Agama, Kebencian dan Cinta

“Jika memang tidak bisa bersaudara dalam keimanan, setidaknya tetaplah bersaudara dalam kemanusiaan.” (Ridwan Kamil)

Kata – kata ini saya baca dari twitter -nya Bapak Ridwan Kamil, yang menurut saya wise banget, dan cocok banget dengan keadaan di Jakarta saat ini.

Saya teringat kekesalan ibu saya minggu lalu, karena ada tetangga yang bercerita kepada beliau, bahwa ada yang tetangga yang lain – tidak mau lagi ngobrol atau berteman dengan ibu saya karena mengetahui bahwa kakak saya dan keluarganya beragama yang berbeda.

Kata ibu saya, yang membuat beliau kesal bukan karena tetangga tersebut tidak mau berbicara/bergaul, tapi karena alasan nya. Urusan beragama apa pun itu kan urusan pribadi. Kenapa orang lain harus sibuk menghakimi orang lain karena pilihan nya. Di surat Al Kafirun juga dijelaskan “agamamu agamamu, agamaku agamaku.”  Jadi kenapa harus membenci karena perbedaan itu? Soal dosa atau tidak, biarlah itu menjadi tanggung jawab masing masing. Toh memang di hari akhir nanti setiap orang harus menanggung perbuatannya masing masing, bukan menanggung perbuatan tetangganya?

Saya termasuk orang yang beruntung yang mempunyai ibu, yang memberikan saya dan saudara – saudara saya kebebasan, memilih apa yang kami percayai. Saya merasa beruntung punya keluarga yang beragam, jadi setiap ada acara besar keagamaan, berarti ada acara kumpul – kumpul bareng keluarga besar. Dan apapun penghakiman orang terhadap keputusan ibu saya, saya tidak perduli. Yang saya tau, ibu saya tidak akan  menyetujui, kalau anak – anaknya berganti agama karena alasan mencintai seseorang.  Karena itu bukan beriman kepada Tuhan, tapi karena beriman kepada manusia. Dan itu tidak benar. Agama dan Tuhan bukan mainan seperti itu. Jangan menipu Tuhan kata ibu saya.

Saya dan saudara – saudara saya juga termasuk beruntung karena dari kecil kami dibesarkan dengan dua agama. Beruntung karena kami bisa melihat keindahan masing masing agama, karena kami bisa merasakan keindahan hati orang – orang yang berbeda diantara kami.

Sehingga saya dan saudara – saudara saya, agak sulit untuk mengerti mengapa orang harus berantem karena sesuatu yang berbeda apalagi yang perbedaan yang diributkan adalah tentang agama, karena setiap agama mengajarkan cinta kasih bukan mengajarkan membunuh satu sama lain. Karena setiap agama mengajarkan tentang memaafkan dan bukan tentang membenci. Dosa atau tidak, masuk surga atau pun neraka, biarlah itu menjadi urusan pribadi masing masing.

Tidak suka orang lain, karena agamanya berbeda – menurut saya agak aneh. Apalagi kemudian apapun yang dilakukan nya, apapun usahanya, apapun permintaan maafnya tidak bisa diterima hanya karena agama yang berbeda.

Kalau memang yang dilakukan nya salah ,  biarlah pengadilan yang memutuskan, bukan malah mengajak ngajak orang lain untuk membenci, dan yang lebih parah adalah kemudian malah “membully” orang lain yang membela orang tersebut. Bukan hanya sekedar ‘membully’, bahkan lebih dari itu, dimusuhi, dijauhi.Padahal  mereka satu agama. Padahal mereka hanya mengungkapkan pendapatnya. Mengapa tidak boleh berbeda?

Kemudian mengapa harus terus berburuk sangka kepada orang lain yang berbeda keyakinan? Mengapa tidak mau sedikit saja membuka mata hati untuk melihat apa yang telah dilakukannya, karena akan sulit melihat kebaikan apapun selama kebencian masih menutupi hati. Sulit sekali untuk menyadari, bahwa apapun yang terjadi adalah atas seijin Allah, jadi kalau ini terjadi, maka seharusnya melihat apa hikmatnya kejadian ini?  Padahal Allah itu Maha Pemaaf, mengapa kita tidak berusaha juga memaafkan? Bukan malah menjadi membabi buta marah dan membenci segalanya, bahkan membenci dan marah yang tidak jelas kepada orang yang membelanya? Maafkanlah karena mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.

