Apakah bangsa ini mengalami krisis kepribadian?

Saat saat ini, saya sedang merindukan masa kecil saya, dimana kata – kata  “Bhineka Tunggal Ika”,  berbeda beda (suku, agama, ras), tapi tetap satu benar – benar dapat saya rasakan dimanapun saya berada. Mungkin ada krisis krisis kecil antar tetangga karena perbedaan, tapi biasanya juga akan ada banyak orang yang mendamaikan. Kalimat “tepo seliro” – bertenggang rasa itu tidak jarang diucapkan.

Saya juga merindukan dimana media massa (yang waktu itu hanya ada tv, radio dan koran), tidak akan menuliskan atau memberitakan berita berita yang tidak jelas asal muasalnya, atau berita berita yang bersifat mengungkap aib orang lain yang tidak sepantasnya diumbar, atau berita berita yang berisi kalimat makian atau hinaan yang tidak sepantasnya diucapkan dimuka umum terhadap orang lain oleh pejabat.

Mungkin karena pemerintah saat itu otoriter, jadi hal hal ini seperti ini tidak mungkin bisa lolos diberitakan (kalau menurut pikiran sederhana saya, kalau begitu – tidak mengapalah pemerintah otoriter dalam hal ini), atau mungkin karena globalisasi belum begitu terasa, sehingga kita belum terpengaruh (kalau menurut pikiran sederhana saya, mustinya Indonesia yang jumlah penduduknya termasuk yang paling besar di dunia – justru seharusnya bisa membawa kepribadian bangsa utk ditularkan kepada negara negara yang lain didunia). Atau karena kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita mudah banget mengakses apapun. Ah entahlah.

Hari hari ini, setiap membaca berita, membaca medsos yang penuh dengan persoalan saling tuduh atas nama penistaan agama, saya kemudian memikirkan kembali apa yang pernah diajarkan guru ngaji saya tentang surat Al – Kafirun ….. “agamamu agamamu, agamaku agamaku, jangan ganggu agamaku dan aku tidak mengganggu agamamu.”

Pesan yang menurut saya sangat mudah banget utk dimengerti apabila kita tidak memikirkan hal hal yang rumit dan membesar besarkan segala hal. Atau saya ingat banget, diajarkan untuk tidak membuka aib orang di muka umum, karena bisa menimbulkan pertengkaran (saya tidak diajarkan untuk tidak membuka aib kecuali orang tersebut beragama lain). Biarkanlah pengadilan yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Toh sudah ada pengadilan.

Kalau lah pengadilan sudah bekerja, mengapa kemudian harus lagi mengajak orang orang untuk melakukan kegiatan kegiatan  menghujat tersangka? Apalagi yang diinginkan? Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya, kemudian siapa kamu yang tidak mau memaafkan orang lain ?  Padahal kamu tidak lebih hebat dari Tuhan mu.

Dan anehnya, orang -orang yang mengajak untuk tidak membesarkan hal – hal seperti ini, malah dianggap sebagai “Pendosa Besar”. Kenapa berani sekali kemudian menjadi Tuhan yang menentukan siapa yang pendosa dan siapa yang tidak? Dan kemudian melebih lebihkan dengan mengajak semua orang utk ikut memusuhi orang orang yang berpikiran seperti saya. Kenapa menjadi arogan dengan membawa bawa nama agama?

Saya ingat juga sewaktu saya sekolah di sekolah Katholik, dan dipelajaran agamanya, ada cerita dimana banyak orang orang yang akan melemparkan batu kepada perempuan yang bekerja sebagai PSK .. kemudian sang nabi berkata, orang orang yang tidak pernah berdosa boleh melemparkan batu ketubuh perempuan ini. Dan semua orang disana berhenti karena malu, karena pada dasarnya siapa yang tidak pernah melakukan dosa? Begitu juga kita …… mengapa kita bangga sekali membuka segala aib orang lain, membesar besarkan nya, kemudian mencemooh nya seolah kita adalah mahluk yang putih bersih bebas dari dosa?

Saya ingat juga, sewaktu saya kecil, saya diajarkan untuk bertutur kata sopan kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih dewasa. Sopan santun menjadi salah satu yang selalu ditekankan kepada saya baik di rumah maupun di sekolah. Dan saya selalu berpikir, itu juga salah satu ciri kepribadian bangsa ini  ramah tamah dan sopan santun.

Tapi apa kemudian yang saya lihat belakangan ini, orang dewasa bahkan anak – anak kecil yang dengan bangganya menulis kalimat caci maki terhadap selebritis bahkan pejabat yang tidak mereka sukai, yang bahkan mereka tidak kenal dekat 😦

Saya miris sekali membacanya, sampai ada masa saya males membuka medsos kecuali email & WA. Dimana mereka belajar ini? Apakah orang tua, sekolah dan lingkungan nya tidak mengajarkan sopan santun? Dan apa hak mereka untuk mencaci maki orang lain yang bahkan tidak pernah mereka temui di dunia nyata. Ah entahlah.

