Ketika inspirasi menjadi meng dan ter di SDN Cigondewah 1, Bandung

SDN Cigondewah 1, Bandung terletak di daerah Bandung Kulon Bandung. Kalau ngetik nama SDN ini di Google, pasti langsung deh keluar hasilnya lengkap dengan map nya ūüôā ¬†Jadi nya untuk saya yang “buta” daerah Bandung, dengan bantuan teman saya Ayu yang menjadi navigator saya selama perjalanan (red: jadi pingin mengucapkan terimakasih banget – banget sama om dan tante keyreeeen yang menemukan Google maps ūüôā ) , tidak sulit menemukan SD ini. Kan enggak lucu ya, kalau di hari H, ada dua inspirator yang “tersesat di Bandung”, karena mencari alamat sekolah. Hahaahahaaa

Sesampai di sekolah jam enam pagi (sekali lagi enam pagi), sudah terlihat aktivitas Sekolah dari mulai penjual gorengan depan sekolah, guru-guru, anak – anak sekolah sampai dengan para relawan kelas Inspirasi, termasuk matahari Bandung yang ikut beraktivitas pagi ini. ¬†Dan tentu yang sedikit menghebohkan dan menyebabkan adanya ‘drama’ adalah kehadiran relawan yang datang ‘last minute’ (sebenarnya sih enggak last banget, masih ada 10 menit an sebelum upacara pagi …. tapi ya, drama kan selalu dibutuhkan untuk menghibur jiwa raga …. termasuk jiwa raga para pemberi inspirasi seperti saya. hahaahahahhaaha).

Dan untungnya, kepiawaian Selvy menjadi MC saat upacara pagi, melupakan drama 10 menit sebelumnya. LOL Apalagi kemudian ditambah dengan adanya senam pinguin yang dipimpin kang Hendra dan navigator cantik saya  Ayu,  bersama seluruh relawan yang pagi itu memakai topi pinguin yang asli lucuuuuuuuuu buanget yang dibuat oleh Adit. Jadilah kelas inspirasi hari ini di SDN Cigondewah, dimulai dengan hati yang cerah, secerah matahari yang hari ini sayang banget sama kami para relawan, terbukti  matahari enggak ngambek sembunyi diganti hujan, atau enggak sombong bersinar dengan panas yang gila Рgila an (#eeeaaaaa).

Kelas yang saya isi kali ini dimulai dengan kelas 4 A, dimana di kelas ini anak – anak nya cukup aktif sehingga ‘mati gaya’ yang jadi nightmare nya saya setiap kali, dikelas inpirasi, tidak terjadi. Informasi tentang mereka diajak menabung oleh gurunya, membuat saya cukup bahagia. Bahkan ada satu anak yang dengan bangganya menunjukkan buku tabungannya yang sudah mencapai 3 juta rupiah, karena selalu menabung dari kelas satu dan tidak pernah diambil (PS : ayooo ngaku, waktu SD siapa yang rajin menabung? ¬†Kalau saya sih ngaku, dulu menabung itu kalau mau beli buku bacaaan hahhaahhaa) ¬†WOW banget kan. Walaupun saya cukup sedih ketika melihat salah satu langit – langit kelas terbuka lebar, karena tripleks nya sudah lepas, yang semetinya sudah harus secepatnya dibetulkan sebelum ada tripleks lain yang lepas yang menimpa anak anak.

Kelas kedua yang saya isi adalah kelas 5B, sama seperti kelas 4 A sebelumnya, keaktifan dan keingin tahuan anak anak yang tinggi, membuat saya tidak mengalami masalah berbagi tentang pekerjaan saya. Dan yang paling mengejutkan saya adalah ketika ada salah satu anak yang bernama Fauzan yang ketika ditanya apa cita citanya, dengan lantang nya berkata “Mau menjadi Pengusaha, ¬†kemudian mau S2” ¬†Bayangkan kelas 5 SD, sudah memikirkan mau kuliah sampai S2 !!!! Apalagi ketika ditanya mau S2 nya dimana, dia berkata mau S2 di UI di Jakarta. Untuk pertama kalinya selama mengikuti beberapa kelas inspirasi, saya mendengar ada anak yang pingin kuliah S2. Karena biasanya mereka hanya menyebutka ingin menjadi apa, dan kebanyakan bahkan tidak tau, harus sekolah di mana kalau pingin meraih cita – citanya.

Selain itu, mungkin ini tidak akan menjadi surprise besar untuk saya, kalau anak ini tidak bersekolah di SD dimana rata Рrata orang tuanya, berpenghasilan minimum dan berada di lingkungan kelas menengah ke bawah. Bahkan ketika ditanyakan apakah pernah ke Jakarta, seperti teman Рteman nya yang lain, Fauzan ini juga tidak pernah ke Jakarta. Dan biasanya sering sekali ketika bercita Рcita jadi pengusaha, malah banyak anak anak yang berpikir tidak perlu sekolah.Iya kan? Saya sendiri, sewaktu SD tidak pernah berpikir mau S2 hahahahhahhaa.  Dan ketika saya tanyakan relawan yang lain, sama seperti saya mereka juga sewaktu SD tidak pernah memikirkan mau kuliah sampai S2 dan mau kuliah dimana.

Kemudian saya mulai berpikir tentang mimpi – mimpi saya, seberapa berani saya bermimpi tinggi? Terakhir kali saya bermimpi, tinggi dan kemudian saya wujudkan itu tiga tahun lalu. Kemudian? Seringnya sih malah untuk bermimpi saja saya takut. Tapi seperti kata kata bijak, enggak pernah ada yang kebetulan di dunia. Pertemuan saya hari ini, dengan anak kelas 5 SD yang berani bermimpi tinggi dan yakin bisa meraih mimpinya, seolah olah menjadi ‘pecut’ untuk saya, agar saya mulai berani bermimpi tinggi, agar saya tidak lagi membuat batasan – batasan akan kemampuan saya, yang mungkin baru saya gunakan 30 % nya (ini kata senior saya, yang bilang kenapa saya menyia – nyiakan, karunia Tuhan dengan hanya menggunakan 30 % dari kemampuan saya . Waktu itu sih saya cuman berpikir,…. iihh sok tau deh nih orang hahahahahaha. Tapi hari ini Tuhan, memaksa saya untuk melihat saya yang menyia – nyiakan anugerahnya ).