Saya bukan ingin membela seseorang yang sedang bermasalah sekarang, karena saat ini biarlah pengadilan yang memutuskan. Biarlah  hakim bebas memutuskan apapun tanpa perlu takut keluarga maupun  diri nya akan dihujat apabila keputusan nya berbeda dari keputusan “haters’nya. Biarlah keputusan nya benar benar keputusan yang adil sesuai dengan hukum yang ada, dan bukan keputusan yang mengikuti emosi. Karena pengadilan mencari keadilan bukan mencari kebenaran.

Saya ingin mengajak agar kita tidak saling membenci hanya karena agama. Kita tidak saling membenci hanya karena orang berbeda keyakinan nya dengan kita.

Indonesia butuh banyak cinta, bukan butuh banyak kebencian. Indonesia butuh banyak orang yang perduli kepada masa depan anak bangsa ini, dari pada orang – orang yang mengajak orang lain membenci orang – orang lain. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling bersatu bahu membahu, membangun negara ini. Indonesia butuh banyak cinta untuk saling memaafkan, untuk tidak membesarkan masalah yang sebenarnya bisa dimaafkan.

Jadi, yuk kita gunakan cinta kita untuk membangun negara ini. Yuk kita hentikan saling membenci karena perbedaan terutama karena perbedaan agama yang pastinya mengajarkan kita  tentang cinta kasih dan memaafkan sesama.

Salam

 

Apakah bangsa ini mengalami krisis kepribadian?

Saat saat ini, saya sedang merindukan masa kecil saya, dimana kata – kata  “Bhineka Tunggal Ika”,  berbeda beda (suku, agama, ras), tapi tetap satu benar – benar dapat saya rasakan dimanapun saya berada. Mungkin ada krisis krisis kecil antar tetangga karena perbedaan, tapi biasanya juga akan ada banyak orang yang mendamaikan. Kalimat “tepo seliro” – bertenggang rasa itu tidak jarang diucapkan.

Saya juga merindukan dimana media massa (yang waktu itu hanya ada tv, radio dan koran), tidak akan menuliskan atau memberitakan berita berita yang tidak jelas asal muasalnya, atau berita berita yang bersifat mengungkap aib orang lain yang tidak sepantasnya diumbar, atau berita berita yang berisi kalimat makian atau hinaan yang tidak sepantasnya diucapkan dimuka umum terhadap orang lain oleh pejabat.

Mungkin karena pemerintah saat itu otoriter, jadi hal hal ini seperti ini tidak mungkin bisa lolos diberitakan (kalau menurut pikiran sederhana saya, kalau begitu – tidak mengapalah pemerintah otoriter dalam hal ini), atau mungkin karena globalisasi belum begitu terasa, sehingga kita belum terpengaruh (kalau menurut pikiran sederhana saya, mustinya Indonesia yang jumlah penduduknya termasuk yang paling besar di dunia – justru seharusnya bisa membawa kepribadian bangsa utk ditularkan kepada negara negara yang lain didunia). Atau karena kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita mudah banget mengakses apapun. Ah entahlah.

Hari hari ini, setiap membaca berita, membaca medsos yang penuh dengan persoalan saling tuduh atas nama penistaan agama, saya kemudian memikirkan kembali apa yang pernah diajarkan guru ngaji saya tentang surat Al – Kafirun ….. “agamamu agamamu, agamaku agamaku, jangan ganggu agamaku dan aku tidak mengganggu agamamu.”

Pesan yang menurut saya sangat mudah banget utk dimengerti apabila kita tidak memikirkan hal hal yang rumit dan membesar besarkan segala hal. Atau saya ingat banget, diajarkan untuk tidak membuka aib orang di muka umum, karena bisa menimbulkan pertengkaran (saya tidak diajarkan untuk tidak membuka aib kecuali orang tersebut beragama lain). Biarkanlah pengadilan yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Toh sudah ada pengadilan.

Kalau lah pengadilan sudah bekerja, mengapa kemudian harus lagi mengajak orang orang untuk melakukan kegiatan kegiatan  menghujat tersangka? Apalagi yang diinginkan? Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya, kemudian siapa kamu yang tidak mau memaafkan orang lain ?  Padahal kamu tidak lebih hebat dari Tuhan mu.

