Anak Indonesia, Mimpi dan Inspirasi

Baru- baru ini, saya mengikuti kembali Kelas Inspirasi (KI). Kali ini di Bandung, dan ini berarti kelas Inspirasi ke 6 saya, dan kelas Inspirasi saya pertama untuk tahun ini, setelah hampir satu tahun, saya vakum. Btw :orang – orang seperti saya, yang sering mengikuti KI kemudian dapat julukan “KI Hunter” hahaahahahhaaa.

Dan seperti biasa, setiap kali saya mengikuti KI, sebenarnya bukan saya yang menginspirasi, dan bukan saya yang banyak memberi. Tapi anak – anak di SD tempat saya mengajar, guru – guru yang mengajar anak – anak di sekolah tersebut, panitia yang memberikan tenaga dan waktu mereka berbulan – bulan tanpa dibayar untuk mempersiapkan acara ini serta relawan yang gila gila an memberikan yang terbaik yang mereka punya tanpa dibayar untuk anak anak, itulah yang menginspirasi saya.

Kemudian kalau saya ditanya, kenapa sih mau berkali-kali menjadi relawan seperti ini. Mengapa mau melakukan sesuatu tanpa dibayar, bahkan harus mengeluarkan uang? Jawabannya itu banyak banget, diantaranya adalah :

  1. Anak – anak mengajarkan saya banyak hal. Dari  interaksi mereka terhadap teman dan lingkungannya, saya diingatkan untuk tidak memendam marah terlalu lama dengan orang lain, untuk tidak perlu banyak khawatir tentang masa depan dan tidak perlu mengingat -ingat masa lalu, dan tidak perlu malu kalau saya salah.
  2. Jawaban jawaban mereka  atas pertanyaan saya atau pertanyaan – pertanyaan mereka kepada saya, serta obrolan mereka dengan saya, yang serng nya lucu – lucu, membuat saya melupakan seluruh keletihan saya.
  3. Saya merasa saya banyak berhutang kepada negara saya, dan salah satu cara saya untuk membayarnya dengan membagikan waktu, tenaga dan cinta saya untuk sedikit membantu negara membangun mimpi anak – anak Indonesia. Karena bagaimanapun di tangan merekalah nantinya saya akan menyerahkan masa depan bangsa.
  4. Saya jatuh cinta dengan tawa mereka atau binar binar mata mereka ketika mereka mulai pingin tahu tentang sesuatu atau ketika mereka merasa bahagia. Dan itu menjadi priceless – tidak dapat dibayar dengan apapun, ketika saya yang menjadi alasannya. Seperti sewaktu saya mengikuti KI Bandung, ketika saya hendak berpindah ruangan, tiba tiba serombongan anak dari kelas saya mengajar sebelumnya, tiba-tiba menghampiri saya dan memberikan saya pelukan. Dan itu buat saya priceless banget. Saya merasa disayang banyak orang, saya merasa dicintai.
  5. Saya mempunyai keluarga baru, saya mempunyai teman – teman baru, yang tidak kenal saya sebelumnya, tapi luar biasa mau memberikan saya support, mendengarkan ketakutan – ketakutan saya, membantu saya agar saya bisa sukses memberikan yang terbaik yang saya punya kepada anak-anak. Dan mereka membuat saya percaya, masih banyak orang – orang baik di negeri ini, yang mau memberikan yang terbaik untuk negaranya, dengan sukarela.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi ke lima di atas adalah yang utama.  Dan tentunya alasan yang paling utama adalah, karena saya ingin agar seluruh anak – anak Indonesia tanpa terkecuali, berani untuk bermimpi. Percaya bahwa apapun mereka sekarang, mereka punya hak untuk menjadi yang terbaik, karena mereka berharga.

Sehingga mudah – mudahan suatu saat, ketika mereka dewasa dan sukses, mereka juga mau melakukan hal yang sama untuk anak anak lain. Aamiin

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier

(Greatest love of All)

Tentang Anak – (haruskah keadilan Tuhan saya pertanyakan?)

