Apakah bangsa ini mengalami krisis kepribadian?

Saat saat ini, saya sedang merindukan masa kecil saya, dimana kata – kata  “Bhineka Tunggal Ika”,  berbeda beda (suku, agama, ras), tapi tetap satu benar – benar dapat saya rasakan dimanapun saya berada. Mungkin ada krisis krisis kecil antar tetangga karena perbedaan, tapi biasanya juga akan ada banyak orang yang mendamaikan. Kalimat “tepo seliro” – bertenggang rasa itu tidak jarang diucapkan.

Saya juga merindukan dimana media massa (yang waktu itu hanya ada tv, radio dan koran), tidak akan menuliskan atau memberitakan berita berita yang tidak jelas asal muasalnya, atau berita berita yang bersifat mengungkap aib orang lain yang tidak sepantasnya diumbar, atau berita berita yang berisi kalimat makian atau hinaan yang tidak sepantasnya diucapkan dimuka umum terhadap orang lain oleh pejabat.

Mungkin karena pemerintah saat itu otoriter, jadi hal hal ini seperti ini tidak mungkin bisa lolos diberitakan (kalau menurut pikiran sederhana saya, kalau begitu – tidak mengapalah pemerintah otoriter dalam hal ini), atau mungkin karena globalisasi belum begitu terasa, sehingga kita belum terpengaruh (kalau menurut pikiran sederhana saya, mustinya Indonesia yang jumlah penduduknya termasuk yang paling besar di dunia – justru seharusnya bisa membawa kepribadian bangsa utk ditularkan kepada negara negara yang lain didunia). Atau karena kemajuan teknologi, yang menyebabkan kita mudah banget mengakses apapun. Ah entahlah.

Hari hari ini, setiap membaca berita, membaca medsos yang penuh dengan persoalan saling tuduh atas nama penistaan agama, saya kemudian memikirkan kembali apa yang pernah diajarkan guru ngaji saya tentang surat Al – Kafirun ….. “agamamu agamamu, agamaku agamaku, jangan ganggu agamaku dan aku tidak mengganggu agamamu.”

Pesan yang menurut saya sangat mudah banget utk dimengerti apabila kita tidak memikirkan hal hal yang rumit dan membesar besarkan segala hal. Atau saya ingat banget, diajarkan untuk tidak membuka aib orang di muka umum, karena bisa menimbulkan pertengkaran (saya tidak diajarkan untuk tidak membuka aib kecuali orang tersebut beragama lain). Biarkanlah pengadilan yang memutuskan apakah beliau bersalah atau tidak. Toh sudah ada pengadilan.

Kalau lah pengadilan sudah bekerja, mengapa kemudian harus lagi mengajak orang orang untuk melakukan kegiatan kegiatan  menghujat tersangka? Apalagi yang diinginkan? Bahkan Tuhan saja memaafkan umatnya, kemudian siapa kamu yang tidak mau memaafkan orang lain ?  Padahal kamu tidak lebih hebat dari Tuhan mu.

Dan anehnya, orang -orang yang mengajak untuk tidak membesarkan hal – hal seperti ini, malah dianggap sebagai “Pendosa Besar”. Kenapa berani sekali kemudian menjadi Tuhan yang menentukan siapa yang pendosa dan siapa yang tidak? Dan kemudian melebih lebihkan dengan mengajak semua orang utk ikut memusuhi orang orang yang berpikiran seperti saya. Kenapa menjadi arogan dengan membawa bawa nama agama?

Saya ingat juga sewaktu saya sekolah di sekolah Katholik, dan dipelajaran agamanya, ada cerita dimana banyak orang orang yang akan melemparkan batu kepada perempuan yang bekerja sebagai PSK .. kemudian sang nabi berkata, orang orang yang tidak pernah berdosa boleh melemparkan batu ketubuh perempuan ini. Dan semua orang disana berhenti karena malu, karena pada dasarnya siapa yang tidak pernah melakukan dosa? Begitu juga kita …… mengapa kita bangga sekali membuka segala aib orang lain, membesar besarkan nya, kemudian mencemooh nya seolah kita adalah mahluk yang putih bersih bebas dari dosa?