 

Kembali ke kelas Inspirasi, kelas VI dan kelas I menjadi kelas terakhir sekaligus menjadi kelas yang penuh tantangan di kelas inspirasi saya kali ini. Di kelas VI, saya kudu menyesuaikan dengan gaya mereka yang sudah mulai memasuki masa pubertas. Dimana, lagu yang mau mereka nyanyikan hanya lagu cinta. Hahahahaaahaha dan “woooosh … wooooossshh” sebagai bentuk apresiasi yang saya ajarkan dianggap kekanak kanakan oleh mereka. Hahahahaahaha. Atau ada yang anak yang berusaha keras untuk mengajak saya berbicara bahasa Inggris, dan saya tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Mungkin karean wajah saya yang kebule bulean ini, jadi dia merasa wajib berbahasa inggris dengan saya. LOL. Terus terang ketika meninggalkan kelas, saya merasa saya sedikit gagal, jadi inspirator (yup … like I wrote before, I am kind of drama queen hahahahhhahaa).

Dan ketika saya menuju ke ruang perpustakaan untuk istirahat, karena ada jeda lumayan lama, tiba tiba segerombolan anak – anak kelas IV B, datang menghampiri saya dan memberikan pelukan untuk saya, rasa gagal itu tiba tiba hilang lenyap begitu saja. Kebayang kan kan terharunya, ada satu kelas anak anak yang saya sendiri enggak mengerti apa yang saya berikan, sampai mereka tiba -tiba memberikan pelukan seperti itu kepada saya. Yang saya tau, anak – anak tidak akan mau memeluk orang yang tidak mereka sayang, mereka tidak bisa berbohong secanggih itu.

Jadilah saya speechless, terharu, semuanya deh. Merasa disayang banget, merasa jadi orang yang paling beruntung sedunia, dan pastinya seluruh cape (terutama, karena menyetir sendiri dari Jakarta ke Bandung dan macet pula karena ada kecelakaan), hilang begitu saja.

Selanjutnya setelah beristirahat terutama juga setelah mendapatkan energi dari pelukan anak anak, ¬†saya mulai memasuki kelas I ¬†… nah, tantangan nya di sini adalah, saya kudu nyanyi terus. Walaupun, cukup senang karena banyakan nyanyi dan tertawa ¬†(dan hanya 3% nya menjelaskan siapa dan apa pekerjaan saya. maapkaannnnnnn ¬†yaaaa) ¬†jadilah suara saya dan tenaga saya habis terkuras. ¬†Favorit mereka adalah ¬†metode ice breaker yang menjelaskan gajah dengan menjentikkan jari, dan menjelaskan semut dengan membuat lingkaran yang besar dengan tangan (bisa dilihat di youtube). ¬†Jadilah ketawa yang enggak habis habis nya kalau mereka atau teman nya terbalik balik melakukannya.

Tidak terasa, kelas inspirasi ini selesai hari ini. Seperti upacara pagi tadi, maka penutupan di siang hari yang cerah secerah hati para inspirator yang bisa melewati kelas inspirasinya setelah semaleman deg – deg an takut ‘mati gaya’ di depan anak anak (bayangin yah … presentasi didepan bos atau yang lain ajah enggak sedeg – deg an ini deh haaahhaahhahaa), ¬†juga dilakukan dengan berkumpul berbaris di lapangan, tapi tentu tanpa senam pingui, tapi dengan lagu terimakasih guruku yang hampir dicoret dari list acara hahahahahahahaa.

Setelahnya kami berfoto bersama dan by surprised disuguhkan makan siang dari sekolah (terimakasih bapak dan ibu guru yang sudah menyiapkan makanan ini buat kami), maka kami makan bersama dan mulailah menceritakan apa yang kami alami masing masing di kelas. Jadilah, makan menjadi ajang sedikit curcol tentang yang dialami dikelas.

Buat saya selalu mengagumkan ketika ada sekumpulan orang yang tidak kenal satu sama lain sebelumnya, yang punya kesibukan di tempat kerja nya masing masing, dan enggak pernah menanyakan latar belakang, agama, suku etc, tapi kemudian mau bergotong royong, mulai dari meeting bareng, membuat koreografer,  memilih jenis senam, run down etc, karena menginginkan supaya pada hari H dapat memberikan yang terbaik untuk anak Рanak. Ini wujud Indonesia yang sebenarnya. Wujud aslinya budaya Bhineka Tunggal Ika.

Enggak salah kan kemudian saya mengucapkan terima kasih kepada teh El yang jadi pendampingnya Kel 42 (enggak nyesel kan jadi pendamping kelompok yang keyren ini? #teteup narsis), Kang Ganjar yang jadi leader kel 42 yang selalu pingin diangkat jadi ponakan saya hahahhaahahah, tim jkt 42 (Selvy, Ayu, Wita, Nisa dan Dita (yang diadopsi jadi tim Jkt 42 walaupun enggak tinggal di jkt), kang Hendra, kang Zaka (yang kemudian ngasih kita masing masing ilustrasi wajah yang cute banget), Dilla dan Aji (pasangan suami istri, yang buat kita semua takjub karena bisa gitu suami istri jadi inspirator di sekolah yang sama – jodoh memang luar biasa yaaaa), teh Jinie, Dito, kang Nur, Hendra Dwi, Nisrina, dan Ukky. You rock guys.

So … yang belum pernah ikut kelas Inspirasi, yuuuuk ikutan. Dijamin bikin ketagihan, bakal punya banyak saudara – saudara baru, bakal punya ¬†pengalaman yang tidak terlupakan.

