna, tapi sekali lagi  tidak semua orang beruntung.

Dan seringnya kemudian, luka batin dari anak – anak dengan latar belakang tidak seperti kondisi “normal” karena orang tuanya adalah luka bertahun – tahun yang sudah menjadi borok dan sulit untuk disembuhkan atau bahkan tidak akan bisa sembuh, karena setiap kali kita – orang orang yang merasa tahu dan berhak untuk menghakimi orang orang yang kita anggap di kondisi”normal” adalah penjahat maka luka yang mungkin hampir sembuh kembali akan terluka.

Salam

 

 

 

 

 

Dan Perjuangan itu ternyata masih harus berlanjut (Catatan Menjelang 21 April 2013)

Walaupun saya bukanlah fans dari RA Kartini, dan walaupun saya masih menginginkan Cut Nya Dien atau Marta Christina Tiahahu sebagai simbol emansipasi perempuan – tapi sepertinya minggu minggu di bulan April adalah saat yang tepat untuk saya sebagai perempuan untuk mencoba mengevaluasi tentang emansipasi perempuan di negara saya.

Ternyata dari hasil evaluasi kecil saya – dari lingkungan saya – dari sudut pandang saya – perjuangan untuk memperoleh hak -hak yang semestinya sebagai perempuan, ternyata masih harus berlanjut. Masih banyak kejadian – kejadian di negara ini yang ternyata merampas hak – hak kaum perempuan dan yang lebih parahnya menggunakan agama sebagai alasan melegalkannya.

Saya bukanlah termasuk kaum feminis extreem yang menginginkan perempuan harus bisa menggantikan laki -laki atau mengatakan bisa hidup tanpa kaum pria. Yang saya inginkan adalah sebatas keadilan, diberikan kesempatan yang sama , tidak selalu dipersalahkan apalagi dengan menggunakan alasan agama.

Saya tidak menginginkan adanya Kementerian Pemberdayaan (atau  Memperdayakan ? :p) Perempuan, untuk apa? Dengan adanya kementerian ini secara tidak langsung memproklamirkan bahwa benar di Indonesia,perempuan masih dianggap sebagai mahluk yang lemah yang memerlukan kementerian khusus untuk mengurusnya. Bukannya cukup kementerian sosial atau pendidikan atau tenaga kerja? Toh saya belum pernah juga misalnya melihat Kementerian ini aktif dalam memperjuangkan masalah TKW di luar negeri, atau mengajak perempuan – perempuan muda untuk tidak menikah di usia yang relatif muda, atau membuka peluang besar kepada single mom yang tidak mempunyai modal untuk mendapatkan ketrampilan dan diberikan bantuan kredit untuk memulai usaha. Yang paling sering saya lihat sih aktif dalam kontes – kontes kecantikkan seperti Putri Indonesia, Miss Indonesia etc.

Saya merasa sampai saat ini, perempuan masih dianggap sebagai objek, dimana ketika bicara soal pemerkosaan, maka yang dibicarakan bukanlah soal persoalan perkosaan nya tapi pakaian apa yang dipakai perempuan yang diperkosa tersebut, ketika bicara tentang siswi yang hamil – yang dibicarakan adalah bahwa siswi tersebut tidak boleh ikut UN – karena siswi yg  bermoral jeblok tidak pantas untuk lulus di sekolah yang mengajarkan moral – terus kenapa siswa yang menghamili boleh juga ikut UN – mustinya ikut bertanggungjawab dong, kan kehamilan tidak terjadi dari aktifitas perempuan saja. Kemudian bagaimana dengan siswi yang hamil karena korban perkosaan? Apakah mereka juga tidak boleh ikut UN? Apa salah mereka? Apakah moral mereka juga akan dianggap jeblok karena diperkosa?

Paling parah kemudian adanya ide untuk mengetes keperawanan siswi -siswi di sekolah, dengan maksud menjaga moral. Uhm …. bagaimana dengan siswa, kenapa mereka juga tidak dituntut melakukan hal yang sama? Haruskah yang menjaga moral itu jadi beban perempuan saja?