Salah satu puisi Kahlil Gibran – yang menjadi favorit saya adalah puisi yang berjudul “Poem and Song for Children”

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

  Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

……

……

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Sudah berapa waktu ini saya membaca perdebatan tentang anak angkat, anak asuh di milist yang saya ikuti.  Penuh dengan isi ayat ayat dari kitab suci. Yang kemudian saya pikirkan …. Ya ampun,  apakah memang ingin nya Allah penguasa alam semesta, Tuhan yang saya kagumi,  tempat dimana keadilan Nya tidak perlu di ragukan lagi …… sehingga seorang anak yang ditinggal kedua orang tuanya sedari usia dini, atau yang dibuang orang tuanya karena alasan apapun, harus juga dirumitkan dengan masalah masalah nama dibelakang namanya? Harus diributkan juga status nya sebagai anak, hak nya dalam menerima warisan.

Apakah memang ingin Nya, sehingga orang orang yang karena seijin Nya, tidak diberikan kemampuan mempunyai keturunan dari darahnya sendiri, juga dipersulit untuk memberikan cinta yang berlimpah kepada anak anak ini yang kurang beruntung, memberikan kasih sayang nya yang berlimpah agar anak anak ini menjadi seseorang yang dapat berguna bagi sekelilingnya, dan memberikan  rejeki yang dimilikinya  kepada anak anak yang sudah dianggap menjadi anak nya sendiri.

Ah …. saya memang bukan ahli agama, dan sayang Allah – Tuhan saya – saya yakin lebih besar dari pada yang diperkirakan orang orang, keadilan yang dimiliki oleh Beliau ….. lebih dari pada yang dipikirkan oleh orang orang yang menafsirkan ucapan Nya.

Saya kemudian, berpikir, mengapa saya harus terpengaruh? Mengapa saya harus membiarkan orang lain merebut apa yang dirasakan orang  orang yang terdekat dengan saya. Mengapa saya harus takut oleh ancaman masuk neraka, karena hal hal yang saya yakin kebenarannya, mengapa saya harus takut ancaman dituduh tidak tahu agama. Mengapa saya harus mempertaruhkan seorang anak yang merupakan anugrah terindah dalam keluarga besar saya, dan keluarga kecilnya hanya karena mereka mereka yang mentutup mata hatinya, Mereka mereka yang hanya bisa membicarakan tentang larangan dan ancaman  setiap kali berbicara tentang Tuhan dan bukan berbicara tentang cinta dan kasih sayang, tentang maaf dan berbagi, tentang syukur dan anugrah, tentang keadilan dan kearifan Nya.

Itu yang kemudian sering kali membuat manusia melakukan hal hal yang sering sekali menurut saya tidak masuk akal. Menganggap dirinya bukan perempuan yang berguna  dan sempurna ketika tidak mampu mempunyai anak – padahal Allah tidak pernah “memproduksi sesuatu yang tidak berguna dan tidak sempurna.”  , karena dimata beliau, setiap kita adalah gambaran Nya – yang diciptakan sesempurna gambaran Nya dan berguna bagi mahluk hidup sekelilingnya.

Betapa adilnya Beliau – yang ketika mencabut kemampuan seseorang untuk mempunyai keturundan  dari darahnya sendiri, dibukakan mata, hati  dan telinga untuk melihat anak anak yang merindukan orang tua nya.

Betapa adilnya Beliau anak anak ini yang tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan, yang tidak tahu nasibnya, bisa berubah masa depannya, yang merindukan keluarga dapat merasakan kehangatan keluarga yang dirasakan oleh teman teman nya.

Apakah mengangkat seseoran anak adalah perbuatan yang salah? Apakah harus menutup mata terahadap anak anak ini?  Apakah anak anak ini tidak berhak merasakan kehangatan yang sama seperti anak anak lain? Apakah orang orang yang mengangkat anak ini, nantinya akan dihukum karena mencurahkan cinta yang luar biasa mereka punya untuk anak anak yang kurang beruntung. Apakah Tuhan se kejam itu?

Apakah orang tua yang membuang anak nya …… lebih baik dari pada orang yang menggangkat dan mengasuh anak orang lain seperti anak kandungnya sendiri.

Apakah orang orang yang mandul – memang tidak diperbolehkan merasakan hangatnya kehadiran seorang anak?

Apakah anak anak yang kehilangan orang tuanya sedari dini dengan alasan apapun – memang harus dihukum tidak diperbolehkan merasakan rasa cinta dan kehangatan orang tua – tidak diperbolehkan merasakan kasih sayang sebuah keluarga?