 

 

 

 

Anak Indonesia, Mimpi dan Inspirasi

Baru- baru ini, saya mengikuti kembali Kelas Inspirasi (KI). Kali ini di Bandung, dan ini berarti kelas Inspirasi ke 6 saya, dan kelas Inspirasi saya pertama untuk tahun ini, setelah hampir satu tahun, saya vakum. Btw :orang – orang seperti saya, yang sering mengikuti KI kemudian dapat julukan “KI Hunter” hahaahahahhaaa.

Dan seperti biasa, setiap kali saya mengikuti KI, sebenarnya bukan saya yang menginspirasi, dan bukan saya yang banyak memberi. Tapi anak – anak di SD tempat saya mengajar, guru – guru yang mengajar anak – anak di sekolah tersebut, panitia yang memberikan tenaga dan waktu mereka berbulan – bulan tanpa dibayar untuk mempersiapkan acara ini serta relawan yang gila gila an memberikan yang terbaik yang mereka punya tanpa dibayar untuk anak anak, itulah yang menginspirasi saya.

Kemudian kalau saya ditanya, kenapa sih mau berkali-kali menjadi relawan seperti ini. Mengapa mau melakukan sesuatu tanpa dibayar, bahkan harus mengeluarkan uang? Jawabannya itu banyak banget, diantaranya adalah :

  1. Anak Рanak mengajarkan saya banyak hal. Dari  interaksi mereka terhadap teman dan lingkungannya, saya diingatkan untuk tidak memendam marah terlalu lama dengan orang lain, untuk tidak perlu banyak khawatir tentang masa depan dan tidak perlu mengingat -ingat masa lalu, dan tidak perlu malu kalau saya salah.
  2. Jawaban jawaban mereka  atas pertanyaan saya atau pertanyaan Рpertanyaan mereka kepada saya, serta obrolan mereka dengan saya, yang serng nya lucu Рlucu, membuat saya melupakan seluruh keletihan saya.
  3. Saya merasa saya banyak berhutang kepada negara saya, dan salah satu cara saya untuk membayarnya dengan membagikan waktu, tenaga dan cinta saya untuk sedikit membantu negara membangun mimpi anak – anak Indonesia. Karena bagaimanapun di tangan merekalah nantinya saya akan menyerahkan masa depan bangsa.
  4. Saya jatuh cinta dengan tawa mereka atau binar binar mata mereka ketika mereka mulai pingin tahu tentang sesuatu atau ketika mereka merasa bahagia. Dan itu menjadi priceless – tidak dapat dibayar dengan apapun, ketika saya yang menjadi alasannya. Seperti sewaktu saya mengikuti KI Bandung, ketika saya hendak berpindah ruangan, tiba tiba serombongan anak dari kelas saya mengajar sebelumnya, tiba-tiba menghampiri saya dan memberikan saya pelukan. Dan itu buat saya priceless banget. Saya merasa disayang banyak orang, saya merasa dicintai.
  5. Saya mempunyai keluarga baru, saya mempunyai teman – teman baru, yang tidak kenal saya sebelumnya, tapi luar biasa mau memberikan saya support, mendengarkan ketakutan – ketakutan saya, membantu saya agar saya bisa sukses memberikan yang terbaik yang saya punya kepada anak-anak. Dan mereka membuat saya percaya, masih banyak orang – orang baik di negeri ini, yang mau memberikan yang terbaik untuk negaranya, dengan sukarela.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi ke lima di atas adalah yang utama.  Dan tentunya alasan yang paling utama adalah, karena saya ingin agar seluruh anak Рanak Indonesia tanpa terkecuali, berani untuk bermimpi. Percaya bahwa apapun mereka sekarang, mereka punya hak untuk menjadi yang terbaik, karena mereka berharga.

Sehingga mudah – mudahan suatu saat, ketika mereka dewasa dan sukses, mereka juga mau melakukan hal yang sama untuk anak anak lain. Aamiin

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier

(Greatest love of All)

From Rote with love – #Rote mengajar

Kalau ditanya apa yang20150409_110912 saya syukuri minggu lalu, jawabannya selain bertemu dengan banyak orang orang luar biasa yang mau meluangkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit dari kantong sendiri, bertemu para pengajar muda dan panitia Rote Mengajar yang luar biasa gila idenya,  punya keluarga baru yang mau menerima saya selama di Rote yang terutama adalah  bertemu dengan anak anak SD Ufalen РRote Tengah.

SD Inpres Ufalen berada di Desa Siomeda Rote Tengah. Mempunyai 139 siswa dari kelas 1 sd kelas 6 SD. Menurut keterangan ibu kepala sekolah РSD Ufalen ini termasuk SD yang berperingkat baik di Rote Tengah dengan tingkat kelulusan SD yang cukup tinggi. SD  Ufalen ini terletak agak jauh dari jalan raya, mempunyai halaman yang cukup luas. Setiap anak setiap paginya membawa jerigen air yang berisi air untuk toilet dan untuk di siram di tanaman. Sejujurnya saya kagum dengan anak anak yang harus berjalan beberapa km dari rumah ke sekolah di bawah sinar matahari Rote yang begitu  terik. Tetapi mereka tetap bersemangat untuk sekolah. Saya membayangkan, bagaimana kalau saya harus melakukan itu? Pasti lah saya akan cemberut, complain, marah marah, dan sebagainya. Tidak seperti anak anak ini yang tetap ceria bercanda. Have what they have. Untuk hal ini saya belajar dari mereka.

Pagi pagi ketika saya bertemu mereka di pintu gerbang sekolah, mereka yang sedang bercanda sesamanya, tiba tiba menghadap saya dan serempak berkata : “Selamat pagi Ibu” ¬†ūüėÄ ¬†So sweet kan? Ternyata begitu juga di kelas ketika saya masuk ke kelas mereka akan berdiri dan menyapa seperti itu dan ketika saya selesai mengajar – mereka kembali berdiri dan berkata “Selamat jalan Ibu, Terimakasih” ¬†ūüėÄ ¬†Ayo ngaku siapa yang enggak luluh hatinya mendengar sapaan tulus anak anak ini. Terutama untuk anak anak di kelas yang kecil kelas 1 SD dan 2 SD. ¬†Priceless banget …. tidak bisa dibayar apapun.