Saya ingat juga, sewaktu saya kecil, saya diajarkan untuk bertutur kata sopan kepada orang lain terutama kepada orang yang lebih dewasa. Sopan santun menjadi salah satu yang selalu ditekankan kepada saya baik di rumah maupun di sekolah. Dan saya selalu berpikir, itu juga salah satu ciri kepribadian bangsa ini  ramah tamah dan sopan santun.

Tapi apa kemudian yang saya lihat belakangan ini, orang dewasa bahkan anak – anak kecil yang dengan bangganya menulis kalimat caci maki terhadap selebritis bahkan pejabat yang tidak mereka sukai, yang bahkan mereka tidak kenal dekat 😦

Saya miris sekali membacanya, sampai ada masa saya males membuka medsos kecuali email & WA. Dimana mereka belajar ini? Apakah orang tua, sekolah dan lingkungan nya tidak mengajarkan sopan santun? Dan apa hak mereka untuk mencaci maki orang lain yang bahkan tidak pernah mereka temui di dunia nyata. Ah entahlah.

Bahkan ada beberapa stasiun tv yang mempunyai acara yang berisikan tentang orang orang yang saling caci maki dimuka publik, seakan akan bahwa tayangan yang sperti itu memang selayaknya ditonton oleh anak anak kecil di negara ini.

Dan saya kemudian berpikir – dimana hilangnya kepribadian bangsa saya, bangsa Indonesia ini? Dimana kebhineka Tunggal Ikaan itu hilang? Dimana kepribadian ramah tamah dan sopan santun itu pergi? Atau memang bangsa ini sedang sakit? Sedang mengalami krisis kepribadian? Sehingga segala yang baik baik baik — mulai hilang satu per satu.

Sekali lagi entahlah. Saya tidak tau harus menjawab apa. Yang saya tau hanya lah mengajak lingkungan saya untuk mengembalikan kepribadian bangsa ini, tidak ikut ikut an dalam menyebarkan kebencian dan menghargai orang lain yang berbeda dengan saya. Mungkin anda juga bisa melakukan hal yang sama.

Salam

 

 

 

Masih kah Pancasila itu sakti?

Tanggal 1 Oktober akhirnya datang juga, yang diputuskan menjadi oleh pemerintah Indonesia sebagai hari Kesaktian Pancasila. Untuk Pegawai Negeri dan pelajar hari ini (mungkin) harus datang lebih awal karena ada upacara bendera di kantor atau sekolahnya. Upacara rutin . Enggak lebih – enggak istimewa.

Padahal Pancasila itu dasar Negara – kalau dilagu nya – merupakan “pribadi bangsa” yang mencerminkan bagaimana sesungguhnya rakyat Indonesia itu. Dan karena pentingnya  peran Pancasila  – maka yang membawanya juga adalah Burung Garuda –  (yang menjadi lambang negara Indonesia , yang dianggap sebagai simbol patriot proklamasi ) – di dadanya,

Maka ketika ada peristiwa G-30 S PKI (yang belakangan ini kebenaran ceritanya mulai dipertanyakan kembali) , dimana terjadi nya pergerakkan kelompok tertentu yang dilambangkan sebagai kelompok yang tidak beragama – komunis – yang ingin merebut kekuasaan dan mengganti falsafah negara, tapi akhirnya bangsa Indonesia berhasil mengatasinya. Pancasila terbukti kesaktian nya di hati rakyat Indonesia – maka lahirlah peringatan hari kesaktian nya.