Dan anehnya, orang -orang yang mengajak untuk tidak membesarkan hal – hal seperti ini, malah dianggap sebagai “Pendosa Besar”. Kenapa berani sekali kemudian menjadi Tuhan yang menentukan siapa yang pendosa dan siapa yang tidak? Dan kemudian melebih lebihkan dengan mengajak semua orang utk ikut memusuhi orang orang yang berpikiran seperti saya. Kenapa menjadi arogan dengan membawa bawa nama agama?

Saya ingat juga sewaktu saya sekolah di sekolah Katholik, dan dipelajaran agamanya, ada cerita dimana banyak orang orang yang akan melemparkan batu kepada perempuan yang bekerja sebagai PSK .. kemudian sang nabi berkata, orang orang yang tidak pernah berdosa boleh melemparkan batu ketubuh perempuan ini. Dan semua orang disana berhenti karena malu, karena pada dasarnya siapa yang tidak pernah melakukan dosa? Begitu juga kita …… mengapa kita bangga sekali membuka segala aib orang lain, membesar besarkan nya, kemudian mencemooh nya seolah kita adalah mahluk yang putih bersih bebas dari dosa?

Saya ingat juga, sewaktu saya kecil, saya diajarkan untuk bertutur kata sopan kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih dewasa. Sopan santun menjadi salah satu yang selalu ditekankan kepada saya baik di rumah maupun di sekolah. Dan saya selalu berpikir, itu juga salah satu ciri kepribadian bangsa ini  ramah tamah dan sopan santun.

Tapi apa kemudian yang saya lihat belakangan ini, orang dewasa bahkan anak – anak kecil yang dengan bangganya menulis kalimat caci maki terhadap selebritis bahkan pejabat yang tidak mereka sukai, yang bahkan mereka tidak kenal dekat 😦

Saya miris sekali membacanya, sampai ada masa saya males membuka medsos kecuali email & WA. Dimana mereka belajar ini? Apakah orang tua, sekolah dan lingkungan nya tidak mengajarkan sopan santun? Dan apa hak mereka untuk mencaci maki orang lain yang bahkan tidak pernah mereka temui di dunia nyata. Ah entahlah.

Bahkan ada beberapa stasiun tv yang mempunyai acara yang berisikan tentang orang orang yang saling caci maki dimuka publik, seakan akan bahwa tayangan yang sperti itu memang selayaknya ditonton oleh anak anak kecil di negara ini.

Dan saya kemudian berpikir – dimana hilangnya kepribadian bangsa saya, bangsa Indonesia ini? Dimana kebhineka Tunggal Ikaan itu hilang? Dimana kepribadian ramah tamah dan sopan santun itu pergi? Atau memang bangsa ini sedang sakit? Sedang mengalami krisis kepribadian? Sehingga segala yang baik baik baik — mulai hilang satu per satu.

Sekali lagi entahlah. Saya tidak tau harus menjawab apa. Yang saya tau hanya lah mengajak lingkungan saya untuk mengembalikan kepribadian bangsa ini, tidak ikut ikut an dalam menyebarkan kebencian dan menghargai orang lain yang berbeda dengan saya. Mungkin anda juga bisa melakukan hal yang sama.

Salam

 

 

 

Be careful with your wish

Tadi pagi, dalam perjalanan ke kantor, saya mendengarkan lagu lama. Lagu tersebut dinyanyikan oleh salah satu group di Indonesia. Namanya Trio Libels ….. yup group yang udah jadul buanget.  Mendengarkan lagu tersebut membuat saya kembali teringat sewaktu saya masih sekolah smp.

Karena saya lumayan dekat dengan guru – guru saya, sering banget saya ditanya mau jadi apa saya nantinya. Dan jawaban saya selalu sama terperinci seperti ini…. saya pingin banget jadi dokter tapi saya pingin sekolah nya itu dapat bea siswa – gratis seperti Edwin Libels itu.

Dan saya …. tidak menjadi dokter memang ….. tapi saya diterima di sekolah yang sama dengan Edwin Libels. Beliau menjadi senior saya. Kalau dipikir pikir ya .. mungkin waktu itu harusnya harapan saya kalau ingin menjadi dokter, contohnya jangan bang Edwin ini yaaaaaaa hahahhhahhahhaaaa.