Bahkan ada beberapa stasiun tv yang mempunyai acara yang berisikan tentang orang orang yang saling caci maki dimuka publik, seakan akan bahwa tayangan yang sperti itu memang selayaknya ditonton oleh anak anak kecil di negara ini.

Dan saya kemudian berpikir – dimana hilangnya kepribadian bangsa saya, bangsa Indonesia ini? Dimana kebhineka Tunggal Ikaan itu hilang? Dimana kepribadian ramah tamah dan sopan santun itu pergi? Atau memang bangsa ini sedang sakit? Sedang mengalami krisis kepribadian? Sehingga segala yang baik baik baik — mulai hilang satu per satu.

Sekali lagi entahlah. Saya tidak tau harus menjawab apa. Yang saya tau hanya lah mengajak lingkungan saya untuk mengembalikan kepribadian bangsa ini, tidak ikut ikut an dalam menyebarkan kebencian dan menghargai orang lain yang berbeda dengan saya. Mungkin anda juga bisa melakukan hal yang sama.

Salam

 

 

 

Karena Gajah Di Pelupuk Mata Sering Tidak Terlihat

Judul di atas sebenarnya berasal dari salah satu bbm (blackberry messenger) yang saya terima beberapa hari lalu dari salah seorang teman saya, yang setiap pagi tidak jemu mengirimkan kata kata motivasi kepada saya dan orang orang lain. Saya merasa sedikit tersentil dengan kata kata yang terpampang di bb saya , yang intinya menyatakan jangan pernah kita seperti kata pepatah “Semut disebrang lautan tampak tapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.

Masyarakat kita (termasuk saya) memang sering banget dilanda penyakit ini  —– lebih mudah untuk melihat yang jauh dari pada yang dekat.

Sering sekali kita bersibuk sibuk ria ingin mengumpulkan sesuatu (baik tenaga, maupun materi) sebagai bentuk rasa solidaritas kita terhadap kejadian yang terjadi di luar negeri, tapi kita terlupa kalau di negara kita yang tercinta ini masih banyak juga masyarakat yang membutuhkan bantuan dan perhatian.

Atau lihat kejadian, dimana kita marah sekali ketika tenaga kerja Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar negeri di perlakukan kasar dan tidak manusiawi. Tapi kita sering kali juga melakukan hal yang sama terhadap asisten rumah tangga kita. Memaksa mereka kerja 24 jam 7 hari seminggu, dengan upah yang bisa dikatakan amat teramat sangat dibawah upah yang wajar. Bahkan hak cuti mereka kalau bisa kita hapus. Bahkan tidak jarang saya melihat sendiri bagaimana sang asisten rumah tanggga ini harus menyuapi anak anak majikannya di rumah makan, tapi tidak diberikan kesempatan untuk menikmati masakan di rumah makan tersebut, bahkan juga tidak diberikan minuman. Uhm …  bukan kah kita juga sudah melakukan sesuatu yang tidak manusiawi?

Atau kita juga sering sekali mengutuk orang tua yang memaksa anaknya bekerja sebagai pengemis atau penyanyi jalanan. Sebenarnnya kalau kita lihat dari kacamata ekonomi tentang supply dan demand  —– kalau tidak ada orang yang memberikan uang kepada anak anak ini, tentulah  tidak akan ada orang tua yang memaksa anaknya untuk bekerja seperti itu. Tapi yang kita lakukan adalah memberikan mereka uang karena kasihan dan kemudian kita mengutuk orang tua mereka dan juga malah marah kepada pemerintah daerah yang sudah melarang pemberian uang kepada pengemis dan pengamen jalanan.  Ya … sebenarnya kitalah sumber masalah nya .

Atau contoh yang lain saya yang sering sebal dengan kasus suap. Trus dilanjutkan dengan mengutuk mereka yang diberitakan telah melakukan dan menerima suap, bahkan tidak cukup dengan itu , malah dengan semena menanya saya juga ikut mengutuk keluarga mereka. Tapi sebenarnya saya juga membiarkan praktek suap kecil kecilan terjadi – misalnya ketika mengurus KTP misalnya. Saya lebih senang apabila urusan KTP saya bisa diurus oleh orang lain (red: agen) malah rela membayar lebih untuk biaya suap ke pegawai yang mengurus agar KTP saya bisa secepatnya selesai tanpa saya harus repot mengantri atau pergi ke kelurahan.  Padahal dengan begitu saya kan sebenarnya sudah ikut melegalkan praktek suap. Tidak itu saja, ketika ada teman saya atau OB saya yang kena tilang oleh polisi, saya malah sering bertanya, kenapa musti ditilang, apa enggak bisa dibayar saja ? Doooohhhh …. jadi malu sendiri kalau mengingat kejadian itu.