Mungkin seperti kata kata Buya Hamka  – “Hidup itu sederhana – yang rumit itu tafsirannya” 

Kita sering sekali memang merumitkan kehidupan, kita sering sekali mengecilkan keadilan Tuhan, ataupun meremehkan kemampuan Nya .

Ah entahlah … saya sendiri tetap saya … yang tetap berpikir Gusti Allah mboten sare – Tuhan tidk pernah tidur …

saya tetaplah saya …. yang berpikir …. saya belum mempunyai keturunan sampai di umur saya yang sebanyak ini, karena Tuhan saya yang luar biasa berkahnya menginginkan saya memberikan nya kepada anak anak di luar sana, yang membutuhkan cinta dan kasih sayang seorang ibu seperti saya.

 

 

 

 

Karena mereka memberikan kita “Kehidupan”

Sebagaimana anak yang dilahirkan dari keluarga yang “agak” berbeda dari gambaran keluarga sempurna di film, di tivi atau bahkan di kebanyakkan orang orang, tidak jarang tentunya saya mendengarkan keluhan dari saudara saudara saya, bahkan saya sendiri dulunya sering berpikir begitu  – bagaimana mampu mencintai dan menghargai ke dua orang tua, kalau mereka tidak pernah memposisikan diri sebagai orang tua, yang tidak pernah memberikan pelukan dan memberikan “rumah” agar anaknya bisa pulang sewaktu bebannya terlalu berat, yang mengatakan “everything is gonna be all right”.

Sebenarnya sih banyak juga teman teman saya yang orang tuanya terlihat rukun dan damai juga mengeluhkan hal yang sama. Dan malah pada akhirnya, hal ini yang selalu dijadikan “alasan”  atau “dalih” atas kelakuan negatif yang dilakukan – contoh nya apabila memakai narkoba – alasan nya karena kurang perhatian orang tua, atau lari dari rumah – alasan nya karena orang tua tidak mau mengerti dll. Saya sendiri juga sering melakukan hal yang sama dan mengunakan dalih yang sama.

Sulit memang untuk mengerti mengapa mereka melakukan hal hal negatif yang mereka lakukan kepada anak -anaknya  (memukul, marah, mengumpat, tidak perduli, tidak mau mengerti dan bahkan meninggalkan tanpa tanggungjawab), sulit untuk percaya kalau mereka tidak mencintai anak anaknya. Dan sulit juga untuk mengetahui tau apa sebenarnya yang ada di hati mereka.

Mencoba berada di posisi mereka, ternyata membuat saya lebih mudah mengerti  mengapa mereka melakukan hal tersebut. Mungkin karena orang tua mereka melakukan hal sama kepada mereka atau bahkan lebih buruk.  Mungkin mereka sendiri sebenarnya mempunyai masalah masalah besar yang tidak ingin mereka ceritakan, tapi membuat mereka merasa tertekan dan marah.  Atau mungkin menurut mereka, itu cara yang efektif menyampaikan sayang kepada anaknya, atau mungkin mereka juga tidak tau dan tidak menyadari apa yang mereka perbuat dan pengaruhnya terhadap pandangan anak kepada mereka.

Saya ingat suatu saat, ada teman saya yang merasa begitu tertekan nya dengan masalah rumah tangga nya (sang suami ribut besar dengan ibu mertuanya karena masalah uang), alhasil sekecil apapun kesalahan sang anak – teman saya itu tidak segan segan memaki maki anak nya tersebut di depan kami semua dengan kata kata yang tidak selayaknya di ucapka seorang ibu.  Sewaktu pulang, tiba tiba teman saya berkata betapa menyesalnya dia karena telah memaki maki anaknya dengan kata kata yang tidak selayaknya diucapkan. Saya ingat sekali wajah penyesalan terpancar nyata diwajahnya. Tapi terkadang, justru kejadian 5 menit itu, luka nya akan terbawa oleh sang anak seumur hidup, dan apabila kejadian itu terus berulang tanpa diobati, maka luka itu akan menjadi besar dan besar dan besar dan kemudian membentuk kepribadian sang anak dan membentuk pandangan anak terhadap orang tuanya.