Masih ingat dong isinya  (1.Ke Tuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang Adil dan beradap, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksaan dalam permusyawarahan perwakilan. 5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). – itu lah sebenarnya pribadi masyarakat Indonesia.  Pribadi yang karena percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa  (bukan agama tertentu) yang terlihat dari sifat yang sopan, ramah,, saling bersatu, tepo seliro,  musyawarah untuk mencapai mufakat, yang mengakui perbedaan tapi tidak memandang perbedaan itu menjadi permasalahan tetapi sebagai warna bangsa yang patut dilestarikan, bertoleransi terhadap perbedaan, tenggang rasa, dan merasakan kalau kita bersatu akan menjadikan Indonesia sekuat baja, dan merasakan dengan persatuan – maka Indonesia akan bisa menjadi negara yang luar biasa hebatnya.

Sayangnya – seiring dengan pergantian tahun, pergantian pimpinan negara, pergantian wakil rakyat, atas nama kebebasan dan demokrasi oleh orang orang yang tidak mengerti apa arti kebebasan dan demokrasi yang sebenarnya, atas nama perubahan, atas nama rakyat yang tidak tahu apa apa, sedikit demi sedikit pribadi Pancasila mulai tergerus – dan mungkin tinggal menunggu waktu ketika benar benar hilang.

Pengrusakkan dan kekerasan oleh satu kelompok  yang menamakan kelompoknya  sebagai kelompok pembela agama tertentu kita biarkan. Kita membiarkan UU tentang pendirian rumah ibadat yang membuat sulitnya pendirian rumah ibadat yang penganut nya minoritas. Kita tidak mau lagi bertoleransi terhadap orang lain yang berlatar belakang berbeda. Kita tidak lagi mau menghormati agama orang lain. Kita tidak setuju dengan adanya pendapat yang berbeda dan tidak menginginkan  adanya musyawarah untuk mencapai mufakat, kita bahagia dengan keegoisan kita dan kita menutup mata dengan penderitaan sekeliling kita. Kita bangga dengan sumpah serapah yang kita ucapkan terhadap orang lain hanya karena suami atau istri atau anak atu ayah atau ibu – salah satu keluarganya menjadi terdakwa. Kita gemar melihat kesulitan orang lain, Kita tidak perduli dengan masalah bangsa,  Kita hanya mendengar yang mau kita dengar, bukan yang sebenarnya terjadi. Berita tentang penghilangan nyawa hanya karena masalah yang kecil menjadi berita biasa. Wakil rakyat juga dengan bangganya saling sumpah serapah didepan publik.

Dimana Pancasila yang sakti itu?  Yang semestinya dengan ‘kesaktiannya’ mampu untuk  mendidik rakyat Indonesia menjadi rakyat yang berpribadi luhur? Apakah memang seiring dengan perkembangan jaman, Pancasila tidak bisa lagi menjadi pribadi kita? Apakah dengan seiring perkembangan jaman, menjadi “brutal’ dan egois menjadi pribadi yang dianggap bagus?

Apakah kita tidak sadar, bahwa bangsa ini mengalami kemunduran yang luar biasa hebat nya?  Di era globalisasi – dimana jarak bukanlah masalah – dimana mengunjungi negara yang berada di ujung dunia juga bukan hal yang mustahil – dimana di Jakarta dan kota kota besar  yang kita temui bukan saja perbedaan suku tapi sudah perbedaan bangsa, dimana keluarga campuran berbeda negara adalah hal biasa ……….. kita rakyat Indonesia …. kembali ke jaman dahulu kala, sebelum kemerdekaan, dimana Belanda memecah belah kita dengan politik “devide et impera” nya – memecah belah dengan mengadu domba suku suku yang berbeda untuk saling membenci, sehingga tidak bisa bersatu melawan mereka.