Cerita lain yang masih berhubungan dengan sekolah ini …. ada salah satu universitas, setiap kali saya transit di Jkarta (sewaktu saya masih tinggal di luar pulau Jawa), selalu saya lewatin dan setiap kali itu saya selalu bilang, kudu kuliah lagi nih. Dan memang …. saya kuliah lagi ….. dan ……. di universitas tersebut. Semustinya ya … saya melengkapi “wish” saya menjadi … saya kudu kuliah lagi di Harvard misalnya ya hahhahahhahhaa. Jadi Tuhan enggak menyangka saya minta nya kuliah lagi disana hahahahhahaha. Tapi anyway, saya senang loh kuliah disana 😀

Kemudian sewaktu sma dan kuliah, saya punya ketakutan menjadi seorang ibu. Iya ….. saya takut banget jadi seorang ibu. Takut enggak bisa jadi ibu yang baik. Kenapa berpikir begitu? Karena saya selalu berpikir, saya tidak cukup baik untuk jabatan semulia menjadi ibu. Dan ketakutan saya itu sering kali saya ucapkan dalam hati ketika saya sedang merenung. Saya waktu itu selalu memikirkan kalau menjadi tante pasti lebih mengasikkan buat saya. Karena saya selalu cinta dengan anak – anak kecil.

Dan …. itu ternyata dianggap Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi “wish” saya, harapan saya. Karena Beliau Yang Serba Maha itu sayang banget sama saya, tidak mau saya takut, jadilah saya ya …. sampai sekarang belum menjadi ibu.  (PS : sekarang saya mulai merubah ucapan dalam hati saya …. bahwa saya seperti yang lain akan menjadi ibu yang perfect buat anak anak saya). And yup ….. saya mempunyai keponakan – keponakan yang selalu bisa “bright” my day, dengan apapun yang mereka lakukan. Dan saya cukup dekat dengan keponakan saya yang pertama, sebegitu dekatnya, sampai saya bisa berliburan hanya berdua dengan dia —- buat dia, saya itu tante nya yang paling “cool” hahaahhahahhaha.

Atau saya pernah berpikir tentang tinggal di Jerman (karena waktu itu saya pingin jadi dokter yang lulusan Jerman), tapi setiap kali saya memikirkan tentang Jerman – hampir tidak pernah bersama dengan pikiran tentang sekolah kedokteran hahahahahhahahhhaa. Ya …. jadilah saya memang tinggal di sana, tapi tidak untuk sekolah dokter.

Dan banyak hal – hal lain, yang terjadi di perjalanan hidup saya ….. yang setelah saya pikir pikir niiiiihhh…. itu karena pikiran, ucapan saya baik yang saya ucapkan kepada orang lain atau pun dalam hati, secara berulang ulang – menjadi “wish” —- dan yang kemudian oleh Tuhan Yang luar biasa sayang sama saya kemudian diwujudkan.

Jadi ….. kesimpulannya …. mulai sekarang setiap kali saya menginginkan sesuatu, saya terperinci merunut apa yang mau, misalnya mau kuliah — iya … mau kuliah di mana?  Mau beasiswa …. beasiswa seperti apa? Dan terlebih saya akan berhati hati dengan pikiran saya dan ucapan saya … karena bisa bisa benar benar terwujud, disangka itu menjadi wish saya.  Dan kemudian ketika “wish” itu benar – benar diwujudkan …. saya nya marah marah dan kecewa hahahhaahhahhahhahaha. Padahal yang minta itu saya (walaupun secara tidak sadar yaaaaa).

Trus parahnya ya  …. saya kemudian ngambek sama Tuhan …. bilang kenapa saya diberikan masalah seperti ini haahhaahahhhaaha. Padahal ya ….. bukannya bersyukur, segalanya di dengar Tuhan ya 😀

So …. yuk ikut latihan bersama saya untuk menjaga pikiran dan ucapan agar tidak menjadi “wish” dan kemudian sesuatu yang kita tidak harapkan terjadi karenanya (hahaahahhhahaaa).

Salam

Karena seperti kita, mereka juga ingin dihargai

Belakangan sering sekali kita membaca:
1. Kasus pertama: tulisan tulisan tentang Menteri A yang begini, menteri B yang begitu. Dan itu ditulis dengan menyambungkan dengan boleh atau tidaknya menurut agama
2. Kasus ke dua: kemudian yang paling menghebohkan adalah ketika gambar Presiden RI dan mantan Presiden RI yang dirubah menjadi gambar yang berbau pornografi. Dan pembuatnya kemudian dipenjarakan, setelah banyak yang menganggab presidennya lebay.