Dan bayangkanlah mungkin seperti ini kejadian orang tua kita dahulu. Mereka tidak tau apa yang mereka perbuat, dan mereka tidak tau sebesar apa pengaruhnya. Dengan begitu mungkin lebih mudah bagi kita memahami mereka dan menghormati mereka sebagai orang tua kita. Memaafkan apa yang telah mereka perbuat.

Saya tidak ingin berbicara soal dosa atau tidak dosa atau masuk surga dan tidak masuk surga, karena kalau menghormati karena kewajiban atau karena tidak masuk surga, saya kira akan menjadi berat melakukan nya dibanding benar benar ingin melakukannya.  Saya ingin membantu berbagi pengalaman, sehingga mungkin orang orang yang mengalami masalah yang sama bisa merasakan hal yang sama. Tidak lagi merasa marah, kesal, kecewa dll kepada orang tua mereka yang memang tidak sempurna dan tidak memberikan kasih seperti apa yang kita harapkan, sehingga kita tidak lagi melihat mereka dengan cara pandang yang negatif.

Dan kalau itu ternyata juga tidak bisa membantu …  mungkin dengan menyadari bahwa mereka – kedua orang tua telah memberikan saya,kita KEHIDUPAN,  sehingga kita bisa ada di sini, ada di dunia ini.  Dan itu tanda cinta terbesar mereka yang tidak dapat tergantikan oleh apapun.

Salam

 

Karena Menjerumuskan dan Menyayangi Terkadang Tipis Bedanya

Kasus yang menimpa anak dari musisi AD & MA, yang mengendarai mobil pada dini hari di jalan tol sedangkan pada usianya yang masih dibawah umur – 13 tahun, yang mengakibatkan  6 (enam) orang tewas dan beberapa (termasuk si anak – AJK) harus dirawat di rumah sakit, seharusnya menjadi pelajaran bagi orang tua yang membiarkan anak anak mereka yang berusia di bawah umur mengendarai sendiri  kendaraan baik beroda dua maupun beroda empat di jalan umum (umumnya ke sekolah).

Sewaktu saya masih duduk di bangku SMP atau SMA, tentu lah bagi saya juga top banget kalau ada teman saya yang membawa sendiri kendaraan ke sekolah. Apalagi kalo teman saya itu terkenal baik mau memberi tumpangan atau mengantarkan teman temannya kemana mana misalnya. Rasanya pasti si teman itu “cool” “keyren”.  Walaupun semestinya saya harus nya ya rada rada khawatir dong, mana mungkin anak yang masih di bangku sekolah punya Surat Ijin Mengemudi (SIM). Tapi ya karena orang tua yang bersangkutan memberikan ijin, terus guru guru di sekolah maupun polisi yang di jalan raya yang melihat tidak menegur ya saya anggap hal itu biasa saja.

Tapi kemaren kemaren, sewaktu saya kembali lagi bekerja di Jakarta, dan merasa terganggu dengan anak anak yang masih berseragam SMA bahkan SMP, dengan bebasnya mengendarai motor roda dua di jalan raya, tanpa menggunakan helm plus cara mengendarai motor yang seenaknya sendiri tanpa memperdulikan keselamatan orang lain maupun keselamatan nya sendiri.  Dan yang mengejutkan saya banyak polisi atau pun petugas DLLAJR yang bertugas di jalan raya, tidak mengambil tindakan apa apa kepada anak anak ini bahkan terlihat cenderung membiarkan seolah olah itu adalah sesuatu yang sah sah saja di lakukan.

