Melihat dengan Hati

Melihat dengan hati itu begini –  bahkan ketika seseorang tidak mengatakan tentang persoalannya, tapi hati nurani “melihat”apa yang dirasakan orang tersebut. Sehingga, tumbuh rasa empati, rasa perduli. Ini biasanya butuh banyak latihan, butuh keinginan untuk mau memposisikan diri menjadi orang lain, sehingga bisa mengetahui point of view orang lain yang mempunyai pikiran dan keputusan yang berbeda. Biasanya orang yang melihat dengan hati akan terlihat ‘humble’, tidak mau menang sendiri.

Kemarin, saya mengobrol banyak dengan salah satu senior saya, sudah lama sebenarnya saya ingin mengobrol dengan beliau, karena setahun belakangan hubungan saya dan senior saya satu ini tidak terlalu baik (menurut saya). Banyak sekali yang dilakukan nya, menurut saya tidak sesuai dengan pikiran saya, standard saya. Dan yup … saya juga terlalu angkuh untuk mau melihat segala keputusan nya dari sudut pandang beliau. Bahkan saya terlalu angkuh untuk sekedar bertanya, apa alasannya. Dan yang paling parah, apapun yang dilakukan beliau, menjadi salah selalu di mata saya, padahal tidak selalu begitu.

Dan betapa terkejutnya saya ketika tadi malam saya mencoba mengingat kembali apa yang dikatakannya — termasuk kata seseorang yang dekat dengan saya bahwa “saya orang yang merasa selalu benar”, saya menyadari banyak hal.

Ternyata sebenarnya pikiran saya dan senior saya itu sama, tapi cara yang kami lakukan berbeda. Yang saya lihat dengan mata saya adalah bahwa yang dilakukan nya tidak benar. Padahal kalau saya mau mencoba untuk melihatnya melalui “hati” saya, saya pasti akan mudah sekali melihat bahwa hanya cara nya yang berbeda. Dan itu menjauhkan saya dan senior saya hampir satu tahun.  Coba kalau saya sedikit mempercayainya, pasti akan ada dipikiran saya, bagaimana kalau saya melihatnya dari sudut pandangnya?

Kemudian saya mencoba merenungkan kata – kata “saya merasa selalu benar”, yang selama ini cukup menggangu saya, tapi sekali lagi  keangkuhan saya terlalu besar untuk menanyakan kenapa orang tersebut menyatakan itu kepada saya. Padahal beliau, orang yang cukup dekat dengan saya, orang yang mengajarkan kepada saya, apa artinya “it’s ok to be weak” karena saya memang enggak selamanya kuat, orang yang mengenalkan saya  rasa aman tanpa perlu kata – kata, cukup melihat dan merasakan kehadiran seseorang yang pasti enggak akan membiarkan saya kenapa – kenapa, orang yang mengajarkan saya apa rasanya merasa aman. Dan padahl menurut saya, beliau saat ini orang yang paling saya percayai.

Sama seperti dengan senior saya, instead of saya merasa bahwa pasti ada hal yang besar mengapa beliau mengatakan itu kepada saya, saya malah marah dan kesal dan saya kemudian berusaha meng “ignoring”, mengabaikan, apa yang diucapkan nya.  Padahal kata – kata itu selalu mengikuti saya kemanapun saya pergi, dan setiap saat saya bertemu dengan beliau.  Tapi yup …. saya memang terlalu angkuh.  Terlalu sombong untuk menanyakan dan terlalu takut untuk mendengar, kalau saya melakukan kesalahan.  Saya memang maunya menang sendiri. Bahkan saya tidak mencoba duduk dan berbicara baik baik dengan beliau tentang ini. Keangkuhan saya memang luar biasa. Bahkan untuk jujur kepada orang yang saya percayai itu, terlalu sulit saya lakukan.