Hal yang lain …. saya sering sekali mengomel apabila ada  orang orang terdekat atau teman sekantor saya yang tidak perduli pada kesehatan nya, Mengomel kalau mereka tidak kedokter kalau sedang sakit, atau memaksakan ke kantor apabila belum sembuh dari sakit. Padahal, saya sendiri, orang yang termasuk bandel banget – sampai dokter saya, untuk yang kesekian kalinya memperingati saya untuk segera operasi sinus, untuk mengangkut polip saya yang sudah meradang parah. Padahal operasi itu cuman 1 hari, tapi tetap, saya tidak berusaha menghentikan kesibukan saya sejenak, yang membuat si polip semakin berontak marah dan frekwensi saya meminum si pain killer sudah semakin sering, karena tanpa itu saya tidak bisa lagi menahan sakitnya kalau sedang kumat 😦

Atau tentang kita yang gusar ketika kuota masyarakat Indonesia yang bisa menjalankan ibadah haji tidak ditambah oleh pemerintah Saudi Arabia. Padahal sebenarnya, kalau lah banyak orang yang tidak karena keegoisan nya – atau dengan alasan merindukan rumah Allah, pergi berkali kali haji dan tidak memberikan kesempatan orang lain untuk melakukan hal yang sama, tentu kuota haji Indonesia akan cukup bagi masyarakat kita. Tapi ya …. memang lebih mudah melihat masalah orang lain ketimbang masalah yang timbul karena keegoisan kita. Miris.

Dan masih banyak kasus yang lain tentang hal hal seperti ini.  Saya sih berharap next time, ketika kita atau setidaknya saya dulu deh, ketika protes terhadap sesuatu, sebelum itu terucap, saya semestinya harus bisa melihat kembali, apakah saya termasuk penyebab masalah itu, atau apakah saya juga pernah melakukan hal yang sama. Saya tidak tahu apakah bisa berhasil saya lakukan secara konsisten, atau kalau suatu saat anda bertemu dengan saya, dan saya protes terhadap sesuatu – anda boleh menegur saya, kalau itu terlihat seperti pepatah “gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.  Agar saya bisa menyelaraskan omongan dan perbuatan saya, soalnya, uhmmmm…… malu juga ah sama umur, kalau tetap tidak perduli dengan hal hal seperti ini 😀

Salam

 

Demo Mahasiswa – (antara keperdulian dan gaya hidup)

Saya termasuk orang yang selama menjadi mahasiswa, tidak pernah ikut demo (termasuk demo kecantikkan :)), apalagi karena sekolah saya adalah sekolah kedinasan, takut kena sangsi DO (yup, saya akui, saya egois dan pengecut 😦 ). Kemudian ketika kuliah lagi yang non kedinasan, saya juga tidak pernah ikut demo, mungkin karena saya sudah cukup cape membagi waktu saya antara kerja dan kuliah. Dan memang saya bukan juga orang yang memilih demo sebagai solusi, walaupun saya tidak menafikan kalau demo mahasiswa tahun 1998 berhasil merubah wajah bangsa ini.

Tapi belakang ini saya merasa benar – benar terganggu dengan demo yang dilakukan oleh mahasiswa. Terutama karena demo itu seringnya berubah menjadi demo yang anarkis dan merusak barang – barang yang ada di sekitar, yang  kebanyakkan barang – barang tersebut adalah milik publik, yang dibeli dengan uang rakyat (yang ‘katanya’ mereka perjuangkan) dan untuk kepentingan publik.

Sebagai mahasiswa, generasi penerus bangsa, yang semestinya mempunyai cara berpikir yang lebih cerdas dibanding mereka yang tidak  bisa mengecap bangku kuliah atau bahkan tidak pernah mengecap bangku sekolah, seharusnya mengerti bahwa demo dengan tindakan anarkis seperti itu tidak membuat apa yang mereka perjuangkan akan tercapai, tidak juga akan membuat mereka terlihat seperti pahlawan. Tahukah mereka dengan rusaknya barang barang milik publik itu berarti akan ada uang tambahan yang harus keluar dari negara, untuk memperbaiki barang – barang tersebut. Dan parahnya barang barang yang mereka rusak itu perlu biaya yang besar untuk perbaikkannya. Padahal uang tersebut bisa dipergunakkan untuk kepentingan yang lain seperti memperbaiki alat transportasi, mensubsidi obat – obatan dll.

Semakin parah karena beberapa demo juga diikuti dengan melakukan kekerasan terhadap orang – orang yang dianggap mempunyai jabatan di tempat mereka berdemo, walaupun orang – orang tersebut tidak melakukan penyerangan apapun terhadap mereka. Jadi mengapa harus melakukan kekerasan? Apakah dengan melakukan kekerasan ini, mereka mencapai tujuan  mereka? Apakah demo dengan anarkis dan kekerasan akan menghasilkan apa yang mereka inginkan? Apakah itu bukan nya malah akan membuat masa depan mereka suram karena melakukan kekerasan terhadap orang lain itu termasuk tindakan pidana. Karena masuk penjara karena memperjuangkan nasib rakyat itu berbeda dengan masuk penjara karena melakukan kekerasan. Sungguh saya gagal paham terhadap tindakan  anarkis dan kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa sewaktu berdemo, kalau sudah begini apa bedanya mahasiswa dengan preman – preman jalanan?

