Ketika inspirasi menjadi meng dan ter di SDN Cigondewah 1, Bandung

SDN Cigondewah 1, Bandung terletak di daerah Bandung Kulon Bandung. Kalau ngetik nama SDN ini di Google, pasti langsung deh keluar hasilnya lengkap dengan map nya ūüôā ¬†Jadi nya untuk saya yang “buta” daerah Bandung, dengan bantuan teman saya Ayu yang menjadi navigator saya selama perjalanan (red: jadi pingin mengucapkan terimakasih banget – banget sama om dan tante keyreeeen yang menemukan Google maps ūüôā ) , tidak sulit menemukan SD ini. Kan enggak lucu ya, kalau di hari H, ada dua inspirator yang “tersesat di Bandung”, karena mencari alamat sekolah. Hahaahahaaa

Sesampai di sekolah jam enam pagi (sekali lagi enam pagi), sudah terlihat aktivitas Sekolah dari mulai penjual gorengan depan sekolah, guru-guru, anak – anak sekolah sampai dengan para relawan kelas Inspirasi, termasuk matahari Bandung yang ikut beraktivitas pagi ini. ¬†Dan tentu yang sedikit menghebohkan dan menyebabkan adanya ‘drama’ adalah kehadiran relawan yang datang ‘last minute’ (sebenarnya sih enggak last banget, masih ada 10 menit an sebelum upacara pagi …. tapi ya, drama kan selalu dibutuhkan untuk menghibur jiwa raga …. termasuk jiwa raga para pemberi inspirasi seperti saya. hahaahahahhaaha).

Dan untungnya, kepiawaian Selvy menjadi MC saat upacara pagi, melupakan drama 10 menit sebelumnya. LOL Apalagi kemudian ditambah dengan adanya senam pinguin yang dipimpin kang Hendra dan navigator cantik saya  Ayu,  bersama seluruh relawan yang pagi itu memakai topi pinguin yang asli lucuuuuuuuuu buanget yang dibuat oleh Adit. Jadilah kelas inspirasi hari ini di SDN Cigondewah, dimulai dengan hati yang cerah, secerah matahari yang hari ini sayang banget sama kami para relawan, terbukti  matahari enggak ngambek sembunyi diganti hujan, atau enggak sombong bersinar dengan panas yang gila Рgila an (#eeeaaaaa).

Kelas yang saya isi kali ini dimulai dengan kelas 4 A, dimana di kelas ini anak – anak nya cukup aktif sehingga ‘mati gaya’ yang jadi nightmare nya saya setiap kali, dikelas inpirasi, tidak terjadi. Informasi tentang mereka diajak menabung oleh gurunya, membuat saya cukup bahagia. Bahkan ada satu anak yang dengan bangganya menunjukkan buku tabungannya yang sudah mencapai 3 juta rupiah, karena selalu menabung dari kelas satu dan tidak pernah diambil (PS : ayooo ngaku, waktu SD siapa yang rajin menabung? ¬†Kalau saya sih ngaku, dulu menabung itu kalau mau beli buku bacaaan hahhaahhaa) ¬†WOW banget kan. Walaupun saya cukup sedih ketika melihat salah satu langit – langit kelas terbuka lebar, karena tripleks nya sudah lepas, yang semetinya sudah harus secepatnya dibetulkan sebelum ada tripleks lain yang lepas yang menimpa anak anak.

Kelas kedua yang saya isi adalah kelas 5B, sama seperti kelas 4 A sebelumnya, keaktifan dan keingin tahuan anak anak yang tinggi, membuat saya tidak mengalami masalah berbagi tentang pekerjaan saya. Dan yang paling mengejutkan saya adalah ketika ada salah satu anak yang bernama Fauzan yang ketika ditanya apa cita citanya, dengan lantang nya berkata “Mau menjadi Pengusaha, ¬†kemudian mau S2” ¬†Bayangkan kelas 5 SD, sudah memikirkan mau kuliah sampai S2 !!!! Apalagi ketika ditanya mau S2 nya dimana, dia berkata mau S2 di UI di Jakarta. Untuk pertama kalinya selama mengikuti beberapa kelas inspirasi, saya mendengar ada anak yang pingin kuliah S2. Karena biasanya mereka hanya menyebutka ingin menjadi apa, dan kebanyakan bahkan tidak tau, harus sekolah di mana kalau pingin meraih cita – citanya.