Dan kemudian, betapa terkejut nya saya, karena ketika saya renungkan,  dari seluruh apa yang terjadi belakangan ini,  saya tidak pernah cukup mau “mendengar” – listen, saya cuman mendengar (hear) —- dan hanya menangkap apapun yang mau saya dengar. Semua nya saya lakukan dengan standard saya, sesuai situasi saya, sesuai dengan keinginan saya. Sudah berapa lama saya kembali pada kebiasaan saya ini? Sudah berapa lama saya lupa untuk melihat dengan hati saya?  Sudah berapa lama saya “mematikan” rasa saya, sehingga sulit untuk saya merasakan selain kekecewaan?

Kemudian berapa banyak marah saya, yang tidak saya selesaikan? Berapa banyak saya kembali merasa jadi “victim” atas apa yang terjadi? Berapa banyak hal – hal yang tidak mau saya maafkan? Berapa lama saya kembali memusuhi diri saya sendiri? Berapa lama saya tidak mau kembali berdamai dengan diri saya? Bagaimana saya bisa melihat orang lain dengan hati saya, kalau saya sendiri tidak mampu melakukan nya untuk diri saya sendiri?

Ah entahlah …. , yang jelas, saya memilih untuk kembali lagi belajar melihat dengan hati saya. Belajar untuk menurunkan ego saya, menurunkan rasa angkuh saya. Mungkin perlu waktu panjang, mungkin juga bisa cepat, yang pasti saya tidak mau lagi menyakiti banyak orang yang saya sayangi, karena saya tidak mampu untuk “melihat dengan hati”. Doakan saya sukses ya. Doakan agar mereka mau memaafkan saya, kalau saya menyakiti hati mereka.

Kalau anda merasa saat ini seperti saya, yuuk belajar bersama sama melihat dengan hati.

Salam

 

 

 

 

 

 

Apakah bangsa ini mengalami krisis kepribadian?

Saat saat ini, saya sedang merindukan masa kecil saya, dimana kata – kata  “Bhineka Tunggal Ika”,  berbeda beda (suku, agama, ras), tapi tetap satu benar – benar dapat saya rasakan dimanapun saya berada. Mungkin ada krisis krisis kecil antar tetangga karena perbedaan, tapi biasanya juga akan ada banyak orang yang mendamaikan. Kalimat “tepo seliro” – bertenggang rasa itu tidak jarang diucapkan.

Saya juga merindukan dimana media massa (yang waktu itu hanya ada tv, radio dan koran), tidak akan menuliskan atau memberitakan berita berita yang tidak jelas asal muasalnya, atau berita berita yang bersifat mengungkap aib orang lain yang tidak sepantasnya diumbar, atau berita berita yang berisi kalimat makian atau hinaan yang tidak sepantasnya diucapkan dimuka umum terhadap orang lain oleh pejabat.

Mungkin karena pemerintah saat itu otoriter, jadi hal hal ini seperti ini tidak mungkin bisa lolos diberitakan (kalau menurut pikiran sederhana saya, kalau begitu – tidak mengapalah pemerintah otoriter dalam hal ini), atau mungkin karena globalisasi belum begitu terasa, sehingga kita belum terpengaruh (kalau menurut pikiran sederhana saya, mustinya Indonesia yang jumlah penduduknya termasuk yang paling besar di dunia – justru seharusnya bisa membawa kepribadian bangsa utk ditularkan kepada negara negara yang lain didunia). Atau karena kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita mudah banget mengakses apapun. Ah entahlah.

Hari hari ini, setiap membaca berita, membaca medsos yang penuh dengan persoalan saling tuduh atas nama penistaan agama, saya kemudian memikirkan kembali apa yang pernah diajarkan guru ngaji saya tentang surat Al – Kafirun ….. “agamamu agamamu, agamaku agamaku, jangan ganggu agamaku dan aku tidak mengganggu agamamu.”

Pesan yang menurut saya sangat mudah banget utk dimengerti apabila kita tidak memikirkan hal hal yang rumit dan membesar besarkan segala hal. Atau saya ingat banget, diajarkan untuk tidak membuka aib orang di muka umum, karena bisa menimbulkan pertengkaran (saya tidak diajarkan untuk tidak membuka aib kecuali orang tersebut beragama lain). Biarkanlah pengadilan yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Toh sudah ada pengadilan.