Saya juga kemudian merasa prihatin karena, banyak mahasiswa yang sibuk beramai – ramai demo untuk isu yang sedang marak, yang sedang trend. Misalnya soal pencabutan subsidi – kenaikkan bbm. Padahal kalaulah mereka benar – benar perduli, kenapa mereka tidak berdemo juga tentang bbm yang harganya di pelosok – pelosok desa terpencil di Indonesia bisa hampir dua kali lipat – ini sudah jelas yang terkena dampaknya adalah masyarakat miskin. Atau kenapa mereka tidak berdemo tentang biaya sekolah terutama biaya kuliah yang luar biasa mahalnya sehingga banyak anak – anak dari keluarga kurang mampu tidak bisa bersekolah. Atau kenapa tidak berdemo memperjuangkan adik kelas nya di salah satu SMA yang diperkosa oleh kepala sekolah nya? Atau soal TKW yang diperlakukan sewenang wenang di bandara, atau demo di rumah sakit yang menolak untuk melayani orang miskin? Apakah karena masalah masalah ini bukan lah isu yang sedang trend di masyarakat?

Apa yang sedang mereka perjuangkan sebenarnya? Apa kah mereka mengerti apa yang mereka perjuangkan?  Apakah mereka tau apa yang diinginkan masyarakat sebenarnya, atau mereka hanya memperjuangkan “apa yang menurut mereka, masyarakat mau” ? Mereka sibuk berdemo menentang  kebijakkan pemerintah yang menurut mereka menambah penderitaan rakyat – tapi ketika ditanya apa alasan mereka mempunyai pendapat seperti itu – mereka tidak bisa menjelaskan argumen nya secara logis, atau hanya memakai argumen argumen “katanya – katanya”  dan bukan argumen dari hasil penelitian mereka terlebih dahulu.  Kalau benar mereka perduli, mereka tidak akan berdemo hanya untuk tema yang sedang trend, kalau benar mereka perduli, mereka tidak akan berdemo dengan cara anarkis maupun tindak kekerasan. Kalau benar mereka perduli, cinta tanah air, cinta bangsa, cinta negara – mereka seharusnya juga mau terlebih dulu “mendengarkan’ apa yang rakyat mau  (pergi lah ke pelosok pelosok kampung itu, lihat apa yang mereka butuhkan di sana, dan ketidak adilan apa yang mereka terima, kemudian perjuangkanlah, jangan hanya ikut trend, tapi ciptakanlah trend).

Karena itu menurut saya, kebanyakkan demo mahasiswa belakangan ini cuman sekedar gaya hidup saja, bukan soal keperdulian mereka yang luar biasa pada bangsa ini. Kalau bahasa keren nya … ya sekedar pencitraan saja. Atau seperti slogan “Apa kata dunia, kalau mahasiswa tanpa demo”.

 

 

Beberapa “jangan” selama anda masih gol menengah kebawah & tinggal di Indonesia.

Semua orang yang tinggal di Indonesia, pasti tau lah bagaimana hidup golongan menengah kebawah. Golongan terbesar di bumi tercinta ini. Dan ini tips – tips yang bisa saya berikan, semoga berguna. Toh kalau memang tidak berguna, abaikan saja ya 😀

1. Bila anda gol. menengah ke bawah – jangan pernah, sekali lagi jangan pernah SAKIT.  Apalagi kemudian sakit itu mengharuskan anda dirawat di rumah sakit. Ini berarti membawa anda terutama keluarga anda, untuk merasa semakin “sakit” karena perlakuan rumah sakit yang mungkin tidak akan memberi pelayanan apapun kepada anda. Jangan salahkan rumah sakit, atau dokter – karena biaya yang mereka keluarkan untuk menjadi dokter juga bukan lah seratus dua ratus rupiah.

2. Bila anda kel. menengah ke bawah – jangan pernah, sekali lagi jangan pernah melanggar peraturan apapun.  Karena hukuman yang dijatuhkan kepada anda, mungkin 10 kali lebih berat dari pada kalau dilakukan oleh orang  yang mempunyai uang atau berlatar belakang orang tua kaya dan punya “power”. Jangan salah kan mereka juga, siapa suruh penegak hukumnya mau menerima sogokkan dan takut diancam oleh orang – orang yang punya “power” tersebut.

3. Bila anda kel. menengah ke bawah – jangan pernah, sekali lagi jangan pernah menuntut untuk bersekolah layak di Indonesia. Karena biaya sekolah yang semakin lama semakin gila, harga buku yang juga gila – gila an. Lebih baik anda atau anak anda belajar sendiri baik – baik, tingkatkan TOEFL anda atau anak anda, dan mulailah untuk mencari beasiswa – beasiswa yang ditawarkan di luar negeri. Jangan salah kan sekolah sekolah pencekik leher tersebut, wong mereka dibebaskan untuk menentukan biaya kuliah nya kok. Toh, dengan biaya yang super duper mahal tersebut, masih banyak kok orang tua yang mau menyekolahkan anak – anak nya kesana. Sah – sah aja dong.