Kasus pertama – saya bukan lah ahli agama. Tapi saya hanya berpikir – ini bukan pemilihan posisi malaikat – yang salah satu kriteria nya adalah harus sempurna, bukan perokok, tidak boleh punya tato, harus sarjana, tidak boleh pemarah, harus ramah dan lembut (terutama apabila dia perempuan). Pokoknya harus perfect menurut kriteria manusia Indonesia. Tapi ini pemilihan menteri – yang kriteria nya harus tidak punya catatan ‘merah’ di kpk atau kejaksaan, tidak pernah terkena kasus suap – terbukti mampu bekerja keras dan mempunyai catatan ‘excelent’ di bidangnya serta cinta Indonesia dan rakyat nya.

Jadi masalah tato, atau merokok, saya kira biarlah itu menjadi urusan mereka di depan Tuhannya. Urusan sembahyang atau tidak – biarlah itu menjadi hitung hitungan mereka di akhir hayatnya nanti. Itu sepenuhnya hak Tuhan yang Maha Kuasa. Bukan urusan kita. Bukan hak kita juga untuk menilai.
Yang menjadi urusan manusia seperti kita, adalah mengingatkan beliau beliau tersebut dalam mengemban amanah yang dipercayakan di pundaknya. Dan juga membantu mereka untuk melaksanakan amanah tersebut, dengan apa yang bisa kita lakukan. Setidaknya bantulah mereka dengan doa yang tulus. Agar diberikan kesehatan dan pikiran yang jernih untuk mengemban tugasnya.

Kasus ke dua? Saya sih walau bukan Presiden RI , pasti juga akan merasa marah luar biasa kalau ada orang yang seenaknya mengunggah wajah saya dipadu kan dengan badan siapa begitu, dan berbau pornografi. Jadi dalam hal ini saya tidak merasakan bahwa Presiden dan mantan Presiden RI tersebut lebay. Itu hak mereka untuk marah.Dan menurut saya, apa yang dilakukan adalah pelecehan luar biasa untuk semua orang bukan terbatas hanya untuk Presiden atau mantan Presiden atau menteri atau selebrita lainnya.

Lantas hubungan kedua nya? Kita sering sekali tidak mau memposisikan diri kita sendiri di orang yang kita caci maki, yang kita anggap tidak sempurna, yang kita anggap berdosa. Kita sering kali melecehkan apa yang menurut orang lain itu penting. Kita sering memaksa orang orang lain untuk menuruti apa yang benar menurut pemikiran kita.

Jadi saran saya, cobalah untuk memposisikan diri, diposisi mereka. Mungkin dengan begitu kita bisa lebih mudah untuk menerima apa yang mereka lakukan. Cobalah menghargai mereka sebagai manusia biasa, seperti kita juga ingin dihargai.

Karena seperi kita juga, mereka ingin dihargai keberadannya, pendapatnya, keputusannya, kehadirannya. Karena seperti kita juga, mereka ingin dihargai kehidupan pribadinya, hubungan dengan Tuhan nya, hubungannya dengan manusia manusia sekelilingnya. Karena seperti kita juga mereka ingin dihargai ketidak sempurnaan mereka sebagai manusia dan kehebatan mereka sebagai anugrah Tuhan yang terindah bagi keluarga, teman teman dan lingkungannya. Karena seperti kita juga, mereka juga punya kehidupan yang tidak ingin mereka umbar di publik. Karena seperti kita juga, mereka ingin dihargai sebagai manusia dengan kelembahan yang mereka miliki.

Jadi setidaknya kalau lah mereka kita pandang tidak pantas terpilih memimpin negara ini karena ketidak sempurnaan mereka, kita bisa tetap menghargai keberadaan mereka sebagai manusia, seperti kita jugan dihargai oleh manusia lain nya.