Lebih mengejutkan lagi, ketika suatu sore saya pulang kerja, di angkot yang saya tumpangi, ada seorang ibu yang berbicara dengan semangat 45, menceritakan bagaimana dia sangat membenci polisi A yang sering bertugas di jalan B, karena sang polisi menahan anak nya yang masih berusia 15 tahun karena membawa motor di jalan raya. Si ibu menceritakan bahwa beliau kesal karena tega teganya Pak Polisi menahan anak seumuran itu, sampai dengan kedatangan dirinya dan ayah sang anak plus, bisa bisa nya polisi menasehati mereka berdua bagaimana mendidik anak.  Uhm …… saya terhenyak karena saya gagal paham dengan sang ibu ini ….. apa yang salah yang dilakukan oleh Polisi?  Toh beliau benar,  yang boleh membawa kendaraan bermotor di jalan umum adalah pemegang SIM dan syarat untuk memiliki SIM adalah berusia 17 tahun ke atas.  Dan sebagai polisi tentulah beliau berhak menegur pemilik kendaraan bermotor yang mengijinkan anak di bawar umur untuk mengendarai motornya. Bukan kah itu juga bentuk keperdulian polisi kepada masyakarat yang dilayaninya? Yang sebenarnya kejam itu siapa? Si ibu yang membahayakan nyawa sang anak atau polisi yang menyelamatkan nyawa sang anak?

Kadang kadang memang seringkali orang tua sulit membedakan antara menyayangi dan menjerumuskan anak. Ya seperti membiarkan anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor di jalan. Alasan mereka tentu karena mereka menginginkan sang anak bisa pergi kemana tidak naik kendaraan umum yang dianggap kurang nyaman dan juga si anak bisa mandiri pergi kemana mana tanpa perlu diantar. Tapi sebenarnya bukan kah tidak bertanggung jawab sekali membiarkan anak dibawah umur mengendarai kendaraan bermotor di jalan umum? Bukan kah itu tindakan yang menjerumuskan anak, dan sama sekali bukan menyayangi.? Kalau sayang pasti tidak rela kehilangan nyawa anak atau si anak harus mendekam di penjara akibat kendaraan motor yang diberikan orang tuanya merebut nyawa orang lain. Uhm…..

Bukan itu saja, sama seperti atas nama kasih sayang, sering sekali orang tua memberikan anak anak yang masih di bawah umur, hp/ gadget yang canggih, yang bisa digunakan untuk surfing di internet sampai main game yang terbaru, sehingga si anak lebih sibuk chatting atau main game dari pada bermain dengan anak anak. Akibatnya? Jadilah anak anak ini menjadi anak anak anti sosial, yang tidak perduli dengan apa yang terjadi dengan sekelilingnya sepanjang itu tidak ada hubungan nya dengan dirinya  atau malah anak anak yang dewasa sebelum waktunya. Uhm .. … miiris .

Atau seperti anak penyanyi tersebut di atas yang pada jam 01.00 WIB pagi , baru pulang mengantarkan pacarnya.  Di jaman saya, dengan umur 13 tahun, jam 01.00 pagi  itu adalah saat saat saya tidur nyenyak di rumah, bukan keluyuran apalagi pacaran. Duuuh….. saya gagal paham. Apakah itu cara orang tua menyayangi anak , dengan membiarkan anak melakukan apa yang mereka inginkan walaupun itu belum pantas untuk usianya. Bukan kah itu namanya menjerumuskan mereka?

Saya memang percaya, anak terlahir seperti kertas putih ….. dan kemudian orang tua yang berbangga hati atas nama cinta mulai memberi warna di kertas tersebut. Tapi sayang nya  – sering sekali atas nama cinta itu pula sebenarnya orang tua tidak sadar telah menjerumuskan anak nya ke  jalan yang salah.  Apalagi orang tua yang pada saat kecilnya terlalu dikekang, sering kali besarnya berjanji  tidak akan mengekang anaknya.  Membiarkan anak nya melakukan apa yang mereka inginkan.  Dan sayang nya, itu justru menjerumuskan sang anak.

Cobalah untuk membedakan antara menyayangi dan menjerumuskan. Cobalah  jangan hanya menjadi teman tapi juga bisa menjadi orang tua bagi anak anak di saat tertentu, dimana kalau memang itu tidak pantas untuk ukuran anak seumuran nya bisa dengan tegas mengatakan “tidak”, tapi tentu berikanlah alasan mengapa tidak setuju. Tentu anak akan bisa mengerti, toh walaupun mereka belum bisa mengerti berikan lah mereka waktu untuk mengerti.  Percayalah,  kasih sayang mereka tidak akan berkurang hanya karena anda tidak memberikan apa yang mereka pinta ( coba ingat berapa kali orang tua kita melarang, dan memarahi kita karena sesuatu hal, tapi tetap saja kita menyayangi mereka, iya kan???)