Selain itu, mungkin ini tidak akan menjadi surprise besar untuk saya, kalau anak ini tidak bersekolah di SD dimana rata Рrata orang tuanya, berpenghasilan minimum dan berada di lingkungan kelas menengah ke bawah. Bahkan ketika ditanyakan apakah pernah ke Jakarta, seperti teman Рteman nya yang lain, Fauzan ini juga tidak pernah ke Jakarta. Dan biasanya sering sekali ketika bercita Рcita jadi pengusaha, malah banyak anak anak yang berpikir tidak perlu sekolah.Iya kan? Saya sendiri, sewaktu SD tidak pernah berpikir mau S2 hahahahhahhaa.  Dan ketika saya tanyakan relawan yang lain, sama seperti saya mereka juga sewaktu SD tidak pernah memikirkan mau kuliah sampai S2 dan mau kuliah dimana.

Kemudian saya mulai berpikir tentang mimpi – mimpi saya, seberapa berani saya bermimpi tinggi? Terakhir kali saya bermimpi, tinggi dan kemudian saya wujudkan itu tiga tahun lalu. Kemudian? Seringnya sih malah untuk bermimpi saja saya takut. Tapi seperti kata kata bijak, enggak pernah ada yang kebetulan di dunia. Pertemuan saya hari ini, dengan anak kelas 5 SD yang berani bermimpi tinggi dan yakin bisa meraih mimpinya, seolah olah menjadi ‘pecut’ untuk saya, agar saya mulai berani bermimpi tinggi, agar saya tidak lagi membuat batasan – batasan akan kemampuan saya, yang mungkin baru saya gunakan 30 % nya (ini kata senior saya, yang bilang kenapa saya menyia – nyiakan, karunia Tuhan dengan hanya menggunakan 30 % dari kemampuan saya . Waktu itu sih saya cuman berpikir,…. iihh sok tau deh nih orang hahahahahaha. Tapi hari ini Tuhan, memaksa saya untuk melihat saya yang menyia – nyiakan anugerahnya ).

 

Kembali ke kelas Inspirasi, kelas VI dan kelas I menjadi kelas terakhir sekaligus menjadi kelas yang penuh tantangan di kelas inspirasi saya kali ini. Di kelas VI, saya kudu menyesuaikan dengan gaya mereka yang sudah mulai memasuki masa pubertas. Dimana, lagu yang mau mereka nyanyikan hanya lagu cinta. Hahahahaaahaha dan “woooosh … wooooossshh” sebagai bentuk apresiasi yang saya ajarkan dianggap kekanak kanakan oleh mereka. Hahahahaahaha. Atau ada yang anak yang berusaha keras untuk mengajak saya berbicara bahasa Inggris, dan saya tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Mungkin karean wajah saya yang kebule bulean ini, jadi dia merasa wajib berbahasa inggris dengan saya. LOL. Terus terang ketika meninggalkan kelas, saya merasa saya sedikit gagal, jadi inspirator (yup … like I wrote before, I am kind of drama queen hahahahhhahaa).

Dan ketika saya menuju ke ruang perpustakaan untuk istirahat, karena ada jeda lumayan lama, tiba tiba segerombolan anak – anak kelas IV B, datang menghampiri saya dan memberikan pelukan untuk saya, rasa gagal itu tiba tiba hilang lenyap begitu saja. Kebayang kan kan terharunya, ada satu kelas anak anak yang saya sendiri enggak mengerti apa yang saya berikan, sampai mereka tiba -tiba memberikan pelukan seperti itu kepada saya. Yang saya tau, anak – anak tidak akan mau memeluk orang yang tidak mereka sayang, mereka tidak bisa berbohong secanggih itu.