4. Bila anda gol. menengah ke bawah – jangan pernah, sekali lagi jangan pernah mendengarkan janji – janji  manies partai manapun selama pilkada atau pemilu.  Karena jumlah penduduk golongan menengah ke bawah yang banyak – maka target pendengar mereka tentulah anda yang kaum menengah ke bawah, apalagi lebih mudah untuk membuat program janji surga, untuk anda yang mendambakan hidup  “layak”. Tapi seperti kalimata “habis manis sepah dibuang”   maka setelah mereka menang, biasanya mereka terkena penyakit insomnia  jadi lupa segala yang dijanjikan. Jangan salahkan mereka juga, yang mereka janjikan adalah program – program yang indah – indah seperti yang anda ingin dengarkan, tapi bukan, sekali lagi bukan janji untuk mewujudkan program – program tersebut.

5. Bila anda gol. menengah ke bawah – jangan pernah sekali lagi jangan pernah untuk sedih atau marah, karena motor yang anda gunakan dianggap membuat macet jalanan, walaupun alasan anda sama seperti pemilik dan pengguna mobil, yang merasa tidak nyaman dengan kendaraan umum, tapi sekali lagi, alasan anda dianggap belum selayak mereka pengguna roda empat.

6. Bila anda gol. menengah ke bawah – jangan pernah sekali lagi jangan pernah untuk meminta kenyaman ,  karena kenyamanan itu sepenuh penuhnya milik orang – orang kaya. Makanya terima saja untuk berimpit – impitan di kereta api, atau bis umum yang sudah tidak layak jalan dan hampir seluruh chasing nya berkarat,  atau terciprat air apabila anda berjalan di dekat genangan air, atau tidak bisa menyeberang walaupun anda sudah berdiri di atas zebra cross. Atau nikmati saja kemarahan dan ancaman pengamen yang tidak anda beri uang (seringkali memang pengamen ini membuat kemarahan tersulut karena sudahlah berimpit – impitan di bis, mereka masih saja ngamen dengan suara yang lebih parah dari pada suara kaleng, dan tetap keukeuh kalau suara mereka bagus )  Nikmati saja, dari pada kesel dan marah.

7. Bila anda gol. menengah ke bawah – jangan pernah sekali lagi jangan pernah marah atau kesal kepada diri anda sendiri ataupun orang – orang sekeliling anda  apabila tiba – tiba menjadi super duper lebay dan kemudian menjadi drama king or queen.  Jangan salahkan mereka  – wong yang orang nomor satu di negara ini juga sensitif dan menjadi super duper lebay cuman karena sms enggak penting atau karena sindiran – sindiran media massa, atau masalah gaji beliau yang enggak pernah naik, nah apalagi anda atau teman – teman anda. Jadi nikmati saja “me time” anda berlebay ria asal jangan kebablasan ingin bunuh diri misalnya 😀  Maklumi saja anda tinggal di negara galau – jadi bergalau ria juga hak anda sepenuhnya 😀

8. Terakhir dan menurut saya sangat penting, bila anda gol. menengah ke bawah – jangan pernah, sekali lagi jangan pernah takut dan berhenti bermimpi besar dan indah,  dan jangan pernah lupa untuk mensyukuri sekecil apapun nikmat yang anda miliki.  Dengan tidak pernah berhenti atau tidak takut  bermimpi besar dan indah , anda akan selalu semangat untuk melihat apa yang akan terjadi besok, apakah mimpi besar anda akan menjadi kenyataan. Toh kalau belum terjadi hari ini, yakini saja  besok atau lusa pasti bisa terjadi. Kun Fayakuun – kalau Allah mau segalanya bisa terjadi.  Kemudian dengan mensykuri apapun yang anda miliki sekarang, percaya deh, anda akan menjadi lebih bahagia, sehingga hidup yang singkat ini akan selalu anda jalani dengan bahagia dan bukan kesel, marah, sebel karena hal – hal yang memang belum bisa anda ubah 😀

Ingat  right or wrong Indonesia is our country.

Salam Semangat

Agama Resmi Negara – Identitas Diri – Hak Azasi Manusia yang Dicabut

Instruksi Presiden Nomor 1470/1978 yang berisi bahwa pemerintah hanya mengakui lima agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Dan kemudian dengan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina maka agama resmi di Indonesia menjadi 6 agama ditambah dengan Khonghucu.

Agama yang lain? Ya enggak ngerti deh statusnya bagaimana. Yang pasti ke enam agama inilah kemudian harus dipilih sewaktu mengurus KTP – karena akan tercantum sebagai bagian identitas WNI. Lantas apakah kalau tidak ada satupun agama yang di anut di antara ke enam tersebut, berarti tidak bisa punya KTP?

Dan kemudian kalau tidak bisa punya KTP, identitas apa yang harus dipergunakan sebagai WNI? Bagaimana caranya mengurus segala surat – surat resmi tanpa KTP?

Dan dengan begitu apakah kalau beragama diluar 6 agama resmi tersebut berarti tidak boleh hidup sebagai warga negara Indonesia? Karena menurut Pasal 4 Keppres No. 56 Tahun 1996 : surat bukti kewarganegaraan Indonesia itu adalah KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran. Yang kesemuanya membutuhkan : agama untuk pengurusan identitas.