Jangan sampai suatu saat kita menyesali diri karena kita yelah salah membedakan antara menyayangi dan menjerumuskan.

Salam

Family Gathering = Urgently needed a rental family :D

Rental Family = keluarga sewaan?  Iya  …. ciyus  … ciyus ….  😀  Butuh banget,  urgently deh.  Terutama kalau ada acara yang namanya  “Familly Gathering”. Terasa banget kalau jasa keluarga sewaan ini bukan saja menjadi kebutuhan sekunder tapi menjadi kebutuhan utama, primer, penting, urgent.

Atau kalau versi lebay nya sih …. seperti manusia membutuhkan oksigen 😀

Sebagai high quality jomblo –  still single di usia yang amat sangat teramat matang dan ditambah berjenis kelamin perempuan pula dan belum mempunyai momongan (baru punya keponakkan keponakkan yang keyren keyren seperti tantenya :D), maka acara yang paling males saya hadiri itu acara yang berbau bau family – keluarga, terutama “Family Gathering”

Bukan, bukan karena saya merasa minder dengan keadaan saya, atau karena jealous melihat teman – teman saya yang biasanya antusias sekali dengan acara Familly Gathering karena moment dimana bisa membawa seluruh anggota keluarganya untuk diperkenalkan kepada teman – teman plus keluarga temannya dan sebaliknya. Yang pasti, sebenarnya ajang yang oke banget, karena bisa berlama lama berkumpul dengan teman tanpa perlu meninggalkan keluarga.

Nah, masalah jadi akan bermula karena saya datang di Family Gathering (atau acara acara yang lain sih :D) sendirian, tanpa (my own) family.

Maka jadilah disana saya pasti akan bengang bengong sendiri, tersenyum tidak jelas kesana kemari atau berpura – pura care dengan anak – anak orang lain …. karena biasanya teman – teman saya akan sibuk dengan keluarganya masing masing, terutama teman yang baru mempunyai bayi. Atau saya akan terbengong bengong mendengar pembicaraan teman – teman tentang perkembangan anak anaknya masing masing, tentang masa kehamilan, tentang persalinan, biaya sekolah, susu yang baik, dokter anak yang top, penyakit anak dan obatnya. Enggak ada deh yang bicarain betapa gantengnya pemain sepak bola A, atau dimana toko sepatu yang lagi diskon atau backpacker sendiri yang murah 😀

Nah ketika pembicaraan beralih kepada saya,  kemudian teman – teman saya (terutama yang sudah lama tidak bertemu saya) dan pasangannya, akan bertanya kepada saya tentang anak anak saya (yang belum pada lahir karena masih mencari bapak yang tepat 😀 ), setelah mendengar penjelasan saya tentang status saya ….. maka dimulailah “drama”  itu ……………….

1. Meminta maaf kepada saya karena menanyakan tentang status saya … please deh, saya mah enggak merasa apa – apa juga, tidak juga merasa sakit hati dengan orang yang merubah status saya.  Wong … udah lama buaaaanget.  Dengan meminta maaf, justru membuat saya menjadi ill feel ….. (ill feel karena saya bingung kenapa harus minta maaf hahahahaa)

2. Berusaha yakin dengan pendapatnya, kalau saya masih trauma dengan masa lalu saya, karena itu saya masih sendiri.  Dan parahnya …. semakin saya menidakkan, semakin keukeuh juga mereka dengan pendapatnya. Dooooohhhhh … itu seperti 1 orang waras dengan 9 orang gila …. maka yang jadi gila ya yang waras dong 😀

3. Mulai menghakimi saya, bahwa saya terlalu pemilih. Padahal ya ampunnnnnn …..  yang mau saya pilih itu siapa?  Positifnya sih …. mungkin karena saya dianggap secantik ratu kecantikkan dunia, jadi yakin banget pasti banyak banget pria pria single di dunia ini yang mengejar -ngejar saya tapi tidak saya terima hahahahhhahahaha

4.Mulai menghitung – hitung umur saya dan mulai menghitung – hitung  berapa lama lagi jam biologis saya masih berdetak 😀  Dan mulai menasehati saya tentang bahaya nya bagi perempuan melahirkan di usia di atas 35 tahun.  Uhm seandainya mereka tau …. tanpa dinasehatin saya juga sudah panik kok 😀