Kalau lah pengadilan sudah bekerja, mengapa kemudian harus lagi mengajak orang orang untuk melakukan kegiatan kegiatan  menghujat tersangka? Apalagi yang diinginkan? Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya, kemudian siapa kamu yang tidak mau memaafkan orang lain ?  Padahal kamu tidak lebih hebat dari Tuhan mu.

Dan anehnya, orang -orang yang mengajak untuk tidak membesarkan hal – hal seperti ini, malah dianggap sebagai “Pendosa Besar”. Kenapa berani sekali kemudian menjadi Tuhan yang menentukan siapa yang pendosa dan siapa yang tidak? Dan kemudian melebih lebihkan dengan mengajak semua orang utk ikut memusuhi orang orang yang berpikiran seperti saya. Kenapa menjadi arogan dengan membawa bawa nama agama?

Saya ingat juga sewaktu saya sekolah di sekolah Katholik, dan dipelajaran agamanya, ada cerita dimana banyak orang orang yang akan melemparkan batu kepada perempuan yang bekerja sebagai PSK .. kemudian sang nabi berkata, orang orang yang tidak pernah berdosa boleh melemparkan batu ketubuh perempuan ini. Dan semua orang disana berhenti karena malu, karena pada dasarnya siapa yang tidak pernah melakukan dosa? Begitu juga kita …… mengapa kita bangga sekali membuka segala aib orang lain, membesar besarkan nya, kemudian mencemooh nya seolah kita adalah mahluk yang putih bersih bebas dari dosa?

Saya ingat juga, sewaktu saya kecil, saya diajarkan untuk bertutur kata sopan kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih dewasa. Sopan santun menjadi salah satu yang selalu ditekankan kepada saya baik di rumah maupun di sekolah. Dan saya selalu berpikir, itu juga salah satu ciri kepribadian bangsa ini  ramah tamah dan sopan santun.

Tapi apa kemudian yang saya lihat belakangan ini, orang dewasa bahkan anak – anak kecil yang dengan bangganya menulis kalimat caci maki terhadap selebritis bahkan pejabat yang tidak mereka sukai, yang bahkan mereka tidak kenal dekat 😦

Saya miris sekali membacanya, sampai ada masa saya males membuka medsos kecuali email & WA. Dimana mereka belajar ini? Apakah orang tua, sekolah dan lingkungan nya tidak mengajarkan sopan santun? Dan apa hak mereka untuk mencaci maki orang lain yang bahkan tidak pernah mereka temui di dunia nyata. Ah entahlah.

Bahkan ada beberapa stasiun tv yang mempunyai acara yang berisikan tentang orang orang yang saling caci maki dimuka publik, seakan akan bahwa tayangan yang sperti itu memang selayaknya ditonton oleh anak anak kecil di negara ini.

Dan saya kemudian berpikir – dimana hilangnya kepribadian bangsa saya, bangsa Indonesia ini? Dimana kebhineka Tunggal Ikaan itu hilang? Dimana kepribadian ramah tamah dan sopan santun itu pergi? Atau memang bangsa ini sedang sakit? Sedang mengalami krisis kepribadian? Sehingga segala yang baik baik baik — mulai hilang satu per satu.

Sekali lagi entahlah. Saya tidak tau harus menjawab apa. Yang saya tau hanya lah mengajak lingkungan saya untuk mengembalikan kepribadian bangsa ini, tidak ikut ikut an dalam menyebarkan kebencian dan menghargai orang lain yang berbeda dengan saya. Mungkin anda juga bisa melakukan hal yang sama.

Salam

 

 

 

Karena seperti kita, mereka juga ingin dihargai

Belakangan sering sekali kita membaca:
1. Kasus pertama: tulisan tulisan tentang Menteri A yang begini, menteri B yang begitu. Dan itu ditulis dengan menyambungkan dengan boleh atau tidaknya menurut agama
2. Kasus ke dua: kemudian yang paling menghebohkan adalah ketika gambar Presiden RI dan mantan Presiden RI yang dirubah menjadi gambar yang berbau pornografi. Dan pembuatnya kemudian dipenjarakan, setelah banyak yang menganggab presidennya lebay.