Saya masuk pertama kali di kelas 1 SD. Kebayang kan? Saya hanya berdoa agar saya tidak mati gaya di depan mereka. Dan yesssssss…… mereka cukup manies ….. apalagi mereka bersemangat sekali setiap kali di ajak menyanyi. ¬†Yang paling parah sih …. saya sempat lupa dengan lagu yang sudah saya hafal sebelumnya …. untung nya pikiran saya mau diajak bekerjasama …. dan jadilah bait lagu yang terlupa itu saya ganti kata katanya – Ikan buntal jadi ikan bawal, ubur ubur jadi lumba lumba, banana jadi pisang pisang hahahahhahaahhaha (maafkan kak Maria – lagunya saya ganti). Tapi mereka bersemangat sekali. Mengikuti gaya saya bernyanyi … kapan lagi ya … suara saya dikagumi begitu hahahahahaha. Yang bikin hati saya melambung …. sewaktu saya keluar kelas dan wali kelasnya masuk ke kelas bertanya kemereka apakah mereka senang di ajarkan oleh saya ….. mereka semua menjawab serempak ¬†….. senaaaaanggggg. Seriously …. air mata saya hampir menetes saking senangnya. ¬†Uhhh… ¬†saya jatuh cinta kepada mereka.

Saya juga mengalami hal yang luar biasa di kelas kelas lain, mereka aktif menjawab pertanyaan pertanyaan saya. Tidak malu malu, tidak diam saja (terus terang ini yang menakutkan – kalau tidak ada yang aktif – bisa mati gaya saya hahhahhahaaaha …. thanks God enggak terjadi sama sekali selama saya mengajar di sana).

Ketika saya tanyakan apa cita cita nya …. ternyata tidak seperti pembicaraan ¬†sebelumnya yang memberitahu saya bahwa rata rata anak anak cuman ingin menjadi guru atau polisi, cita cita mereka lumayan variatif – ada yang ingin menjadi dokter (mereka tertawa geli ketika saya tanya siapa yang takut disuntik …… dan mereka tunjuk tangan termasuk saya hahahhahahhaa), ada yang ingin menjadi pemain bola, ada yang ingin menjadi nakhoda, ingin menjadi pilot dan ada yang ingin menjadi chef (Chef Juna benar benar merebut hati mereka sepertinya…. sama seperti saya juga hahahhahaha #salah fokus LOL), dan ¬†ternyata dari seluruh siswa di SD Ufalen, ada 2 orang yang ingin menjadi PRESIDEN ….. Yeaayyyyyyyyyy

Yang paling lucu ketika saya bertanya dimana mereka harus sekolah kalau mereka ingin menjadi seperti yang mereka inginkan . Kalau mau menjadi Chef harus sekolah dimana? Dan jawaban mereka ………….. DI DAPUR hahahahhahahaha. Atau kalau mau jadi Pilot harus sekolah dimana? Dan jawaban mereka …… sekolah KEPILOTAN:D ¬†Atau kalau mau jadi perancang model rumah (arsitek) – sekolah dimana? Jawaban mereka ¬†…… sekolah pembangunan atau sekolah perumahan ¬†hahahahahahaaha . ¬†Kemudian yang membuat mereka terkejut ketika saya memberitahukan ada sekolah pertanian …. karena mereka berpikir menjadi petani berarti tidak perlu sekolah. Ayoooo anak anak …. siapa bilang petani tidak perlu sekolah? ūüėÄ

Dan teristimewa dari anak anak ini, mereka belum bergantung dengan gadget yang biasanya dibawa bawa anak anak di kota kota besar. Dimana di sini kita akan melihat anak anak yang sibuk dengan dirinya sendiri bermain game di gadgetnya – menjadi anti sosial. Tidak bergaul dengan anak anak lain, tidak kreatif menggunakan apa yang ada di dekatnya untuk dijadikan permainan. Dan bahkan sering sekali tidak perduli dengan lingkungan sekelilingnya kalau sudah memegang gadgetnya ūüė¶

Anak anak ini dengan bebasnya bermain main bersama anak anak yang lain. Hal itu terlihat jelas betapa gembiranya mereka membuat lingkaran bermain tanpa ada perintah dari guru gurunya, ketika jam 3 sore setelah pulang sekolah kami bersama sama bermain ke pantai. Hal ini hampir jarang saya lihat di Jakarta – karena biasanya pasti banyak yang sibuk sendiri dengan gadgetnya. Mungkin hal ini yang harus dipelajari oleh kita yang tinggal di perkotaan agar tidak membiarkan anak anak sibuk dengan gadgetnya. Sehingga mereka bisa bersosialisasi dengan sesama nya dan bisa belajar tentang tepa selira – bertoleransi – hal yang sulit didapatkan di kota kota besar karena anak anak ini kebanyakan menjadi anti sosial karena sibuk dengan gadget nya sendiri. Sekali lagi mereka menginspirasi saya untuk kelak tidak membiarkan anak anak saya sibuk dengan gadget nya. Sehingga bisa belajar bagaimana berbicara, mendengarkan orang lain, bersosialisasi dan menghormati keberadaan orang lain.

Jadi enggak salah kan kalau saya kemudian jatuh cinta dengan anak anak ini?

Salam

Btw: Spesial Note

Thanks to pengajar pengajar muda di Rote dan seluruh panitia yang menggagas kegiatan ini. Thanks to guru guru terutama guru guru SD Ufalen tempat saya mengajar yang tidak kenal lelah dan luar biasa mendidik anak anak yang kelak jadi generasi penerus bangsa, thanks buat hostfam saya yang sudah mau menerima saya selama di Rote dan thanks to teman teman relawan yang saling support mulai dari persiapan, keberangkatan, hari H dan sampai kepulangan ( You rock guys ūüėÄ ).