5.Dan yang paling parah itu …. kalau di wajah wajah mereka terlihat rasa kasihan kepada saya, dan ditambah dengan statement “sabar ya, nanti pasti ketemu jodohnya”  ….  Bener deh …. saya enggak apa – apa, enggak sakit, enggak perlu juga dikasihani, saya sabar kok,  bener. Saya sabar kok biasanya menanti jodoh saya,  tapi jadi agak kurang sabar kalau dikasihani begitu hahahaahahhhahhahaha

Nah … karena masalah masalah ini … saya sih mulai berpikir mustinya ada usaha rental family.  Jadi di sana bisa me -nyewa 1 ayah dengan 1 anak ( lebih), atau 1 ibu dengan 1 anak (lebih) . Jadi sewaktu di Family Gathering itu orang orang seperti saya, bisa diterima secara “layak”  sehingga bisa turut merasakan kecerian Family Gathering dengan penuh suka cita juga.

Atau kalau tidak bisa – ya saya usul ….  Family Gathering itu  khusus untuk yang sudah berkeluarga /single mom/single dad saja, sama seperti pesta lajang yang khusus untuk lajang saja 😀 Jadi enggak ada pertanyaan lagi kepada saya kenapa tidak datang ke Family Gathering, sampai pada saat saya punya keluarga nantinya, boleh deh pertanyaan itu diluncurkan kalau saya tidak datang ke Family Gathering  😀

Salam

PS: Doain ya biar saya secepatnya juga diberikan kesempatan punya keluarga (sendiri) 😀

Anakmu bukan sanderamu

Di umur saya yang sudah sebanyak ini, banyak dari teman – teman saya yang sudah menikah dalam hitungan di atas lima tahun dan mempunyai anak anak yang lucu – lucu dengan tingkah polahnya. Tentu saja bagi saya, yang sampai saat ini belum dipercayakan oleh Yang Maha Kuasa untuk mempunyai anak, tidak jarang dan hampir sering sekali menjadi kecemburuan tersendiri 😀

Tapi dari serangkaian teman – teman yang saya cintai, yang menceritakan hiruk pikuknya berumah tangga, tidak jarang, malah menceritakan tentang kehidupan mereka yang sedang dalam taraf yang tidak baik dengan pasangannya. Pangkal masalah nya? Banyak, dari mulai tidak cinta lagi, mencintai orang lain, adanya banyak perbedaan yang tidak dapat dipersatukan kembali, tidak ada komunikasi, kekerasan dalam rumah tangga dll.

Saya sendiri, tidak ingin memberikan pendapat tentang masalah mereka – mereka ini. Karena menurut saya, yang namanya hubungan – relationship, yang tau apa sebenar nya masalahnya ya cuman mereka yang ada di dalam hubungan itu, bukan saya, bukan orang tua mereka dan orang ketiga lainnya, sehingga sebaiknya semua masalah cukup diselesaikan antar mereka sendiri tanpa melibatkan orang lain. Bukan hanya sebatas diendapkan begitu saja.

Tapi kemudian menjadi keberatan saya ketika anak menjadi ‘sandera’  – dengan mengatas namakan kebahagian anak, mereka tetap berada dalam satu rumah tangga – tanpa ada keinginan untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Mereka tetap bersama dengan hati dan pikiran yang terpisah satu sama lain, mereka tetap mencoba bersama tapi tidak ‘berbagi’. Bahkan kebahagian dan kenyamanan sudah tidak ada sama sekali di sana. Yang ada hanyalah suasana dingin penuh basa basi – yang penting tetap bersama.

Sehingga, maafkan saya yang selalu merasa mual ketika ada orang yang berkata kepada saya bahwa dia mempertahankan rumah tangga nya semata – mata demi anaknya. Demi kebahagian anak – anaknya.

Menurut saya …. itu kata – kata paling memuakkan yang pernah saya dengar.   Bagaimana memberikan sesuatu yang tidak kita punya kepada orang lain? Bagaimana memberikan kebahagian kalau diri kita tidak bahagia, bagaimana memberikan cinta kalau kita sendiri tidak tau apa itu cinta?