Salam

Mimpi dan Impian

KD -1Pernah merasa betapa bahagianya ketika “your dream come true” , – ketika yang sudah lama banget dimimpi mimpikan menjadi kenyataan? Saya kebetulan orang yang beruntung banget, yang kira kira sebulan lalu atau lebih? Salah satu dream saya, yang sudah sangat lama  saya impikan, menjadi kenyataan- lengkap seperti yang ada di mimpi saya, malah lebih bagus deh. (Red : bermimpi itu bagi saya adalah salah satu waktu terindah yang diberikan oleh Allah kepada umatnya, untuk merasakan apa yg sulit atau bahkan tidak mungkin diperoleh, bertemu sesuatu yang mungkin tidak bisa kita temukan atau yang sangat kita rindukan.) Saking bahagianya, saya tidak bisa menghentikan senyum saya sendiri, saking bahagianya, saya tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang maha Kuasa, soalnya sepertinya ucapan terimakasih saja tidak cukup. Dan saking bahagianya saya juga tidak berani untuk meminta lebih. Mungkin bagi orang orang lain, andai saya ceritakan apa mimpi saya itu, akan mentertawakan saya, atau bahkan mencaci maki saya sebagai orang yang tidak tau diri. Entahlah. Saya tidak pernah bertanya kepada mereka, apa pendapat mereka tentang mimpi saya. Biarlah mimpi saya hanya untuk saya.  Karena itulah salah satu yang membuat saya hidup. Bagi saya, mimpi adalah salah satu penyemangat saya untuk bangun di pagi hari, karena saya tau ada sesuatu yang harus  saya kejar, ada sesuatu yang ingin saya capai. Dan proses mencapaian itu mungkin butuh waktu lama, mungkin hanya satu dua menit  atau mungkin tidak akan pernah tercapai. Biarlah hasil akhir saya serahkan di tangan Allah. Kalau menurut Nya itu yang terbaik bagi saya, pasti akan dikabulkan. Tapi kalau tidak, ya berarti saya harus dengan iklas mengganti mimpi saya (walaupun untuk mengikhlaskan nya tidak jarang saya perlu waktu sendiri untuk berdamai dengan hati saya hahahhahaa ). Setidaknya saya telah mencoba meraih mimpi saya, setidaknya saya telah memberikan kemampuan terbaik yang saya punya untuk meraih impian saya. Saya masih punya banyak mimpi yang ingin saya raih, yangmasih harus saya pikirkan bagaimana meraihnya, yang masih harus saya mimpikan di tidur saya, agar saya merasa bahagia bangun di pagi hari, karena bisa merasakan apa yang saya impikan itu saya miliki – walau hanya di dalam tidur 😀 Yup ….  may be I am silly girl, but it’s ok. At least I am happy hahhahhaa Saya juga tau banyak orang yang masih akan mentertawakan saya kalau saya menceritakan salah satu mimpi saya. Saya juga tau pasti lebih banyak orang yang tidak percaya saya akan mampu meraih impian saya – yang bersiap menyambut kegagalan saya dengan senyum yang lebar, walau saya juga tau pasti ada beberapa orang yang akan menjadi orang yang selalu mensupport saya meraih mimpi saya.  Dan yang pasti saya juga tau mungkin tidak semua mimpi saya akan bisa saya dapatkan karena mungkin memang tidak bagus sebenarnya untuk kehidupan saya, tapi biarlah itu dijawab oleh waktu, biarlah itu menjadi misteri hidup saya. Saya tidak akan menyerah sebelum saya berusaha semampu saya. I know I am strong enough Malam ini saya tetap akan tidur dengan bunga tidur yang berisi impian saya tentang segala hal yang membuat saya merasa bahagia walau hanya sesaat. Besok pagi saya akan bersemangat menyambut pagi saya memulai hari untuk melakukan segala hal yang bisa membuat impian saya tercapai. Yang pasti saya tidak akan membiarkan satu orang pun menghentikan impian saya, apapun alasan nya(PS tentu saja kecuali saya sendiri yang menginginkan untuk menghentikan impian saya ).

Homophobia

IDAHO  Bermula dari BBM teman saya yang memberikan saya link tentang gambar ini. Kemudian saya berpikir, uhm …. sebenarnya kenapa sih harus phobia dengan mereka yang orientasi seksualnya berbeda (red: saya tidak mau membahas ini dari sisi agama). Apa yang harus ditakutin? Apakah takut kalau bergaul dengan kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) kita akan seperti mereka? Kalau ini mah … berarti kitanya ajah yang memang sebenarnya sudah punya orientasi yang sama sebelumnya yang tidak kita akui. Atau karena takut kalau kita bergaul dengan “pendosa” kita juga akan menjadi  ‘pendosa’. Uhm  ya ini mah kan tergantung keimanan seseorang. Jadi saya benar – benar gagal paham dengan orang orang yang Homophobia. Maafkan saya untuk ini.