Kalau jawabannya …. YA BOLEH. Tapi, kalau boleh mengapa tidak bisa mendapatkan hak nya untuk mengurus identitas sebagai warga negara hanya karena agama yang dipercayai dan diyakini sebagai jalan hidupnya tidak termasuk dalam enam agama resmi yang diatur oleh negara.

Kalau jawabannya …. TIDAK BOLEH, jadi bertentangan dengan,  UU No.62 tahun 1958 ttg kewarganegaraan, pasal 1 yang berisikan siapa saja yang berhak menjadi warga negara Indonesia.

Kalau kemudian negara tetap memaksakan kehendaknya agar penduduk hanya boleh memilih 6 agama resmi , bukankah berarti negara mencabut hak azasi masyarakatnya untuk memilih agama sesuai dengan kepercayaan nya?

Padahal pada Pasal 22 UU No.39 tahun 199 tentang Hak Azasi Manusia, jelas tertulis :

  1. Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
  2. Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Uhm …. semuanya jadi bertentangan deh 😦

Bagi saya sebenarnya fungsi negara tidak usah sampai mengatur agama apa saja yang harus diatur oleh negara, Atau ya dicabut saja Pasal 22 UU No. 39 tersebut, toh sebenarnya negara tidak membebaskan rakyatnya untuk memeluk agamanya masing masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu kok, dari pada suatu saat ada masyarakat yang menggugat pemerintah  🙂

Sehingga  saya kemudian berpikir mungkin yang paling baik adalah  penghapusan data agama yang dianut dalam KTP. Jadi cukup data seperti yang ada di Passport saja.

Kalaulah kemudian menjadi masalah dalam pencatatan pernikahan, karena di Indonesia pernikahan bisa dilakukan pencatatan nya di lembar resmi negara, apabila kedua pasangan menganut agama yang sama . Semestinya ya, ditanyakan saja kejujuran ke dua belah pihak beragama apa sewaktu mereka menikah. Toh, tanggung jawab moral nya ke Tuhan yang mereka percayai bukan negara yang harus bertanggung jawab. Terus apa bedanya dengan pernikahan beda agama yang dilakukan di luar negeri tapi bisa dicatatkan di lembar negara? Kenapa itu diperbolehkan? Kalau intinya negara tidak menginginkan penduduk yang berbeda agama bersatu dalam pernihakan dan tercatat resmi di lembar negera, mustinya ya berlaku adil dong, pernikahan seperti itu juga tidak bisa dicatatkan di lembar negara resmi RI.

Jadi terbukti memang semua tergantung pada uang. Toh kalau punya uang gampang,  apa saja bisa dilegalkan, termasuk pernikahan. Tidak punya uang – ya tidak bisa menikah resmi. Punya uang, tinggal pergi ke luar negeri dan menikah di sana, kemudian dicatat di Indonesia. Semudah itu saja.

Jadi apa sebenarnya maksud negara dengan segala pembatasan agama yang bisa dianut, pencatuman data agama di KTP dan syarat pernikahan yang bisa di catatakan di lembar resmi negara?

Atau apakah memang Hak Azasi Manusia di Indonesia untuk  beragama bahkan sebenarnya tidak ada sama sekali? Atau ini yang disebut bebas tapi terbatas? Atau memang kekuasaan negara kepada masyarakatnya bahkan sampai kepada hal – hal yang paling pribadi sekali?

Salam

 

 

 

Media yang Kebablasan

Menurut pendapat saya pribadi (catet : pribadi), media massa sekarang cenderung kebablasan dan sedikit lebay (red: maafkan bahasa Indonesia saya – saya tidak ketemu bahasa Indonesia EYD untuk kebablasan dan lebay ini :)).  Bahkan ada satu media yang saya anggap adalah media yang seharusnya sudah tidak perlu kebablasan dan ke lebay an untuk menjual berita, sekarang malah melakukan hal yang sama. Menjual berita tentang artis yang menemani keluarga  pacarnya, yang datang ke Indonesia karena sang pacar dipenjara misalnya (please …. penting enggak sih saya tau apa yang dilakukan si artis untuk pacarnya, bagaimana kedekatan dengan keluarganya).

Atau amati saja salah satu tivi swasta yang sering kemudian namanya sering diplesetkan oleh teman – teman saya menjadi tv oon, yang misalnya suatu ketika,  ketika orang – orang sibuk membantu korban yang sedang tertimpa bencana, masih sempat – sempatnya berusaha mewawancara si korban, dengan hasil wawancara  seperti ini:
“Gimana perasaan Bapak mengenai hal ini?; gimana perasaan Bapak apabila putri Bapak tidak ditemukan?; Gimana perasaan Bapak apabila putri Bapak ternyata tewas; dsb.
Orangtua itu sudah menyatakan bahwa dia pasrahkan saja semua ini kepada Allah, yang penting putrinya dan semua korban bisa segera dievakuasi. Semoga Bapak mendapat Hidayah dari-Nya. Namun sang penyiar ini masih memberondong dengan sejumlah pertanyaan yang seharusnya tidak perlu, malah membuat sang bapak tersudut.