Seandainya pahlawan pahlawan yang berjuang itu melihat bagaimana rakyatnya sekarang, tentulah mereka kecewa dengan kita semua. Perjuangan mereka dulu, yang ditebus dengan nyawa hanya menjadi bahan hafalan di mata pelajaran sejarah dan terlupa setelah kita lulus sekolah.  Kita tidak lagi ingat lagu Indonesia Raya, kita tidak lagi tau isi Pancasila, kita tidak ingat nama Pahlawan Pahlawan besar, kita mentertawakan upacara bendera sebagai aktifitas yang tidak berguna, kita malu menjadi bangsa Indonesia, dan yang paling parah ….. kita bangga dengan tindakan tindakan kita tersebut.

Mudah mudahan  tahun depan, ada banyak perubahan yang akan terjadi di kehidupan kita, sehingga tanggal 1 Oktober nanti, peringatan kesaktian Pancasila benar benar peringatan akan kemampuan Pancasila menaklukkan  hati rakyat Indonesia sehingga mau kembali menerapkan ke 5 butir butir isinya didalam kehidupan sehari sehari. Dan kita bisa kembali merasakan nyaman nya hidup di Indonesia yang aman dan tentram, yang berbeda beda tapi tetap bersatu.

Aamiin

 

 

 

Agama yang Terpolitisasi – (red: ketika Bhineka Tunggal Ika terlupakan)

Pilkada Jakarta dalam rangka memilih Gubernur Jakarta buat saya cukup menarik untuk diikuti. Warna – warna kelabu dan kebobrokkan politik yang dengan bangga nya di munculkan membuat saya bertanya apakah demokrasi seperti inilah yang sekarang menjadi ciri khas negara kita?

Terus terang kalau memang seperti ini, saya merasa amat teramat sangat mual, dimana ciri khas ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang pernah menjadi kebanggaan negara Indonesia hilang menguap entah kemana saja. Dimana menjadi terasa untuk saya bahwa demokrasi diartikan sebagai kebebasan untuk menghina seseorang yang berbeda (red: minoritas)

Parahnya kemudian orang yang menyerukan tentang perbedaan ini, yang membawa – bawa agama sebagai senjata nya, yang kemudian menangis – nangis tersedak – sedak merasa bahwa umat nya akan dibawa ke arah yang berbeda apabila memilih pemimpin yang berbeda agama, kemudian dinyatakan ‘TIDAK BERSALAH’  atas apa yang diucapkannya. Padahal yang dilakukan orang tersebut, jelas – jelas tidak etis dan melanggar hukum. Tapi sekali lagi, ‘agama’ menjadi kartu yang canggih, untuk membebaskan orang yang bersalah!!!!!

Semestinya sebagai masyarakat yang berBhineka Tunggal Ika sejak tahun 1945, kita seharusnya sudah tahu dan mengerti benar untuk  bersatu ditengah – tengah perbedaan – perbedaan yang ada. Kita harus nya jauh lebih maju dengan tidak lagi memperbincangkan suku, agama, ras dalam pemilihan umum. Kita harus nya jauh lebih maju dengan mulai melihat seseorang dari kemampuan nya bukan dari latar belakangnya.

Agama memang menjadi senjata paling mudah untuk mengobarkan perang. Janji  – janji  masuk surga dan masuk neraka kemudian tuduhan sebagai kafir, menjadi senjata yang ampuh untuk membuat orang memilih jalan yang kadang – kadang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau kemudian yang lebih parah, memilih orang yang amat teramat sangat bobrok untuk memimpin hanya karena orang tersebut berlatar belakang agama yang sama.

Bagi saya,  perbuatan paling terkutuk yang dilakukan oleh para politisi adalah ketika mempergunakan ‘agama’  sebagai alat politik. Ketika menyuarakan ayat – ayat Tuhan sebagai bahan kampanye, ketika dengan mudah nya menyatakan orang lain adalah seorang kafir dan menyatakan perbuatan yang tidak sesuai dengan pikirannya adalah haram.