Ketika menulis ini juga saya merasa, jangan – jangan kalau tulisan saya ini dibaca banyak orang menyangka saya juga termasuk  member of LGBT ini dan kemudian saya akan bakal dicibir dan dicemooh.  Trus saya mikir lagi, kenapa juga saya harus memikirkan tentang ini?  Toh mereka suka atau tidak suka sama saya, kan hak mereka, dan itu tidak akan pernah buat saya mati.  Siapa tau justru tulisan saya membuat mereka berubah pikiran, tidak lagi menjadi Homophobia.

Prinsip saya ketika saya berteman dengan seseorang, saya tidak perduli dengan latar belakang, tidak perduli dengan agama, suku, ras, orientasi seksual,bibit, bebet, bobot, tidak perduli kerjanya apa, apalagi jabatannya, sepanjang orang tersebut baik dan menghormati saya sebagaimana adanya saya, sepanjang itu juga saya akan berteman dengan nya.

Saya tidak membenarkan jalan yang dipilih oleh kaum LGBT dan saya juga tidak akan menyalahkan mereka. Itu bukan ranah saya. Apa hak saya?  Mencampuri urusan kaum LGBT itu bagi saya sama saja seperti saya mau juga dicampuri urusan orientasi seksual saya, dan itu bagi saya terlalu private 😀  Kenapa enggak kita juga enggak bicarain tentang orang – orang yang ber sadomasochist, atau orang- orang yang punya istri sampe lebih dari 3 (siapa tau hyper) dll? Mereka ini kan juga sama, punya orientasi seksual yang “menyalah” menurut saya.

Selain itu mana yang lebih parah sebenarnya, kaum LGBT atau orang – orang yang mengatas namakan agama dan mengajarkan kekerasan dan menciptakan teroris yang rela membunuh orang yang tidak bersalah? Kenapa tidak phobia dengan mereka?  Kenapa kita lebih menerima mereka? Atau kenapa kita tidak phobia dengan orang – orang seperti Eyang yang menjual dunia mistik dan mengajarkan kita menduakan Tuhan?

Atau bagaimana dengan ayah yang memperkosa anak nya sendiri, kakek yang mencabuli cucunya? Apakah mereka mereka ini lebih baik dari pada kaum LGBT?

Yang paling mencengangkan dari Homophobia ini adalah ketika ada foto – foto yang sopan, tapi yang berfoto adalah dua orang dewasa sejenis dengan anak – anak, terus ini langsung di cap adalah hasil kreasi kaum LGBT yang mensosialisasikan keluarga dengan orang tua sejenis.  Duuuuuh ….

Mungkin imajinasi mereka – mereka yang homophobia ini terlalu tinggi, jadi gambar seperti itu sudah digambarkan gambar keluarga LGBT.  Sehingga, foto – foto tentang dua orang yang sejenis sudah dianggap pasangan homo/lesbi.  Padahal orang – orang tua pernah bilang :”jangan pernah membenci sesuatu terlalu dalam, nanti bisa – bisa jadi suka”. Apalagi kemudian sering di imajinasikan, wahhhhhhh …. bisa – bisa next time dari homophobia menjadi homo 😀

Saya juga enggak mengerti dengan ide membenci kaum LGBT, kenapa harus dimusuhi? Toh mereka sama seperti kita, cuman beda orientasi ajah. Dan lagi mereka juga enggak menghasut kita untuk ikut ke jalan nya, kalau mereka hasut juga, selama kita nya enggak berminat, ya enggak akan terhasut juga. Jadi, kenapa juga harus membenci mereka? Sekali lagi saya gagal paham.

Jadi …. disamping harus bersibuk – sibuk membenci sesuatu yang tidak menyakiti atau melukai kita atau keluarga kita, kenapa tidak berdamai saja? Pilihan hidup mereka bukan alasan kita untuk menjadikan mereka musuh kita.

Salam

Kharina

 

Rejeki, Jodoh dan Umur

Menjelang subuh, saya menerima bbm dari salah seorang teman saya yang memberitahukan tentang kematian Uje – salah seorang ustad muda yang terkenal. Saya  tiba – tiba teringat dengan pembicaraan saya dengan bapak tukang ojek yang saya tumpangi sewaktu pulang kerja,si bapak menceritakan tentang musibah tabrakan yang merenggut nyawa seorang pengendara motor yang masih mahasiswa. Si mahasiswa tersebut menggunakan head set – mendengarkan musik sewaktu mengendarai motornya sehingga tidak mendengar ketika orang – orang berteriak ada kereta api yang akan lewat.