Kasus pertama – saya bukan lah ahli agama. Tapi saya hanya berpikir – ini bukan pemilihan posisi malaikat – yang salah satu kriteria nya adalah harus sempurna, bukan perokok, tidak boleh punya tato, harus sarjana, tidak boleh pemarah, harus ramah dan lembut (terutama apabila dia perempuan). Pokoknya harus perfect menurut kriteria manusia Indonesia. Tapi ini pemilihan menteri – yang kriteria nya harus tidak punya catatan ‘merah’ di kpk atau kejaksaan, tidak pernah terkena kasus suap – terbukti mampu bekerja keras dan mempunyai catatan ‘excelent’ di bidangnya serta cinta Indonesia dan rakyat nya.

Jadi masalah tato, atau merokok, saya kira biarlah itu menjadi urusan mereka di depan Tuhannya. Urusan sembahyang atau tidak – biarlah itu menjadi hitung hitungan mereka di akhir hayatnya nanti. Itu sepenuhnya hak Tuhan yang Maha Kuasa. Bukan urusan kita. Bukan hak kita juga untuk menilai.
Yang menjadi urusan manusia seperti kita, adalah mengingatkan beliau beliau tersebut dalam mengemban amanah yang dipercayakan di pundaknya. Dan juga membantu mereka untuk melaksanakan amanah tersebut, dengan apa yang bisa kita lakukan. Setidaknya bantulah mereka dengan doa yang tulus. Agar diberikan kesehatan dan pikiran yang jernih untuk mengemban tugasnya.

Kasus ke dua? Saya sih walau bukan Presiden RI , pasti juga akan merasa marah luar biasa kalau ada orang yang seenaknya mengunggah wajah saya dipadu kan dengan badan siapa begitu, dan berbau pornografi. Jadi dalam hal ini saya tidak merasakan bahwa Presiden dan mantan Presiden RI tersebut lebay. Itu hak mereka untuk marah.Dan menurut saya, apa yang dilakukan adalah pelecehan luar biasa untuk semua orang bukan terbatas hanya untuk Presiden atau mantan Presiden atau menteri atau selebrita lainnya.

Lantas hubungan kedua nya? Kita sering sekali tidak mau memposisikan diri kita sendiri di orang yang kita caci maki, yang kita anggap tidak sempurna, yang kita anggap berdosa. Kita sering kali melecehkan apa yang menurut orang lain itu penting. Kita sering memaksa orang orang lain untuk menuruti apa yang benar menurut pemikiran kita.

Jadi saran saya, cobalah untuk memposisikan diri, diposisi mereka. Mungkin dengan begitu kita bisa lebih mudah untuk menerima apa yang mereka lakukan. Cobalah menghargai mereka sebagai manusia biasa, seperti kita juga ingin dihargai.

Karena seperi kita juga, mereka ingin dihargai keberadannya, pendapatnya, keputusannya, kehadirannya. Karena seperti kita juga, mereka ingin dihargai kehidupan pribadinya, hubungan dengan Tuhan nya, hubungannya dengan manusia manusia sekelilingnya. Karena seperti kita juga mereka ingin dihargai ketidak sempurnaan mereka sebagai manusia dan kehebatan mereka sebagai anugrah Tuhan yang terindah bagi keluarga, teman teman dan lingkungannya. Karena seperti kita juga, mereka juga punya kehidupan yang tidak ingin mereka umbar di publik. Karena seperti kita juga, mereka ingin dihargai sebagai manusia dengan kelembahan yang mereka miliki.

Jadi setidaknya kalau lah mereka kita pandang tidak pantas terpilih memimpin negara ini karena ketidak sempurnaan mereka, kita bisa tetap menghargai keberadaan mereka sebagai manusia, seperti kita jugan dihargai oleh manusia lain nya.

Salam