Ayo Bangun Mimpi Anak Indonesia – Ayo ikut kelas Inspirasi

DSC06716  Hari Selasa tanggal 9 September ,  untuk ke tiga kalinya saya kembali mengisi kelas inspirasi di SDN Bantar Kemang 1, Bogor.

Iya ke tiga kalinya dalam satu tahun ini setelah sebelumnya Bandung dan Jakarta. Teman teman yang saya ceritakan bahwa saya sudah 3 kali mengisi kelas inspirasi kebanyakkan bertanya, apa sih yang membuat saya begitu “addictnya” melakukan kegiatan ini. Enggak dibayar (malah¬† biasanya mengeluarkan biaya sendiri), harus ijin dari kantor, kudu pake persiapan. Dan disekolah kemudian harus berjibaku mengajarkan mereka tentang profesi saya dalam bahasa anak anak yang sederhana, yang kudu lucu (biar enggak bosan), serta jangan lupa kudu belajar nyanyian nyanyian dengan gaya yang selucu lucunya untuk mereka hahahahaahhaahaha.

Atau malah kejadian di kelas 2 kemaren, saya di bully dengan sukses hahahaahhaahaha. Begitu saya berikan gambar gambar uang dari negara negara lain…. satu per satu mulai deh maju ke kelas, saling sikut satu sama lain, atau malah tidur tiduran dan ada yang saling memukul hahahhaahhaaa. Foto di atas adalah foto anak anak kelas 2 itu, bersama saya dan gurunya yang luaaaarrrrrr biasa sabar (enggak kebayang setiap hari dari Senin – Sabtu dari pagi sampai siang saya harus menghadapi mereka), yang butuh kira kira hampir 15 menitan untuk mengatur mereka agar bisa bergaya begitu. hahahahahahaha.¬† Dan anehnya dari seluruh foto, foto ini adalah foto favorit saya. Dan bintang bintang yang mereka kalung kan itu adalah bintang bintang buatan saya, yang saya kerjakan selama 3 hari an¬† . Duuuhh bangganya saya ketika mereka meletakkan bintang yg saya berikan di kantung yg tadinya untuk nama mereka.

Ok kembali ke alasan mengapa saya senang mengikuti kelas inspirasi. Karena menurut saya itu yang paling murah yang bisa saya berikan kepada anak anak Indonesia. Anak anak yang nanti nya akan memimpin bangsa ini. Anak anak yang kepadanya lah saya menyerahkan kemudi negara saya yang tercinta. Mau dibawa ke mana negara ini nantinya, mereka lah yang nantinya akan menentukannya.

Mengajar anak anak ini bukan hanya kewajiban para guru. Tapi juga kewajiban kita semua. Kalau hanya diperlukan satu hari mengajak anak anak untuk “terbang tinggi” mengejar mimpi mereka dengan segala keterbatasan yang mereka punya, kalau hanya diperlukan satu hari mengajak anak anak itu untuk berani untuk bermimpi tanpa harus takut dengan bayang bayang keluarga mereka yang kurang beruntung, mengapa saya tidak mau melakukannya? Hanya satu hari, dan itu bisa merubah masa depan mereka. Dan anehnya setiap kali saya mengajar di kelas inspirasi ini, saya sendiri jadi semakin terinspirasi untuk tidak menyerah dengan mimpi mimpi saya, untuk berani bermimpi lebih tinggi lagi.

Banyak yang bilang ke saya” apa lo yakin dalam satu hari bisa melakukannya” . Jawaban saya, saya enggak tau masa depan, saya bukan tukang ramal, tapi satu yang saya yakin – kalau niat saya baik, Gusti Allah mboten turu – Tuhan enggak mungkin tidur. Dan mencoba toh lebih baik daripada saya hanya diam diam saja. Kalau mencoba akan ada hasilnya (gagal atau berhasil – tapi tidak mungkin jadi lebih jelek dari sebelum mencoba) , dan tidak mencoba sama sekali tidak akan menghasilkan apa apa.

Tidak diperlukan orang orang yang luar biasa hebat yang bisa menginspirasi mereka, tidak diperlukan orang orang yang luar biasa terkenal. Tapi diperlukan orang orang yang mau meluangkan waktu, perduli dan cinta bangsa ini.

Jadi … yukkkkk ikut kelas inspirasi¬† (www.kelasinspirasi.org)

Yuk bangun mimpi anak Indonesia

“Menyumbang uang itu Baik, memberikan buku itu Bermanfaat, membangun fasilitas pendidikan itu Mulia, tapi sesungguhnya IURAN TERBESAR dan TERPENTING dalam pendidikan adalah KEHADIRAN” – Anies Baswedan

Salam inspirasi

 

Kelas Inspirasi – Dan saya jatuh cinta dengan senyum mereka #KelasInspirasiBandung

I believe the children are our futureRMH 45
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children’s laughter remind us how we used to be¬†

(The Greatest Love of All) 

H-2, kelas inspirasi, perasaan saya mix antara  deg Рdeg an, takut, penasaran, khawatir.  Saya  takut, masih ada yang kurang dari persiapan, dan  memang ternyata saya belum mencari apresiasi yang akan saya berikan kepada anak anak murid saya. Jadi lah sepulang kerja, saya menyempatkan diri untuk membeli pita yang sering di lekatkkan di kertas kado, atau di baju untuk panitia acara acara, karena memang kami tidak diperboleh kan untuk memberikan sesuatu yang mahal. Disarankan kalau ingin memberikan apresiasi maka barang yang diberikan adalah kerajinan tangan seperti bintang dari origami atau pita tadi.