Wartawan – wartawan seperti inilah  yang sering memancing kemarahan saya yang menonton nya (so … jangan salah kan saya, kalau saya sering menonton film – film korea, karena lebih menghibur dan mengasah ilmu keromantisan saya dan memendam rasa marah saya :D)

Saya juga pernah menyaksikan dengan mata saya, cameraman yang sibuk merekam gambar anak balita teman saya yang suaminya sedang tertimpa masalah korupsi. Apa harus wajah anak tersebut direkam dan diperlihatkan ke publik? Apakah hubungan nya anak kecil itu dengan kasus orang tuanya?  Tapi ya dengan keras kepalanya si cameraman dan wartawan tetap tidak menghiraukan teguran teman saya dan menghentikan kegiatannya karena sidang akan dimulai. Miris.

Kemudian kasus tentang salah seorang anggota dewan legislatif daerah dengan artis yang ditangkap karena dituduh berpesta narkoba. Media masa sibuk memfokuskan diri terhadap hubungan keduanya, yang menurut saya urusan pribadi  keduanya , toh mereka berdua adalah manusia – manusia bebas yang tidak terikat pernikahan dengan siapapun. Kenapa tidak cukup fokus hanya dengan urusan pemakaian narkoba. Fokus terhadap narasumber – narasumber yang bisa membantu BNN mengurangi Narkoba.

Atau sering kali wartawan kemudian sibuk memberitakan betapa teraniaya nya mereka karena ada artis, selebriti, petinggi negara yang marah karena pertanyaaan mereka yang membuat panas telinga yang mendengarnya. Padahal kalau kita lihat bagaimana tidak sopannya mereka ketika mewawancara, kita menjadi maklum mengapa si artis, selebriti, petinggi negara ini marah.

Toh saya yakin wartawan – wartawan ini mendapatkan pelajaran bagaimana menggali informasi. Mereka mustinya sudah menerima pelajaran bagaimana cara menghadapi orang yang diwawancara. Dan saya yakin dipelajaran mereka pastilah tidak ada ajaran untuk mendiskriminasikan orang yang diwawancara.

Media masa ini juga tidak malu – malu lagi untuk tidak bersifat netral. Banyak media masa yang ditunggangi oleh partai politik tertentu sehingga, berita – berita kejelekkan dari partai tersebut akan ditutup diganti dengan betapa hebatnya pengabdian yang dilakukan oleh partai mereka untuk masyarakat, Menggiring masyarakat untuk memilih partai tertentu.

Padahal semestinya media massa itu haruslah netral. Bersifat memberikan informasi yang telah diteliti dulu kebenarannya, bukan hanya informasi yang bersifat “katanya” dengan judul dan isi yang bersifat “menjual” rating dan menaikkan oplah. Kalau media massa tidak bisa bersifat netral, dan terus menerus melakukan pembohongan publik atau meliput cerita tanpa hati nurani ….kemana lagi saya dan masyarakat Indonesia harus menggali informasi.

 

Salam

Ketika Korban (Perkosaan) pun menjadi Terdakwa dan Objek Guyonan.

Kasus calon hakim Agung yang menjadikan perkosaan sebagai bahan guyonan ketika sedang menghadapi fit and proper test di depan anggota DPR di ruang rapat Komisi III DPR yang kemudian disambut gelak tawa hampir seluruh anggota DPR yang ada disana sebenarnya bagi saya cukup menggambarkan betapa rendahnya tingkat moralitas sang calon hakim agung dan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (yang sering sekali saya pertanyakan rakyat mana yang mereka wakilkan).

Walaupun kemudian sang hakim menyatakan itu sebenarnya adalah cara sang hakim untuk melepaskan ketegangan karena test calon hakim agung yang menurutnya cukup menguras pikirannya. Tapi tetap bagi saya, karena beliau itu terpelajar dan jabatannya sebagai seorang hakim yang notabene menentukan hidup matinya, bersalah atau tidaknya seseorang, seharusnya harus lebih tau mana pembicaraan yang bisa dijadikan guyonan ataupun ada yang tidak.

Kalau saja hakim yang menjadi calon hakim agung bisa seenaknya mengatakan bahwa dalam korban perkosaan – si pelaku dan korban sama – sama menikmati, apakah sepantasnya dia bisa tetap menjadi hakim? Bagaimana bila ada kasus perkosaan yang dimana dia menjadi hakim nya? Bisakah saya mempercayai keputusannya? Bisakah dia menjadi orang yang menegakkan keadilan?

Kemudian para anggota dewan terhormat yang dengan bahagianya tertawa mendengar guyonan murahan seperti ini. Dimanakah pikiran mereka? Apakah sepantasnya mereka mentertawakan penderitaan masyarakat yang notabene mereka wakili? Apakah mereka – mereka ini bisa saya percayakan untuk mengaspirasi pikiran, masalah rakyatnya?  Bisakah saya meyakinkan diri saya kalau mereka akan memilih orang yang tepat untuk menjadi hakim agung, hakim yang mulia yang akan menegakkan keadilan di negara ini? Dimana moral mereka? Dimana hati nurani mereka?