Sebagai anak yang mempunyai orang tua yang mempunyai masalah yang sama seperti teman 2x saya – yang  mengatakan kepada semua orang bahwa mereka tetap bersama demi kepentingan anak, saya bisa memastikan sebenarnya saya merasa seperti ‘SANDERA’  bagi ke dua orang tua saya.

Bahagiakah saya?  TIDAK – NO – NEIN

Walaupun mereka bersama, tidak berantem di depan saya, tapi saya bisa merasakan bahwa hati mereka tidak di sana. Saya bisa merasakan betapa hambarnya tawa ibu saya dan senyum ayah saya.  Dan kemudian yang paling menyakitkan saya adalah kata – kata yang tidak sengaja saya dengar, bahwa mereka bertahan demi saya dan saudara – saudara saya!!!! Seolah – olah kami menjadi beban mereka yang memaksa mereka harus tetap bersatu.  Menurut saya justru mereka adalah mahluk – mahluk egois, yang tidak berani tegas, yang lari dari masalah tapi kemudian mengatasnamakan anak sebagai alasan untuk menutupi kelemahan mereka.

Anak – anak mempunyai perasaan yang sensitif, itu sebabnya ada beberapa anak yang menjadi cengeng ketika ibunya atau bapaknya sakit atau sedang mempunyai masalah. Anak- anak bisa merasa keresahan orang tuanya, anak – anak bisa merasakan ketidak bahagian orang tuanya. Dan yang paling menyakitkan bagi anak adalah, apabila mereka yang menjadi alasan, terhalang nya kebahagian orang tuanya.

Kemudian apabila tidak tertahankan, tidak jarang kedua orang tua saling menjelekkan pasangan nya di depan – depan anak – anaknya. Sehingga si anak kemudian bingung, harus membela siapa – ayah atau ibu? Atau harus membenci siapa ayah atau ibu? Harus berbicara kepada siapa tentang masalah mereka – karena setiap kali mereka bertemu dengan ayah atau ibunya –  mereka di hadapkan kepada masalah ayah dan ibunya.

Bukan saya mensarankan perceraian, tidak sama sekali. Tapi saya berharap semestinya sebagai orang tua, harusnya menjadi penjaga buat anak – anak nya, menjadi tameng diurutan pertama untuk menjaga anaknya. Bukan sebaliknya, menjadikan alasan anak sebagai tempat pelarian dari ketidak mampuan mereka menyelesaikan masalah.

Yang kemudian semakin parah setelah mendapatkan alasan itu, keduanya  tidak berusaha untuk menyelesaikan masalahnya. Tidak ada keinginan untuk duduk bersama menyelesaikan masalah, sehingga semakin hari komunikasi yang terjalin juga bisa dikatakan tidak ada. Ini kemudian akan semakin diperparah ketika salah satunya mendapaatkan cinta yang lain – yang tanpa sadar tumbuh karena si pemberi cinta bisa memberikan perhatian yang tidak dia dapat dari pasangannya. Seriously, saya juga tidak dapat mengatakan ini benar atau salah (mungkin kalau 20 tahun lalu, dipertanyakan kepada saya, maka saya pasti akan bisa mengatakan ini 100% salah, tapi seiring dengan umur dan bertambahnya pengalaman, saya sadar bahwa ternyata tidaklah semudah itu).

Anak adalah anak, yang lahir semestinya dengan cinta dan memerlukan cinta dan perhatian dari ibu dan ayahnya. Bukan kemudian dijadikan ‘sandera’ , sebagai alasan penghindar masalah  atau sebagai sandera yang bisa dengan bebasnya dijadikan tong sampah mencaci maki pasangannya yang nota bene nya adalah ayah atau ibu kandung si anak.

Anak tidak butuh keluarga kamuflase – dimana ayah dan ibu lengkap ada di sana, tapi tidak hati nya, dan yang ditawarkan adalah bahagia semu. Anak butuh ayah dan ibu yang selalu ada untuk mereka,  walaupun tidak bersama – sama. Anak butuh melihat ayah dan ibu mereka bisa berdamai satu sama lain dan bisa duduk benar – benar nyaman berdampingan satu sama lain, walaupun cinta yang ada diantara keduanya hanyalah cinta antar sahabat, dan bukan dendam dan kemarahan satu sama lain.

Salam