Dan kebahagiaan saya kemudian bertambah karena saya akhirnya menemukan buku tentang profesi profesi yang diceritakan dalam bahasa yang mudah di mengerti oleh anak anak ūüėÄ

H-1, yup kepanikkan saya semakin bertambah, apalagi kemudian diberitahu kalau jadwal saya mengajar ada di 4 kelas yaitu kelas 3, kelas 4 kelas 2 dan kelas 6 . Padahal pita yang saya beli hanya cukup untuk 2 kelas, dan di toko buku sekitar hotel tempat saya menginap tidak menyediakan pita seperti itu … maka jadilah saya berjibaku ¬†membuat burung burung dari origami, lengkap dengan tali nya ūüėÄ ¬†Ternyata memang, origami yang sering saya buat di kantor kalau saya lagi berpikir, ada gunanya juga. Dan yes … sampai jam 1 pagi itu origami baru selesai untuk satu kelas. Deuuuhh …. tapi karena mata, sudah mengantuk, dan saya harus bangun pagi …. kami harus berkumpul jam 7 pagi di SDN Pelita Jasa … jadi lah saya tertidur dengan sukses nya.

H Рday :  jam 6.50 saya sampai di SDN Pelita Jasa, dengan diantar oleh supir taksi yang untungnya mengetahui tepat di mana Pasar Jatayu Рkarena saya memang buta sekali daerah Bandung, walaupun menurut peta dekat sekali dengan hotel dimana saya menginap.  Dan berita bahwa kelas di tunda menjadi jam 8.00 membuat saya senang, karena bisa menyelesaikan PR saya membuat origami origami itu hahahhahahahhaaa.

Jam 8.00 : kelas IV – Hai … halo … anak soleh ….. itu adalah yel yel yang saya ucapkan pertama kali masuk. Wajah wajah ingin tahu terpancar jelas di mata mereka ketika saya menjelaskan siapa saya dan saya meminta mereka menuliskan nama mereka di kertas Tom and Jerry , yg ditempelkan di dada mereka. ¬†Dan mulailah saya menjelaskan tentang pekerjaan saya – okeh ¬†… jadi akuntan itu hampir sama dengan bendahara – mengeluarkan uang dan menerima uang, hampir sama dengan polisi – mengawasi apakah uang nya dipakai dengan benar, dan iya akuntan itu harus sekolah tinggi. Harus bisa matematika ūüėÄ

Sekarang pertanyaan cita cita – mulailah saling berebut – ada yang pingin menjadi chef – seperti chef Juna yang ganteng itu , dan sekarang dia sudah bisa masak nasi goreng dan mau banget masak nasi goreng buat saya hahaahhahhahahaa. Dan tentunya diakhiri dengan menyanyikan lagu dangdut apa ya judulnya ? Suaranya … ya luar biasa deh.

Yang paling seru tentunya ketika anak yang bernama Erpan, bertubuh kecil, hitam dan kurus dengan bangganya menyatakan ingin menjadi PRESIDEN RI . Yeaaaayyyy ….. ¬†jarang jarang loh ada anak yang seberani ini. Ketika saya tanya alasannya … katanya Erpan, dia ingin mengatur negara hahahahahahahhaa. ¬†Dan tentu saja sebagai calon Presiden, Erpan berani dong nyanyi juga di depan kelas ūüėÄ

Kelas 2 SD : ¬†nah ini nih, tantangan terbesar, karena ketika saya masuk, ibu guru nya sedang kewalahan mengatur anak anak yang tidak mau diam. Duuuhhhh …. ¬†saya benar benar panik, tapi ehm … mulailah saya bernyanyi hahahahahhahaha. Balonku ¬†…. dan yup … taktik saya berhasil dan mereka mau duduk . And next … saya menanyakan cita cita mereka … tapi harus nyanyi setelahnya. Maka mulailah …. siapa yang ingin jadi pramugari …. dan majulah seluruh anak anak perempuan berebutan … dan anak laki laki mulai duduk di meja. Deuuuuhhhh….. jadilah saya sambil ikut bernyanyi sambil duduk ditengah tengah mereka.

Kemudian siapa yang mau jadi guru … jadi pilot, jadi dokter … dan jadilah mereka maju ke depan kelas berkali kali hahahhahahaa. Dengan satu tujuan … ingin menyanyi di depan kelas. ¬†Ok .. .. akhirnya saya rubah … taktik kali ini setiap baris ¬†nyanyi bergantian dan saya berikan burung origami ….. tapi kalau ada yang ribut tidak saya berikan. ¬†Dan terselamatkan lah saya … semua duduk manis, menanti nanti burung origami yang saya berikan.

Dan memandang dengan kagum, setiap kali saya berikan kepada mereka, terutama apabila mereka bisa menjawab pertanyaan saya. Sampai akhirnya ketika mereka harus pulang jam 10.00, mereka tidak mau pulang dan meminta saya, mengajar mereka sampai jam 12 nanti hahahahhaha.

And the last : Kelas V – kelas yang sudah lebih tenang dari kelas kelas saya sebelumnya. Di sini ada anak yang bernama Jejen yang jago melukis, juara kelas dan sudah beberapakali mendapatkan penghargaan. ¬†Dan ketika saya tanya apa cita citanya – Jejen, bilang ingin menjadi pelukis karena ingin membawa harum nama bangsa. Duh …. keren banget sih Jejen ūüėÄ

Kemudian karena sudah lebih dewasa, tentu saja, mereka lebih mudah diberikan games games berupa pertanyaan seperti Рsejarah (ini nih favorit mereka) Рsiapa pendiri kerajaan mojopahit, kerajaan Islam pertama dimana? Dll (untungnya saya masih ingat banyak tentang pelajaran sejarah dan tentu matematika.   Yang paling lucu ketika mereka tidak tau bahwa sudah ada manusia yang mendarat di bulan.  hahahhahahahaaha.

Atau ketika saya ajak untuk mengetahui tentang negara negara di dunia ini. Kebanyakkan ingin pergi ke Arab/ Mekah karena ingin pergi haji dan kemudian pingin pergi ke Korea dan India …. tentu saja karena film ūüėÄ Tapi untuk film India … mungkin karena mereka menonton film orang tuanya. LOL

Dan yahhhh jam 12.00 tiba …. saya harus mengakhiri kelas saya …. dan karena mereka masih mau bermain games, maka jadilah kelas saya baru selesai jam 12.30, ditunggu oleh kelas III, IV, dan VI yang sedang menempelkan cita citanya di stylofoarm yang ada.