Perkosaan itu bukan lah guyonan, perkosaan itu tindakan kriminal. Tidak sepantasnya untuk menjadi bahan lelucon dengan alasan apapun itu. Tidak ada pembenaran yang bisa saya terima atas joke – joke tentang pemerkosaan !!!! Jangan membuat si pemerkosa merasa senang karena berhasil menjadi inspirasi seseorang menciptakan joke untuk mengurangi stress mereka!!!!

Ini sama seperti ketika saya mendengar komentar salah satu menteri yang menyatakan kalau ada perempuan di perkosa di angkot itu karena pakaian yang dipakainya seharusnya lebih sopan. Yang kemudian diperparah kata – kata ini juga banyak disetujui oleh teman – teman saya, dan lebih parah termasuk oleh teman – teman saya yang perempuan.

Alasan mereka (hampir 98 %) adalah :  siapa suruh berpakaian minim, bukankah agama mengajarkan untuk menutup aurat? Jadi enggak salah dong kalau ada yang melihat itu menjadi bernafsu dan memperkosa !!!!

Saya terus terang menjadi miris dengan kata – kata ini. Karena sebenarnya sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada ajaran agama baik Islam, Kristen, Katholik, Budha maupun Hindu yang memberikan ijin seseorang memperkosa orang lain, hanya karena melihat orang lain yang berpakaian minim !!!! 

Selain itu menurut saya ketika kita berbicara soal perkosaan, seharusnya yang kita bicarakan disini adalah perbuatan perkosaan nya dan bukan apa yang dipakai atau apa yang dilakukan si korban sehingga memancing perkosaan.

Dengan menyalahkan si korban sebenarnya, kita seakan – akan merestui perbuatan pemerkosa atas tindakan yang dilakukannya. Kita seakan – akan setuju bahwa dikarenakan kondisi dan kelakuan korban maka pemerkosa ini berhak melakukan tindakan pemerkosaan. Hampir sama seperti kasus pembunuhan, di mana sipembunuh bisa diringankan hukumannya apabila dia dikarenakan membela diri terpaksa harus membunuh orang lain, karena kalau tidak nyawanya sendiri terancam.

Padahal dalam kasus perkosaan, nyawa siapa yang terancam? Siapa yang menderita? Apakah kalau tidak memperkosa si pemerkosa bisa mati? Bukannya sebaliknya?

Soal pakaian yang menutup aurat, itu harusnya dibicarakan dalam keadaan lain. Dalam suasana lain, dalam tema lain. Terus apakah ada jaminan kalau kita memakai pakaian tertutup, mereka tidak mau memperkosa?  Selain itu toh sekarang banyak anak – anak kecil yang diperkosa – padahal semestinya orang – orang yang normal , tidak akan terbit nafsunya hanya karena melihat anak kecil memakai rok pendek atau celana pendek apalagi anak tersebut adalah keponakkan, cucu, adik atau bahkan anaknya sendiri !!!!

Perkosaan yang dialami korban, dampaknya akan dibawanya seumur hidup. Belum lagi perlu waktu lama untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya kembali, dan kemudian apabila dia harus juga disalahkan atas apa yang terjadi kepadanya, saya kira terlalu berat beban nya. Apalagi kalau mendengar cerita, kalau mereka harus menceritakan secara detail di depan polisi ketika membuat berita acara dan kemudian kembali lagi harus menceritakan  dipersidangan di depan orang – orang ketika kasusnya dibawa ke pengadilan. Ini sendiri sebenarnya sudah menjadi beban berat bagi si korban. Tetap tegar dan tidak memilih jalan mengakhiri dirinya menurut saya itu sudah amat teramat hebat.

Bisa dibayangkan tambahan beban bagi si korban apabila korban hamil akibat perkosaan tersebut. Bagaimana si korban harus menjalani kehamilannya tanpa teringat apa yang menyebabkan kehamilan tersebut? Bagaimana anak yang lahir harus menjalani kehidupannya apabila dia tau, apa yang menyebabkan kelahirannya? Duuuuhhhhhh

Sehingga apapun argumen orang kepada saya tentang pakaian yang menyebabkan perkosaan, saya tetap pada pendirian saya, bahwa walaupun ada perempuan yang berjalan – jalan tanpa busana ditengah jalan – tidak ada satu orang pun yang berhak memperkosanya !!!!  Iya memang kelakuannya salah – tapi instead of memperkosanya, toh bisa memberinya pakaian. Kalau tidak bisa menahan nafsu ketika melihat itu, ya sebaiknya pindahkan pandangan ketempat lain atau jauhi saja tempat tersebut.

PS : Waktu saya belajar mengaji, ustad saya pernah berkata, kalau kita berada disuatu tempat dimana orang atau tempat tersebut membuat kita tidak bisa menahan hawa nafsu kita, maka sebaiknya kita harus menghindarinya. Jadi kalau memang merasa terangsang melihat perempuan yang berpakaian mini, instead of memperkosa, atau menyalahkan perempuan – perempuan tersebut atas baju – baju yang mereka pakai, bukan kah lebih baik kalau pergi dan menghindari ‘pemandangan – pemandangan’ yang membangkitkan hawa nafsunya.