Atau kemudian beberapa peraturan daerah yang khusus menempatkan perempuan di posisi yang tidak menyenangkan  – seperti tentang jam malam bagi perempuan. Uhm … bagaimana dengan perempuan yang harus bekerja sampai tengah malam seperti SPG, pelayan rumah makan. Dan kenapa tidak ada jam malam untuk pekerja pria. Saya pernah berbicara dengan salah seorang perempuan yang bekerja di SPBU yang merasa agak tidak adil, karena tidak bisa dapat shift malam, sehingga tidak pernah bisa mendapat tambahan upah seperti staf yang pria.

Atau tentang peraturan yang tidak memperbolehkan perempuan duduk mengangkang apabila dibonceng di sepeda motor. Alasannya? Entahlah. Mungkin suatu saat nanti gaya perempuan berjalan, bernafas, berbicara juga akan diatur oleh perda.

Yang lainnya seperti di milist yang saya ikutin banyak yang setuju agar perempuan tidak usah bekerja, sehingga banyak lowongan kerja yang akan terbuka untuk pria. Trus kalau tidak bekerja, bagaimana dengan single mom? Siapa yang membiayai hidupnya dan anak – anaknya? Bagaimana dengan saya misalnya – mosok dengan alasan tersebut saya harus mencari suami – bukan kah kemudian sebutan perempuan matrealistis akan dilekatkan kepada saya, karena mencari suami hanya untuk membiayai hidup saya 🙂

Atau juga saya masih melihat banyaknya keluarga terdekat yang memberi tekanan psikis  kepada perempuan yang melaporkan kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya. Sehingga kemudian perempuan ini menarik kembali laporannya, dan ya seperti diduga, pastinya akan kembali menerima kekerasan dalam rumah tangganya.

Yang paling sering membuat saya merasa miris ketika perempuan yang bekerja harus juga meminta ijin untuk menggunakan uang yang dihasilkan nya, untuk membeli kebutuhan nya sebagai perempuan misalnya lipstik atau bekerja menjadi TKW di luar negeri dan gaji yang dikirim untuk keluarganya dipergunakan sang suami untuk membiayai istrinya yang lain, dan masyarakat yang melihat itu merasa wajar sang suami mempunyai istri yang lain – karena “namanya juga laki – laki, kan punya kebutuhan, daripada “jajan” sembarangan.

Juga tidak terhitung luar biasa banyaknya tekanan dari masyarakat yang akan diterima oleh ibu rumah tangga yang bekerja, karena mereka akan selalu dituntut untuk menjadi super woman yang bisa melakukan seluruhnya sendiri. Mulai dari mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mencari nafkah. Bahkan kemudian apabila suami tercinta membantu melakukan pekerjaan domestik – sang ibu pastilah akan dianggap sebagai perempuan semena – mena yang tidak menghormati suaminya.

Saya juga tidak setuju dengan pemaksaan  menempatkan perempuan di posisi dewan hanya untuk memenuhi kuota. Mustinya diberikan kesempatan yang sama, bukan dikasihani dengan memaksa adanya perempuan di posisi itu walaupun tidak berkualitas hanya agar terlihat adanya kesetaraan gender. Dan kemudian perempuan yang ditempatkan di posisi dewan ini tidak diberikan kebebasan untuk menyuarakan pendapatnya dan pikirannya.