Dan akhirnya saya pun harus mengakhiri Kelas inspirasi, dan sungguh terasa berat ketika harus mengucapkan “selamat tinggal”. ¬†Tawa, celetukkan, jawaban dan pertanyaan yang lugu dari ¬†mereka semua benar benar telah membuat saya jatuh cinta. ¬†Mata mata yang berbinar setiap kali saya berikan pujian, atau setiap kali saya ikut bernyanyi, telah mencuri hati saya. Dan anehnya saya tidak merasa kan letih sama sekali, padahal suda lebih dari dua hari saya kurang tidur.

Anak anak ini hampir semuanya berasal dari keluarga yang ekonomi nya rendah. Pekerjaan orang tua nya kebanyakkan tukang loak atau buruh dan banyak dari mereka mempunyai keluarga yang broken home.  Tapi mereka tetap bersemangat untuk tetap belajar dan bahkan sudah punya cita cita ingin menjadi apa mereka nantinya.  Mereka semua sopan kepada orang yang lebih tua, tidak ada joke joke Рbahkan  ketakutan saya akan menjadi bahan ledekkan karena kecadelan saya, ternyata tidak terbukti sama sekali. Mata mereka yang berbinar binar ketika saya bertanya, atau ketika saya duduk disebelah mereka, atau ketika saya tersenyum, memberikan warna tersendiri di hati saya.

Banyak dari mereka yang bahkan tidak pernah pergi berjalan jalan ke luar dari Bandung, atau betapa sedih dan terharunya saya ketika mereka begitu kagum terhadap pita dan origami yang saya berikan kepada mereka, padahal keponakkan keponakkan saya sudah mengetahui barang barang yang seperti itu sejak mereka umur 4 – 5 tahun.

Saya kemudian mengerti mengapa guru guru mereka takut mereka tidak menyelesaikan sekolah mereka setinggi tingginya. Perasaan yang sama juga saya rasakan sekarang ini. Saya juga ingin mereka mampu meraih cita citanya, saya ingin pengalaman yang saya berikan kepada mereka, membuat mereka yakin mereka bisa juga meraih lebih dari pada yang bisa saya raih. Saya ingin, ketika mereka suatu saat dihadapkan pada pilihan harus berhenti bersekolah Рada orang orang yang terketuk hatinya, yang ingin membantu mereka mewujudkan cita citanya, atau kalau tidak, mudah mudahan saat itu, saya di karunia rejeki yang luar biasa yang bisa membantu mereka  (Aamiin)

 

Tentang Dedikasi Guru Honorer – #KelasInspirasiBandung

Saya termasuk salah satu orang yang beruntung, yang terpilih ikut dalam kegiatan kelas Inspirasi nya Indonesia mengajar di Bandung bulan Februari ini. Menurut saya, justru saya banyak mendapatkan inspirasi selama kegiatan ini berlangsung dan bukan sebaliknya. Saking banyaknya yang ingin saya tuliskan, jadilah saya membagi tulisan ini atas beberapa tulisan dengan hashtag #KelasInspirasiBandung

SDN Pelita Jasa Bandung terletak di Jalan Komud Supadyo (Pasar besi Jatayu)  Gg Hanura, Bandung. mempunyai 6(enam) kelas dari kelas 1 SD Р6 SD. Gedung sekolah nya dipergunakan oleh 2 sekolah, sehingga secara bergantian SDN Pelita Jasa dan satu SD yang lain (sayang saya lupa namanya), mempergunakan gedung ini. Misalnya minggu I dan III : SDN Pelita Jasa Рmenggunakan nya pagi hari, sedang minggu II dan IV : SDN Pelita Jasa Рmenggunakan gedungnya pada siang hari (mulai jam 13.00 WIB).

Kantor guru hanya satu dan dipergunakan beramai ramai oleh kepala sekolah dan guru guru di sana, bahkan oleh kami Рpara inspirator, fotografer dan videografer untuk meletakkan tas dan juga tempat diskusi kecil sebelum mulai mengajar.  Kamar mandi (toilet) hanya satu di lantai dua, bersih, karena memang baru direnovasi.

Sekarang tentang guru :

Pagi pagi sekitar jam 7 kurang beberapa menit, ketika saya sampai di sekolah, sudah hadir ibu guru dan guru guru yang dengan manis nya menggenakan kebaya dan sarung. Melihat itu saya sedikit agak ke GR – an, mengira kalau mereka mempergunakan baju tersebut karena kehadiran kami ¬†hahahahhahhahahhaa. Untung saya masih ingat untuk menayakan mengapa mereka menggunakan kebaya, begitu juga dengan anak anak sekolah pada hari itu – yang perempuan menggenakan kebaya putih dan sarung batik, yang pria menggunakan baju laki laki sunda (kalau enggak tau … mungkin ingat film Kabayan, nah pakaian itu yang dipakai lengkap dengan ikat kepalanya). ¬†Kata bu Noneng, hal ini merupakan keputusan dari Pemda, untuk meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air.

Guru yang berstatus PNS hanya satu orang yaitu ibu kepala Sekolah (ibu Noneng), sedangkan seluruh guru lain masih berstatus guru honorer . Ketika menjelaskan status kepegawaian stafnya, ibu Noneng menambahkan, beliau ingin sekali staf nya ini semuanya di angkat jadi PNS, karena menurut beliau, guru guru tersebut walaupun honorer dan tidak tahu kapan akan diangkat menjadi PNS, tapi dedikasi mereka kepada sekolah Pelita Jasa sangat tinggi.  Ini bisa dibuktikan bahwa walaupun beberapa dari mereka tinggalnya jauh dari sekolah, tapi tetap hadir tepat waktu dan tidak pernah terlambat. Seperti yang terlihat pada pagi ini.