Agama itu bukanlah barang mainan. Agama bukanlah sesuatu yang bisa dipergunakan seenaknya. Haram atau halal itu sudah digariskan Tuhan dan bukan kemudian bisa seenaknya ditambahkan oleh manusia. Kafir atau bukan, masuk neraka atau tidak itu adalah urusan Tuhan.

Seandainya masalah ras, suku, agama ini kembali kita permasalahkan – ini seperti kembali memutar kembali ke jaman penjajahan dulu, sewaktu politik de vide et impera di lakukan oleh belanda, untuk memecah belah kita. Dan rasanya amat teramat sangat memalukan apabila kita harus kembali ke jaman itu. Itu berarti kita mengalami kemunduran akut !!!!

Semestinya justru kita yang paling berpengalaman dalam mengatasi masalah perbedaan ini  dengan kalimat indah ‘Bhineka Tunggal Ika’ (berbeda – beda tapi tetap satu)’  , harusnya sudah bisa menjadi bangsa yang terdepan membawa bendera ‘perdamaian’ di negara – negara yang terkena konflik karena isu perbedaan ini. Seharusnya kita menjadi bangsa yang bisa menjadi duta perdamaian untuk menghilangkan peperangan dunia karena masalah agama, suku dan ras.

Dan bukan malah sebaliknya, kita kembali ke jaman baheula, menggunakan perbedaan agama, suku dan ras ini sebagai alat politik. Kalau begini kita keliatan jadi bangsa yang tidak menghargai perjuangan pahlawan yang berusaha menyatukan kita yang berbeda ini menjadi satu bangsa yang besar yang bernama ‘Indonesia’.  Seharusnya kita ingat, kalau lah kita tidak bersatu dengan perbedaan – perbedaan yang ada maka sampai sekarang mungkin tidak akan pernah ada negara Indonesia.

Jangan mau menjadi bangsa yang ‘bodoh’ yang tidak pernah belajar dari masa lalu. Jangan mau menjadi bangsa yang ‘bodoh’, karena kita tidak mengambil pengalaman masa lalu sebagai pelajaran.

Sebenarnya, orang yang mempergunakan agama sebagai alat politisasi, harus kembali dipertanyakan tentang pendalaman agamanya. Sebab kalaulah ia berkata bahwa segala yang terjadi adalah seijin Tuhan, maka dia harusnya mengerti bahwa, apabila Tuhan tidak mengijinkan adanya perbedaan, maka tidak akan terjadi perbedaan di dunia. Semua akan sama. Semua bewarna sama, bersuku sama, ber ras sama, ber agama sama. Tapi karen diijinkan Nya, maka terjadilah perbedaan – perbedaan itu. Maka sebaiknya terimalah perbedaan – perbedaan itu dengan lapang dada. Dan janganlah itu jadi masalah utama buat mu.

Kalau ditanya apakah kemudian pemimpin yang dipilih berbeda dari kita, akan membuat kita masuk ke neraka? Jawabannya, pemimpin mu di dunia adalah manusia, jadi ketika dia mengajak mu ke neraka, disitulah seharusnya kita mempergunakan pikiran yang telah di anugrahkan oleh Tuhan, untuk memilih – milih apa yang tidak diperkenankan oleh agama mu. Disitulah ujian mu sebagai umat Nya.

Sehingga … kalau anda politisi atau akan menjadi politisi, jangan pernah lagi mempergunakan perbedaan – perbedaan terutama agama sebagai kendaraan politik anda, karena di situ justru menunjukkan kelemahan anda sebagai politikus. Dan apabila anda sebagai pemilih, jangan lagi pernah terjebak dengan kata – kata para politisi yang mempergunakan perbedaan – perbedaan terutama agama, karena yang seharusnya anda lihat adalah kemampuan orang tersebut untuk memimpin.

Jadi …. berbeda beda itu indah kok – seindah kata – kata ‘Bhineka Tunggal Ika. Seindah warna – warni Indonesia yang berbhineka tunggal Ika.

Salam