Saya tidak tau sampai kapan perjuangan ini akan berlanjut, saya tidak tau kapan perempuan – perempuan Indonesia akan bisa mendapatkan haknya yang tentu saja saya harapkan kemudian juga tidak disalah kaprahkan untuk menindas kaum pria 😀

Berharap saja tahun depan akan lebih baik, dan saya bisa walau sedikit membantu perjuangan kaum saya ini dengan apa yang saya miliki sekarang. Aamiin

 

Salam

 

 

 

 

 

Alih Fungsi Guru Spiritual – (ketika Tuhan bukan lagi tempat berharap)

Yang sekarang jadi topik yang sering dibicarakan tentunya adalah soal Eyang Subur – hampir seluruh tv membicarakan fenomena Eyang Subur ini. Eyang Subur dianggap sebagian orang adalah guru spritual, orang luar biasa baik yang mempunyai harta yang berlimpah (enggak tau deh dari mana asalnya) – yang sering dibagi bagikan kepada orang lain terutama artis (enggak tau deh kenapa kebanyakkan artis yang diberi :D) dan yang paling fenomenal mempunyai 9 istri  (dengan gaya rambut dan berbusana nya hampir sama semua, dan patut diacungkan jempol karena ke 9 nya mau berjalan beriringan bersama menemani Eyang Subur). Tapi bagi sebagian lagi (note: karena orang – orang ini sang Eyang menjadi terkenal), Eyang Subur merupakan penjahat yang kejam – yang mengajarkan kesesatan serta perampas harta mereka.

Bagi saya yang menarik dari kasus ini adalah penggunaan dan pemberian titel “guru spritual” kepada seseorang. Karena setelah nya kemudian banyak pembicaraan – pembicaraan tentang ‘guru – guru spritual’  kaum selebritas, pejabat dan orang orang kaya di Indonesia.

Di pemikiran saya – guru spritual   ( dari hasil googling : Spiritual  berarti kejiwaan, rohani, batin, mental, moral. ( Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1989), hal 857))adalah orang yang mengajarkan/ membimbing rohani kita  – agar dekat ke sang Pencipta. Jadi nya sih saya selalu memikirkan dengan adanya guru spiritual – kita akan menjadi orang yang lebih tenang, lebih ikhlas, lebih banyak bersyukur, lebih mendekatkan pada Sang Maha Pencipta.

Tapi fenomena yang saya lihat sekarang jadi berubah – kebanyakan (bukan semuanya ya) orang – orang yang mengangkat orang lain menjadi guru spiritual nya – karena merasa orang tersebut bisa memberikan jalan kepada mereka untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, dalam tempo yang secepat – cepatnya. Misalnya menjadi terkenal, disukai orang – orang, menjadi kaya raya dan lain – lain.

Tentu saja sang “guru spiritual” ini mendapatkan imbalan yang cukup fantastis apalagi bila sang guru benar – benar bisa mewujudkan keinginan muridnya yang notabene adalah orang tersohor/ publik figur/selebriti di Indonesia ini. Pastilah nama sang guru akan terkenal dan kemudian berbondong – bondong orang akan datang mengiklaskan diri nya menjadi murid sang guru.  Dan bahkan tidak jarang mereka  rela menempuh beratus ratus kilometer,  menghadapi segala rintangan untuk bertemu sang guru. Saya malah pernah mendengar – mereka juga mau melakukan apapun yang diminta sang guru sebagai persyaratan pemenuhan terkabulnya keinginan mereka,  tanpa  ada protes sama sekali, dan dijalani dengan penuh keyakinan (padahal ya  … kalau diperintahkan agama ajah, sering banget males melakukannya 😀 )

Bagaimana sang guru bisa mewujudkan harapan muridnya?  Banyak orang yang mengatakan (tapi sayang nya belum pernah saya buktikan, sang guru ini menggunakan ilmu hitam atau klenik atau mistis atau kekuatan supra natural yang sulit untuk dibuktikan tapi masih erat dengan kebudayaan di Indonesia. Percaya? Entahlah. Terbukti banyak yang memang sukses dengan hal – hal ini.

Saya sih tidak mau menghakimi apakah itu salah atau benar menurut agama karena saya belum cukup menjadi sempurna menjalankan agama, untuk memenuhi persyaratan layak  menghakimi jalan yang ditempuh oleh orang lain 😀

Yang jadi permasalahan di sini,  karena menganggap orang yang bisa mewujudkan keinginan duniawinya  atau memecah kan masalah duniawinya , menjadi guru spiritual, fenomena yang aneh bagi saya.