Jadilah saya speechless, terharu, semuanya deh. Merasa disayang banget, merasa jadi orang yang paling beruntung sedunia, dan pastinya seluruh cape (terutama, karena menyetir sendiri dari Jakarta ke Bandung dan macet pula karena ada kecelakaan), hilang begitu saja.

Selanjutnya setelah beristirahat terutama juga setelah mendapatkan energi dari pelukan anak anak, ¬†saya mulai memasuki kelas I ¬†… nah, tantangan nya di sini adalah, saya kudu nyanyi terus. Walaupun, cukup senang karena banyakan nyanyi dan tertawa ¬†(dan hanya 3% nya menjelaskan siapa dan apa pekerjaan saya. maapkaannnnnnn ¬†yaaaa) ¬†jadilah suara saya dan tenaga saya habis terkuras. ¬†Favorit mereka adalah ¬†metode ice breaker yang menjelaskan gajah dengan menjentikkan jari, dan menjelaskan semut dengan membuat lingkaran yang besar dengan tangan (bisa dilihat di youtube). ¬†Jadilah ketawa yang enggak habis habis nya kalau mereka atau teman nya terbalik balik melakukannya.

Tidak terasa, kelas inspirasi ini selesai hari ini. Seperti upacara pagi tadi, maka penutupan di siang hari yang cerah secerah hati para inspirator yang bisa melewati kelas inspirasinya setelah semaleman deg – deg an takut ‘mati gaya’ di depan anak anak (bayangin yah … presentasi didepan bos atau yang lain ajah enggak sedeg – deg an ini deh haaahhaahhahaa), ¬†juga dilakukan dengan berkumpul berbaris di lapangan, tapi tentu tanpa senam pingui, tapi dengan lagu terimakasih guruku yang hampir dicoret dari list acara hahahahahahahaa.

Setelahnya kami berfoto bersama dan by surprised disuguhkan makan siang dari sekolah (terimakasih bapak dan ibu guru yang sudah menyiapkan makanan ini buat kami), maka kami makan bersama dan mulailah menceritakan apa yang kami alami masing masing di kelas. Jadilah, makan menjadi ajang sedikit curcol tentang yang dialami dikelas.

Buat saya selalu mengagumkan ketika ada sekumpulan orang yang tidak kenal satu sama lain sebelumnya, yang punya kesibukan di tempat kerja nya masing masing, dan enggak pernah menanyakan latar belakang, agama, suku etc, tapi kemudian mau bergotong royong, mulai dari meeting bareng, membuat koreografer,  memilih jenis senam, run down etc, karena menginginkan supaya pada hari H dapat memberikan yang terbaik untuk anak Рanak. Ini wujud Indonesia yang sebenarnya. Wujud aslinya budaya Bhineka Tunggal Ika.

Enggak salah kan kemudian saya mengucapkan terima kasih kepada teh El yang jadi pendampingnya Kel 42 (enggak nyesel kan jadi pendamping kelompok yang keyren ini? #teteup narsis), Kang Ganjar yang jadi leader kel 42 yang selalu pingin diangkat jadi ponakan saya hahahhaahahah, tim jkt 42 (Selvy, Ayu, Wita, Nisa dan Dita (yang diadopsi jadi tim Jkt 42 walaupun enggak tinggal di jkt), kang Hendra, kang Zaka (yang kemudian ngasih kita masing masing ilustrasi wajah yang cute banget), Dilla dan Aji (pasangan suami istri, yang buat kita semua takjub karena bisa gitu suami istri jadi inspirator di sekolah yang sama – jodoh memang luar biasa yaaaa), teh Jinie, Dito, kang Nur, Hendra Dwi, Nisrina, dan Ukky. You rock guys.

So … yang belum pernah ikut kelas Inspirasi, yuuuuk ikutan. Dijamin bikin ketagihan, bakal punya banyak saudara – saudara baru, bakal punya ¬†pengalaman yang tidak terlupakan.