Bapak tukang ojek ini kemudian berkata, ya sebenarnya memang umur si anak saja yang memang pendek, enggak tabrakkan juga, si anak pasti akan meninggal juga, tapi kalau memang belum waktunya untuk meninggal – mau tabrakkan dengan apapun, pasti tidak akan terjadi apa – apa.

Kemudian si bapak tukang ojek melanjutkan dengan mengatakan kalau yang namanya rejeki,  jodoh dan umur memang itu benar – benar rahasia Tuhan. Susah banget menebak, susah untuk bisa tau apa yang akan terjadi. Contoh nya rejeki, kalau semua tau berapa rejekinya, kapan dapatnya, mana ada orang yang mau berusaha, pasti pada duduk – duduk santai saja. Sama juga kalau semua orang tau siapa jodohnya, pasti pada males untuk berusaha dan pada enggak pernah merasa apa namanya putus, dan sedih. Jadinya nanti malah enggak menghargai rejeki dan jodohnya.

Sama dengan umur, kalau semua tau berapa umurnya, pasti kalau hampir menjelang hari H – pada enggak semangat hidup atau pada sibuk berdoa, sembahyang, jadi lupa untuk bergaul dengan sesamanya.

Tadi pagi sewaktu saya membuka email dan membaca salah satu blog dari adik kelas saya tentang pertanyaan nya kepada Tuhan, kembali saya memikirkan tentang rejeki, jodoh dan umur yang sepenuhnya ada di tangan Tuhan. Tidak tau apa yang akan terjadi satu menit kemudian, bahkan rencana yang 99 % hampir terwujud, kalau belum lah menjadi rejeki, bisa tidak terjadi.  Sama seperti dengan orang yang mencoba bunuh diri – kalau memang belum waktunya – ya, tetap aja akan hidup – walaupun racun yang dipakai adalah racun yang paling dahsyat, atau terjun dari ketinggian 20 meter. Atau tentang jodoh – selama apapun masa pacaran, atau selama apa pun pernikahan, kalau memang bukan jodohnya, pasti akan berpisah juga, – sejauh apapun jarak keduanya, sebanyak apapun beda keduanya, – kalau memang jodoh, ya pasti jadi juga, bagaimanapun caranya.

Tapi ya itu, kita (tepatnya saya) sering lupa hal ini.  Masih sering ada di hari – hari saya – ketika saya terlalu yakin akan rencana saya sehingga lupa untuk meminta ijin Nya, atau dihari – hari saya ketika saya mengomel karena harus mensupport keluarga saya (padahal kan mungkin saja rejeki mereka itu lewat saya,  yang saya peroleh bukan seluruhnya rejeki saya :D), atau masih sering saya memandang iri kepada teman – teman saya yang sudah mempunyai keluarga kecil nya sendiri, sementara saya di umur saya yang sebegini banyak – masih lah harus sendiri, atau masih sering saya merasa ketakutan,  bakal kehilangan rejeki, atau tidak bertemu jodoh saya sampai nanti saya tua 😀

Yang paling dahsyat sih … saya sering mengatakan kalau saya tidak ingin berumur panjang, saya tidak mau melewati masa menjadi nenek2x 😀 Padahal ya … kalau  Tuhan memberikan saya sejumlah umur, sejumlah masalah, pastinya karena Beliau merasa itu lah yang terbaik bagi saya, pastilah Beliau sudah membukakan jalan untuk saya mengatasi masalah saya dan memang sayalah yang sering membutakan mata hati saya, karena ngambek diberikan masalah, sehingga tidak melihat jalan keluar tersebut 😀

Jadi … karena rejeki, jodoh dan umur itu misteri Ilahi …..saya memberikan note kepada diri saya  sendiri agar disetiap menit yang saya lalui harus diwarnai dengan berpikiran positif – bahwa mungkin di menit berikut bisa saja my dreams come true, setiap menit harus dilalui dengan sesedikit mungkin menyakiti orang lain (jadi kalau nanti mati – enggak bakal banyak yang mengutuk saya :D),   berdoa di setiap langkah yang akan saya lalui  agar di ijinkan Nya mewujudkan rencana – rencana dan mimpi – mimpi saya, agar dibuka mata dan hati saya untuk melihat jalan keluar di setiap masalah yang saya hadapi, dan yang utama sih semestinya saya harus banyak bersyukur – karena masih di ijinkan Nya untuk bernafas dan menikmati hidup yang singkat ini.

Salam