Menjadi lebih  aneh lagi karena Indonesia adalah negara yang seluruh penduduknya diharuskan mempunyai agama, dimana bahkan organisasi yang mengatas namakan agama, bisa bertindak se enak – enaknya di sini, tapi  kenyataannya di keseharian masyarakat,  justru tidak memperlihatkan kepercayaan kita terhadap Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta.

Mungkin ini kegagalan para pemimpin umat beragama atau para ahli agama yang tidak bisa meyakinkan umatnya untuk percaya akan Tuhan. Atau juga mungkin karena para ahli agama tersebut lebih sibuk mengurus siaran on air nya di televisi  setiap pagi, sehingga tidak sensitif dengan kebutuhan umatnya?  Atau para pemimpin agama juga sedang sibuk untuk mencari – cari jabatan? Atau malah yang dianggap pemimipin agama jangan – jangan juga ikut – ikutan mempunyai “guru spiritual” tempat meminta – sehingga mereka juga tidak bisa mengatakan apa – apa terhadap fenomena ini. Entahlah …

Dan puncak  keanehan itu  kemudian – banyak nya orang orang yang pergi meminta kepada “guruspiritual” – dalam keseharian nya adalah orang – orang yang rajin beribadah. Jadi ……. ?

Saya sungguh tidak mengerti jadinya apa yang mereka lakukan dalam ibadah nya? Bagaimana bisa, masih berdoa kepada Tuhan, tapi meminta mahluk lain untuk membantu menyelesaikan masalahnya, bahkan berharap mereka bisa memberikan harta, tahta dan jabatan. Jadi apa fungsinya Tuhan? Apa gunanya berdoa?

Saya sendiri masihlah manusia biasa, yang pasti nya juga pingin punya uang banyak, mempunyai jabatan yang menggiuarkan di perusahaan yang bonafit,dan memperoleh ketenaran yang luar biasa sehingga orang – orang ‘takut’ dengan saya. Bohong besar deh kalau saya bilang, saya tidak pernah memimpikan itu. Tapi ehmmmmm….. kalau itu harus saya jual dengan “jiwa” saya, dengan kepercayaan saya, ya nanti dulu deh.

Bukan karena saya takut dengan masuk neraka, tapi seperti saya pernah tuliskan, saya mencintai Tuhan saya – jadi ya enggak mau deh saya menduakan cinta saya 😀   Terlebih menduakan nya kepada “guru spiritual” yang seperti Eyang Subur  (logikanya – kalau beliau menyatakan diri muslim dan mengaku guru spiritual – pasti enggak berani punya istri lebih dari 4 apalagi memperistri kakak beradik :D).

Saya sih berharap para pemuka pemuka agama,  rohaniawan, mau membuka mata untuk melihat fenomena ini, dan mau sukarela untuk mengembalikan kembali existensi Tuhan kepada umat beragama.  Setidaknya fenomena ini mustinya dianggap tantangan untuk  memikirkan cara mengajarkan, memberi nasehat yang lebih mengena di hati dan jiwa  , sehingga masyarakat yang menjadi murid nya atau pemeluk agama yang sama dengan nya,  tidak lagi lari berharap dan meminta kepada  “guru – guru spiritual ”  tapi kepada Tuhan.

Dan berharap kepada orang – orang seperti Eyang Subur tidak lagi di lekatkan kata – kata guru spiritual – kedudukan guru yang pengayom terlalu rendah deh ,  tapi mungkin bisa menjadi Penguasa Manusia  – toh – kalau kepada mereka orang 0rang meminta dan berharap – sebenarnya kedudukan  Tuhan terganti oleh mereka – mereka ini di hati dan jiwa murid – muridnya 😀 (just kidding )

Salam