Saya sendiri cukup terkesan melihat bagaimana mereka bersemangatnya mereka pagi itu, dan bagaimana kedekatan ¬†mereka dengan murid muridnya. Tidak terlihat murid murid disana ketakutan, bahkan banyak dari mereka yang dengan percaya diri mengeluarkan celetukan celetukan ringan – sewaktu Haried Prakarsa (salah satu inspirator ¬†yang berprofesi sebagai Penyiar di Radio 99.9 FM Bandung – yang kami daulat untuk menjadi MC pembuka dan Penutup ūüôā yah enggak heran kan pembukaan kelas inspirasi ¬†di sini ¬†begitu “cetar membahana ” ¬†sehingga banyak¬†¬†warga sekitar SDN Pelita Jasa datang menyaksikan kehadiran kami semua ¬†– yang juga kemudian ikut menjadi ¬†“cetar membahana dan keren sekeren nya” hahahahhahaha ¬†) melakukan keisengan terhadap murid murid ini.

Menurut pandangan saya, kalau lah tidak ada kedekatan dan dorongan untuk percaya diri dari guru gurunya, atau kalau lah guru Рguru ini galak tentulah Рmurid muridnya tidak berani melakukan apa apa. Hanya diam dan berdiri manis.  Hal ini juga terasa sekali sewaktu saya mengajar di kelas Рbagaimana mereka berani menyatakan apa yang mereka pikirkan.  Dan iseng iseng kemudian saya sempat bertanya secara terpisah kepada masing masing guru  tentang  apa yang paling mereka harapkan saat ini (walaupun dalam hati saya mengatakan, guru guru ini pastilah mengatakan mereka ingin secepatnya diangkat jadi PNS).

Dan ternyata … asumsi saya salah!!!! ¬†Jawaban mereka hampir sama semua – yaitu intinya mereka mengharapkan agar anak anak didik mereka – dapat tetap melanjutkan sekolah nya ¬†setinggi setingginya. Karena kebanyakkan dari mereka mereka ini karena perekonomian keluarga yang rendah (rata rata bekerja sebagai buruh) dan juga berasal dari keluarga yang “broken home” maka seringkali ketika sudah tamat SD mereka akan serius mencari uang ataupun menjadi tulang punggung keluarga – terutama apabila ayah mereka pindah rumah karena ¬†bercerai dengan ibunya.

Karena itu kemudian timbullah rasa ingin tahu yang luaaarrrrrrrr biasaa dari saya, tentang honor guru guru ini, karena ya seperti diketahui umum, ¬†gaji honorer pns itu sangat kecil sekali bahkan di bawah UMR. ¬†Untungnya sebelum saya terlihat begitu”kepo” (red: ingin tahu), salah satu teman inspirator memberitahukan bahwa¬†guru guru ini berhonor Rp 450.000/bulan dan apabila sudah mempunyai sertifikat mengajar maka berhonor Rp 1.500.000/bulan, yang dibayarkan 3 (bulan) sekali (NB: maafkan kalau data ini salah, karena memang langsung saya ambil dari guru guru yang bersangkutan ), tanpa perlu konfirmasi karena saya menganggap tidak ada salah pengertian terhadap pertanyaan saya. Sekali lagi mohon maaf kalau salah).

Guubbraakkkkk …. Rp 450.000/bulan ???? atau Rp 1.500.000/ bulan??? ¬†Bahkan buruh buruh di Jakarta saja, yang bergaji sekitar dua juta rupiah sudah berdemo meminta kenaikkan upah menjadi Rp 3 .000.000/ bullan !!!!!!

Dedikasi guru Рguru ini  terhadap profesi nya  terhadap negara Рyang saya pikir membuat mereka tetap bersemangat mengajar, tetap menempatkan anak anak didiknya sebagai prioritas utama nya.  Tanggung jawab mereka terhadap bangsa ini Рdalam hal mendidik generasi penerus bangsa Рjadi cambuk sehingga mereka tetap mau terus memberikan yang terbaik untuk murid muridnya.

Ditengah tengah berita betapa boboroknya pemimpin negara ini, ditengah berita tentang kasus suap, korupsi dan lain lain yang seringkali mematahkan harapan untuk Indonesia yang lebih baik –¬†dedikasi guru guru honorer ini membawa angin segar yang mengobarkan semangat saya kembali, sekaligus membuat saya tersadar – betapa tidak bersyukurnya saya sebagai manusia, dan betapa memalukan nya saya karena seringkali merasa saya terlalu dibebani dengan masalah masalah orang lain, atau seringkali merasa cemburu melihat orang orang yang saya anggap lebih dari diri saya. ¬†Bayangkan dengan guru guru honorer ini. Bahkan ketika diberikan kesempatan untuk mengeluh – mereka tidak menggunakkannya – mereka ¬†malah mengharapkan sesuatu untuk orang lain dan bukan untuk diri sendiri. Hari ini apa yang mereka lakukan benar benar menginspirasi saya, yang “lebih beruntung” setidaknya dari sisi gaji, untuk juga mau melakukan sesuatu demi negara ini, setidaknya dimulai dari lingkungan saya.¬†

Dan julukkan¬†“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”¬†memang selayaknya saya sematkan di dada mereka. Karena saya tau – tidak ada nilai yang cukup yang bisa dijadikan sebagai alat pembayaran dedikasi dan loyalitas mereka kepada negara ini. Tanpa keluhan, tanpa amarah dengan ikhlas dan sabar.

Saya teringat lagu indah – yang pada saat saya mengajar di kelas 2, menjadi lagu yang dinyanyikan oleh sekitar 70% murid murid yang maju ke depan kelas :

“Guruku tersayang, guru tercinta, tanpamu apa jadinya aku ….

tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal, guruku terima kasihku

Nyatanya diriku kadang  buatmu marah 

Namun semua maaf kau berikan.

Guruku tersayang, guru tercinta, tanpamu apa jadinya aku ….. “

Untuk guru guru SDN Pelita Jasa  (dan juga seluruh guru guru terutama yang guru guru honorer) Рterimakasih setinggi tingginya dari lubuk hati saya yang terdalam atas dedikasi anda kepada negara. Hari ini sebenarnya saya yang belajar di kelas inspirasi anda

Salam