 

 

 

 

Anak Indonesia, Mimpi dan Inspirasi

Baru- baru ini, saya mengikuti kembali Kelas Inspirasi (KI). Kali ini di Bandung, dan ini berarti kelas Inspirasi ke 6 saya, dan kelas Inspirasi saya pertama untuk tahun ini, setelah hampir satu tahun, saya vakum. Btw :orang – orang seperti saya, yang sering mengikuti KI kemudian dapat julukan “KI Hunter” hahaahahahhaaa.

Dan seperti biasa, setiap kali saya mengikuti KI, sebenarnya bukan saya yang menginspirasi, dan bukan saya yang banyak memberi. Tapi anak – anak di SD tempat saya mengajar, guru – guru yang mengajar anak – anak di sekolah tersebut, panitia yang memberikan tenaga dan waktu mereka berbulan – bulan tanpa dibayar untuk mempersiapkan acara ini serta relawan yang gila gila an memberikan yang terbaik yang mereka punya tanpa dibayar untuk anak anak, itulah yang menginspirasi saya.

Kemudian kalau saya ditanya, kenapa sih mau berkali-kali menjadi relawan seperti ini. Mengapa mau melakukan sesuatu tanpa dibayar, bahkan harus mengeluarkan uang? Jawabannya itu banyak banget, diantaranya adalah :

  1. Anak Рanak mengajarkan saya banyak hal. Dari  interaksi mereka terhadap teman dan lingkungannya, saya diingatkan untuk tidak memendam marah terlalu lama dengan orang lain, untuk tidak perlu banyak khawatir tentang masa depan dan tidak perlu mengingat -ingat masa lalu, dan tidak perlu malu kalau saya salah.
  2. Jawaban jawaban mereka  atas pertanyaan saya atau pertanyaan Рpertanyaan mereka kepada saya, serta obrolan mereka dengan saya, yang serng nya lucu Рlucu, membuat saya melupakan seluruh keletihan saya.
  3. Saya merasa saya banyak berhutang kepada negara saya, dan salah satu cara saya untuk membayarnya dengan membagikan waktu, tenaga dan cinta saya untuk sedikit membantu negara membangun mimpi anak – anak Indonesia. Karena bagaimanapun di tangan merekalah nantinya saya akan menyerahkan masa depan bangsa.
  4. Saya jatuh cinta dengan tawa mereka atau binar binar mata mereka ketika mereka mulai pingin tahu tentang sesuatu atau ketika mereka merasa bahagia. Dan itu menjadi priceless – tidak dapat dibayar dengan apapun, ketika saya yang menjadi alasannya. Seperti sewaktu saya mengikuti KI Bandung, ketika saya hendak berpindah ruangan, tiba tiba serombongan anak dari kelas saya mengajar sebelumnya, tiba-tiba menghampiri saya dan memberikan saya pelukan. Dan itu buat saya priceless banget. Saya merasa disayang banyak orang, saya merasa dicintai.
  5. Saya mempunyai keluarga baru, saya mempunyai teman – teman baru, yang tidak kenal saya sebelumnya, tapi luar biasa mau memberikan saya support, mendengarkan ketakutan – ketakutan saya, membantu saya agar saya bisa sukses memberikan yang terbaik yang saya punya kepada anak-anak. Dan mereka membuat saya percaya, masih banyak orang – orang baik di negeri ini, yang mau memberikan yang terbaik untuk negaranya, dengan sukarela.

Sebenarnya masih banyak lagi. Tapi ke lima di atas adalah yang utama.  Dan tentunya alasan yang paling utama adalah, karena saya ingin agar seluruh anak Рanak Indonesia tanpa terkecuali, berani untuk bermimpi. Percaya bahwa apapun mereka sekarang, mereka punya hak untuk menjadi yang terbaik, karena mereka berharga.

Sehingga mudah – mudahan suatu saat, ketika mereka dewasa dan sukses, mereka juga mau melakukan hal yang sama untuk anak anak lain. Aamiin

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier

(Greatest love of All)